Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar

Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar
Cari Istri


__ADS_3

Mendengar kumandang azan subuh dari masjid-masjid di sekitar, Afriz membuka kedua matanya.


Lantas pria itu mengumpulkan kesadaran, sembari meraba-raba sisa ruang yang ditempatinya.


Lalu ia menoleh ketika alas tempat tidur yang ia sentuh itu terasa dingin, untuk memastikan keberadaan istrinya, yang ternyata tak ada.


Untuk beberapa saat posisi masih begitu. Sampai akhirnya Afriz menarik kemudian mengembuskan napas beratnya kala menyadari bahwa Zaya benar-benar belum pulang.


Apa yang ia alami kemarin siang memang terjadi. Ketika ia melihat Zaya menahan tangis, merengkuh Faiz ke dalam gendongan, berlari darinya, lalu berakhir dengan naiknya perempuan itu ke angkutan kota tanpa mau menghiraukan panggilannya, itu semua memang nyata adanya.


Tak ingin terlarut dalam pikiran tanpa arah yang pasti, Afriz menyentakkan kaki ke atas agar mempermudah gerakan bangun dari baringnya. Gerak alas tidur menandai bangkitnya dari posisi semula untuk menepi ke salah satu sisi ranjang.


Lalu beberapa detik lamanya ia mengucek kedua kelopak mata, memastikan bahwa pandangannya tak kabur. Setelah itu ia menoleh ke arah kepala ranjang dan bantal.


Lalu ia mengembuskan napas berat lagi begitu menyadari bahwa Zaya tetap tiada di jangkauan jarak pandangnya pada pagi hari ini.


Dalam doa pada subuh nan hening ini, Afriz menyerahkan suaranya. Meminta keselamatan dan kesehatan bagi dirinya, istrinya, calon anaknya, juga untuk keluarganya. Kemudian laki-laki itu mengusap wajah menggunakan kedua telapak tangan.

__ADS_1


Setelahnya, ia melipat sajadah secara sembarang, lalu melepas dan menyimpan kopiah. Sedangkan sarung yang tengah ia kenakan, belum ingin ia lepas.


Afriz lantas mengamati seluruh sudut kamar ini. Mengingat-ingat segala hal yang pernah ia lakukan bersama Zaya di ruangan pribadi mereka ini.


Lucu, memang. Mereka tinggal di bawah atap yang sama sejak awal pernikahan, namun baru tidur sekamar ketika usia ikatan resmi keduanya sudah memasuki bulan ketiga.


Padahal hubungannya dengan Zaya baik-baik saja, dan jarak di antara mereka hanya dibatasi oleh satu kesepakatan belum ingin memberikan seorang adik untuk Faiz yang masih terlalu kecil.


Walau pada akhirnya Afriz sendiri yang melanggar kesepakatan lantaran melihat Zaya berdiri di depan lemari dengan tubuh berbalut handuk saja.


Kini Afriz menggeleng-geleng, menepis bayangan istrinya yang telah menyita separuh fungsi otaknya. Karena, yah, pikirannya sebagai lelaki dewasa mulai ngawur.


[Pak bos masih cari istri? Tipenya yg gimana pak bos? Nanti saya carikan, dan semoga cocok]


Pesan polos yang ada di posisi teratas itu memperoleh balasan sengit dari para kru lain. Sementara itu, Afriz hanya tersenyum.


Akan tetapi, sedikit banyak ia jadi berpikir bahwa pasti ada yang salah dengan hubungannya dengan Zaya, sampai-sampai ada beberapa kru studio yang tak tahu apalagi mengenali istrinya.

__ADS_1


Secara tak langsung dan di luar kesadarannya, Afriz memang sangat membedakan perlakuan untuk Zaya dan Vita saat mereka masih menjalin hubungan. Selain faktor Zaya yang sulit berbaur dengan orang baru, hal ini pun dipengaruhi oleh minimnya waktu yang Afriz miliki.


Mulai merasa bosan, Afriz lantas keluar kamar kemudian menuju pekarangan di samping rumah. Ternyata rasanya cukup menyenangkan berada di area yang sudah disulap menjadi kebun mini oleh istri dan almarhum ayahnya ini.


Suasana yang terbangun memang amat menenangkan dan menyegarkan, meski sebagian tanaman cabai dan tomat tampak layu lantaran belum disiram.


Tanpa berlama-lama, Afriz pun segera mengambil selang kemudian menghidupkan keran untuk menyiram tanaman.


Setidaknya, kegiatan ini bisa ia manfaatkan untuk menghibur diri dari rasa sepi. Agaknya, sebentar lagi ia akan ketularan Zaya yang sangat menyukai kegiatan berkebun.


"Cepat pulang ya, Sayang, biar kita bisa berkebun bareng-bareng. Mas dan rumah ini kangen kamu," bisik Afriz, berusaha membujuk istrinya melalui ikatan batin, yang tentunya tak ia yakini akan sampai.


Untuk kesekian kalinya Afriz mengembuskan napas berat. Teringat bahwa hubungannya dengan para wanita sebelum Zaya tak pernah seemosional ini, meski jalinan kasih mereka lebih lama jika dibandingkan dengan usia pernikahannya dengan Zaya.


Akan tetapi, ini semua bukan tentang sedikit atau banyaknya waktu yang dihabiskan bersama, melainkan berapa banyak emosi yang tercurah selama berinteraksi dengan Zaya.


Setiap obrolan mereka selalu terisi hal-hal berbobot, walau dibahas secara santai dan khas dengan pola pikir Zaya. Tidak begitu rumit, tetapi menunjukkan sudut pandang baru. Apalagi latar belakangnya dengan Zaya yang jauh berbeda, tentu memiliki andil.

__ADS_1


Lalu, ditemani kicau burung pada pagi hari, ia melanjutkan siraman hingga semua tanaman di kebun ini sudah terbasahi.


...***...


__ADS_2