
Sinar mentari menyelusup melalui celah jendela dan genteng kaca, mengintip Zaya yang tengah bersujud.
Sorotnya menyebar, kemudian menyapa sosok di belakang perempuan itu.
Faiz mengikuti gerak ibunya. Walau hanya berdiri dan duduk, pria kecil berpeci miring itu tampak khusyuk saat ikut salat duha.
Meski beberapa detik kemudian justru sibuk memain-mainkan bagian tepi sajadah kecil yang ditimpa tubuhnya sendiri, paling tidak itu lebih baik daripada menarik-narik mukena Zaya seperti biasanya.
Kilau baskara yang kian kentara itu membalut wajah Zaya.
Menghadirkan kesan bahwa sesungguhnya perempuan itu memiliki pendar yang lebih terang daripada matahari itu sendiri. Parasnya jauh lebih berseri.
Memberitahukan kepada dunia bahwa inilah wujud nyata dari keselarasan antara wajah serta hati, yang berpadu tanpa saling mengkhianati.
Seusai mengusap wajah menggunakan kedua telapak tangan, istri Afriz itu menoleh. Ia mendapati Faiz yang tengah duduk sambil menarik-narik benang di pinggiran sajadah dengan khusyuknya. "Ditarik-tarik gitu biar apa?" tanyanya.
Satu yang lucu dari komunikasi Faiz dan Zaya adalah pemahaman terhadap diri masing-masing. Zaya selalu menanya hal yang sekiranya tak terlalu penting begitu, sementara Faiz belum bisa menjawab sepenuhnya. Maka, Zaya pun perlu waktu cukup lama untuk mengetahui maksud Faiz.
Zaya memanjatkan doa untuk melembutkan hati. Kemudian mengusap dan meniup ubun-ubun Faiz, lalu menetap untuk memandang sosok kecil di depannya ini.
Kini Zaya menuntun Faiz untuk berjemur di halaman samping rumah, lalu memetik dua buah jambu biji merah yang sudah masak serta terjangkau oleh tangannya.
Setelah itu mencuci buah yang baru saja dipetik melalui keran di samping rumah, kemudian memakannya.
Sejak kemarin siang, ia memang terhitung tak melakukan pekerjaan apa-apa, lantaran dilarang oleh suaminya. Ia hanya menyapu dan mencuci piring. Sudah, itu saja. Padahal, dirinya gampang bosan jika tak beraktivitas seperti biasa.
Sementara di lain sisi, ia pun mudah lelah pada usia kandungannya yang ternyata sudah memasuki minggu keenam ini.
Sikut Zaya menyentuh lengan Afriz, mengode agar kepala suaminya mendekat padanya. "Mas, tanyain," bisiknya kepada sang suami.
"Apa?"
"Kan barusan Bu Bidan bilang, aku nggak boleh terlalu banyak beraktivitas dulu. Kalau gitu, aku masih boleh salat, nggak?"
Alis kiri Afriz terangkat, disertai kerutan pada dahinya yang sedikit berkeringat. "Lah, memangnya kenapa jadi nggak boleh salat?"
"Takutnya kalau aku lagi rukuk, bayinya ketekuk dan kenapa-kenapa."
Afriz terkekeh geli mendengar jawaban penuh kekhawatiran itu. "Ya nggak mungkin gitu, lah."
"Makanya tanyain, ya, Mas."
Demi membuat lega istrinya, Afriz benar-benar bertanya perihal dampak dari posisi rukuk ketika salat bagi jabang bayi.
*Reaksi Bu Bidan persis dengan tanggapan Afriz beberapa saat yang lalu. Wanita paruh baya itu terkikik sebentar sebelum menjawab, "Ya, namanya hamil anak pertama, setiap calon ibu pasti punya kekhawatiran kalau bayinya akan kenapa-kenapa.
"Tapi tenang saja, gerakan rukuk ketika salat itu aman. Tidak akan memberi dampak buruk untuk si bayi. Hanya saja, kalau bayinya tambah besar, gerakan ibunya yang jadi kurang leluasa. Kalau bayinya sih tidak akan kenapa-kenapa. Yang terpenting, berhati-hati saja*."
"Tuh, dengerin, Yang. Bayi kita nggak akan kenapa-napa, kalau cuma diajak salat. Kecuali kamu salatnya sambil koprol. Ya, kan, Bu Bidan?" seloroh Afriz, yang sontak saja dibalas dengan tepukan manja pada lengannya.
"Betul. Bu Zaya masih bisa bergerak secara leluasa, selama gerakan yang Ibu lakukan tidak terlalu ekstrem."
*Afriz mengangguk-angguk, kemudian menoleh ke arah Zaya. "Mau tanya apa lagi, mumpung masih di sini?"
Namun sasaran pertanyaannya itu menggeleng, tak tahu harus bertanya apa. "
__ADS_1
Oh iya, hampir kelupaan," ucap Afriz, baru mengingat sesuatu. Perhatiannya sudah terpusat kembali ke Bu Bidan. "Usia istri saya kan baru mau 21 tahun. Apakah itu berpengaruh untuk proses melahirkannya?"
Dia sungguh ingin memastikan bahwa proses kelahiran bayinya memang tak akan memberi pengaruh berbahaya bagi istrinya*.
*Pandangan Zaya terpaku pada suaminya, yang tanpa disangka-sangka bertanya demikian.
Dari sudut matanya kini, ia dapat menemukan raut kesungguhan dari sosok di sebelahnya ini perihal kehadiran bayi mereka.
Semenjak tadi ia dinyatakan hamil, suaminya ini begitu antusias bertanya banyak hal dan mendengarkan penjelasan dari bidan di hadapan mereka*.
"Bersyukurlah, Pak, Bu, itu usia yang sudah aman untuk melahirkan. Risiko proses kelahiran yang signifikan itu rata-rata terjadi kepada perempuan dengan usia di bawah 20 tahun. Penyebabnya bisa karena dinding rahim dan jalan lahirnya bayi belum terbentuk secara sempurna, atau karena kondisi mental si calon ibu yang sebetulnya belum begitu siap. Sementara yang saya lihat, istri Bapak sudah sangat siap untuk punya anak." Pandangan Bu Bidan beralih kepada Zaya. "Begitu, kan, Bu?"
Zaya tersenyum canggung. "Hm ... iya."
"*Bagus, kalau begitu. Yang terpenting, Bu Zaya tidak usah terlalu percaya apa kata orang yang mengatakan kalau melahirkan itu sakit sekali. Memang sakit, tapi rasanya tidak sesakit apa yang dibayangkan oleh perempuan yang belum pernah melahirkan.
"Lagi pula, sepertinya pasangan Ibu sudah sangat siap untuk jadi suami siaga. Jadi, nikmati saja masa-masa kehamilan dengan rileks, tidak usah tegang. Yang terpenting, persiapkan diri sebaik mungkin selama masa hamil. Ya*?"
Helaan napas lega terdengar jelas dari hidung Afriz, saat melihat anggukan antusias dari Zaya. Paling tidak, dia sudah menemukan penangkal kekhawatirannya sendiri akan kondisi sang istri. "Terima kasih."
Secara sekilas, banyak orang yang memandang bahwa hidup Zaya begitu enak dan tak memiliki tantangan berarti.
Jalan hidupnya tampak lurus-lurus saja, seolah tak pernah menemukan tanjakan, turunan, apalagi jalan berlubang yang memaksanya mengambil arah lain untuk 'belok'.
Pada kenyataannya, perempuan itu hanya menikmati tanjakan, turunan, serta jalan berlubang yang dilintasinya. Walau sesekali ia sempat tergiur untuk berbelok kemudian keluar dari jalur yang dilewati, agar tiba di tempat tujuan secara kilat.
Tetapi, ia memilih jalur lurus sampai saat ini. Bukan lurus dalam artian tanpa berbelok sama sekali, namun hanya mengikuti jalur yang memang khusus untuknya.
Dan bisa dibilang, apa yang dilihat oleh orang-orang merupakan buah dari langkah-langkah kecilnya saja.
Padahal sama sekali tidak begitu. Ayahnya dulu adalah seorang buruh serabutan, serta hanya mengandalkan hasil ladang untuk memenuhi kebutuhan dan menyekolahkan anak-anaknya.
Dirinya pun harus rela dikucilkan karena berani-beraninya melawan tradisi yang mengungkung dusunnya sendiri, serta sanggup dijuluki sebagai perawan tua sejak usianya baru delapan belas tahun.
Sedangkan di sisi lain, ada banyak ketakutan bila dirinya dinikahkan dengan laki-laki tua saat usianya masih muda.
Apalagi berdasarkan obrolan ayahnya dengan salah satu tetangganya dulu, ternyata ada seseorang yang terobsesi untuk menjadikannya sebagai istri ketiga, bahkan setelah ia baru mengalami haid pertama.
Lalu sekarang, orang mengira bahwa menjadi istri Afriz adalah pencapaian terhebat dalam hidup seorang Ihzaya Nurina.
Bagaimana tidak? Suaminya itu tampan, mapan, serta menjadi idaman banyak perempuan. Masih pula ditambah dengan perkataan dan bahasa tubuh yang bisa saja menggoyahkan iman.
Zaya sendiri tak menampik kalau suaminya itu memang memiliki mulut yang manisnya melebihi sakarin. Dibuktikan dengan pembicaraan yang terjadi pada satu waktu.
Kala itu, Afriz baru saja pulang bekerja. Tetapi bukannya beristirahat, laki-laki itu malah menerima tamu. Memaksa Zaya untuk sabar menunggu obrolan dua pria dewasa di ruang tamu.
"Mas," panggilnya, begitu si tamu sudah minta diri.
"Hm?"
"Barusan itu siapa?"
"Tukang."
"Emangnya Mas mau ngebangun apa lagi?" tanya Zaya, heran.
__ADS_1
Setahunya, rumah mereka sudah cukup luas, lengkap, telah memiliki garasi dan perkakas yang mumpuni pula. Jadi, menurutnya, tak perlu ditambahi apa-apa lagi.
"Membangun masa depan bareng kamu."
Walau tersipu, Zaya berusaha untuk bersikap biasa saja. "Idiiiih," balasnya, yang ditanggapi dengan kikikan geli oleh lawan bicaranya. Tetapi ia masih penasaran. "Jawabnya yang bener, dong. Manggil tukang buat apa?"
Afriz tak segera menjawab. Laki-laki itu masih menghabiskan sisa rasa gelinya. "Tadi minta tolong biar dapur di rumah kita diplester halus sekalian dicat. Biar nggak aneh gitu kita lihatnya."
Mulut Zaya membentuk huruf 'o', menandakan bahwa dirinya mengerti. "Tapi bukannya nggak apa-apa, kalau dapur kita nggak usah diplester, Mas?" tanyanya memastikan.
"Awalnya, iya. Jadinya ditunda dulu mlester dinding dapurnya. Sampai-sampai malah nggak tersentuh selama bertahun-tahun, karena Mas lebih sering makan di luar ketimbang masak sendiri. Tapi, sekarang kamu setiap hari di dapur. Jadi, Mas pengin bikin kamu lebih nyaman di sana."
Zaya sontak terdiam. Ada rasa hangat yang tiba-tiba menyapa pipinya.
Rasa-rasanya, tak ada alasan yang tepat baginya untuk tak semakin jatuh ke dalam pesona sosok di sebelahnya. Karena semakin lama ia bersama dengan laki-laki ini, jujur saja, perasaan cintanya makin tumbuh.
Cinta?
Apakah ia mencintai pria di sampingnya ini?
Ia tentu tak kesulitan menjawab pertanyaan itu. Sudah pasti, jawabannya adalah iya. Perasaan itu pula yang akan terus tumbuh subur dalam dirinya.
"Terus, tukangnya cuma diminta mlester dinding dapur?"
"Nggak, lah. Tadi sekalian minta dibikinkan kolam ikan di samping rumah."
"Oh, Mas mau miara ikan?"
"Iya. Kalau ada waktu, sebenarnya mau miara burung juga."
"Burung apa?"
Bukannya segera menjawab, Afriz justru melirik Zaya. Ekspresinya begitu janggal. "Ya burung beneran, lah. Masa, burung apa?"
"Hah?" Zaya menatap suaminya, aneh. Ekspresinya jelas tak paham. "Ya maksudku juga burung beneran. Emang Mas kira, burung apa yang aku tanyain?"
Sungguh, ia tak mengerti makna kosakata 'burung' yang dimaksud oleh suaminya.
Kejadian itulah yang menjadi penegas betapa manis, menggemaskan, dan menjengkelkannya Afriz bagi Zaya.
Selain itu, ia pun mesti berpikir jauh lebih dewasa dari usianya. Pemikiran Afriz yang baginya terlampau tua, sering menimbulkan kebingungan tersendiri.
Makanya, kalau nanti anak mereka lahir, Zaya menginginkan anak perempuan. Sebab bila laki-laki, ia tak bisa membayangkan seandainya sifat Afriz menurun ke anak mereka. Tentunya, hal itu akan menambah kacau pikiran serta lebih menguras tenaganya.
Semakin ke sini, Zaya kian paham akan keadaan. Menjadi istri laki-laki itu adalah 'bonus kontan' dari Tuhan yang telah mempermainkannya dalam situasi dan kondisi semacam ini.
Namun, semuanya tak hanya berhenti sampai di situ.
Menjadi pasangan pria itu, berarti ia harus kian menebalkan mata dan telinga. Juga siap mengorbankan mimpinya, dengan tetap fokus menjadi istri serta ibu rumah tangga selama pernikahan mereka.
Kalaupun suatu saat ia diberi kesempatan untuk, setidaknya merasakan bangku kuliah lagi, itu adalah anugerah yang tak terkira.
Tetapi ia sudah tak terlalu berharap, mengingat ia tengah hamil begini. Tentu akan ada banyak pengeluaran yang harus ditanggung oleh suaminya, serta waktu dan tenaganya sendiri yang sebagian besar akan berkurang untuk mengurus anak serta rumah tangga mereka.
Terlebih nanti, setelah bayi yang dikandungnya ini lahir, prioritasnya pasti sudah berubah.
__ADS_1
...***...