Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar

Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar
Ngidam Kedondong


__ADS_3

Belakangan, Zaya lebih sering pipis. Tak terkecuali sekarang, ketika jarum jam sudah menunjuk pukul dua kurang dua puluh lima menit pada dini hari ini.


Setelah menyelesaikan ekskresi urinernya, Zaya hendak kembali ke kamar untuk melanjutkan tidurnya.


Tetapi niatnya itu urung ia laksanakan ketika melihat sang suami tengah menyaksikan pertandingan sepak bola melalui layar kaca. Ia malah mendekati Afriz, ketika rasa kantuknya sudah lenyap begitu saja.


"Skornya udah berapa-berapa, Mas?"


"Masih kosong-kosong," jawab Afriz tanpa melepaskan pandangan semula.


"Oh." Zaya semakin mendekati lawan bicaranya. "Boleh nemenin, nggak?"


Pandangan Afriz yang semula tertuju ke arah televisi, kini beralih ke Zaya. Kemudian membenarkan posisi duduknya. "Boleh. Sini, duduk sini kalau mau nonton." Ia menepuk-nepuk sisa ruang di sebelahnya.


Padahal dulu sebelum Zaya hamil, bukannya mengajak Zaya menyaksikan pertandingan sepak bola, ia malah mematikan saluran televisi jika istrinya bangun tengah malam ataupun dini hari seperti ini. Kemudian mengajak Zaya 'bertanding yang lain', yang katanya jauh lebih seru dan tak ada duanya.


Zaya masih berjalan mendekat kepada suaminya, lalu hendak melewati laki-laki itu. Tetapi Afriz sudah terlebih dulu memangkunya tanpa izin. "Maaas! Aku bisa duduk sendiri," ujarnya kaget.


Namun, Afriz justru mengode istrinya untuk diam dan melihat ke arah layar televisi. "Katanya mau nonton? Biar gini dulu makanya." Kemudian menyamankan posisi duduknya agar bisa memangku Zaya lebih lama tanpa rasa pegal. "Gimana hari ini? Jadi ngasih kabar ke Bapak dan Ibu?"


Gerakan-gerakan Zaya yang hendak melepaskan diri pun terhenti. "Jadi."


"Terus gimana?"


"Ibu kayaknya seneng banget deh, Mas, pas tahu kalau aku hamil."


"Oh, ya?" Walau sebenarnya tak terlalu kaget, Afriz tetap memastikan.


Zaya pun mengangguki. "Iya. Malah tadi Ibu juga bilang, katanya kalau udah lima atau tujuh bulan dan Ibu ada rezeki, mau ngadain slametan kecil-kecilan buat calon bayi kita. Boleh, kan, Mas?"


"Boleh, lah. Terus, apa lagi?"


"Kita mau ngadain slametan di sini juga, nggak, Mas? Ya, minimal pengajian gitu. Kan sejak awal kita nikah, kita belum pernah ngadain apa-apa di rumah," ucap Zaya sedikit berharap. "Bahkan resepsi aja nggak ada," lanjutnya di dalam hati.


"Kamu maunya gitu?"


Lagi-lagi Zaya mengangguk. "Iya, biar doa buat calon bayi kita lebih banyak. Terus, biar hubungan kita sama tetangga juga makin erat. Kalau nggak keberatan, kita undang anak-anak yatim juga." Acara yang dimaksud, sekaligus diharapkan menjadi bukti bahwa hubungannya dengan Afriz baik-baik saja.


"Oke, kalau gitu."


Seolah baru tersadar akan posisinya, Zaya bergerak-gerak lagi. "Sekarang, turunin," rengeknya.


Bukannya menurunkan Zaya, Afriz malah menunjuk bibirnya. "Cium dulu."


Zaya memalingkan wajahnya yang memerah. "Nggak mau."

__ADS_1


"Ya sudah, berarti gini saja. Nggak usah minta turun."


Tangan Zaya masih berusaha membuka kuncian lengan Afriz di tubuhnya. "Nggak usah ngeselin, deh."


"Orang cuma minta dicium istri sendiri, kok dibilang ngeselin?"


Pipi Zaya menggembung, malu. "Kan tadi sore udah," katanya, amat pelan.


"Itu kan pipi, Yang."


"Kan sama aja."


Kalimat pendek barusan memunculkan seringai jail di bibir Afriz. "Makanya, sekarang tinggal cium aja kayak tadi sore. Kan sama aja. Caranya sama, orangnya juga sama."


Kedua mata Zaya melebar. Kepalanya menoleh lagi ke arah suaminya yang saat ini tengah mengerling jail ke arahnya.


Kalau menyangkut beginian saja, otak laki-laki yang memangkunya ini pasti cepat terkoneksi. Sinyalnya mendadak 4G.


Kini ia memegang lengan Afriz, meremasnya pelan untuk merilekskan suasana hatinya kala wajah Afriz mendekat.


Namun, sebelum bibir keduanya bertemu, tangisan Faiz keburu terdengar.


"Mas," panggil Zaya. "Kayaknya Faiz tahu kalau aku lagi dinakalin Mas, deh," lapornya.


"Astaghfirullah," desah Afriz. Pegangannya pada tubuh Zaya pun sontak terurai. "Kalau minta cium aja dibilang nakal, bikin kamu hamil itu namanya apa?"


Selepas ditinggal, Afriz kembali menatap layar televisi.


Benar apa kata Zaya, skor sementara sudah satu kosong pada menit ke-83. Tujuh menit lagi sudah masuk waktu tambahan. Aksi provokasi pun tak luput membumbui hingga peluit panjang dibunyikan.


Bersamaan dengan iklan, Afriz menguap. Matanya mulai berat, setelah memastikan bahwa jarum pendek jam dinding telah menunjuk angka dua.


Tak ada alasan baginya untuk tetap terjaga. Maka dari itu, ia segera mematikan televisi kemudian menuju kamarnya dengan Zaya.


Baru saja Afriz membaringkan tubuh, Zaya yang barusan mengganti popok sekaligus menidurkan Faiz lagi pun masuk kamar.


Perempuan itu menelan ludah, menahan keinginannya saat ini. Kemudian mendekati sang suami. Bukan untuk ikut tidur, tetapi membangunkan laki-laki itu.


"Mas," panggilnya.


"Hm?" gumam Afriz antara sadar dan tidak.


Gerakan-gerakan gusar yang terasa melalui gerak kasur, kian mengganggu Afriz. "Nggak tidur?"


Tetapi Zaya hanya menggeleng. Perempuan itu malah menggigit-gigit bibir bawahnya, seperti menahan sesuatu. "Aku pengen itu, Mas."

__ADS_1


Tetapi Afriz hanya menggumam tak jelas. "Hm?" seraya mengusahakan agar matanya bisa diajak kompromi untuk melek lagi.


Gerakan Zaya makin gelisah. Napasnya kian memburu. "Aku pengen."


Mata Afriz melek seketika, mendengar perkataan serta gerak tubuh yang menggoda dari istrinya barusan. Lalu bangun dengan antusias.


Sebagai pria tulen, ia tak ingin mengecewakan pasangannya yang sedang butuh belaian. "Harus malam ini juga? Nanti kalau ada apa-apa?" tanyanya sungguh-sungguh, menatap Zaya yang masih menggigit-gigit bibir bawah dan *******-***** pakaiannya sendiri.


Kini Zaya mengangguk mantap, matanya sayu. "Aku lagi pengen banget," bisiknya. Dan detik selanjutnya, dirinya terisak. "Aku pengen makan kedondong."


Bubar semua imajinasi Afriz, karena tak berhasil menebak isi pikiran sang istri yang sebetulnya tengah mengidam, bukan haus belaian. "Jam segini mana ada tukang buah yang jualan?"


Tanpa menjawab, Zaya naik ke ranjang. Ia lewat di depan Afriz, kemudian berbaring sembari menyelimuti tubuhnya menggunakan selimut tebal. Tak lupa ia memeluk guling sambil terisak pilu.


Entah kenapa, rasanya ia ingin sekali makan buah kedondong. Padahal dulu ketika di kampung, meski di samping rumah ada pohon kedondong, ia tak pernah mau makan buah tersebut.


Baginya, buah kedondong itu rasanya masam. Terlebih, hanya tampilan luarnya saja yang bagus. Sementara di dalam, hanya dipenuhi sesuatu yang mirip akar.


"Besok pagi, ya. Sekarang kamu tidur. Atau Mas petikkan jambu sekarang. Kalau nggak, rambutan saja yang rasanya asam juga. Kamu tinggal pilih, mau jambu atau rambutan?"


"Aku penginnya kedondong."


"Kalau maunya makan kedondong, ya kamu mesti sabar sampai besok. Mas janji, besok Mas belikan."


"Tapi aku maunya sekarang."


Mendengar tanggapan pendek bernada final itu, Afriz menghela napas berat. Diusapnya wajah dengan gerakan gusar, ditambah rasa kantuk yang mulai menghampirinya lagi.


"Di sekitar sini nggak ada yang punya pohon kedondong."


"Orang Mas belum nyari, kok udah bilang nggak ada!?"


"Ya kamu mikir, lah. Malam-malam gini nyuruh cari buah yang nggak ada di rumah. Lagi pula Mas ngantuk banget, Ya."


Tetapi Zaya tak menanggapi. Hanya isakannya yang terdengar makin jelas.


Malah sekarang, ia menutupkan selimut sampai ke kepalanya sebagai aksi protes karena suaminya tak lekas beranjak untuk mencarikan buah kedondong.


Ditambah nada bicara suaminya yang tak enak didengar begitu, membuat suasana hatinya makin tak menentu. Makanya, dengan keadaan sekarang, ia pun segera memunggungi suaminya. Tak peduli kalau sebentar lagi ia akan kehabisan napas.


"Mas sendiri yang bilang, kalau aku hamil, Mas mau jadi suami siaga. Tapi, aku cuma minta kedondong aja nggak dikasih," ungkit Zaya, sengaja mengeluarkan senjata pamungkas.


"Nggak usah nangis. Iya, ini berangkat sekarang!" putus Afriz di tengah rasa kantuk dan kesalnya.


"Nggak usah dicariin, kalau Mas nggak ikhlas."

__ADS_1


Tetapi Afriz telanjur keluar kamar, yang seketika membuat Zaya dilanda rasa bersalah lantaran memaksa suaminya itu pergi dalam keadaan mengantuk.


...***...


__ADS_2