
Kepulangan Afriz disambut oleh kesunyian malam. Wajahnya yang nampak lelah makin tak bertenaga ketika mendapati bahwa tak ada satu pun penerang yang menyala di rumahnya, meski ini sudah hampir pukul dua belas.
Artinya tak ada orang di kediamannya. Tak ada Zaya di dalam sana, sebagaimana harapan yang ia yakini sebelum memutuskan untuk kembali.
"Malam ini kamu tidur di mana, Ya?"
Sungguh, seandainya tadi ia tak terlalu tergesa menuju ke rumah mertuanya melainkan langsung ke tempat tinggal Nida, mungkin ia masih bisa menemukan kemudian membujuk Zaya pulang.
Lebih jauh dari itu, jika tadi ia tak sok-sokan menunjukkan rasa simpatinya terhadap Vita, bisa jadi sekarang ia sedang memeluk serta menggoda istrinya; menanyakan hal apa saja yang dialami oleh wanita hamil itu selama ia tak sedang di rumah. Dan ia yakin, ada banyak cerita yang terlewat ia ikuti selama kepergiannya dalam satu pekan terakhir.
Afriz ingat sebuah obrolan perihal awal mula perjodohan mereka. Kejadiannya adalah malam itu, ketika pernikahan mereka memasuki usia lima bulan.
"Kan Mas tahu sendiri, aku udah punya anak meski belum pernah nikah. Mas dulu kenapa nggak mundur sewaktu dijodohin sama aku?"
"Kenapa harus mundur, kalau Mas mau maju?" Kening Afriz berkerut heran, tetapi matanya benar-benar mengamati wajah di hadapannya.
"Ya kayak yang pernah aku bilang, Mas bisa dapat perempuan yang lebih baik, yang seenggaknya nggak bikin Mas malu di depan teman-teman Mas."
"Memangnya selama ini Mas malu karena menikahi kamu?" Bukannya menjawab, lagi-lagi Afriz bertanya balik.
"Aku tahu, kok, statusku ini sempet ganggu Mas."
Gemas akan jawaban yang diperoleh, Afriz bangkit dari posisi baring miringnya demi menangkup pipi lawan bicaranya tersebut. "Itu nggak jawab pertanyaan suamimu sama sekali, Sayang."
Lalu Zaya ikut-ikutan duduk. Posisi perempuan itu menghadap sang suami, dengan kaki bersila. "Dari tadi Mas juga nggak jawab pertanyaanku sama sekali."
"Pertanyaan kamu itu merangsang pertanyaan lain, Yang." Kemudian Afriz tersenyum geli ketika istrinya itu sedikit cemberut. Lalu lelaki itu membetulkan letak bantalnya, menepuk-nepuknya sejenak, dan diakhiri kepalanya yang ia tumpukan di atas benda empuk itu. Setelah beberapa saat berbaring, ia tersenyum sembari memasang tangan. "Sini peluk dulu makanya, kalau mau dikasih tahu."
Dapat Afriz rasakan gerak kasur kala Zaya bergerak mendekatinya, lalu memepetkan tubuh pada badannya untuk mendengarkan jawaban yang sepertinya sudah sangat ditunggu-tunggu. Tetapi ia tahu, istrinya nan muda belia ini masih kesal terhadapnya. Namun, siapa yang peduli?
"Mau tahu bulat, tahu Sumedang, tahu bakso, tahu susur, tahu mercon, atau tahu-tahu kamu jadi istri Mas?" Iseng, Afriz memang sengaja menjaili Zaya sebagai upayanya melakukan apersepsi. Tak pelak, tawanya mesti diiringi adegan menghindari tabokan sang istri yang entah mengapa terlihat begitu manis sekaligus garang pada malam hari ini. "Oke, ini serius." Walau berkata begitu, Afriz masih saja cengengesan untuk menghabiskan sisa tawanya barusan. "Kamu tadi tanya, kenapa Mas nggak mundur dari rencana perjodohan kita, kan?"
Langsung saja Zaya mengangguk.
"Waktu itu, memang nggak ada alasan untuk mundur. Pertama, kita sudah sama-sama kenal, meski baru sebatas hubungan kerja. Kedua, selama kerja bareng, kita juga nggak pernah cek-cok---oh, lupa pernah ada ribut kecil sewaktu kamu beberapa kali salah nulis ukuran di folder foto yang mau dicetak. Ketiga, entah apa alasannya, papa sepertinya sangat cocok dengan kamu. Keempat, Mas harap kamu nggak lupa kalau Mas memang sudah ingin menikah."
__ADS_1
"Mas udah se-ngebet itu buat nikah, sampai-sampai mau dijodohin sama ibu beranak satu yang belum pernah nikah juga?"
"Yaaa." Afriz masih menggantung jawaban. Ia lebih tertarik mempersempit jarak antara dirinya dengan Zaya. Memeluk perempuan itu, seolah-olah Zaya akan terjungkal jika tak ia dekap sesegera mungkin. "Mas pikir ibu beranak satu pasti jauh lebih berpengalaman. Apalagi masih muda banget gini, pasti lincah banget di kasur," cengirnya. "Bercanda," ralatnya cepat, sebelum salah satu anggota badannya menjadi korban kejengkelan Zaya. "Mau gimana lagi? Mas telanjur bilang ke papa kalau kita sudah menikah secara siri, bahkan sampai punya anak dari pernikahan sembunyi-sembunyi itu."
Walau pengakuan barusan terucap dengan sangat tenang, Afriz dapat melihat keterkejutan pada wajah istrinya.
"Tahu, nggak? Aku tuh sempet syok banget sewaktu papa tiba-tiba nemuin aku, terus senyum-senyum sambil bilang, 'Faiz ini anak kalian, kan? Anak Afriz juga, kan? Afriz sendiri yang mengaku kalau selama ini kalian sudah menikah siri.' Padahal kita aja ketemu belum genap sebulan."
"Kapan papa bilang gitu ke kamu?"
"Ya itu, sekitar seminggu sebelum aku resign. Terus gara-gara itu aku makin mantep buat nggak kerja lagi sama Mas, mending pulang biar nggak ada gosip yang tambah aneh. Lagian Mas sih, omongannya ngaco. Berani-beraninya bohongin orang tua."
"Mas nggak nyangka juga kalau itu bikin papa malah mendesak untuk segera melamar kamu, apalagi ini sudah bawa-bawa anak segala. Jadi, ya gitulah."
"Jadi doa yang dikabulin, kan?"
Masih dalam posisi yang sama, Afriz mengangguk. "Iya. Alhamdulillaaah." Kemudian ia mengecup puncak kepala Zaya, cukup lama dan dalam. Lalu ia berkata, "Sekarang giliran Mas yang mau tanya." Kini ia merasakan gerakan tubuh bagian atas lawan bicaranya sebelum ia mendapati raut penuh tanda tanya dari sosok di dekatnya ini. "Kamu nggak menyesal, kan, menikah dengan Mas?"
"Nggak. Eh, belum. Kan baru lima bulan."
Beberapa saat lamanya Afriz menunggu. Entah kenapa, rasanya akan terlalu menyakitkan jika Zaya menggeleng atau berkata 'tidak' untuk pembahasan ini. Lalu ia dibuat bingung saat Zaya menggeleng lalu mengangguk. "Bahagia, nggak?" Suaranya memelan, disertai perasaan harap-harap cemas ketika Zaya menampilkan cengiran.
"Pas awal-awal nikah, aku nggak bahagia. Mungkin karena masih nggak nyangka aku bisa nikah sama bos sendiri, terlebih aku emang belum ada bayangan nikah tuh kayak gimana. Tapi lama-lama aku bahagia juga."
"Bener gitu?"
Zaya mengangguki. "Mas baik, sayang sama Faiz, tiap bulan ngasih aku uang belanja, nggak biarin aku kelaparan, terus udah punya tempat tinggal sendiri. Mana lagi, Mas bisa diajak kompromi."
"Diajak lebih rajin bikin anak juga bisa dan mau. Banget," tambah Afriz, yang sayangnya tak dihiraukan oleh lawan bicaranya yang tetap ingin berada di jalur lurus dalam pembicaraan.
"Terus Mas nggak maksa aku biar bisa masak, tapi ngasih waktu buat belajar sampai bisa masak beneran."
"Iya, lah. Kalau masalah mau makan, bisa makan di luar, nggak harus menuntut istri bisa masak. Kan menikah itu untuk membangun rumah tangga, bukan membangun rumah makan."
"Suara hati suami pas punya duit, nih," cibir Zaya. "Coba aja Mas ada di posisi bapakku. Hidup di desa, kerja serabutan, upah nggak nentu; tapi di sisi lain punya tanggungan buat nyekolahin anak. Beruntungnya bapakku, ada bahan makanan yang tinggal diambil dan diolah sama ibuku. Kalau kayak gitu, aku yakin Mas nggak bakal kepikiran buat repot-repot bilang kalau menikah bukan untuk membangun rumah makan, biar bisa gombalin aku. Mas pasti udah sibuk mikirin hal lain."
__ADS_1
Sekian detik lamanya Afriz menatap Zaya tanpa berkedip. Ternyata gombalan kekinian dan terdengar sangat manis itu tak mempan saat ditujukan bagi sang istri. Atau memang pesonanya sudah habis, lantaran tersedot oleh para perempuan sebelum Zaya datang di hidupnya?
"Seandainya aku nggak pernah lihat ibu dan bapak, aku juga penginnya klepek-klepek digombalin Mas kayak barusan. Tapi Mas bikin klepek-klepek dengan cara yang lain. Selama kita 'nikah', Mas nggak kasar ke aku atau ke Faiz. Itu udah cukup bikin aku klepek-klepek dan bahagia, kok."
"Jadi, sekalipun Mas mau punya istri lagi, kamu akan bahagia terus selama Mas nggak kasar ke kamu?" tanya Afriz, mencoba keluar dari zona obrolan yang aman.
"Eh? Mas mau nikah lagi?"
Afriz bisa melihat raut terkejut istrinya. Walau disembunyikan, ekspresi tak suka pada wajah itu dapat ia amati sejelas mungkin. "Kamu kalau mau jadi istri solehah yang meratui para bidadari di surga nanti kan harus tunduk sepenuhnya pada suami, termasuk kapan pun suami minta izin untuk berpoligami."
"Iya, sih. Aku udah sering dengar ceramah kayak gitu."
Walau tak membantah, sangat jelas bahwa nada persetujuan itu sama sekali tak ramah.
"Tapi kalau ukuran jadi istri solehah itu harus dipoligami, kayaknya aku nggak mau jadi istri yang solehah aja, deh, Mas. Aku nggak mau jadi ratu bidadari, kalau syaratnya harus berbagi suami. Ya bener, sih, tunduk ke suami itu buat nyari ridho dari Allah. Tapi kalau aku nggak ikhlas, ya buat apa juga? Yang ada aku cuma nambah dosa karena bohong ke orang lain dengan pura-pura bahagia, padahal nyatanya aku malah menganiaya diri sendiri. Lagian kayak stempel jadi istri solehah itu ada di tangan manusia aja."
Setelah penjelasan berisi penolakan itu usai, Afriz bisa melihat bibir Zaya yang cemberut. Bahkan pipi perempuan itu menggembung, yang justru tampak lucu. Sebuah reaksi yang terbilang wajar, mengingat bahwa hal yang baru selesai dibahas merupakan isu paling sensitif bagi wanita bersuami. "Iya, kamu kan sudah solehah sebelum menikah."
Ternyata perkataan hiburan itu tak memberi dampak apa-apa. Zaya masih cemberut. Bahkan marah, mungkin.
"Kalaupun kamu bersedia dimadu, takutnya Mas malah jadi merasa bisa adil, merasa bisa ngasih kamu golden ticket untuk masuk surga juga. Padahal Mas bukan apa-apa, hanya orang minim pengetahuan agama yang mengatasnamakan Allah dan Rasulullah untuk kepentingan Mas sendiri. Lagi pula, kampanye poligami yang digadang-gadang sebagai sunah Rasul paling utama itu justru sekarang jadi lahan bisnis, Yang. Nah, itu bikin girang laki-laki yang susah menahan syahwat seperti Mas ini. Beruntung, Mas punya istri yang bisa mengalihkan fokus biar nggak melulu menuruti syahwat, makanya harus berpikir seribu kali kalau mau poligami."
Walau masih tampak jengkel, air muka Zaya sudah tak sekeruh tadi.
"Aku mau, Friz. Aku mau kita melanjutkan rencana pernikahan kita, meskipun aku cuma bisa jadi istri kedua kamu. Aku mau dan aku rela."
Pernyataan Vita pada siang tadi menyadarkan Afriz dari lamunannya barusan. Kemudian lelaki itu memejamkan matanya yang mulai terasa berat, meski di sisi lain benaknya belum bisa diajak berdamai. Ingatan dan pikirannya berputar-putar pada kejadian hari ini.
Jangan bilang, Zaya masih ingat perihal pembahasan istri kedua itu, meski Afriz sama sekali tak berniat untuk merealisasikannya?
Kalau boleh jujur, mana mau Afriz berpoligami, jika menghadapi satu istri yang tidak neko-neko, pendiam, pemalu, menjunjung tinggi kejujuran, dan tampak tidak berdaya saja dirinya sudah dibuat kelimpungan begini.
Lantas, apa jadinya bila dirinya memperistri perempuan yang pembawaannya berbanding terbalik dengan Zaya?
...***...
__ADS_1