Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar

Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar
Keluarga Berencana


__ADS_3

Pandangan Zaya mengikuti langkah Afriz yang hendak mendekat padanya.


Dapat ia lihat suaminya mengambil ponsel, kemudian memosisikan diri senyaman mungkin di dekatnya.


Tubuh laki-laki itu bersandar pada bantal dan guling yang ditumpuk, sementara matanya terfokus ke ponsel yang layarnya tengah digeser-geser oleh jari jemarinya sendiri. Bersikap seolah-olah tak ada orang lain, sambil sesekali tersenyum-senyum ke arah benda pipih yang tengah dipegang.


Melihat itu, lama-lama Zaya jadi jengkel juga.


"Mas," panggil Zaya akhirnya.


"Hm?" sahut Afriz tanpa melihat ke arah istrinya. "Kamu nggak tidur?"


Kali ini Zaya menggeleng. "Belum ngantuk."


Mendapati tanggapan pendek itu, Afriz melirik Zaya sambil geleng-geleng. Kini istrinya tampak memain-mainkan selimut dengan gelisah, seolah memberinya kode agar ia menunggu perkataan selanjutnya.


Afriz menanti sembari menyentuh dan sesekali menggeser-geser layar ponsel. Pura-pura sibuk, meski urusannya dengan Vita sudah beres.


"Mas lihat apa?" tanya Zaya, berusaha mengintip apa yang ada pada layar sampai-sampai Afriz mendiamkannya seperti ini. Penasaran, dia. "Kok kayaknya sibuk banget?"


"Nggak ada," jawab Afriz, tetapi pandangannya tetap tertuju ke benda bercahaya di tangannya. Tak lama setelahnya, ia merasakan gerak kasur.


"Mas, lihat sini."


"Apa, sih?"


"Aku cocok nggak, pakai ini?"


Mendengar pertanyaan barusan, akhirnya Afriz menoleh untuk mengamati Zaya yang sudah turun dari ranjang guna memperlihatkan sesuatu kepadanya.


Perempuan itu tampil sedikit berbeda dari biasanya, yakni dengan mengenakan baju terusan tanpa lengan, yang bagian bawahnya hanya sebatas lutut.


Tumben, pikir Afriz.


Jujur, tanpa harus berbusana seperti itu saja, Zaya sudah bisa membuat Afriz tergoda. Apalagi malam ini pakaian yang melekat pada tubuh perempuan itu tak membalut raga di hadapannya secara sempurna.


Ditambah pipi yang mulai tembam itu justru membuat Zaya berkali lipat lebih cantik. Membuat pikiran Afriz berkelana ke mana-mana.


Tetapi kemudian lelaki itu menggeleng-geleng, menepis benaknya yang mulai ngawur.


"Nggak cocok, ya?" tanya Zaya. Nadanya melemah. Kecewa. "Ya udah, aku ganti baju aja kalau Mas nggak suka aku pakai ini."


"Eh, bukan gitu." Terlambat. Suara Afriz tak mungkin lagi terdengar oleh lawan bicaranya. Sebab, istrinya itu sudah berjalan cepat untuk berganti pakaian.


Sedangkan di kamar mandi, mata Zaya yang berkaca-kaca langsung saja menumpahkan airnya. Pikirannya memutar ingatan mengenai reaksi Afriz barusan.


Ternyata usahanya untuk memanjakan mata laki-laki itu hanya dihargai segini. Upayanya menekan kuat-kuat perasaan malu dan canggung ketika mengenakan busana seminim ini tak menghasilkan kesenangan bagi suaminya sendiri.


Kemudian perempuan itu menghadap cermin. Allahumma kamaa hassanta khalqi fahassin khuluqi, rapalnya dalam hati.


Lalu mengamati pantulan wajahnya secara saksama, memperhatikan sembari memijat-mijat pelan kedua pipinya yang mulai tembam. Siapa tahu beberapa saat lagi akan berubah tirus.


Terdengar ketukan pintu dari luar. "Yang," panggil si pengetuk, Afriz.


"Bentar, Mas." Zaya segera membersihkan ingus. Setelahnya, mengganti pakaiannya yang sekarang dengan salah satu baby doll yang biasa ia kenakan pada malam-malam sebelumnya.


"Kenapa mesti ganti baju?" tanya Afriz, begitu Zaya membuka pintu.


"Emangnya tadi siapa yang keberatan kalau aku pakai baju gituan?"


"Kan nggak ada yang bilang keberatan."


"Tadi Mas sendiri yang geleng-geleng karena nggak setuju." Kemudian Zaya melewati suaminya, menuju kamar lagi.

__ADS_1


Pandangan Afriz mendadak aneh, memikirkan segala penyebab kekonyolan ini.


Baginya, berurusan dengan perempuan sebelia Zaya memang sering membuat kepalanya pening seketika. Istrinya nan muda ini bisa tiba-tiba cemberut tanpa sebab yang jelas.


Sedikit-sedikit mengambek. Sebentar-sebentar tersinggung hanya karena hal sepele. Cuma karena ia salah bicara atau terlambat memberikan reaksi.


Atau memang perempuan yang terindikasi hamil bisa sememusingkan ini?


Laki-laki itu mengikuti Zaya ke ranjang. Kemudian duduk bersila di sebelah perempuan itu. "Cemberut terus nanti jadi tambah jelek," godanya.


Zaya memunggungi suaminya. "Biarin."


"Kamu goda-godain Mas gitu, memangnya nggak lagi berhalangan?"


"Nggak tahu."


Menahan senyum, Afriz memberanikan diri untuk bertanya, "Apa sampai sekarang masih belum menstruasi juga, Yang?"


Tetapi tubuh Zaya seketika menegang. Wajahnya tampak kaku. "Iya."


"Berarti kamu sudah telat berapa lama?"


Zaya menghitung-hitung di dalam hati seraya menggigit bibirnya, gelisah. Lalu ia membalik tubuh. "Satu setengah bulan, kurang lebih."


"Besok kita periksakan, ya."


Jantung Zaya makin berdebar-debar. Tangannya *******-***** selimut yang menutupi kakinya. "Kalau ternyata aku beneran isi, gimana, Mas?"


"Ya nggak gimana-gimana. Kamu tanya gitu kayak perempuan nggak punya suami." Serta merta Afriz mencubit hidung Zaya. "Mas harap kamu sudah berubah pikiran tentang anak di antara kita."


Mata Zaya mengerjap-ngerjap. Ia bingung harus bagaimana menanggapi suaminya. Benaknya mendadak kosong.


"Aku nggak tahu." Zaya menunduk seraya menggigit bibir bawahnya.


"A-aku cuma ... sama sekali belum kepikiran sampai sana, Mas. Aku belum kepikiran untuk hamil dan punya anak."


Setelah memikirkan semua alasan-alasan logis untuk menyanggah aksi penolakan Zaya agar mereka segera memiliki buah hati, penuturan barusan terpaksa menyadarkan Afriz.


Bahwa tujuh setengah bulan yang lalu, dirinya menikahi gadis berusia 20 tahun yang belum memiliki keinginan apalagi rancangan matang dalam membangun rumah tangga.


Gadis tulen yang terpaut usia delapan tahun darinya, yang kepolosannya benar-benar baru ia renggut kurang lebih empat bulan lalu.


Tetapi, Afriz pun harus menerangkan duduk permasalahan yang menjadi gesekan di antara mereka.


Dia terus memandang Zaya yang belum mau mengangkat kepala untuk menatapnya. Lalu diraihnya dagu perempuan itu agar pandangan mereka bertemu.


"Mas mau tanya. Memangnya berapa kali kita berhubungan? Nggak kehitung karena lumayan sering, kan?"


Begitu mengerti ke mana arah pembicaraan suaminya, Zaya justru gagap sendiri.


Masa, dia harus menghitung berapa kali dirinya dan Afriz berhubungan badan selama pernikahan mereka?


Menyadari hal tersebut, perempuan itu jadi merasa geli tanpa aba-aba.


Afriz tersenyum, masih pula mempertahankan posisi. "Coba hitung. Dalam tempo seminggu, kita melakukan 'itu' bisa dua sampai tiga kali, kalau kamu nggak berhalangan dan kita nggak lagi capek. Bahkan kalau kita memang lagi sama-sama mau, bisa lebih dari itu. Dengan intensitas hubungan kita yang segitu, siap nggak siap kita memang harus siap kapan pun Allah menitipkan anak ke kita. Karena kita memang sengaja bikin."


Karena kita memang sengaja bikin.


Zaya menelan ludah susah payah. Apa suaminya itu tak punya diksi lain yang sekiranya lebih enak didengar?


"Lagi pula, semua keputusan yang kita ambil memang berisiko, Yang. Kalau kita saling menghindar supaya kita nggak gituan, hubungan kita pasti malah jadi aneh. Memang, Mas bisa saja pakai pengaman setiap kita berhubungan, biar kamu nggak kebobolan. Tapi kalau memang takdirnya kita sudah dipercaya untuk cepat punya keturunan, mau nggak mau harus kita terima. Ya, karena itu tadi. Kita memang sengaja bikin, meski kamu sendiri belum siap punya anak."


"Tapi di kampungku banyak yang KB buat nunda momongan."

__ADS_1


"Terus, kamu mau nunda momongan karena mau niru mereka?"


"Maksudku bukan itu."


Afriz tertawa pelan. Ia tak kuasa mencegah tangannya untuk membawa tubuh Zaya ke pelukan. Membiarkan istrinya menyembunyikan wajah di dadanya.


"Risiko pakai kontrasepsi itu jauh lebih besar, Sayang. Selain nggak bisa melawan takdir Allah, alat kontrasepsi tanam, suntik, maupun pil itu bisa mengancam kesehatan kamu. Mas juga nggak mau, kalau saat kamu sudah siap punya anak, efek samping dari semua itu ternyata berkepanjangan dan malah menimbulkan masalah baru."


"Emangnya kalau berhenti ikut KB nggak otomatis bisa langsung punya anak, Mas?"


"Ya enggak, lah. Kamu pikir, sehabis kamu berhenti KB, lalu kita bikin beberapa kali bisa langsung jadi anak, gitu?"


Zaya mengangguk polos. "Aku kira iya."


Afriz menyeringai. "Jangankan pernah ikut KB, yang bikin beberapa fungsi organ reproduksi sempat terhenti. Ya jelas perlu waktu agak lama sampai punya bayi. Kita saja bikin sudah puluhan kali tanpa ada pengaman apa-apa, tapi baru belakangan ini ada tanda-tanda jadi. Untung bikinnya enak, Yang."


Tangan Zaya langsung saja mencubit perut lawan bicaranya. "Hiiih!"


"Tapi mau seenak apa pun, usia Mas sudah segini ---yang kamu bilang tua. Nggak mungkin kita nunda momongan lebih lama lagi. Iya, kedengarannya Mas egois banget karena kesannya maksa kamu melahirkan anak kita di usia kamu yang masih segini, mentang-mentang umur Mas sudah nggak terlalu muda lagi. Tapi kamu ngerti, kan?"


Namun, Zaya terdiam mencerna apa yang dikatakan oleh lawan bicaranya. Lalu memberanikan diri untuk menampakkan wajahnya, menatap laki-laki yang memeluknya.


"Mas mau bayi cowok atau cewek?"


Merasa mendapatkan lampu hijau, kedua mata Afriz berbinar ceria.


"Tapi aku maunya anak cewek, biar ada temen."


Meski Afriz berharap dikaruniai anak pertama laki-laki, ia mengalah. Zaya sudah bersedia punya momongan saja sudah syukur alhamdulillah.


"Cewek atau cowok sama aja. Yang penting kamu ibunya." Sebab, ia pun tak tahu doa siapa yang akan lebih diijabah.


"Lagi pula sikap dan perkataan kamu dari tadi berlawanan terus, Yang. Katanya mau nunda momongan. Tapi tadi kamu berusaha godain Mas biar digituin? Ya nggak lucu kalau kamu belum mau punya anak, tapi ngajak-ngajak Mas bikin anak."


Tak munafik, Zaya memang menyukai keintiman yang sering diberikan oleh suaminya. Rasanya tak bisa dinalar, sekaligus membuatnya bahagia.


Tetapi tak mungkin pula ia mengaku begitu. Makanya sebagai jawaban, ia makin merapatkan wajah dengan dada liat Afriz. Respons yang terlalu mudah ditebak maknanya.


"Mas sih mau-mau saja kalau diajak. Habisnya enak, sih, berhubung kita sudah halal," kekeh Afriz, yang berhasil menarik perhatian Zaya.


Kepala Zaya mendongak, matanya menatap penasaran. "Emangnya kalau yang nggak halal gimana, Mas?"


"Bikin nggak tenang karena bisa digrebek warga."


"Emangnya Mas pernah digrebek warga?" cecar Zaya, masih tak puas dengan jawaban suaminya barusan. Keningnya berkerut heran.


Merasa telah salah bicara, Afriz hanya sanggup menelan ludah. "Belum, sih. Eh, nggak pernah."


"Kok Mas bisa tahu kalau yang nggak halal bakalan digrebek warga?"


"Di Indonesia kan gitu, kalau berduaan dengan lawan jenis tanpa ada ikatan pernikahan. Masa, kamu nggak tahu?"


"Oh, itu? Iya, sih."


Afriz mengelus tengkuknya yang mendadak berkeringat dingin.


Teringat bahwa dulu dia memang pernah nyaris digrebek warga di indekos Vita, kala keduanya masih pacaran. Kalau tidak begitu, mungkin dia sudah melakukan hubungan terlarang itu bersama Vita.


Beruntung, saat itu dirinya buru-buru kabur setelah mengenakan baju dan celananya lagi sebelum warga memergoki.


Walau sudah masa lalu, rasa-rasanya Afriz belum siap menceritakan hal tersebut kepada istrinya.


Terlebih, sejauh ini Tuhan sudah teramat baik, yaitu bersedia menutup rapat aib masa lalunya. Masa, dia yang justru membuka aibnya sendiri?

__ADS_1


...***...


__ADS_2