
Bu Lincah: [Mas Afriz sdh pulang?]
Saya: [Belum]
Bu Lincah sedang mengetik ....
Beberapa saat kemudian, masuk lagi sebuah pesan balasan.
Bu Lincah: [Kalau bkn mas afriz, laki2 yang sdg gendong faiz di rumah mas siapa?]
Saya: [Papa saya mungkin]
Bu Lincah: [Bkn pak hidup mas. Orgnya msh muda kok.]
Saya: [Suaminya nida kali]
Bu Lincah: [Ga tau mas. Tapi kelihatan akrab sekali dengan istri mas. Mana lagi faiz juga akrab sekali dgnya]
Afriz menerima pesan lagi. Kiriman kali ini berupa foto. Gambar yang memperlihatkan keadaan di mana Faiz sedang berada dalam gendongan Zaya, dan seorang laki-laki muda. Itu bukan Seno, pun bukan salah satu orang yang selama ini ia kenal.
Kini ia keluar dari percakapannya dengan Bu Lincah. Kemudian memanggil nomor Zaya, namun tak ada tanggapan. Lalu ia mengirimkan pesan kepada istrinya itu.
[Ada siapa di rumah malam² begini?]
Laki-laki itu melanjutkan pekerjaannya. Menata foto-foto yang sudah ia cetak terakhir kalinya pada malam hari ini, lalu memasukkannya ke amplop kertas. Kemudian membereskan sisa-sisa pekerjaannya, sebelum mematikan lampu dan menutup studio.
Pemuda itu mendongak, memastikan cuaca pada malam hari ini. Tak ada bintang dan bulan. Cakrawala tampak mendung. Sebentar lagi sepertinya akan hujan. Terlihat bagaimana kilat sudah menguasai pandangan, tatkala ia mengenakan jaket dan helm.
Dua roda motor bebek yang Afriz kendarai, membawa pemuda itu menembus dinginnya udara malam. Hujan pun mulai turun. Tetesannya menghantam pelindung kepala yang ia pakai, menimbulkan suara yang cukup keras.
Kendati guyuran air langit kian deras, ia tak memelankan laju apalagi menghentikan mesin kendaraan untuk mencari tempat berteduh. Ia justru memilih melanjutkan perjalanan pulang, yang kira-kira masih butuh waktu beberapa menit lagi.
Tak peduli dengan jaket yang dipakai sudah bayah kuyup pada bagian atasnya. Sorot lampu-lampu kendaraan yang menyilaukan, menemani perjalanan menuju kawasan tempat tinggalnya.
Setelah memastikan sepeda motornya di halaman, ia langsung turun menuju depan pintu dan mengetuk benda di hadapannya itu disertai ucapan salam yang tak terlalu jelas.
Dilepaskannya helm dan jaket yang ia kenakan. Pakaiannya benar-benar basah kuyup semua. Tubuhnya pun menggigil kedinginan. Giginya sampai gemeletuk, dan kulitnya mengisut.
"Ya ampun, Mas, basah semua. Mas langsung mandi aja, ya. Bentar, aku ambilin handuk sama siapin air hangat buat Mas mandi." Zaya begitu saja meninggalkan suaminya.
Afriz memandang perempuan yang tengah berlari menjauh darinya itu. Lalu melangkah ke arah kamar mandi, menuruti apa kata istrinya.
...***...
Zaya memalingkan muka dan memilih sibuk dengan ponsel, saat Afriz masuk dengan pinggang hanya berbalut handuk. Walau sudah kesekian kalinya ia mendapati pemandangan semacam itu, ia tetap saja malu. Bahkan, ia sering merasa tak percaya ketika mencucikan ****** ***** sang suami.
Sementara itu, Afriz mendekati Zaya sembari memakai kausnya. Seulas senyum tercetak di bibirnya. Geli, mendapati Zaya yang bertingkah seperti pengantin baru saja, yang masih malu-malu melihat suaminya memakai baju.
__ADS_1
Ia menyentil hidung perempuan itu. "Ada apa sih, di hape? Kayaknya sibuk banget?" tanyanya kemudian.
Bukannya segera menjawab, Zaya justru menyengir. Seolah tertangkap basah bahwa ia bermain ponsel hanya untuk mengalihkan pandangannya dari adegan pakai baju yang diperlihatkan oleh Afriz. "Barusan baca pesan dari Mas. Terus, itu ..." Zaya menelan ludah. "Tadi Mas Pam yang ke sini."
Walau tak tahu siapa orang yang Zaya maksud, Afriz tetap mengangguk paham. "Oooh." Lalu menggerakkan kedua tangan, meregangkan otot-otot lengannya yang pegal.
"Tapi Mas jangan salah paham. Dia ke sini cuma sebentar, buat nanyain kabar aku, kok."
"Iya, Mas ngerti. Mas khawatirnya dia ke sini mau jahat sama kamu."
"Enggak, kok." Melihat bagaimana suaminya menggerak-gerakkan tangan, Zaya menyadari satu hal. "Mas pegel? Sini, aku pijitin."
Sempat berhenti sebentar, Afriz pun memosisikan diri senyaman mungkin, menghadap kepala ranjang. Begitu pun Zaya, yang langsung menjauhkan ponsel yang baru saja ia pegang. Benda pipih tersebut akhirnya tergeletak di depan sang suami. Kedua tangan perempuan itu kini menyentuh dan menekan-nekan punggung Afriz secara hati-hati.
"Enaknya punya istri, ya gini. Kalau capek ada yang mijit," ucap Afriz, menggoda Zaya yang tengah bekerja dalam diam. Kini ia merasakan tekanan yang lebih besar pada punggungnya. "Gini tetep enak kok, Yang."
"Mas tadi kenapa hujan-hujanan? Padahal bawa jas hujan, kan?"
"Bawa. Tapi tanggung kalau mau pakai. Sudah dekat ini." Kepala Afriz menengadah, menunggu saat-saat yang tepat untuk melepaskan desakan dari saluran hidungnya. "Hasyin!" Lalu desakan itu datang lagi, dan ... "Hasyin!"
"Tuh, Mas jadi bersin-bersin mulu. Kalau besok masih sakit, nggak usah kerja dulu, Mas."
"Nggak. Besok Mas tetep kerja."
Zaya hanya mampu memelototi punggung suaminya yang tak menangkap kekhawatirannya. Ia memperbesar tekanan pada telapak tangannya. "Mas tuh kebiasaan, nggak pernah mau tahu kalau aku khawatir."
Sementara itu, Afriz menghela napas agak panjang. Pasalnya, ia memang mesti bekerja dua kali lebih keras dari biasanya untuk memenuhi janjinya kepada perempuan di belakangnya ini. "Tolong ambilkan buku tabungan Mas di laci."
"Nanti kamu tahu sendiri. Buruan diambil."
Ragu, perempuan berbaju baby doll warna hijau itu bangkit dari posisinya untuk menuju laci. "Diambil semua?" tanyanya, ketika ia menemukan tiga buku tabungan di tempatnya. Lalu mendekat dan membawa ketiga benda yang dimaksud, kala mendapati anggukan dari lawan bicaranya.
Setelah dipilah oleh Afriz, Zaya membaca nominal yang tertera pada buku mungil di tangannya, walau masih bingung untuk apa uang sebanyak itu.
"Insya Allah, semester depan kamu bisa mulai kuliah lagi, Ya. Biarpun masih harus ditambahi lagi biar nggak bikin ketar-ketir. Buat jaga-jaga, kan?"
Zaya mendongak, menatap Afriz yang tersenyum kepadanya. Matanya seketika berkaca-kaca. "Mas, aku ...." Entah ia harus mengatakan apa. Tangisnya pun pecah. Ia tak bisa menahan rasa harunya lebih lama lagi.
Ia pikir, selama ini Afriz berangkat amat pagi dan pulang larut malam karena marah padanya yang belum bersedia memiliki momongan. Bahkan ia sudah berprasangka yang tidak-tidak. Ternyata laki-laki itu melakukan semua ini untuknya, untuk masa depan istri tak tahu diri sepertinya.
Melihat Zaya yang menangis tanpa sebab yang ia mengerti, Afriz merengkuh tubuh perempuan itu ke pelukannya. "Cup, cup. Gini aja nangis."
"A-aku ki-kira selama ini Mas masih ma-marah, ma-makanya berangkat pagi banget ... dan pulang malam banget."
"Dasar bocah. Dikiranya dia punya suami masih bocah juga," gumam Afriz, nyaris hanya bisa ia dengar sendiri. Tak habis pikir betapa pendek pemikiran istrinya itu. "Ta-ta-tapi ak-aku ng-nggak mar-marah," ledeknya, menirukan suara patah-patah Zaya, yang seketika dibalas dengan pukulan pelan pada lengannya.
Afriz membiarkan istrinya menormalkan emosi. Hanya telapak tangannya yang bekerja, mengelus punggung atas Zaya. "Mas ngasih kamu kesempatan untuk kuliah ini nggak gratis. Ada syaratnya, dan kamu harus janji dulu sama Mas."
__ADS_1
Zaya terdiam sebentar. Ia melonggarkan jarak di antara keduanya agar dapat memandang lawan bicaranya secara leluasa. "Janji apa?"
Ia menunggu syarat apa yang akan diajukan oleh suaminya ini. Lalu bagaimana kalau laki-laki di hadapannya ini meminta anak darinya dalam waktu dekat?
"Kamu harus janji, mau menggunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Mas juga minta, kamu menjaga kepercayaan Mas. Bisa?"
Zaya langsung mengangguk mengiyakan. Ia tak ingin mengulangi kesalahan masa lalunya dengan mengecewakan orang-orang yang ia sayangi. Cukup satu kali saja ia gagal meraih mimpinya dan menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan kepadanya. "Itu aja?"
"Ada lagi, dong."
"Apa?"
Bukannya segera menjawab, Afriz mengembalikan tubuh Zaya ke pelukannya lagi. Jujur, ia merindukan perempuan di depannya ini. "Nggak boleh tergoda dan terlalu dekat sama cowok lain. Kalau ada yang ngode-ngode atau bahkan terang-terangan godain, kamu mesti jauh-jauh. Nggak usah meladeni mereka. Ingat suami di rumah."
Mendengar syarat aneh itu, Zaya menggigit bibir bawahnya untuk meredam tawa yang siap meledak. "Iyaaa, Suamiku Sayaaang."
"Bagus. Terus, kalau ada dosen laki-laki yang masih muda, nggak usah kegenitan."
"Ih, mana ada?" Zaya memelototi dada Afriz, kemudian tertawa. "Dosennya tuh udah berumur semua kali, Mas. Banyak perempuannya juga."
"Kan 'kalau', Sayang. Semisal nggak ada jenis orang yang Mas sebut, ya syukur alhamdulillah."
Telapak tangan Afriz mengelus punggung dan bahu Zaya secara bergantian. Sementara indra penciumannya, menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang amat ia rindukan ini. "Kamu wangi, Yang."
"Muji-muji gini pasti ada maunya."
Kepala Afriz makin menunduk, berniat meminta izin untuk bertindak lebih. "Boleh?"
"Kalau aku bilang nggak boleh, nanti aku nggak dibolehin kuliah, lagi."
"Hahahaha. Mas nggak sekejam itu, Ya. Kan Mas punya cara yang lebih elegan biar kamu nggak bisa nolak. Jadi ...." Kedipan mata sebelah kiri dari Afriz itu telah menjelaskan keinginannya atas sang istri. "Boleh, kan?"
Sebuah panggilan telepon menginterupsi pembicaraan keduanya. Afriz berdecak karena batal mendapati anggukan dari lawan bicaranya. Terlebih, ponsel Zaya ternyata masih ada di dekatnya. Memaksanya memindahkan benda pipih tersebut.
Terpaksa pula ia membaca tulisan yang tercantum pada layar ponsel.
My Future Husband is calling ....
Belum selesai dengan nama pemanggil yang begitu mengusiknya, satu pesan yang baru saja masuk pun berhasil mengalihkan perhatiannya. Dari nomor yang sama.
[Ini nomerku disimpen ya. Kapan2 aku ke situ lagi. Pam]
Kapan-kapan aku ke situ lagi.
Afriz mengulang kalimat itu di dalam hati. Memikirkan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi. Kalau ada kata "lagi", berarti pernah ada kunjungan sebelumnya. Dan ia tak tahu.
Ada kejanggalan yang tak bisa ia terima. Nomor pengirim pesan yang tak ia kenal itu saja, diberi nama My Future Husband oleh istrinya sendiri. Sementara nomornya yang merupakan suami sah Zaya saja hanya diberi nama Mas Afriz oleh si empunya ponsel.
__ADS_1
"Kenapa, Mas?" tanya Zaya, saat mendapati ekspresi wajah Afriz yang tiba-tiba berubah.
Sepertinya suasana hati sang suami mendadak buruk.