Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar

Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar
Tempat Makan


__ADS_3

Keheningan yang menguasai tempat makan ini, memberi peluang lebar bagi Vita untuk mengamati laki-laki di hadapannya.


Setelah janji-janji sebelumnya selalu gagal, akhirnya mereka bisa berjumpa tanpa ada halangan suatu apa pun.


Dari sudut duduknya kini, secara jelas Vita dapat menemukan karisma pria beristri itu.


Lebih-lebih, lelaki yang saat ini tengah ia kagumi merupakan mantan pacarnya sendiri, yang sudah ia hafal bagaimana watak, kelebihan, dan kekurangan serta kelemahannya.


"Jadi, mana yang mau kamu tawarkan?" Pertanyaan dari Afriz itu seketika saja menyadarkan Vita dari ketersimaan.


"Ini, kamu lihat-lihat sendiri. Tapi aku yakin, kamu pasti suka sama salah satunya."


Afriz mengangguk-angguk, berusaha percaya. Kemudian menggeser buku katalog yang disodorkan kepadanya untuk melihat gambar serta membaca rincian.


Sambil menunggu Afriz memilih-milih mobil yang ditawarkan olehnya, Vita mengecek ponsel. Kemudian dahinya berkerut ketika mendapati pesan dari nomor tak dikenal.


Tetapi dari foto profil yang tertera, ia tahu siapa yang mengiriminya pesan. Segeralah ia baca isinya.


0815xxxxxx: [Kayaknya mbak gak usah nempelin suami saya terus deh. Ada batas jelas antara pegawai sama atasan.]


Membaca satu pesan berisi ancaman itu, Vita justru merasa tertantang.


[Yg kamu maksud pegawai sama atasan itu siapa sama siapa ya?], balasnya.


Dia yakin, perempuan di seberang sana pasti malu kalau tahu bahwa dirinya sudah tak lagi bekerja dengan Afriz.


0815xxxxxx: [Mbak sama mas afriz]


^^^[Sayangnya aku udah gak kerja sama dia udah lumayan lama. Sekarang aku kerja di showroom mobil. Dianya aja yg mau deketin aku, pakai pura-pura beli mobil.]^^^


0815xxxxxx: [Tolong gak usah halu ya mbak]


^^^[Siapa juga yg halu. Ini kenyataan. Sayang banget ya kamu jadi istri tapi gak diajak diskusi pas suami mau beli mobil]^^^


0815xxxxxx: [Siapa bilang? Mas afriz bilang ke saya, kok. Kami udah diskusi lumayan lama soal ini. Jangankan itu. Bahkan sewaktu mau jual mobilnya buat biaya pengobatan papa, mas afriz diskusi dulu sama saya.]


^^^[Gak usah sok penting karena selalu dilibatin sama dia deh]^^^

__ADS_1


0815xxxxxx: [Ya saya berhak merasa sok penting. Saya istri sah mas Afriz. Lagi pula sekarang aja saya lagi ngandung anak kami berdua]


Meski terkejut setengah mati karena pengakuan barusan, Vita tetap berusaha tenang. Kemudian membalas pesan tersebut.


^^^[Anak siapa ya?]^^^


0815xxxxxx: [Anak kami, saya dan mas afriz. Masih kurang jelas mbak?]


^^^[Aku ragu kalau itu anak afriz. Soalnya aku yakin dia ngelakuin itu sama kamu belum tentu karena cinta]^^^


0815xxxxxx: [Saya gak ngerti mbak ngomong apa]


^^^[Polos atau sok polos?]^^^


0815xxxxxx: [Gak usah ngalihin topik mbak.Tolong mbak posisikan diri sebagai saya. Mbak pasti gak akan rela kalau suami mbak digoda sama perempuan lain.]


^^^[Aku malah bangga kalo suamiku digoda perempuan lain. Karena itu artinya suamiku punya pesona yg gak bisa dibantah]^^^


0815xxxxxx: [Sayangnya saya beda prinsip dg mbak.]


^^^[Sekarang mungkin dia masih suami orang, tapi gak ada yg tau kalo besok2 dia single. Aku yg pny anak aja bisa pisah sama suami kok, aplgi yg baru ngandung. Ya bayangkan aja sendiri deh]^^^


^^^[Apa pun alasannya, aku gak mau jauh dari dia. Kalian juga nikahnya karena dijodohin sama mertua kamu. Sdgkan mertua kamu udah lama mati kan?]^^^


Vita tersenyum saat lawan debatnya itu tak segera membalas penjelasan panjangnya.


0815xxxxxx: [Maaf ya mbak. Mbak mungkin bisa nempelin suami saya terus menerus. Mbak bisa ketemu suami saya di mana aja, sampai-sampai saya cuma kebagian satu tempat di hati suami saya. Tapi itu udah cukup, kok. Dengan ada di hati, saya bisa datang di hadapan suami saya di setiap tempat dan waktu. Ya karena kami udah terhubung di alam bawah sadar. Sekali lagi, maaf banget ya mbak]


Kurang ajar bener nih bocah! geram Vita di dalam hati.


Tanggapan dari istri Afriz itu jauh berbeda dengan apa yang ia inginkan dan harapkan.


Tidak seperti istri-istri lain yang memergokinya merayu para suami, yang kebanyakan sampai mengancam ingin membunuhnya kalau masih mengganggu rumah tangga mereka.


Yang terbaru, istri Riki mengancam akan menyeretnya ke meja hijau kalau ia masih berani menggoda Riki.


Padahal berdasarkan informasi yang ia dapat, usia istri Afriz masih amat muda. Tidak mungkin sosok itu memiliki ketenangan semacam itu.

__ADS_1


Harusnya, emosi perempuan di seberang sana meledak-ledak tidak keruan. Minimal mengajaknya ribut, lah.


Ini? Sungguh tidak bisa dipercaya.


Sementara itu, tampaknya Afriz sudah matang dengan pilihannya kali ini. "Yang waktu itu aku pilih saja, lah. Yang di sini malah nggak ada yang cocok."


"Yakin, nggak mau milih-milih lagi?"


"Yakin. Mobilnya oke, harganya cocok. Tipenya juga sama dengan mobilku yang dulu."


"Oke, kalau gitu. Aku setuju."


Tanpa menanggapi lebih banyak, Afriz mengangkat bahu. Terserah Vita mau setuju atau tidak. Tak ada urusan dengannya.


Vita berdeham untuk membuyarkan suasana hening di antara keduanya. "Pulangnya nunggu hujan reda dulu aja, ya."


Perempuan itu masih berusaha menahan kepergian Afriz agar tetap berada di dekatnya, supaya ia makin leluasa memandangi pria beristri di hadapannya ini.


Vita berani bertaruh bahwa hanya janda putus asa saja yang tak akan kepincut dengan sosok muda, kaya, sukses, dewasa, dan tampan yang menjadi pesona komplet pada diri seorang Afrizal Cipta Prasaja.


Terlebih, sedikit keringat yang membasahi dahi dan pelipis pria di depannya itu menambah kesan maskulin serta mampu membangkitkan sisi liarnya di dalam sana.


Apalagi hujan lebat di luar bangunan ini begitu mendukung benaknya untuk membayangkan hal yang tidak-tidak.


Seandainya saja Afriz mau menemaninya sambil saling menghangatkan tubuh melalui pelukan sebagaimana dulu ketika mereka masih menjalin hubungan, tentu malam ini akan terasa berkali lipat lebih indah.


Terlebih keduanya sudah pasti mengetahui kebutuhan dan kemauan masing-masing sebagai orang yang sama-sama sudah dewasa.


"Maaf, aku mesti pulang sekarang. Istriku sedang menunggu di rumah."


"Tapi aku udah telanjur pesan makanan buat kita berdua."


"Aku tak mau orang berpikiran macam-macam tentang kita berdua."


"Ayolah, santai aja. Masih hujan gini juga. Kalau orang lain berpikiran macam-macam, pikiran mereka aja yang kotor. Itu di luar kuasa kita dan bukan urusan kita. Lagian kamu kayak baru kenal sama aku aja."


...***...

__ADS_1


__ADS_2