Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar

Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar
Batas Waktu


__ADS_3

Seperti pada hari-hari sebelumnya, belum ada pelanggan yang datang saat pagi begini. Karena sudah menjadi rutinitas bahwa orang-orang mencetak maupun mengambil foto ketika masuk jam makan siang.


Dengan keadaan yang begitu, Afriz bisa leluasa membaca brosur yang tadi ditemukannya di depan pintu studio.


"Mom and baby spa," mulainya. "Paket spa dan relaksasi bayi, seratus dua puluh ribu. Paket promo pijat ibu hamil dan totok wajah, seratus delapan puluh ribu."


Laki-laki itu mengangguk-angguk. Dia tertarik memanjakan Zaya. Maka tanpa membuang lebih banyak waktu, ia memotret brosur di tangannya untuk dikirimkan kepada sang istri. Setelah itu, menunggu respons dari seberang sana.


Sembari memandang foto pernikahannya yang terletak di atas meja kerja, Afriz tersenyum. Kemudian, perhatiannya beralih ke cincin yang melingkar di jari manisnya.


Laki-laki itu ingat, hampir sembilan bulan yang lalu mengucapkan kalimat ijab kabul di depan Pak Kuswin yang menjadi wali nikah Zaya.


Kalau diingat-ingat lagi, rumah tangga yang kini dijalaninya memang di luar dugaan sekaligus emosional.


Banyak tarik ulur yang mewarnai jalinan hubungannya dengan Zaya sebelum sampai pada titik ini.


Belum ada tiga jam berpisah dengan istrinya, Afriz sudah rindu lagi. Maka sekarang dia menilik layar ponselnya, mengamati wajah manis Zaya yang tersaji di galeri foto.


Pose Zaya begitu santai dan tak menghadap ke kamera, mengingat Afriz mengambil gambar tanpa sepengetahuan istrinya itu.


Di gambar yang tengah Afriz perhatikan kini, Zaya memakai sweter berwarna putih bertali dan dihiasi gambar hidung serta kumis kucing. Rambut hitam dan panjang perempuan itu dibiarkan tergerai.


Dengan penampilan yang sedemikian rupa, di mata Afriz, Zaya masih cocok jika menjadi anak SMA. Walau hal ini secara otomatis membuatnya merasa tua.


Bahkan sesaat setelah mengambil foto tersebut, pemuda itu tiba-tiba saja bilang, "Kalau keluar-keluar nggak usah pakai itu."


"Apa?" tanya Zaya tak mengerti.


"Kalau keluar rumah, nggak usah pakai sweter yang kamu pakai sekarang," jelas Afriz.


"Kenapa? Kan Mas yang ngasih aku ini. Ya aku pakai, lah."


"Nanti kalau kita jalan bareng, kamu mau dikira jalan sama om-om?"


"Mas bisa pakai kaos, biar kelihatan lebih muda dan nggak dikira om-om."


Memang benar Afriz bisa menampilkan sisi muda melalui pakaian santai dan lebih gaul. Tetapi membiarkan Zaya berpenampilan sangat imut begitu ketika di luar rumah, sama saja dengan melebarkan peluang agar perempuan itu digoda oleh laki-laki lain.


Nah, peristiwa begini ini yang membuatnya harus memperketat proteksi terhadap sang istri. Karena keimutan yang saat ini ia nikmati hanya boleh disaksikan oleh dirinya seorang.


Begitulah cerita di balik foto imut yang tengah Afriz senyumi. Lalu secara semena-mena benak lelaki ini mencetuskan sebuah solusi. "Cetak, ah."


Padahal tanpa harus mencetaknya dalam wujud dua dimensi, ia bisa saja menikmati wajah Zaya secara utuh ketika di rumah. Tak perlu bersikap seperti anak baru gede seperti sekarang.


Sambil menunggu proses penyalinan data dari ponsel ke komputer, Afriz bangkit dari kursi untuk mengambil kertas foto.

__ADS_1


Tetapi tanpa sengaja tangannya menyenggol setumpuk kertas tak terpakai sehingga sebagiannya berhamburan.


Cepat-cepat pria itu membereskan lagi.


"Eh, ini punyanya Zaya sewaktu melamar ke sini?" gumamnya heran, begitu melihat ada nama Zaya di antara kertas-kertas yang tengah ia beresi.


Kemudian laki-laki itu membaca biodata atas nama Ihzaya Nurina, lalu menemukan sesuatu.


"Pantesan tadi Zaya tanya aku ingat apa enggak. Jadi, tiga hari lagi dia ulang tahun?" Afriz menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Ngado apa, ya?"


Sungguh, menebak kemauan Zaya perlu teknik tersendiri. Sebab, istrinya itu memang tak bisa diterka secara asal-asalan perihal selera.


Tetapi kalau berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, Zaya pasti menerima semua barang yang diberikan olehnya. Jadi, sebetulnya memberi hadiah kepada istrinya bukanlah suatu hal yang memusingkan.


Afriz pun sebenarnya ingin mengucapkan beberapa hal yang semestinya Zaya dengar langsung dari mulutnya.


Mumpung momentumnya tepat, meski terasa sangat terlambat dan ia terkesan seperti remaja tanggung yang baru pertama kali jatuh cinta.


"Tapi ngomongin apa, ya?" tanyanya kepada diri sendiri.


Laki-laki itu kini duduk sembari terus memandangi biodata milik istrinya. Kemudian teringat akan sesuatu.


Afriz berdeham sebentar sebelum memulai latihan pengutaraan perasaan.


Lalu pemuda itu tertawa geli saat mengingat dan menyadari kekonyolan yang dia ciptakan.


"Gobl*k!" makinya, hanya bisa didengar dirinya sendiri. "Kan kami ini suami istri yang bahkan hampir punya anak. Ya jelas dia mau, lah."


Laki-laki itu tentu sudah paham bagaimana Zaya jika menanggapi hal-hal begituan.


Dugaannya, sang istri akan membalas, "Kita kan emang udah nikah, udah mau punya anak juga, Mas. Kenapa masih ditanyain aku mau nikah sama Mas atau enggak?"


Ya kalau sudah begitu, Afriz harus menanggapi bagaimana, coba?


Beruntung, kebingungannya akan kondisi semacam ini telah menemukan penangkal ketika ponsel pintarnya menerima pemberitahuan pesan masuk dari Zaya.


Tetapi tanpa membaca secara utuh, Afriz langsung menghubungi nomor sang istri.


"Wa'alaikumsalam. Kamu habis ngapain, kok ngos-ngosan?" tanyanya heran.


"Nggak ngapa-ngapain. Hehehe."


"Kebiasaan." Afriz berdecak. "Oh, iya. Sudah lihat brosurnya, kan? Mau, nggak?"


"Oh, itu? Aku mau, Mas. Biar lebih rileks. Tapi kapan?"

__ADS_1


"Ya kamu maunya kapan?"


"Besok, boleh?"


"Nggak hari ini sekalian?"


"Nggak, deh. Soalnya sekarang masih ada tamu."


Perasaan Afriz jadi tak enak. "Siapa?"


"Kak Una, Mas."


Mendengar satu nama barusan, Afriz kini mengerti mengapa napas Zaya ngos-ngosan.


Karena selain sedang berjuang membesarkan anak mereka yang masih terlalu kecil, perempuan itu tengah berusaha menata hati dan emosi.


"Tenang, ya, Sayang."


"Iya."


Afriz masih menunggu apa yang akan Zaya katakan lagi, sembari membaca pesan dari Vita yang baru saja masuk.


Vita: [Kita bisa ketemu, biar kamu lebih leluasa milih mobil mana yg mau kamu ambil. Soalnya ada keluaran baru, yg aku yakin kamu pasti suka. Kapan kamu ada waktu?]


[Besok, tapi mungkin agak malam] balas Afriz.


"Mas." Panggilan dari seberang, kini menyita perhatian laki-laki itu.


Afriz menempelkan ponselnya ke telinga lagi. "Kenapa?" tanyanya, ketika pendengarannya menangkap kegusaran dari napas lawan bicara di seberang sana.


"Egois nggak sih, kalau untuk sementara aku batesin waktu pertemuan mereka, seenggaknya sampai aku siap?"


"Nggak kok, kamu nggak egois. Malah dengan kamu menyambut Una tanpa dendam saja, kamu hebat banget. Dan Mas ngerti, kalau kamu belum siap melepas Faiz. Tapi Mas juga yakin, kamu bisa mengambil keputusan yang terbaik."


Terdengar helaan napas lega dari seberang sana, sebelum Zaya berucap, "Makasih ya, Mas."


Afriz mengangguk, meski Zaya tak bisa melihatnya. "Iya, sama-sama. Maaf kalau Mas nggak bisa banyak bantu kamu dalam hal ini."


"Nggak apa-apa, kok. Ya udah, aku tutup dulu teleponnya."


Satu pesan dari nomor Vita, Afriz baca lagi selepas sambungan telepon telah terputus.


Oke. Besok malam kita ketemu ya. Untuk jam n tempatnya, tinggal kabar kabar aja


...***...

__ADS_1


__ADS_2