Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar

Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar
Yakin


__ADS_3

Bu Darmi menyerahkan tas tangan dari kertas kepada Zaya. "Ini, ada titipan dari suami kamu."


Kemudian dielusnya puncak kepala anak bungsunya itu sebelum beliau kembali melanjutkan aktivitas.


Sebetulnya, dalam keluarga Zaya memang tak pernah ada romantisme semacam ucapan atau kado ketika salah satu anggotanya berulang tahun.


Sebenarnya Zaya pun tak berharap banyak terhadap Afriz agar laki-laki itu mengingat momen pertambahan usianya.


Akan tetapi, hadiah yang diberikan oleh suaminya itu menjadi bukti bahwa laki-laki itu masih peduli padanya. Tak pelak, terciptalah rasa haru atas perhatian sekecil ini.


Tak berlebihan rasanya jika keharuan itu seketika mengundang air mata bahagia yang perlahan membasahi wajah Zaya. Kejengkelan terhadap Afriz pun sirna. Yang ada, sekarang ia malah rindu dan ingin segera memeluk suaminya seerat mungkin.


Sesaat setelah sadar dari rasa harunya yang mendadak datang, Zaya teringat sesuatu. Ponselnya sudah tidak disentuhnya sejak kemarin ia mengirimkan pesan terakhir. Maka sekarang ia lekas mencari benda tersebut untuk menghubungi suaminya.


Pada akhirnya Zaya hanya harus menggigit kecil bibir bawahnya. Ia sedikit panik lantaran harus menerima kenyataan bahwa telepon genggamnya tak ada di tempat yang semestinya.


Entah tertinggal di rumah atau jatuh saat di perjalanan, ia tak tahu.


...***...


Sudah lebih dari lima menit lamanya Nida berada di teras rumah kakaknya.


Sudah beberapa kali pula ia mengetuk pintu, mengucapkan salam, serta memanggil penghuni rumah. Tetapi satu kali pun ia belum mendapatkan balasan.

__ADS_1


"Mbak Nida cari Mas Afriz, ya?"


Mendengar pertanyaan dari arah belakang, Nida seketika menoleh.


Kini, gemerincing empat gelang emas dipadu kerlip cincin berlian yang terkena sorot matahari pagi, menjadi paduan nada dan pemandangan yang menarik perhatian Nida.


"Tidak lupa dengan saya, kan? Ini saya, Bu Lincah, tantenya Vita yang dulu pernah pacaran dengan Mas Afriz."


"Eh, iya ingat, lah. Kan masih sering ketemu." Nida masih takjub dengan perhiasan yang menghiasi leher dan tangan Bu Lincah.


Perasaan, dulu penampilan wanita di depannya ini tak seberlebihan sekarang. Atau mungkin, dirinya saja yang tak begitu memperhatikan, entahlah.


"Mbak Nida cari Mas Afriz, kan? Sayang sekali, seisi rumah memang sedang pergi semua."


Walau sudah tahu bahwa kakaknya sedang pergi, Nida tetap memasang wajah kaget. "Loh, ke mana?"


Mendengar penjelasan dari tetangga kakaknya itu, Nida mengangguk-angguk. Akan tetapi, perempuan berambut sebahu ini sedikit kecewa lantaran tak bisa bertemu dengan Zaya.


"Saya bukannya mau mengumbar aib rumah tangga orang, lho, Mbak. Tapi kalau saya lihat-lihat, hubungan mereka berdua itu sedang tidak baik."


Meski sudah menduga begitu, Nida tetap bertanya, "Bu Lincah tahu dari mana?" sekadar untuk menerima penjelasan yang lebih detail.


Ia, secara tak sadar telah memberi keleluasaan bagi Bu Lincah untuk memberi informasi yang keakuratannya belum tentu teruji.

__ADS_1


"Begini, Mbak. Beberapa hari yang lalu sebelum Mbak Zaya ke rumah orang tuanya, saya diminta oleh Mas Afriz untuk menjaga istrinya yang sedang demam."


Bu Lincah maju, kemudian duduk di bangku teras. Memulai aksi dalam memberi kesaksian yang meyakinkan.


"Tapi tanpa alasan yang jelas, sejak dulu istrinya Mas Afriz itu tidak pernah suka dengan saya. Makanya begitu Mas Afriz pergi ke studio untuk mengambil hapenya yang ketinggalan, dia marah, tidak mau berbicara dengan saya. Jadi, ya saya tinggal pulang saja. Mbak Nida tahu bagaimana rasanya punya niat baik tapi tidak dihargai oleh orang lain, kan? Nah, begitulah perasaan saya saat itu."


Nida mengangguk. Merasa pegal karena menggendong anaknya, tentu ia butuh duduk. Bersebelahan dengan lawan bicaranya. "Alasan Zaya bisa marah itu karena apa?"


"Dia kan memang seperti itu, Mbak. Suka sekali marah tanpa alasan yang jelas. Apakah seperti itu, idealnya istri yang solehah? Padahal yang sepantasnya marah itu Mas Afriz. Tapi Mas Afriz itu sabar sekali menghadapi sikap istri yang masih kekanakan. Dia juga rela banting tulang, hanya demi istri yang di rumah tidak pernah ngapa-ngapain, yang ada cuma malas-malasan dan cuma bersemangat kalau jalan-jalan atau bertemu dengan bapaknya Faiz."


Sedari tadi Nida memang menatap bibir bergincu merah milik Bu Lincah. Tetapi kesaksian dari wanita itu berhasil membuatnya terkejut. "Memangnya mereka masih bertemu?"


Bu Lincah langsung saja mengangguk. "Iya. Makin ke sini, pertemuan mereka malah makin sering. Mungkin karena Mas Afriz jarang di rumah juga, jadinya mereka merasa lebih bebas untuk bertemu."


Kemudian wajah keriput itu menghadap ke arah Nida. Ekspresinya begitu menyesal dengan apa yang akan ia katakan selanjutnya.


"Mbak tahu sendiri, kan? Di masa lalu, Mbak Zaya sudah pernah punya hubungan dengan laki-laki itu hingga punya anak. Sedangkan sekarang, pertemuan mereka semakin sering. Saya tidak begitu yakin kalau Mas Afriz-lah ayah biologis dari bayi yang Mbak Zaya kandung. Saya jadi kasihan dengan Mas Afriz. Sudah rela berkorban demi menjadi anak yang berbakti kepada orang tua dengan menerima perjodohan, ternyata istrinya malah membawa petaka dalam rumah tangga sendiri."


Sedangkan Nida, masih merenungkan perkataan panjang dari Bu Lincah. Semua pemaparan yang ia dengar memang sangat masuk akal.


Bu Lincah melanjutkan pembicaraan. Kali ini suaranya lebih yakin. "Mas Afriz itu butuh pendamping yang jauh lebih baik daripada istrinya yang sekarang. Harus yang lebih cantik, lebih tahu tata krama ketika berhadapan dengan orang yang lebih tua, serta lebih bisa mengimbangi karier dan pendidikannya Mas Afriz. Karena percuma Mas Afriz punya istri bermuka lugu dan semua bagian tubuhnya tertutup, tapi kelaminnya diumbar di mana-mana dan tentunya bukan cuma di depan suami sendiri. Apa juga yang mau dipertahankan? Istrinya itu cuma tamatan SMA, dan tidak punya karier pula."


Kalau memang begitu kenyataan yang terjadi, suka tidak suka, pernikahan Afriz dan Zaya benar-benar harus berakhir. Keyakinan itulah yang saat ini menjadi solusi terbaik versi Nida.

__ADS_1


Ini jauh lebih baik daripada Afriz semakin repot dan menderita karena masih mempertahankan rumah tangga dengan wanita tak tahu diri seperti Zaya.


...***...


__ADS_2