
Pada pukul sepuluh pagi menjelang siang ini, Zaya dan Pak Kuswin sudah sibuk di kandang karena ada kambing betina yang sedang dalam proses melahirkan.
Tadi, Pak Kuswin yang kewalahan karena harus bekerja dengan satu tangan, terpaksa meminta bantuan anak bungsunya itu untuk ikut andil dalam proses kelahiran anak kambing mereka.
"Tolong ambilkan kain yang sudah tidak terpakai, Ya. Di sampiran situ."
Mendengar penuturan ayahnya barusan, Zaya mengangguk kemudian segera mencari apa yang diminta.
Cukup lama ia harus mencari-cari kain mana saja yang sekiranya sudah tak terpakai tetapi bersih. Setelahnya, menyerahkan tiga potong kain yang diminta oleh ayahnya.
"Tolong kamu yang mengelap, biar Bapak yang memegangi."
Kali ini kedua mata Zaya mengerjap sebentar. Dapat ia lihat darah yang cukup banyak menyelimuti bulu anak kambing berukuran mungil yang berdiri di depannya. Lalu dengan mata tertutup, ia mulai membersihkan tubuh hewan mengembik tersebut.
Untuk beberapa saat keadaan masih begitu. Sampai suara Pak Kuswin yang meminta Zaya berhenti mengelap sudah terdengar, ketika tubuh anak kambing di hadapan mereka telah bersih dari darah.
"Yang satunya lagi dilap juga," kata Pak Kuswin, mengingatkan bahwa ada dua anak yang lahir dari kambing betina yang masih berdiri di sebelah mereka.
Zaya sudah tahu bagaimana harus bertindak. Mengulangi apa yang tadi ia lakukan, sampai mendengar aba-aba berhenti dari sang ayah. Lalu menghela napas lega ketika tugasnya sudah usai.
Kini, Zaya menatap dua anak kambing yang baru beberapa menit lahir ke dunia, tetapi sudah bisa langsung berdiri itu. Walau bukan kali pertama ia mendapati pemandangan semacam itu, dirinya tetap takjub. "Kok bisa langsung berdiri, ya," gumamnya heran.
Pak Kuswin tertawa. "Rata-rata semua hewan berkaki empat memang seperti itu, Ya. Mereka punya naluri yang lebih tajam daripada manusia." Kemudian beliau berdiri, hendak meninggalkan Zaya di kandang. "Kamu mau menunggu di sini, atau mau memetik daun bambu?"
"Eh, aku metik daun bambunya aja. Soalnya kalau di sini, aku takut sama ibu kambingnya. Dia serem."
Zaya sedari tadi memang terus-terusan bergidik saat mengamati kambing betina yang berkali-kali mengentakkan kaki seolah hendak mengamuk itu.
Walau ia adalah seorang ibu, ia tentu tak bisa serta merta memberi nasihat kepada sesama ibu supaya tak mengamuk.
Dunia mereka berbeda. Bahasa mereka berbeda. Wujud mereka pun berbeda.
Lagi-lagi Pak Kuswin tertawa mendengar tanggapan dari anaknya. "Ya sana kamu yang ambil daun, tapi hati-hati."
"Siap!" Sambil membawa kain yang tadi digunakan untuk mengelap bulu kambing, Zaya menuju ke tempat di mana ia bisa cuci tangan dan merendam kain yang tengah ia pegang. Setelah itu baru menuju ke kebun untuk memetik daun bambu muda pesanan ayahnya.
Sekembalinya Zaya ke sekitar kandang, ia memperlihatkan daun-daun yang sudah ia peroleh. "Segini cukup, Pak?" tanyanya semringah.
Diserahkannya bagian tumbuhan berwarna hijau itu kepada sang ayah.
__ADS_1
"Cukup, kok. Kan ini hanya untuk memperlancar keluarnya mbing-mbing. Tidak mungkin habis dimakan oleh kambingnya dalam satu waktu."
Pak Kuswin menyuapkan daun di tangannya kepada kambing. Setelahnya, beliau melirik Zaya sekilas sebelum perhatiannya kembali kepada hewan di hadapan. "Kamu sepertinya bahagia sekali."
Zaya yang berdiri di samping Pak Kuswin, seketika menoleh ke arah ayahnya itu. "Aku bahagia terus, kok."
"Tapi auranya beda dengan saat baru saja sampai di sini. Sekarang muka kamu jauh lebih terang. Jadi, masalah yang membuat kamu uring-uringan sudah pergi sendiri?"
Bukannya segera menjawab, Zaya malah memandang ayahnya. Tentu saja curiga. "Bapak kok bisa menyimpulkan kalau aku ada masalah?"
"Kalau bukan karena ada masalah, kenapa kamu ogah menemui suamimu yang rela datang jauh-jauh ke sini? Pakai acara pura-pura tidur segala, hayo?"
"Hmmm." Zaya tersenyum canggung, ketika isi hatinya terlalu mudah dibaca semacam ini. "Waktu itu lagi sebel aja tiap kali lihat mukanya Mas Afriz. Lagi nggak pengin lihat dia."
"Alasannya?"
"Emmm, nggak tahu." Zaya tersenyum kaku, kemudian garuk-garuk kepala. "Aku terlalu kekanakan dan manja, ya, Pak? Aku ngerasa, pemikiranku juga belum dewasa untuk mengimbangi Mas Afriz. Kadang aku kesel sama dia cuma gara-gara masalah sepele."
"Begitu, ya?"
Untuk beberapa saat Pak Kuswin masih melanjutkan suapannya. Lalu mengajak putrinya keluar dari kandang, menuju bagian depan agar tetap bisa memantau keadaan kambing, walau tak harus terlalu dekat.
Komunikasi.
Zaya tercenung mendengar satu kata itu. Rasa-rasanya, ia memang jarang mengomunikasikan ganjalan di hatinya kepada sang suami. Ia hanya memberi kode, berharap Afriz lekas mengerti dengan tanda-tanda yang ia beri.
Padahal, jangankan hanya kode. Ia berbicara terang-terangan saja masih sering menimbulkan salah paham.
Setelah ayahnya kembali ke rumah, sampai sekarang Zaya masih berdiri di depan kandang kambing. Ia memperhatikan penghuni di dalamnya secara betul-betul.
Di hadapannya kini, walau dibatasi pagar kayu yang tak rapat, ia bisa leluasa melihat hewan tersebut. Dapat ia amati secara jelas, mata kambing itu memerah. Mulutnya mengeluarkan embikan yang tertahan. Hewan itu mengejan, berjuang meloloskan plasenta yang lebih sukar keluar ketimbang anaknya.
Tak berselang lama, perhatian Zaya teralihkan saat mendapati suara dan gerakan dari ruang kandang di sebelah yang disekat pagar kayu. Ia menggeser kaki, berniat mencari tahu. Namun, pemandangan yang ada, seketika membuat matanya mengerjap.
Di hadapannya sekarang, ada seekor pejantan tengah berusaha mengawini betina di situ. Gerakan-gerakan hewan itu agresif, tak menghiraukan embikan ogah dari lawan mainnya.
Luapan berahi yang tergambar jelas pada mata si jantan pun telah menutupi kepedulian terhadap seekor betina yang tengah berjuang melahirkan anak yang kemungkinan besar merupakan hasil perbuatannya juga.
Kini Zaya mengerti mengapa ada julukan 'kambing' bagi orang yang tak setia atau mereka yang tak bisa menahan gairah seksual terhadap lawan jenis yang bukan pasangan sahnya sendiri. Karena begitulah kambing.
__ADS_1
Tetapi Zaya teringat bahwa memang beginilah hakikat kambing ternak, yang menjadi sebuah investasi menjanjikan di daerah tempat tinggalnya yang dianugerahi banyak tumbuhan.
"Kambing bapakmu lahir berapa, Ya?"
Pertanyaan dari seseorang, membuat Zaya terlonjak kaget. Kini ia menoleh dan melihat laki-laki di sebelahnya.
Tubuh sosok itu jangkung, bibirnya tersenyum tipis dan nampak janggal, serta gerakan yang memaksa Zaya memasang mode waspada terhadap pemuda ini.
"Dua." Akhirnya Zaya menjawab, lirih.
Seperti menangkap kegelisahan dari wajah Zaya, senyum Tono makin lebar sekaligus nampak semakin ganjil di mata lawan bicaranya. "Jangan tegang begitu. Santai saja."
Lalu tanpa aba-aba, tangan laki-laki itu menoel dagu Zaya. Kemudian pekikan terdengar dari mulutnya ketika salah satu jarinya tertusuk jarum pentul.
Sementara itu, Zaya sudah mundur dua langkah. Firasatnya membunyikan alarm bahaya, bahwa ada niat tak baik di tengah kunjungan tiba-tiba dari Tono, laki-laki yang kondang mata keranjang ini.
Sebetulnya, ia tak pernah ada urusan dengan sosok di depannya ini. Tak pernah pula ia memedulikan kabar dan berapa banyak wanita di dusunnya yang pernah dikencani oleh lelaki 26 tahun ini. Ia tak butuh trivia semacam itu.
Tetapi bila begini jadinya, sudah tentu menjadi lain hal.
"Kok mundur? Jangan sok jual mahal begitu, lah. Kamu kira aku tidak tahu bahwa kamu punya hubungan dengan Pam sampai kalian punya anak? Tapi sekarang kamu menikah dengan orang lain. Jadi, lebih puas dengan Pam atau dengan suamimu?" Lagi-lagi, Tono tersenyum. Menyeringai seraya mendekati Zaya yang terus-terusan menghindarinya.
"Kalau masih bingung untuk membuat perbandingan, aku siap membantu. Nanti malam atau besok malam, aku siap. Kapan pun kamu mau. Tinggal atur waktu dan tempat. Tapi kalau sekarang, aku belum bisa karena harus menengok para kuli."
Firasat Zaya benar. Tak salah lagi. Laki-laki di depannya ini mengunjungi dan bersikap baik karena ada maunya.
Dan lihat saja pandangan lapar itu. Membuatnya ingat bagaimana tatapan kambing jantan di kandang.
Sebut saja ia kurang ajar karena berani-beraninya membandingkan manusia tamatan sekolah menengah atas seperti Tono dengan seekor kambing jantan yang tengah dilanda gairah seksual.
Entah Zaya harus menghela napas lega atau justru bertambah khawatir. Terpenting, Tono tidak bertindak lebih jauh. Lelaki itu pergi, meski sempat menoelnya sekali lagi pada bagian pipi, setelah tangan kanannya gagal menoel bagian dada yang tertutup kerudung blong, lantaran Zaya segera menepis tangan kurang ajar itu.
Setelah Zaya mengabaikan kabar miring yang digaungkan oleh para warga, ia harus menghadapi akibat dari ini semua. Kali ini ia benar-benar ingin menangis, memperlihatkan sisi lain dirinya yang sangat lemah.
Betapa pun, ia masih punya harga diri. Tak seperti bisikan terakhir Tono sebelum sosok itu pergi.
"Kamu tak perlu mengelak dan pura-pura menolak tawaranku. Mau bagaimanapun kamu menutupi semuanya, para warga di sini sudah tahu siapa kamu, yang ternyata bekasnya Pam."
...***...
__ADS_1