
"Kalau kamu masih ingat, anak keduanya itu ngomongnya jan alus tenan. Sopan gitu, ya, Mal? Pernah dulu sewaktu SMA, kita di pinggir jalan, nah dia sepertinya mau ke warung. Lha, malah balik lagi, tak jadi lewat karena ada kita."
"Awakmu isih kelingan iku ta?" tanya Jamal. (Kamu masih ingat itu?)
"Ya masih. Kan kita pernah taruhan siapa yang duluan bisa ngajak dia kenalan dan jalan, dikasih duit dua puluh ribu. Lagi pula, yang buat taruhan dasarnya juga cantik. Ya aku jelas mau."
"Tapi dianya yang ndhak mau." Seisi pos ronda yang hanya terdiri dari lima orang, seketika memunculkan kehebohan saat celetukan ini terdengar.
"Jadi, rasanya tak nyangka saja, Lur. Karena setahuku, keluarga Pak Kuswin itu keluarga baik-baik. Pak Kuswin cukup dikenal banyak orang karena memang orangnya gigih, ulet, dan sabarnya pol-polan. Orangnya entengan juga, kalau sudah menyangkut orang banyak."
"Iya. Untuk pria seusianya, beliau tergolong cerdas, padahal kata ibuku beliau itu cuma lulusan SD. Tak heran kalau perannya sebagai ketua sangat penting di Kelompok Tani Sukadaya. Tapi semenjak kabar mengenai anak keduanya itu, warga di Matamu seperti mengucilkan keluarganya. Makanya sekarang kelompok tani juga jadi kurang produktif, anggotanya banyak yang keluar juga."
"Iya juga, ya, To? Aku juga heran. Anak pertamanya kesulitan bicara. Sedangkan anak keduanya yang jadi harapan, justru mencoreng nama baik keluarga sampai jadi tak karuan begitu. Kok bisa gitu, ya?"
"Ya memang begitu. Setiap orang memang punya kisahnya masing-masing. Kadang jadi tokoh utama di cerita sendiri, kadang jadi tokoh sampingan untuk kisah orang lain. Kadang jadi tokoh protagonis di cerita sendiri, kadang jadi tokoh antagonis di cerita orang lain."
Motor yang berhenti, menginterupsi pembicaraan seru para pemuda itu. Perhatian kelima laki-laki itu mengarah ke sosok yang hendak bergabung dengan mereka.
"Ngomongin apa?" tanya sosok tersebut.
"Eh kamu, Pam?" cengir salah satunya. Namanya Toto. "Itu, kami sedang membicarakan Pak Kuswin."
"Pak Kuswin mana?" Walau sudah tahu Pak Kuswin yang dimaksud adalah bapak dari Zaya, Pam tetap bertanya. Memastikan bahwa objek yang dimaksud memang sama dengan para lelaki yang duduk di pos ronda itu.
"Orang Dusun Matamu. Tahu?"
Pam mengangguk singkat. "Orangnya kenapa, memang?"
"Oalah, kamu belum tahu ceritanya?"
Pam menggeleng pelan. Dia sempat melirik Jamal sekilas, lalu atensinya kembali kepada Toto.
Mengingat dirinya kerap diteror mengenai pembahasan yang tengah disinggung, Jamal yang ada di sekitar mereka, memberi kode kepada Toto untuk tak usah membicarakan keluarga Pak Kuswin. Karena sudah tentu akan membahas anaknya juga, yang tak lain dan tak bukan adalah Zaya. Tetapi Toto tak menyadari isyarat yang disampaikan olehnya.
"Itu, sejak anak keduanya melahirkan anak tanpa suami, keluarga Pak Kuswin dikucilkan oleh para warga dusun sampai sekarang."
Jamal menepuk dahinya, begitu mendengar celetukan Toto yang tanpa tedeng aling-aling barusan. Raut wajahnya mendadak cemas. Karena selama ini dia selalu menghindari atau memilih tutup mulut jika Pam mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menjurus ke sana. Dirinya melirik Pam yang kini terperangah tak percaya. Beberapa detik kemudian, dia mendapati ekspresi penasaran pemilik wajah tersebut.
"Anak keduanya Pak Kuswin?"
Pam yang semula berdiri menempel dengan tiang pos ronda, langsung naik ke tempat duduk. Menempati ruang kosong di antara Toto dan Ipul, walau sempat memaksa agar kedua laki-laki itu menggeser posisi masing-masing.
__ADS_1
"Si Zaya apa bukan?" tanya Pam, dengan perhatian terpusat kepada Toto yang seperti sudah siap memberikan banyak informasi untuknya.
"Iya. Kok kamu kenal Zaya?"
"Dia adik kelasku sewaktu SD," jawab Pam cepat. "Tadi kamu bilang apa? Dia melahirkan ...."
"To, mau kopi sama gorengan?" sela Jamal, berusaha mengalihkan perhatian Toto.
Pemuda bersarung motif kotak-kotak itu memandang Jamal seraya tersenyum lebar. "Boleh, biar ndhak ngantuk," katanya, memanfaatkan perhatian Jamal yang terbilang langka. Syukur-syukur Jamal mau menraktir. Wah, akan ia terima dengan senang hati!
"Kamu beli sendiri, sana. Ini duitnya." Jamal mengulurkan uang kertas lima puluh ribuan kepada Toto, yang langsung disambut dengan mimik bahagia oleh Toto.
Jumlah yang terhitung berlebihan untuk seperminuman kopi, namun itu tak seberapa dibanding Jamal harus melihat Pam semakin kacau bila sudah tahu cerita yang sebenarnya. Anggap saja uang yang dia berikan ini sebagai penutup mulut.
"Kamu saja, Mal, yang beli. Sekalian buat yang lain juga. Ini, pakai duitku." Mengerti keanehan sikap Jamal akhir-akhir ini, Pam merasa kalau sahabatnya itu memang sengaja ingin menyembunyikan kebenaran yang semestinya dia ketahui sejak lama. Makanya, tanpa pikir panjang dia pun menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan yang baru saja ia ambil dari kantong, daripada harus kehilangan informasi dari Toto.
Toto mengikuti gerak tangan Pam yang sudah dia tahu keroyalannya. Seketika matanya berbinar melihat jumlah uang kopi yang tak sedikit itu. "Wah, Mal, duit segitu sih bisa buat beli gorengan sekantong kresek. Sekalian mie ayam, mie godog, atau nasi goreng. Ayam geprek oke juga," cengirnya, memanfaatkan keadaan yang langka begini. Tanpa memedulikan dengusan Jamal yang kini sedang bertaruh akan sesuatu.
"Bener itu kata Toto. Jarang-jarang nih aku makan ayam geprek. Kalau di rumah sering kalah sama adekku," timpal Ipul yang langsung disetujui oleh teman-teman lainnya.
"Minta sama yang punya duit," tanggap Jamal malas.
"Sana, turuti saja sebelum warung-warungnya tutup," putus Pam yang seketika membuat sorak gembira di pos ronda ini menggema.
"Sana, Mal, nggak usah kebanyakan mikir," suruh Pam lagi.
"Monggo, monggo," ucap Toto sok ramah, mempersilakan Jamal untuk menuruti permintaan anak-anak lain.
Jamal berdecak kesal, lalu turun dari posisinya dengan lesu. Kemudian mendekati motornya yang terparkir di sebelah pos ronda, lalu menghidupkan mesin kendaraannya. "Ayo ikut, Sat," ajaknya kepada Satari.
Setelah itu Jamal pergi memesankan kopi yang semula hanya untuk mengalihkan perhatian Toto, namun menjadi senjata makan tuan.
Berkali-kali Jamal menoleh ke arah para kawannya berada, tetapi yang dia dapati adalah raut serius Pam yang sudah sangat siap mendapatkan segala informasi tentang Zaya yang selama ini dia tutup-tutupi.
"To, aku mau tanya."
"Soal?"
"Pembicaraan kalian. Tadi kamu bilang, katanya Zaya melahirkan anak tanpa suami." Pam mengulang pertanyaan yang tadi tak sempat dia selesaikan karena insiden pesan kopi tadi. "Apa itu benar?"
Toto mengangguk. "Iya. Beritanya ramai, lho."
__ADS_1
"Aku juga dengar, kalau itu," timpal Ipul.
"Aku juga. Ibuku saja sampai heboh," tambah yang lainnya.
"Kok bisa?" tanya Pam, belum berhasil mencerna informasi dari para temannya tersebut.
"Kok bisa heboh, apa kok bisa Zaya melahirkan tanpa suami?" tanya Toto.
"Dua-duanya."
"Ya bagaimana tak heboh? Berita seperti itu kan walaupun sudah biasa ada di kampung kita, tapi selalu jadi berita panas."
"Yang menghebohkan itu aslinya karena anak Pak Kuswin itu tak pernah terlihat dekat dengan laki-laki selain bapaknya. Lha, kok ternyata ada kasus begitu. Mau dia mendapat anak karena diperkaos atau memang karena suka sama suka, ya itu tidak terlalu penting. Pokoknya, yang begitu itu pasti dibesar-besarkan di kampung kita ini," sela Manto, menginformasikan apa yang selama ini dia tahu.
"Nah, itu. Aku saja tadinya juga tak menyangka kalau dia bisa begitu. Karena setahuku, anaknya sopan dan pemalu. Persis seperti yang Manto bilang barusan, dia tak pernah kelihatan dekat dengan laki-laki selain bapaknya. Makanya aku kaget sewaktu dengar kabar kalau dia pulang dari kota kabupaten malah bawa bayi. Ya jelas bikin geger warga sekampung," timpal Toto.
Manto memandang Toto, seolah meminta temannya tersebut untuk mendukung pernyataan yang akan keluar dari mulutnya. "Mungkin warga kampung mikirnya kalau gadis yang belum pernah berurusan dengan laki-laki, dalam hal ini pacaran, lebih mudah diapa-apakan karena belum punya pengalaman. Jadi, polosnya bisa dimanfaatkan oleh orang tak bertanggung jawab. Nah, mereka menjadikan Zaya sebagai sampel secara mentah-mentah.
"Makanya, sejak ada kasusnya Zaya itu, jadi seperti ada peraturan tak tertulis agar gadis-gadis kampung berpacaran. Supaya mereka tak lugu-lugu amat dan mudah percaya pada bujuk rayu laki-laki yang menginginkan kegadisannya. Karena kalau hanya bibir atau anggota badan lainnya saja yang tak perawan, itu sudah hal biasa. Atau kalau terpaksanya harus menyerahkan kegadisannya kepada pacar, itu juga hal wajar. Apa itu ndhak edan?"
"Lalu didukung dengan pernyataan bahwa lebih baik menampakkan sifat asli mereka yang apa adanya, daripada diam-diam munafik?" tanya Toto, menegaskan maksud penjelasan panjang Manto, yang seketika diangguki oleh lawan bicaranya itu. "Alah, itu sih memang akal-akalan bocahnya saja yang suka menjadikan kesalahan orang lain sebagai senjata untuk membela diri. Dan kebetulan Zaya itu yang sedang apes, jadinya mereka dapat amunisi biar diperbolehkan gonta-ganti pacar," tambahnya.
Pam belum berhasil mencerna informasi dari Toto dan para kawannya yang membuat pikirannya makin mengawang-awang. Zaya? Melahirkan tanpa suami? Bayi? "Tapi bukannya Zaya memang sudah nikah, To?" Entah mengapa, setiap kali menyebutkan nama itu, hatinya tetap berdebar.
"Iya, sekarang statusnya memang sudah jadi istri orang. Baru dua bulan, apa ya?" Toto berusaha mengingat-ingat supaya karangan waktunya terdengar meyakinkan. "Aku kurang tahu kapan tepatnya, tapi yang jelas nikahnya setelah terjadi kehebohan itu."
"Suaminya bukan orang sini?" tanya Pam, seolah belum puas dengan jawaban-jawaban Toto.
Toto mengangguk. "Dia orang jauh. Ada yang bilang, mereka dijodohkan. Tapi sebagian besar bilang kalau suaminya yang sekarang itu ternyata bapak dari anaknya itu. Malah ada yang bilang kalau saat menikah, Zaya sedang hamil anak keduanya. Apalagi nikahnya terbilang buru-buru, jadi pada menyimpulkan begitu. Karena hampir orang sekampung beranggapan bahwa keluarga Pak Kuswin sudah kadung malu, jadi anaknya cepat-cepat dinikahkan."
Pam tampak mengangguk-angguk, walau masih tak habis pikir dengan informasi yang dia dapatkan, serta rasa sakit yang tiba-tiba saja menghantam.
"Tapi, ya mbuh. Beginilah repotnya mendengar kabar yang bukan dari sumbernya langsung, jadinya bikin pusing. Apalagi berita dari emak-emak. Kalau dipercaya seratus persen, ya bikin remuk. Ndhak peduli di jalan atau di mana, kelakuannya sama saja. Diikuti ke sana, belok ke situ. Diikuti ke situ, malah putar balik. Apalagi mulut emak-emak tetangga yang kurang kerjaan kan memang wujud nyata dari akun Lambe Turah yang ada di i-ge."
"Lha ini kita bukannya lagi ngomongin emak sendiri, ya?" kekeh Ipul menimpali. "Kalau begitu sih bukan lambe turah lagi, To. Emak kita itu lambe sirkus!" tambahnya, dan seketika memunculkan gelak tawa para temannya. Sedangkan Toto memegang perutnya sendiri yang kaku.
"Ini si Jamal kok ndhak balik-balik? Jangan-jangan malah ninggal pulang," gumam Manto yang sudah tak sabar menyesap minuman kopi pada malam yang semakin dingin ini.
Sementara itu, Pam justru sibuk dengan pikirannya sendiri. Bahkan beberapa saat yang lalu ketika para kawannya cekakakan tak jelas, dia hanya menyengir sebagai formalitas.
Seharusnya, semua informasi itu sudah sangat jelas. Tak ada lagi alasan baginya untuk mengungkit masa lalunya dengan Zaya, karena mereka sudah memiliki kehidupan masing-masing. Atau dengan rekam jejak yang begitu suram, dia memiliki alasan kuat untuk membenci perempuan itu.
__ADS_1
Tetapi ... entah. Dia perlu memastikan semua kebenarannya, sebelum betul-betul merelakan Zaya hidup bahagia bersama lelaki lain.
...***...