Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar

Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar
Goblok!


__ADS_3

Tercyduq. Tinggal nunggu undangan nih kalo kalian berdua udah balikan say


Foto yang menyertai kutipan di atas, merupakan potret ketika kurang lebih sebelas hari yang lalu Afriz tengah menunggu hujan reda sembari ---dengan bodohnya--- menerima ajakan makan dari Vita.


Tetapi ia tak tahu kapan pengunggah foto mengambil gambar tersebut. Yang jelas, saat itu ia sibuk berharap agar hujan lekas reda supaya bisa segera pulang. Namun setibanya di rumah, Zaya malah pergi mengajak Faiz dan baru kembali dalam keadaan basah kuyup.


Afriz berusaha mengingat-ingat sambil mengaitkan kejadian pada malam itu, sebelum keesokan harinya Zaya berkunjung ke kediaman kedua orangtunya tanpa berpamitan terlebih dahulu.


"Dari mana?"


"Beli bakwan malang," jawab Zaya.


"Kan bisa minta tolong Mas buat beliin. Nggak perlu keluar-keluar sampai harus terjebak hujan, dan akhirnya baju kalian jadi basah kuyup gini."


"Hape Mas aja nggak aktif, gimana aku bisa minta tolong?"


Pertanyaan sarat kejengkelan dari Zaya barusan, terang saja mengingatkan Afriz pada satu hal. Bahwa sejak magrib ia memang tak memegang telepon genggam, lantaran sedang diisi daya. Sekarang benda elektronik miliknya itu malah tertinggal di meja studio. "Iya, maaf. Dari tadi Mas memang nggak pegang hape. Tadi Mas sibuk banget."


"Udahlah, aku dingin. Capek, ngantuk."


Meski dahinya sempat berkerut heran dalam beberapa detik, Afriz membiarkan sang istri berganti pakaian. Ia menanamkan pemikiran positif saja, bahwa Zaya hanya kedinginan, makanya nada bicaranya jadi tak enak didengar begitu.


Namun, ternyata dugaan Afriz meleset jauh. Tak ada yang berubah dari sikap perempuan itu seusai mengganti pakaian. Tetap dingin dan tampak enggan bersitatap dengannya. Hal itulah yang membuatnya jadi makin tak mengerti apa kemauan sang istri, yang jujur saja membuatnya kelimpungan. "Kita perlu bicara berdua," katanya, seraya menarik pelan lengan istrinya agar mau mendengarnya.


"Apa?" Kali ini Zaya memang menatap Afriz, tetapi sorotnya memancarkan luka. "Mas mau kayak orang-orang yang nuduh aku selingkuh sama Mas Pam, sampai-sampai aku hamil anak yang sekarang aku kandung ini?"


"Hei, tenang dulu." Afriz menangkup kedua pipi Zaya seraya menepuknya lembut. "Siapa yang berani-beraninya bilang kalau bayi yang kamu kandung ini bukan anak Mas?"


"Goblok!" maki Afriz pada dirinya sendiri.


Seolah tak mengerti keadaan Afriz yang nyaris putus asa, Vita masih saja memberondong ponsel Zaya dengan pesan-pesan terbaru.


Mbak Vita: [Gimana? Udah baca caption dan komentarnya kan?]


Mbak Vita: [Masih mau sok-sokan berjuang demi cinta yg semu dari Afriz?]

__ADS_1


Cinta semu? Afriz menggumam di dalam hati. Sebuah gagasan yang membuatnya tertarik dengan topik yang dibahas oleh Zaya dan Vita sebelum ia memergoki bahwa Vita memang sengaja membuat Zaya kian rendah diri.


Panjang umur!


Dering ponsel Zaya memberitahu bahwa Vita menelepon. Mungkin karena sedari tadi tak mendapat respons, perempuan itu nekad menghubungi nomor Zaya.


"Mau ngomong apa?" tanya Afriz tanpa mengucap salam. Walau santai, itu sudah cukup untuk membuat Vita menutup sambungan telepon secara sukarela.


Lalu setelah berhasil menata emosi, Afriz melanjutkan kegiatannya untuk menganalisis pesan-pesan Zaya dan Vita yang sepertinya kurang sehat.


^^^[Kayaknya mbak gak usah nempelin suami saya terus deh. Ada batas jelas antara pegawai sama atasan.]^^^


Mbak Vita: [Yg kamu maksud pegawai sama atasan itu siapa sama siapa ya?]


^^^[Mbak sama mas afriz]^^^


Mbak Vita: [Sayangnya aku udah gak kerja sama dia udah lumayan lama. Sekarang aku kerja di showroom mobil. Dianya aja yg mau deketin aku, pakai pura-pura beli mobil.]


^^^[Tolong gak usah halu ya mbak]^^^


Mbak Vita: [Siapa juga yg halu. Ini kenyataan. Sayang banget ya kamu jadi istri tapi gak diajak diskusi pas suami mau beli mobil]


Mbak Vita: [Gak usah sok penting karena selalu dilibatin sama dia deh]


^^^[Ya saya berhak merasa sok penting. Orang sekarang aja saya lagi ngandung anak kami berdua]^^^


Mbak Vita: [Anak siapa ya?]


^^^[Anak kami, saya dan mas afriz]^^^


Mbak Vita: [Aku ragu kalau itu anak afriz. Soalnya aku yakin dia ngelakuin itu sama kamu belum tentu karena cinta]


^^^[Saya gak ngerti mbak ngomong apa]^^^


Mbak Vita: [Polos atau sok polos?]

__ADS_1


^^^[Gak usah ngalihin topik mbak. Tolong mbak posisikan diri sebagai saya. Mbak pasti gak akan rela kalau suami mbak digoda sama perempuan lain]^^^


Mbak Vita: [Aku malah bangga kalo suamiku digoda perempuan lain. Karena itu artinya suamiku punya pesona yg gak bisa dibantah]


^^^[Sayangnya saya beda prinsip dg mbak]^^^


Mbak Vita: [Iya kita beda prinsip. Tapi selera soal laki2, kayaknya sama]


Mbak Vita: [Sekarang mungkin dia masih suami orang, tapi gak ada yg tau kalo besok2 dia single. Aku yg pny anak aja bisa pisah sama suami kok, aplgi yg baru ngandung]


Mbak Vita: [Apa pun alasannya, aku gak mau jauh dari dia. Kalian juga nikahnya karena dijodohin sama mertua kamu. Sdgkan mertua kamu udah lama mati kan?]


^^^[Maaf ya mbak. Mbak mungkin bisa nempelin suami saya terus menerus. Mbak bisa ketemu suami saya di mana aja, sampai-sampai saya cuma kebagian satu tempat di hati suami saya. Tapi itu udah cukup, kok. Dengan ada di hati, saya bisa datang di hadapan suami saya di setiap tempat dan waktu. Ya karena kami udah terhubung di alam bawah sadar. Sekali lagi, maaf banget ya mbak]^^^


Kali ini, tanpa sadar Afriz memuji keberanian serta kedewasaan istrinya. Pria itu pun sangat yakin bahwa sebenarnya Zaya percaya terhadapnya, juga tak meragukan perasaannya. Terbukti dengan betapa tenangnya perempuan itu saat menanggapi Vita yang memang sengaja memancing keributan. Tetapi setelah melihat unggahan dalam sebuah akun Instagram itu, bisa jadi pandangan Zaya terhadapnya sudah jauh berbelok.


Lagi pula setelah istrinya diberi pemandangan 'seindah' itu melalui Instagram ketika tengah mengidam dan mengalami mood yang kurang stabil, secara tega pula Afriz mengumpankan Zaya kepada Bu Lincah yang nyatanya sering membuat calon ibu dari anaknya itu tak nyaman. Pantas saja perempuan itu langsung kabur begitu saja ketika ia tinggal dalam waktu yang tak sebentar. Memilih untuk tidak mengajaknya bertengkar, melainkan hanya menenangkan diri di desa sana.


Lalu ketika Zaya kembali dalam keadaan yang sekiranya lebih baik, ibu hamil itu mendapati suaminya tengah memeluk wanita lain. Apalagi ....


"Mbak Vita ke sini lagi?"


Afriz mengangguk, tak begitu mengerti perubahan raut wajah istrinya yang mendadak tak suka. "Iya. Memangnya kenapa?"


"Yaaa, nggak apa-apa." Zaya tampak menggigiti bibir bawahnya, juga terlihat susah payah menelan ludah. "Kok dia sering banget ke sini, sih, Mas?"


"Goblok! Afriz goblok!" maki pemuda itu, melampiaskan penyesalan atas segala keacuhan terhadap perasaan istrinya. Lantas ia mengusap wajah. "Sekarang mikir, Zaya pergi ke mana? Dia sedang mengandung anak kamu, tapi kamu malah nggak tahu ke mana dia pergi dan bagaimana keadaannya sekarang."


Dada Afriz tampak naik turun. Tangannya hampir membanting ponsel Zaya yang saat ini tengah ia genggam. Otaknya bekerja lebih keras, memikirkan kemungkinan paling realistis perihal keberadaan Zaya sekarang.


Beberapa menit lamanya lelaki itu memejamkan mata. "Zaya, Faiz, bayi. Zaya, Faiz, bayi," gumamnya tak jelas apa tujuan pastinya ia menyebut tiga kata itu. "Zaya, Faiz, bayi."


Setelahnya ia tersentak kala mengingat sesuatu. Lalu buru-buru menghubungi sebuah kontak bernama 'Kak Una' yang ia contek nomornya dari ponsel Zaya. Sayang, hingga percobaan kelima tidak menunjukkan tanda-tanda akan diangkat. Sebagai usaha terakhir pada malam hari ini, Afriz mengetikkan pesan singkat.


"Saya Afriz, suami Zaya. Tolong beritahu saya, jika anda bertemu dengan Zaya," diktenya sambil mengetik.

__ADS_1


Seperti baru saja selesai berlari maraton, Afriz mengatur napasnya yang terengah-engah. Ia sama sekali belum mengantuk. Belum pula ingin beristirahat meski punggung dan kakinya amat pegal. Ia butuh kepastian perihal tujuannya besok.


...***...


__ADS_2