Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar

Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar
Kira-Kira


__ADS_3

Sejak bangun tidur, Faiz ikut anak-anak yang bermain di sekitar. Meski ia sendiri belum cuci muka, ekspresinya tampak bahagia. Terbukti dengan betapa antusias ia berlari dan tertawa ketika mengejar gelembung air sabun yang ditiup oleh para kawannya.


Sementara itu, Zaya turut tersenyum melihat pemandangan yang ada. Tingkah menggemaskan para anak yang tak bisa diam itu seperti obat yang tepat baginya.


Melihat mereka berinteraksi secara jujur, membuatnya ingat bagaimana fitrah manusia yang apa adanya. Bukan penuh dengan lapisan-lapisan topeng yang biasa ia temui di antara wajah-wajah para orang dewasa.


Lalu, Zaya mengelus perut bagian bawahnya. Area yang disentuhnya ini memang belum menunjukkan tanda-tanda adanya kehidupan. Hanya ia seorang yang sudah bisa merasakan perutnya mulai membuncit. Dan kurang lebih tujuh bulan lagi, ia akan melihat sendiri wujud nyata dari buah cintanya dengan Afriz.


Tiba-tiba saja Zaya mengembuskan napas berat. Teringat nama Afriz seketika membuat nyeri di sekujur tubuh.


Apalagi bila ia ingat apa yang tadi malam ditemukannya, ketika sang suami tengah makan malam romantis berdua dengan Vita, bahkan di saat ia sedang mengidam. Berbagai pertanyaan pun membenak.


"Kok Mas Afriz nggak pernah cerita kalau Mbak Vita itu mantannya, ya?" menjadi tanya yang paling sering muncul. Dan jujur saja, hal tersebut membuatnya uring-uringan sendiri.


"Mumpung Faiz masih main, kamu istirahat saja, Ya. Ibu lihat-lihat dari tadi kamu sepertinya kurang enak badan. Sana, masuk. Istirahat yang cukup." Bu Darmi mengelus perut Zaya yang terasa lebih kencang, hingga anaknya terkejut atas perlakuannya ini. "Kasihan dia, kalau kamu kecapekan."


"Iya, sebentar lagi, deh." Zaya tetap bergeming, masih ingin menyaksikan keseruan permainan anak-anak di sekitarnya dalam posisi berdiri. "Mereka lucu."


"Zaya," Bu Darmi kembali mengingatkan. "Jangan sampai kamu keasikan memperhatikan anak orang lain, sampai malah mengabaikan anak kamu sendiri."


"Iya." Meski berkata begitu, Zaya masih belum bergerak.


Tetapi saat pandangannya menangkap sesuatu yang ada di kejauhan, ia buru-buru mengambil jurus seribu langkah. "Masuk dulu, ya," pamitnya kepada sang ibu, sebelum segera masuk ke rumah untuk beristirahat ---lebih lepatnya menghindari sosok yang tengah mengendarai sepeda motor di seberang sana.


Setibanya di kamar, Zaya langsung mengambil selimut. Kemudian menutup sebagian tubuhnya dengan benda di tangannya ini.


Ia akan berpura-pura tidur, saat nanti Afriz muncul di hadapannya. Dirinya benar-benar masih malas kalau harus memandang wajah suaminya. Perasaannya belum menentu.


Sayup-sayup terdengar dua orang tengah mengobrol. Zaya sangat yakin itu pasti ibu dan suaminya. Ia berusaha mencuri dengar, walau hasilnya nihil. Tetapi sekaligus berharap Afriz tak akan masuk rumah, meski hal tersebut mustahil terjadi.


Pada kenyataannya, kini pendengarannya menangkap derap langkah masuk rumah.

__ADS_1


"Jo," panggil Pak Kuswin terhadap Bu Darmi.


Sementara itu, Bu Darmi yang masih bercakap-cakap dengan menantunya pun terdiam sejenak. Memastikan bahwa ada yang memanggilnya dari dalam. Dan betul, suara Pak Kuswin yang menyebutkan nama kesayangan terhadapnya itu kini terdengar lagi.


"Sebentar, Pak," balas Bu Darmi akhirnya. Kemudian perhatiannya beralih kepada Afriz. "Kalau mau bertemu Zaya, dia di kamarnya," katanya, dan langsung diiyakan melalui anggukan sekaligus ucapan terima kasih.


Kemudian, perempuan itu lekas menuju kamar untuk menanyakan bantuan apa yang diperlukan oleh sang suami.


Afriz menuju ke kamar Zaya. Tetapi, belum sempat membuka pintu kamar Zaya, dia mendapati mertua perempuannya tengah kesulitan memapah Pak Kuswin yang hendak ke kamar kecil.


Dan saat itulah dirinya baru tahu kalau ternyata keadaan ayah mertuanya sedang tidak begitu sehat.


...***...


"Bapak masih perlu apa lagi?" tanya Afriz selepas memapah mertua laki-lakinya sejak keluar kamar hingga sekarang sudah kembali. "Mumpung saya masih di sini."


"Maaf ya, sudah merepotkan kamu. Sekarang Bapak lapar dan haus, tapi biar Ibu saja yang melayani Bapak."


Mendengar jawaban Pak Kuswin, Afriz tersenyum. Entah mengapa, meski sedang sakit, wajah mertuanya tetap cerah ceria seperti sekarang. Padahal kaki beserta tangan Pak Kuswin digips, dan itu menjadi bukti bahwa sakit yang dirasakan oleh laki-laki paruh baya itu tak main-main.


"Kalau begitu, saya mau ketemu Zaya dulu. Mau mengajak dia pulang."


Diam-diam Bu Darmi dan Pak Kuswin saling melirik, mendapati bahwa ada yang tidak beres dengan keluarga kecil anaknya.


Kini Bu Darmi mencoba menggalinya. "Lho, Zaya baru sampai tadi, e. Sekarang sepertinya dia masih tidur karena kecapekan. Ya masa, mau pulang sekarang? Ya kasihan. Lagi pula, biasanya dia kalau ke sini juga nginep. Mbok ya kamu nginep juga, kan capek juga pastinya."


"Saya maunya juga begitu, Bu. Tapi saya harus ke luar kota nanti sore dan mau mengajak Zaya juga."


"Oalah." Bu Darmi menepuk-nepuk bahu Afriz sebagai tanda mengerti. "Tapi begini, Le. Maaf, kalau kesannya Ibu jadi ikut campur."


Mengerti, Afriz mengangguk.

__ADS_1


"Perjalanan dari rumah kalian ke sini saja sudah jauh, hampir dua jam. Kalau harus bolak-balik dalam sehari ya capek. Apalagi Zaya masih hamil muda. Kalau nanti masih ditambah perjalanan ke luar kota, ya kasihan bayinya ya kasihan calon ibunya juga."


"Ya wis, kalau begitu, selama kamu pergi ke luar kota, Zaya biar di sini saja menemani Ibu dan Bapak," putus Pak Kuswin, berusaha mengambil jalan tengah. "Bagaimana?"


Merasa gamang, Afriz menghela lalu mengembuskan napasnya. "Apa tidak terlalu merepotkan?"


Bu Darmi tersenyum membaca rasa tak enak hati di raut wajah menantunya. "Ya jelas tidak repot. Ibu malah senang sekali kalau bisa menjaga anak dan calon cucu sendiri. Apalagi ini calon anak pertama kalian, jadi biar Ibu bisa sekalian kasih Zaya sedikit wejangan. Sudah, kamu tidak perlu kuatir."


"Alhamdulillah, kalau begitu." Afriz menghela napas lega. Nanti, ia bisa pergi dengan tenang.


Setelah Afriz keluar dari kamar mereka, Bu Darmi berbisik kepada Pak Kuswin, "Pak, kalau seperti ini, berarti tadi sewaktu ke sini Zaya tidak minta izin dulu."


Pak Kuswin hanya tertawa. Jadi ingat dulu sewaktu menjadi pengantin yang terbilang baru, saat istrinya masih suka mengambek ya tingkahnya seperti Zaya itu. "Kamu seperti tidak ingat kalau pernah muda juga, Jo," kekehnya.


Sedangkan di sisi lain, Afriz melangkah ke kamar Zaya yang ternyata tak dikunci. Dapat dia lihat bila istrinya itu tengah tidur membelakangi posisinya kini, tanpa terganggu derit pintu dan langkahnya yang kian dekat. Tetapi itu sudah sangat cukup baginya untuk tahu bahwa keadaan Zaya baik-baik saja.


Namun, Afriz perlu memastikan lagi. Dia menggenggam telapak tangan Zaya, kemudian menempelkan punggung tangannya ke area dahi perempuan itu.


Setelah itu, dikecupnya kening sang istri. Lembut dan tak tergesa, namun menimbulkan gerakan tak nyaman dari sosok di depannya ini.


Melihat itu, Afriz menghentikan semua sentuhannya. "Jaga diri kamu dan anak kita baik-baik, ya, selama Mas ke luar kota," tuturnya, sebelum melangkah meninggalkan Zaya sendirian untuk pamit dan berterima kasih kepada kedua mertuanya.


Sepeninggal Afriz, melalui jendela kamar, Zaya memandang suaminya dengan tatapan tak percaya.


Ia kira, laki-laki itu akan sabar menunggu sampai ia capek berpura-pura tidur.


Ia kira, suaminya datang ke sini untuk menjemput kemudian menjelaskan apa yang membuatnya uring-uringan.


Ia kira, hari ini mereka akan berbaikan.


Ia kira ....

__ADS_1


Salah sendiri Zaya hanya mampu mengira-ngira. Nyatanya, kepergiannya dari rumah malah menjadi kesempatan emas bagi suaminya untuk pergi ke luar kota. Dan ia tak tahu Afriz akan pergi bersama siapa atau menemui siapa.


...***...


__ADS_2