
^^^[Besok aku ke tempatmu lagi. Ada banyak hal yang perlu kita bahas]^^^
Pesannya terkirim. Centangnya sudah dua.
Da hanya perlu menunggu warna biru menyelimuti dua tanda yang bisa menjadi sangat penting dalam keadaan tertentu.
Walau kemungkinan besarnya Zaya sengaja mematikan tanda telah dibaca yang disediakan oleh aplikasi perpesanan paling kekinian itu.
Tetapi, ya sudah. Itu tak jadi masalah.
[Maaf, gak bisa. Aku belum tentu di rumah]
Pam tahu itu hanya alasan. Lalu ia tak membalas. Karena diizinkan ataupun tidak, besok sepulang bekerja ia tetap akan ke tempat tinggal Zaya.
Mungkin beginilah rasanya kepincut dengan istri orang. Pam seperti mengamini bahwa daya pikat perempuan bersuami jauh lebih menantang ketimbang seorang gadis.
Apalagi kini saingannya cuma satu. Tetapi berhasil membuat adrenalinnya makin terpacu.
Di samping tempat tinggal Pam, tempat laki-laki itu menyaksikan turunnya matahari yang sinarnya tak lagi menyilaukan melalui jendela kamar, terhampar sawah luas yang menjadi batas pekarangan rumahnya dengan bengkok desa.
Dari tempatnya kini, ia bisa memandang alur sungai yang menjadi batas antara dusunnya dengan Dusun Matamu.
Memang, jarak kedua dusun itu tak begitu jauh, walau tak sedekat hatinya dengan salah satu mantan penduduk dusun itu. Cuma dua sampai tiga kilometer. Sebagian rumah di Matamu saja terlihat, walau tak begitu jelas.
Arah pandang Pam masih ke depan, ke seberang sana.
Seakan-akan pemuda itu tengah terpikat oleh semburat kuning kemerahan yang disajikan oleh alam yang hendak beralih dari siang ke dekapan malam, diiringi suara tonggeret yang menjadi musik latar.
Tetapi sesungguhnya pikiran pemuda itu tak berada di tempat yang semestinya. Ingatannya justru terlempar ke masa lalu.
Tujuh tahun silam....
Seorang Anggada Pambuko masih kelas sebelas.
Ketika itu ia memang sekolah di lain kabupaten dan harus indekos selama menempuh pendidikan menengah atasnya.
Remaja laki-laki itu pulang saban dua minggu sekali. Tempo yang cukup untuk mempertemukannya dengan Zaya secara rutin, adik kelasnya semasa SD yang kala itu tumbuh menjadi remaja yang berhasil menarik perhatian.
Setelah bertemu belasan bahkan puluhan gadis yang beberapa di antaranya sudah ia pacari, semestinya kekaguman terhadap Zaya makin berkurang. Nyatanya, walau tak terlalu banyak bicara, gadis Matamu itu telah banyak mengubah pola pikirnya dalam memandang hidup, meski keberadaan remaja perempuan itu tak begitu menonjol bagi banyak orang.
"Pam, piye? Kowe setahun neh lulus SMA. Pengin cepet rabi pora?" tanya Jamal saat itu, menggodanya untuk cepat menikah selulus SMA.
"Ha rabi karo sopo? Genah aku jones ngene, berarti ra ono sing gelem karo aku," sahut Pam, mempertegas status dirinya yang tak pernah punya pacar semenjak masuk sekolah menengah atas, dan otomatis tak memiliki pandangan hendak menikah muda dengan siapa, karena tak ada yang mau dengannya.
"Anak kades sing ngganteng koyo kowe opo iyo betah njomblo?" tanya Jamal sangsi, mengungkit-ungkit keadaan muka Pam yang rupawan dan status sebagai anak dari pemimpin desanya, yang melengkapi hidup sahabatnya ini.
__ADS_1
"Aku lihat-lihat banyak cewek cantik yang suka cari perhatian tiap kamu pulang. Ya tadi si Sania itu. Dia datang dengan tampilan maksimal, bawa jajan, dan akhirnya ngajak nonton. Dan jangan lupa si Una. Dia sering ke rumahmu, kan? Malah ibu-bapakmu senang sekali tiap dia datang. Didatangi anak bendahara kecamatan yang cantik, kok."
Pam hanya tersenyum tipis. "Tapi kamu jangan lupa, bapaknya si Una itu sedang tersandung masalah. Duit kecamatan yang mau dialokasikan ke kelompok pertanian di desa sudah banyak yang ditilep."
"Itu kan baru katanya. Lagi pula kalau kabar itu benar adanya, kan itu masalah bapaknya. Anaknya ndhak tahu apa-apa begitu."
"Tapi tetap, Mal, tindakan kurang wajar begitu itu berpengaruh pada perilaku anaknya. Ndhak usah jauh-jauh membicarakan orang lain, lah. Contohnya aku sendiri. Aku ndhak pernah menyangkal kalau kerja bapakku melenceng, yang sedikit banyak punya pengaruh terhadap rasa minderku sekarang.
"Aku selalu merasa kecil di depan warga bapakku yang tetap hidup bersahaja di tengah kepungan warga dan pamong desa yang lebih suka hidup dari utang yang tak begitu perlu, ataupun berperilaku curang kepada orang kecil demi memenuhi ambisi foya-foyanya. Orang-orang sadar itu salah, tapi menganggap benar saat banyak yang melakukan hal serupa."
"Tapi itu sudah jadi kewajaran."
"Ya memang begitu, dan mestinya aku hanya perlu banyak bersyukur dan menikmati apa yang aku punya sekarang ini. Toh, ndhak semua orang seberuntung diriku."
"Lalu, apa masalahnya?"
"Aku cuma ndhak mau anak-anakku sama sepertiku yang punya bapak penikmat ketidakjujuran, lalu nantinya anakku jadi apatis terhadap hak-hak orang lain. Karena mau diakui ataupun tidak, aku akan jadi idola bagi anakku sendiri."
"Anakmu?" Kedua mata Jamal menyipit. "Kamu sudah berpikir sejauh itu?"
"Ya. Bukankah sedari tadi kamu membicarakan kawinan? Nah, salah satu tujuan kawin kan biar punya anak."
"Nikah, Pam, nikah," ralat Jamal cepat, yang langsung dibalas cengiran oleh Pam. "Belum-belum kamu sudah kebelet kawin, sudah mengerti kalau kawin itu biar punya anak segala. Memang luar biasa anak kadesku yang ganteng ini."
Remaja berkaus klub Arsenal itu cekikikan. "Lho ya wajar, kan? Mau aku ini anak kades atau bukan, ya sama saja. Aku ini sudah 17 tahun, setahun lagi lulus SMA, yang kamu bilang sudah cocok jadi pengantin. Rasanya bukan hal aneh kalau aku tahu hal-hal begituan."
"Betul. Tapi kamu jangan salah paham dulu, Mal. Aku ini sekadar tahu, belum saatnya praktik langsung. Lagi pula aku masih terbilang bocah, belum saatnya bikin bocah. Bekalku belum banyak ini. Hahaha."
"Haha, iya juga, ya. Kamu saja kalau Arsenal kalah masih suka marah-marah ndhak jelas, masa mau jadi idolanya anak?"
"Nah itu kamu ngerti."
"Tapi tetap, menikah itu harus disegerakan. Rasulullah sendiri lho yang menganjurkan. Makanya di desa kita banyak sekali yang taat pada sunah Rasul yang satu itu." Lagi-lagi Jamal belum puas menggoda sahabatnya. Sok-sok membawa Rasulullah sebagai senjata.
"Iya, disegerakan bagi yang mampu. Tapi bukan berarti buru-buru," timpal Pam, sekakmat.
Sebetulnya, menikah muda bukan hal baru bagi Pam. Ijab sah setelah mendapat ijazah SMA bahkan SMP, menjadi tradisi yang sulit dibantah oleh seorang pemuda seusianya.
Tetapi ia masih punya waktu yang amat longgar. Usianya baru tujuh belas tahun, dan KTP-nya bahkan belum jadi. Sedangkan umur gadis yang hendak ia nikahi pun masih empat belas tahun, atau malah belum genap segitu.
Ini bisa jadi alasan baginya untuk menunggu Zaya matang sebelum dipetik.
Paling tidak, empat atau lima tahun lagi sesudah ia bekerja dan bisa menafkahi keluarga kecilnya dengan kerja keras sendiri.
Karena rasanya tak lucu saja kalau ia masih menyusahkan orangtua, sebagai akibat dari sikap gegabahnya untuk menikah pada usia terlalu muda.
__ADS_1
"Nyatanya," lanjut Pam dalam hati, "aku sudah terjebak dalam sikap tolol dan konyol sejak dalam pikiran. Aku yang masih berjiwa kanak-kanak ini ternyata menyukai dan mengingini Zaya yang masih bocah juga. Sementara aku harus dihadapkan pada pilihan: menikah muda atau membiarkan Zaya menikah dengan orang lain. Karena aku tak bisa menjamin kalau setahun lagi dia masih akan melanjutkan sekolah, dan otomatis akan ditanyakan oleh laki-laki."
Ia tak lupa bahwa ini adalah Desa Karang Kidul. Ada begitu banyak laki-laki serta perempuan yang sudah matang sebelum waktunya.
Bahkan berdasarkan hasil curi dengar ketika Pak Carik menyampaikan laporan data perkawinan kepada ayahnya, salah satu dusun yang masuk wilayah Karang Kidul, Dusun Matamu, menjadi penyumbang terbesar kasus pernikahan dini.
Walau pengantin perempuan baru saja mengalami menstruasi perdana ataupun baru pertama memakai kutang sesaat sebelum duduk di depan penghulu, bukan persoalan rumit yang tak bisa diatasi.
Itu artinya, Zaya sudah bisa dijadikan istri. Bagaimanapun caranya dan siapa pun mempelai laki-lakinya.
Pam menggeleng kuat-kuat atas kegilaan tersebut, tetapi dirinya tak punya kuasa apa-apa untuk mengubah tradisi lama itu. Berbeda halnya dengan sang ayah, yang memiliki wewenang membuat peraturan tegas tetapi berpendirian bahwa lebih baik menikah muda daripada berzina.
Meski pada kenyataannya banyak perempuan di bawah umur yang menikah karena kecelakaan.
Nah, sementara ia sendiri menganggap bahwa pernikahan pada masa kanak-kanak tidak ubahnya seperti pemerkosaan. Dan jika itu terjadi juga kepadanya dan Zaya, nahasnya, praktik ilegal tersebut dilakukan oleh sesama bocah yang masih ingusan.
Lantas, bagaimana bisa dua bocah yang masih sama-sama berjiwa kanak-kanak seperti dirinya dan Zaya dapat langsung mengambil peran sebagai orang dewasa?
Punya anak ketika masih bocah, dengan dalih agar bisa melihat anaknya tumbuh besar dalam keadaan masih segar bugar?
Pokoknya, logikanya masih setuju bahwa pernikahan semacam itu tergolong tidak wajar. Lagi pun, ia ingin mengurangi budaya tua yang sudah mengungkung desanya sendiri.
Dan untuk Zaya, ia berharap bahwa gadis itu tak terpengaruh oleh kebiasaan di desa yang bisa merusak masa depannya. Semoga saja.
Kalau benar begitu, beberapa tahun lagi ia bersedia datang ke rumah perempuan itu untuk melamar, menjadikan Zaya sebagai istrinya.
"Kamu ini senyum-senyum terus, ada apa?" tanya Jamal. Keningnya berkerut heran.
"Kenapa, memang?" Bukannya menjawab, Pam justru balik bertanya.
"Kalau aku lihat-lihat sih kamu seperti orang jatuh cinta."
"Sok tahu." Pam tersenyum-senyum lagi.
Mata sobat Pam itu menyipit, mencari kebenaran dari dugaannya. "Kalau bukan karena Sania, Una, dan gadis-gadis yang sering berkunjung ke rumahmu, lalu karena siapa?"
Pam justru celingak-celinguk tak jelas, teringat sesuatu. "Sekarang jam berapa?"
Walau bingung atas pengalihan topik barusan, Jamal tetap mengecek arlojinya. "Empat lebih dua puluh."
"Ayo, aku tunjukkan."
"Apa?" Jamal makin tak paham maksud sahabatnya yang sudah terlebih dahulu melangkah ke luar. "Kamu belum jawab pertanyaanku!"
"Ayo, makanya."
__ADS_1
"Lah, ke mana?" batin Jamal.
Bersambung ❤️❤️