Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar

Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar
Pesan Lalu


__ADS_3

Memasuki hari ketiga, Afriz masih terus mencari informasi mengenai Zaya yang belum ia dapatkan secara pasti. Hingga hari ini, keberadaan istrinya terus menjadi fokus utama di sela protes para pelanggan yang datang tanpa kira-kira sebagai imbas nyata dari kegelisahannya.


"Bagaimana sih, Mas? Saya kan kemarin minta cetak fotonya ukuran tiga kali empat, kok jadinya empat kali enam?" protes seorang ibu. "Lalu ini kenapa warnanya hitam putih? Kan saya mintanya cetakan berwarna, Mas?" tambahnya sengit.


Sejak kemarin hingga hari ini saja, entah sudah berapa kali ia meminta maaf kepada pelanggannya yang selama ini selalu bersikap manis. Berkali-kali pula ia mencoba mengalihkan konsentrasinya supaya tak terbagi. Namun tetap saja raganya ada di studio dengan pikiran yang berkelana jauh. Pemuda itu bahkan sampai beberapa kali tak mendengar dering panggilan pada ponselnya, lantaran terlalu sibuk dengan benaknya sendiri.


Pada keesokan harinya, di mata para pegawai yang dikunjungi pun, Afriz tampak jauh berbeda dari biasanya. Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba lelaki itu marah-marah. Penyebabnya bisa dibilang sangat sepele, misal ada yang bertanya, "Pak Bos sudah makan atau belum?


Lalu Afriz akan menjawab, "Kamu meledek saya, mentang-mentang di rumah saya tidak ada yang masak?"


Ditambah lagi, sama sekali tak tersirat bercandaan. Atasan mereka serius dengan kata-katanya, padahal Afriz dikenal sebagai pribadi dengan selera humor yang lumayan, namun sama sekali tak tergambar dalam situasi sekarang.


Tidak berhenti sampai di situ, aura menakutkan dari Afriz bahkan terpancar ketika salah seorang pegawai perempuan luput menata album foto, tidak sesuai dengan lainnya yang seukuran. Itu pun suatu hal yang amat wajar karena pegawai itu terlampau kagum terhadap atasannya yang ternyata semenawan ini.


"Kamu ini bisa kerja, tidak!? Cuma menata beginian saja dari kemarin-kemarin tidak pernah becus!" sengit Afriz. Padahal, ini merupakan perjumpaan pertama bagi keduanya.


Dari sikapnya yang tak bisa diterima akal sehat begitu, Afriz seperti memaki dirinya sendiri. Ia meledek ketidakbecusannya dalam mencari keberadaan Zaya yang sampai hari keempat tidak juga ditemukan. Para pegawainya menjadi sasaran paling empuk untuk disalah-salahkan walau benar sekalipun.


Berbeda halnya ketika tiba di rumah pada malam harinya, Afriz langsung mengembuskan napas berat untuk mengusir sepi. Pada momentum seperti ini, selalu saja ada hantaman yang benar-benar terasa. Bahkan dalam satu atau dua kesempatan, ia merasa gagal menjadi sosok suami yang mestinya selalu menemani, melindungi, dan mengayomi istri.


Untuk mengusir rasa bosan dan kesulitan tidur, Afriz mengutak-atik ponselnya sambil menyesap kopi buatannya sendiri yang entah rasanya seperti apa namun lidahnya tak protes. Lalu ketika kebosanan mulai menghampirinya lagi, ia beralih mengutak-atik ponsel Zaya. Mencari-cari apa saja yang sekiranya bisa dijadikan petunjuk keberadaan istrinya tersebut.


Tak jarang Afriz membuka aplikasi perpesanan milik Zaya, memastikan siapa saja orang yang sudah serta masih berhubungan dengan istrinya itu, yang ternyata didominasi olehnya.


Memang ada pesan mesra dari Pam, tetapi hitungannya sangat sedikit serta tak pernah ditanggapi oleh Zaya. Ini membuktikan kesetiaan Zaya kepadanya, serta menunjukkan bahwa kepergian istrinya itu tak ada sangkut pautnya dengan laki-laki lain. Jangankan dengan lelaki lain, dengan Afriz yang merupakan suami sah saja perempuan itu masih malu-malu, kok. Terbukti dengan beberapa pesan yang saat ini tengah Afriz baca.


Mas Afriz: [kangen kamu]

__ADS_1


Saya: [Kan belum lama ini ketemu]


Mas Afriz: [masih kangen]


Saya: [Kan gak ada yg bikin kangen]


Mas Afriz: [ada, yg tadi subuh. subuh tadi kita ngapain ya?]


Saya: [Gak ngapa ngapain]


Mas Afriz: [kayanya tadi pagi kita mandi dan keramas bareng]


Saya: [Mas yg maksa]


Mas Afriz: [berarti kamu ingat. kalau gitu, tadi subuh sebelum mandi bareng kita ngapain?]


Saat sedang asyik-asyiknya Afriz membaca percakapan usang, sebuah pesan masuk. Begitu tahu siapa pengirimnya, laki-laki itu tak berminat membuka. Tetapi di satu sisi ia jadi penasaran juga apa isinya. Supaya bila ada hal-hal tak diinginkan seperti pada tempo hari terjadi, ia bisa menangkal.


Mbak Vita: [Pengen tau mental kamu sejauh mana]


Awalnya, Afriz tak mengerti. Tetapi ia sabar menunggu apa yang akan Vita kirimkan lagi. Tak sampai sepuluh detik kemudian, sebuah pranala telah muncul.


Diselimuti rasa penasaran, Afriz secara refleks mengikuti tautan yang tersedia, yang membawanya masuk ke akun Instagram pribadi Zaya. Dan terpampanglah dua foto istrinya pada unggahan Vita yang entah apa maksudnya.


Bukannya berniat mau ngomongin orang, ya. Tapi aku perlu banget nulis ini. Buat yang belum tau, itu istrinya Afriz (mantanku). Cantik natural, manis, lugu, dan keliatan solehah banget, kan? Dia juga masih muda, setauku 20 atau 21 th gitu. Gak heran sih kalau Afriz mau. Hari gini boook, cowok mana yg gak tergiur sama daun muda kayak dia.


Tapi satu hal yg perlu kalian tau, ternyata dia nikah sama Afriz itu udah punya anak, padahal belum pernah nikah sebelumnya. Kalian pasti taulah pergaulan anak jaman sekarang yg kebanyakan udah kelewatan. Keliatan lugu juga belum tentu asli kayak gitu. Mereka bisa jauh liar dari yg kita kira.

__ADS_1


Padahal senakal-nakalnya aku, gaya pacaranku masih wajar, nggak sampai segitunya. Ya ciuman deh yg paling banter. Sesekali raba-raba oke, tapi nggak kelewat batas. Lagian hari gini pacaran tanpa ciuman, kaku bener kayak kanebo kering. Itu kalau aku, ya. Nggak tau kalau kalian.


Sekali lagi aku nulis ini bukan buat ngomongin keburukan dia, apalagi berniat bikin perbandingan antara aku sama dia. Sama sekali tujuanku bukan itu. Aku cuma mau ngingetin ke kalian semua kalo kita jangan menilai seseorang karena tampilan luarnya aja, biar nggak ketipu mentah-mentah. Mending kayak aku yg selalu tampil apa adanya dan nggak munafik. Karena aku sama sekali nggak butuh pujian kalian.


😜😜😜


Seusai membaca tulisan panjang yang menyertai unggahan Vita itu, Afriz mendesah lelah. Namun, sedetik kemudian ia tersenyum sinis saat membaca isi kolom komentar yang kebanyakan mendukung unggahan Vita.


Bagaimanapun alasannya, dari sudut mana pun memandangnya, tetap saja apa yang diketik oleh Vita dan para temannya memang sudah sangat keterlaluan.


[Wah, ta. Lo keren banget bisa bikin gue sadar bahwa tampilan luar itu ga penting dan yg paling penting itu sebenernya hati kita. Gue setuju bgt sama lo.]


[Ih, tapi kok mantan kamu mau sama dia sih? Padahal dari sudut mana pun, kamu jauh lebih cantik dan modis daripada dia.]


[Setelah baca cerita lo, gue makin yakin buat dukung lo balikan sama mantan lo. Lo sama Afriz tuh couple goal bgt sumpah. So sweet banget kalo kalian berdua lagi jalan gitu]


[Pokoknya apa pun alasannya, gue dukung lo wujudin ini. Abaikan mereka yg nyinyir, demi kebahagiaan kamu. Krna yg namanya kebahagiaan dan cinta emang perlu perjuangan]


Entah kejutan apa lagi di balik pranala yang disertakan oleh salah satu penulis komentar barusan.


[Yg terbaik aja deh buat kamu. Abaikan mulut2 nyinyir yg suka ngurusin hidup orang lain, ta. Lagian kamu gak pernah minta makan dan duit dari mereka. Pokoknya seratus persen aku dukung apa aja yg kamu lakuin demi kebahagiaan kamu]


Entah apa yang mendasari jemari Afriz untuk langsung menuju ke kolom pemberitahuan, yang salah satu di antaranya tertulis, "Seseorang telah menandai Afrizal2305 dan satu akun lainnya".


Dari sanalah ia mulai memperoleh sebuah petunjuk bahwa Zaya telah mengetahui semuanya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2