Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar

Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar
Hamil?


__ADS_3

[Papa siuman. Maaf tadi gak pamitan dulu]


^^^[Iya gapapa]^^^


Walau tak ada kesan manis-manisnya sama sekali, kegiatan berbalas pesan pada dua hari yang lalu itu membuat Zaya merasa lega. Kendati sampai hari ini keduanya memang tak menyinggung perihal kejadian malam di mana mereka sampai lepas kendali.


Selain itu, Zaya merasa beruntung karena Pam tak jadi berkunjung ke tempat tinggalnya. Laki-laki itu punya banyak urusan yang benar-benar tak bisa ditinggal.


Entah urusan apa, yang jelas Zaya jadi tak perlu repot-repot untuk berbohong guna menghindari pemuda itu.


Sebuah notifikasi pesan masuk, menganggu Zaya. Merasa tak ada kegiatan, perempuan itu pun langsung membaca tulisan pada aplikasi perpesanan. "Papa bilang mau ketemu kamu dan Nida. Nanti Pak Heri jemput kamu jam-jam setengah lima."


^^^[Iya]^^^


Zaya memastikan angka yang ditunjukkan oleh layar ponselnya. Pukul setengah lima, berarti kurang lebih satu jam lagi. Tanpa membuang lebih banyak waktu, perempuan itu segera bersiap-siap. Tetapi kemudian dirinya ingat sesuatu.


^^^[Mas perlu apa? Biar sekalian aku bawain]^^^


Sambil menunggu balasan, Zaya memasukkan barang keperluan Faiz ke dalam tas kain berukuran sedang.


Ada tisu basah dan kering, satu jaket rajut, tiga celana panjang, satu popok, dua mainan warna-warni; termos kecil berisi air putih hangat, sebotol air dingin, botol susu bayi, serta dua stoples kecil yang masing-masing berisi susu bubuk dan biskuit.


Setelah selesai, ia mengambil ponselnya. Kemudian membaca pesan jawaban dari suaminya.


[Balsem dan sarung]


^^^[Ok. Ada lagi?]^^^


[Itu aja]


^^^[Ok]^^^


Lantas pipi Zaya merona merah ketika Afriz mengiriminya ikon hati sebagai balasan.


Begitu menyadari reaksi konyolnya, Zaya langsung saja mengambil balsam, minyak angin, dan sarung yang dipesan oleh sang suami, lalu memasukkannya ke tas.


Namun, sebelum membetulkan resliting yang baru saja dibuka untuk mempermudah peletakan balsam, Zaya merasa ada yang salah dengan sistem pencernaannya.


"Faiz duduk di situ dulu, ya."


Sontak saja ia menutup mulutnya sebelum ada sesuatu yang keluar dari sana, seraya berlari menuju wastafel.


"Hoek."


Perempuan itu berusaha mengeluarkan isi perutnya, tetapi tak ada yang berhasil lolos. Hanya air liurnya saja yang sukses mengalir, padahal desakan itu terasa kuat.


Kini tangannya membasuhkan air pada area wajah yang mulai berkeringat. Lalu berdiri terpaku, menatap muka pucatnya sendiri melalui cermin, juga memandang matanya yang memerah karena tanpa sadar mengeluarkan air.


Sementara itu, badannya terasa begitu lemas. Napasnya terdengar ngos-ngosan. Jantungnya berdetak begitu cepat. Dadanya naik turun.


Rasa itu mendesak lagi. "Hoek."


Untuk kedua kalinya, Zaya kembali membasuh wajahnya dengan air. Setelah itu menarik, menahan, dan mengembuskan napasnya berkali-kali untuk mengendalikan rasa tak enak pada tubuhnya.


Setelah memastikan bahwa rasa mual itu tak akan datang lagi, ia kembali ke kamarnya. Tetapi tubuhnya benar-benar lemas, sampai-sampai ia begitu saja duduk di ranjang.


[Pak Heri lagi ke rumah]


Zaya mengeringkan wajahnya menggunakan handuk kecil, kemudian memperbaiki riasan. Memolesi wajah dengan pelembab, serta mengolesi bibirnya dengan lipstik berwarna merah muda untuk menyamarkan pucatnya.

__ADS_1


Lalu menghampiri Faiz yang tadi sudah ia mandikan dan telah berganti baju, seraya membawa tas jinjing berisi barang-barang bawaan.


"Kita tunggu Pak Heri di luar, yuk," ajaknya pada balita itu.


Faiz menurut saja kala Zaya menuntun telapak tangan mungilnya, walau perhatiannya sempat teralih beberapa kali. Tetapi langkah-langkah kecil itu begitu mantap, dan berhenti ketika sampai di teras.


Baru saja Zaya mendudukkan pantatnya pada bangku di depan rumah, terdengar notifikasi pesan.


[Aku ke rumahmu sekarang]


Itu bukan berasal dari suaminya, melainkan dari Pam. Tetapi Zaya tetap berusaha tenang.


^^^[Aku gak di rumah]^^^


[Aku di depan rumahmu dan bisa lihat kamu dari sini]


Nah, barulah jantung Zaya serasa hendak copot. Tubuhnya memasang mode waspada. Pandangannya ke sana kemari, dan mendapati kebenaran dari pesan yang diterimanya. Bahwa Pam sudah ada di depan rumahnya dan sang suami.


Laki-laki itu tersenyum dari kejauhan, sambil terus melangkah secara mantap.


Sementara Zaya tak mungkin untuk kabur dan mengatakan bahwa ia tak sedang di rumah. Lagi, seperti tadi.


"Assalamu'alaikum," sapa Pam, dengan suara semantap langkahnya barusan.


"Wa-wa'alaikumsalam," jawab Zaya.


Sementara itu, Pam masih memandangi wajah Zaya tanpa berkedip. Mengabaikan perasaan risi yang ia tangkap dari objek pandangnya saat ini.


"Mas Pam ada urusan apa ke sini?" tanya Zaya.


Nadanya sama sekali tak ramah. Bahkan tatapannya tertuju ke arah pohon jambu di halaman, tanpa menghiraukan keberadaan lawan bicaranya. Sengaja bersikap tak sopan.


"Aku tahu, Faiz bukan anakmu ataupun anak dari suamimu," kata Pam tanpa berbasa-basi.


"Harus berapa kali aku ngomong kalau bayi yang dilahirkan oleh Una itu bukan anakku?"


"Ya kalau bukan, ngapain waktu itu Kak Una minta pertanggungjawaban dari kamu?"


Pam terdiam. Mau dirinya membela diri seperti apa, Zaya sudah tak akan percaya padanya. Karena mau mengelak seperti apa pun, dirinya memang pernah melakukan hubungan terlarang itu bersama Una, walau setengah kesadarannya berada di bawah pengaruh minuman yang ia konsumsi sebelumnya.


Memang dirinya saja yang terlalu naif. Ia kira, dengan menunjukkan sikap tak baiknya pada gadis pilihan orangtuanya itu, Una akan mundur mengejarnya. Lalu dirinya bisa bebas menjalin hubungan bersama Zaya, tanpa ada gangguan dari anak mantan bendahara kecamatan itu.


Tetapi, semuanya bubar. Selain keperjakaannya yang hilang, pujaan hatinya ikut hilang.


"Kamu tahu sendiri, usia kandungan Una sudah dua bulan, seminggu setelah kami melakukan itu."


"Siapa yang bisa jamin kalau kalian ngelakuin itunya cuma sekali? Tapi mau kalian ngelakuin itu sekali, sebelas kali, tiga puluh kali, aku nggak peduli," sahut Zaya makin jengah.


Terdengar helaan napas kasar dari hidung Pam. Tidak dulu tidak sekarang, rasanya memang begitu melelahkan setiap kali berhadapan dengan perempuan di depannya ini.


"Baik. Tapi yang harus kamu tahu, perasaan aku ke kamu masih sama seperti dulu. Aku masih cinta kamu, dan itu nggak pernah berubah."


Zaya mendengus. Kalau cinta, ngapain masih kegoda perempuan lain?


"Udahlah, Mas, nggak diungkit-ungkit lagi. Aku juga udah punya kehidupan sendiri." Kali ini Zaya memberanikan diri menatap lawan bicaranya, meski harus mengabaikan tatapan tanpa kedip itu lagi. Secara tegas, ia menunjukkan jarinya yang bercincin. "Aku udah nikah."


"Dari Kang Bani, aku tahu kalian dijodohkan. Lantas pernikahan macam apa yang kamu jalani dengan laki-laki itu? Tanpa cinta?"


"Aku cinta suamiku, kok."

__ADS_1


"Suamimu juga cinta, sebagaimana aku cinta ke kamu?" kejar Pam.


"Ya, kami saling cinta." Lagi-lagi Zaya memalingkan muka, menghindari kontak mata dengan lawan bicaranya."Semoga," tambahnya dalam hati. "Kalau enggak, ngapain kami bertahan sampai sekarang?"


Sambil menelan ludah, Pam mengangguk paham. Dapat ia lihat kesungguhan pada ketegasan suara yang ia dengar. Mau tak mau, dirinya memang harus melepas perempuan di hadapannya ini, walau sulit.


"Aku harap, Mas ngerti posisiku sekarang. Aku yakin Mas juga paham kalau seorang bujangan kayak Mas Pam ini kurang pantas bilang yang enggak-enggak ke istri orang."


Zaya menghela napas lega, begitu mendengar ucapan salam dari lawan bicaranya. Ia harap, laki-laki itu mengerti keadaan mereka yang sudah jauh berbeda.


Lalu dirinya memejamkan kedua mata. Ada sesak di dalam dada, saat menyadari sesuatu.


Bahwa sampai detik ini, tak pernah ada pernyataan cinta dari mulut suaminya sendiri.


Yang lebih konyol, dirinya malah baru saja mendengar ungkapan cinta dari laki-laki lain.


...***...


Zaya menyalami mertuanya. "Papa cepat sembuh, ya. Aku dan Faiz kangen berkebun bareng Papa lagi."


Dalam kondisi masih lemas, Pak Hidup mengangguk dan tersenyum. "Kamu dan Faiz sehat?"


"Alhamdulillah kami sehat."


"Bang," panggil Nida kepada Afriz, yang lebih tepat disebut godaan. "Ini Zaya udah di depan mata. Disapa kek, daripada cuma dilirik-lirik doang."


Justru Zaya yang menoleh, heran menyaksikan tingkah adik iparnya itu. "Kenapa, Kak?"


"Itu tuh suamimu, nanyain kamu mulu. Katanya kok lama banget, padahal Faiz dan Pak Heri udah sampai dari tadi."


Mendengar penjelasan adik iparnya, Zaya refleks melirik Afriz yang duduk berselonjor pada tikar yang tergelar di seberangnya.


"Emang dari tadi ngapain aja sih, di toilet? Betah amat."


Memang, sejak tiba di gedung ini, Zaya terhitung cuma menumpang muntah sampai-sampai ia jadi lama di kamar mandi sebelum masuk ke ruangan ini.


Tetapi belum sempat menanggapi seloroh dari Nida, rasa mual itu datang lagi. Tanpa berpamitan, ia berlari menuju toilet yang kebetulan ada di ruang rawat Pak Hidup. Khawatir muntah di tempat ini, walau sedari tadi ia tak memuntahkan apa-apa.


Pemandangan barusan sontak saja menyita seluruh perhatian Nida yang sedang duduk dalam heran itu. Sedangkan Pak Heri sepertinya sudah tak terlalu kaget, karena sedari tadi Zaya memang selalu memintanya untuk menghentikan laju mobil ketika merasa mual.


Afriz, buru-buru menyusul ke tempat yang dituju oleh sang istri, ketika mendengar suara-suara aneh dari dalam sana.


Laki-laki itu menunggu Zaya keluar. Beberapa saat kemudian, pintu di depannya terbuka. Tetapi saat pertanyaan, "Kamu kenapa?" baru terbenak, perempuan itu sudah masuk lagi.


Untuk beberapa saat, hanya ada suara Zaya yang masih berusaha mengeluarkan isi perutnya. Tubuhnya sampai lemas.


Afriz pun mendekat dan tangannya memijat-mijat pelan tengkuk Zaya yang mulai berkeringat dingin.


Posisi keduanya bertahan untuk beberapa saat, sebelum Afriz menjauh untuk mengambilkan apa saja yang sekiranya dapat mengurangi gejala mual istrinya.


"Bawa minyak angin, nggak?" tanya Afriz kepada Nida.


"Aku bawanya minyak kayu putih. Nggak apa-apa?" Nida memastikan. Setelah itu mengambil botol plastik berwarna hijau transparan di tasnya, ketika mendapati anggukan dari lawan bicaranya. "Zaya kenapa, emang?"


"Mual. Masuk angin, kayaknya."


Nida menyerahkan botol yang ia baru saja berhasil ia ambil. "Hamil, kali," vonisnya tanpa pikir panjang.


"Ngawur!" tepis Afriz.

__ADS_1


"Ya apa, kalau bukan hamil? Sengaja dibikin bareng suami ini," kekeh Nida.


...***...


__ADS_2