Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar

Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar
Tanya Bayi


__ADS_3

Pam melajukan kendaraannya secara hati-hati, mengingat ada banyak lubang di jalan yang dilewatinya. Terlebih, pencahayaan yang hanya berasal dari motornya saja kian meminimkan daya penglihatannya.


Tetapi ternyata ada pengendara lain yang sedang apes. Mungkin karena kurang hati-hati atau mengantuk, menyebabkan motor kehilangan keseimbangan.


Pam beberapa kali menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan bahwa pria berhelm yang tertimpa motor itu benar-benar butuh bantuan.


"Sebentar, jangan bergerak dulu." Pam berhenti, lalu turun dari motor setelah melepaskan helm untuk mendekati lawan bicaranya. "Di sini memang banyak lubang, ditambah tidak ada lampu jalan."


Diangkatnya motor bebek di depannya. Walau baginya tak berat, dia mesti berhati-hati lantaran ada orang di bawahnya.


Sedangkan lawan bicaranya, meluruskan kaki yang sepertinya kram. Lalu berusaha berdiri, walau kesulitan. "Ini tidak tahu kalau tidak ada Mas, nasib saya bagaimana. Terima kasih sudah membantu."


"Sama-sama, Mas," balas Pam, seraya mengecek luka dan memar di kaki lawan bicaranya. "Lukanya lumayan sih, itu."


"Iya, rasanya senut-senut." Dapat Pam lihat, laki-laki yang baru saja dia tolong berkata sambil meringis menahan sakit.


"Kalau begitu, saya antar Mas pulang. Tapi kita tunggu teman saya dulu, biar bawa motor saya." Pam merogohkan tangannya ke saku jaket, mengambil ponsel. Setelahnya, ia meminta salah satu temannya yang tinggal di dekat sini untuk membantunya.


"Lah, jadi merepotkan begini."


"Santai, Mas." Kini Pam duduk di jalan, menunggu temannya tiba di lokasi. "Omong-omong, saya Pam." Dia memperkenalkan diri.


"Saya Afrizal. Mau dipanggil Afriz atau Rizal, sama saja."


"Salam kenal, Mas. Oh, iya. Mas ini dari mana dan mau ke mana?"


"Dari rumah. Istri saya ngidam buah kedondong, makanya saya carinya jam segini. Niatnya mau bikin istri seneng, malah saya yang apes. Kalau sudah begini, ya tidak mungkin saya lanjut cari kedondongnya."


Pam mengangguk-angguk. Mendadak terharu dengan usaha suami muda di sebelahnya itu. "Sepertinya kita pernah ketemu sebelumnya, ya, Mas?"


"Sepertinya iya. Tapi di mana, ya?" Lebih dari itu, Afriz merasa bukan hanya sekali atau dua kali mendengar nama tersebut. "Oh, di Dusun Matamu apa, ya?"


"Nah, iya. Kok waktu itu Mas bisa ada di Dusun Matamu? Ada urusan?"


"Iya, di rumah mertua. Kebetulan istri saya orang sana."


"Oooh, kalau boleh tahu, siapa nama istri Mas?"


"Pam," panggil seseorang, menginterupsi pembicaraan dua pemuda itu sebelum Afriz menjawab.


"Hoi, sini," balas Pam setelah mengenali siapa yang baru datang. "Aku kan mau ngantar Mas ini ke rumahnya. Nanti kamu bawakan motorku di belakang."


"Lha kamu kan tahu, aku nggak biasa bawa motor begituan."


Dahi Pam berkerut, memikirkan keputusan terbaik. "Mas saya antar pakai motor saya saja, bagaimana? Motor Mas biar teman saya yang bawa," tawarnya kepada Afriz.


"Bukan masalah," putus Afriz, kemudian menyerahkan kunci motornya kepada teman Pam.


"Motornya jangan dibawa kabur," peringat Pam setengah bercanda kepada temannya. "Sudah, Mas?" tanyanya, beralih kepada Afriz. Kemudian melaju tanpa firasat aneh-aneh.


Tetapi makin lama Pam merasa ada yang ganjil dengan perjalanan ini. Dia tak begitu asing dengan daerah yang kini dia telusuri.


Bukankah ini kawasan tempat tinggal Zaya?


"Itu rumah saya sudah kelihatan dari sini."


"Mana, Mas?"


"Itu, yang warna putih."

__ADS_1


Pam menelan ludah. Yang ditunjuk oleh laki-laki di belakangnya ini adalah rumah itu.


Berarti, saat ini dia tengah memboncengkan orang yang tinggal seatap dengan Zaya?


Jadi, pria ini suami Zaya?


Dan apa, tadi? Zaya tengah mengidam?


...***...


"Maaf ya, Mas. Gara-gara aku, Mas jadi susah jalan gini."


"Iya, Sayang. Tapi Mas nggak bawa pulang kedondongnya."


"Malah mikirin kedondong. Kan bisa kapan-kapan lagi," omel Zaya. "Masih syukur tadi ada yang nolong dan ngantar pulang."


Zaya yang hendak memasang plester luka di siku Afriz, kini melirik suaminya kala teringat siapa pengantar dan pemapah laki-laki di depannya ini.


Ia tak menyangka saja, ternyata Pam yang membantu suaminya.


Setelah membalas pesan-pesan yang masuk, Afriz meletakkan ponsel di sebelahnya. Lalu memperhatikan Zaya yang tengah serius mengobati luka-luka pada kulit kaki dan tangannya.


"Kamu tahu, nggak? Ternyata Mas pernah ketemu Pam di Dusun Matamu, Yang. Pantesan, sewaktu ketemu dia lagi kayak nggak asing."


Walau merasa tak nyaman mendengar sang suami menyebut nama itu, Zaya tetap berusaha biasa saja. "Oh, ya? Kapan?" tanyanya sambil meratakan permukaan plester yang belum lama ini ia pasang.


"Sewaktu ada pertunjukan wayang kulit. Dia yang bantu Mas bicara dengan orang-orang yang mabuk di jalan dekat rumah Bapak."


"Oooh."


"Saat itu Mas heran, para pemabuk itu langsung pergi ketika tahu Pam yang datang. Dia seberpengaruh itu, ya?"


"Setahuku, iya." Setelah menyadari ada yang salah dengan kesaksiannya, kini Zaya jadi gagap sendiri. Kemudian cepat-cepat meralat, "Maksudku, bapaknya dia kan emang mantan Kades Karang Kidul. Jadi, ya gitu."


Ada raut tak terima --entah malu-- di wajah Zaya. "Siapa?"


"Pam."


"Ngarang, ih!"


"Lho, kan kamu yang bilang sendiri kalau pernah naksir dia."


Afriz tertawa geli melihat Zaya yang tengah cemberut.


Baginya, kesukaan perempuan itu terhadap Pam hanyalah bagian dari masa lalu istrinya.


Memang tak perlu diungkit-ungkit, tetapi sesekali bisa jadi bahan lucu-lucuan untuk menggoda perempuan di depannya, yang ternyata punya kisah cinta monyet semenggelikan itu.


"Ini udah. Sekarang Mas istirahat, nanti nggak usah kerja dulu," ucap Zaya, mengabaikan godaan dari suaminya. Juga tak mau mendengar bantahan dari sang suami yang pasti akan bersikeras untuk bekerja.


Tetapi sebelum Zaya bergerak dari ranjang untuk keluar kamar, Afriz sudah menahan.


Lalu laki-laki itu menjadikan paha Zaya sebagai bantal untuk kepalanya yang terasa nut-nutan sekaligus mengantuk.


Kemudian telinganya dia dekatkan ke perut sang istri, ingin mendengarkan suara yang berasal dari dalam sana. Tak lama setelah itu, matanya terpejam.


Membiarkan Zaya terpaku dalam ketertegunan.


"Kok anak kita nggak nendang-nendang, ya, Yang?" tanyanya, masih dengan mata terpejam. Tetapi bibirnya tersenyum semringah, entah untuk alasan apa.

__ADS_1


"Ya belum bisa nendang-nendang, lah. Mas kira dia seumuran sama Mas?" timpal Zaya teramat gemas, sehingga menerbitkan kekehan dari suaminya.


"Ya nggak seumuran sama Mas juga, lah."


"Lagian Mas tanyanya aneh-aneh aja. Dia kan masih kecil banget. Kan Bu Bidan udah bilang, di umur segini ukurannya palingan baru sejari kelingking. Apalagi anggota tubuhnya belum terbentuk sempurna juga."


"Iya juga, ya. Pasti karena masih kecil banget, kakinya yang buat nendang belum kuat."


"Nah, itu Mas tahu. Tapi biarpun gitu, aku bisa ngerasain detak jantung dia cepet banget. Mas ngerasain juga, nggak?"


Kali ini mata Afriz terbuka. "Mana?"


"Itu. Deg-deg-deg gitu."


"Kamu kali, yang deg-degan. Ketahuan, kalau itu sih."


Walau benar jantung Zaya berdegup lebih kencang, perempuan itu tetap tak terima. "Ya enggak. Dengerin baik-baik, makanya."


"Nggak ada, ah."


Meski membantah, Afriz semakin menempelkan telinganya ke bagian perut Zaya. Dirinya berkonsentrasi penuh. Dan barulah menemukan ritme detak jantung calon bayinya.


"Eh, iya itu. Barusan terasa." Didengarkan dan dirasakannya lagi degup yang dijalarkan oleh anaknya melalui tubuh Zaya. "Dia lagi ngapain, Yang?"


Sekarang Zaya yang makin heran akan pertanyaan suaminya yang tambah aneh. "Mana aku tahu dia lagi ngapain."


"Kamu lagi ngapain di sana?" tanya Afriz kepada janin di rahim. Konyolnya, dia menunggu jawaban untuk beberapa saat. Kemudian wajahnya menghadap muka Zaya, ingin melaporkan sesuatu. "Dia nggak jawab."


"Tidur, kali. Udah, nggak usah diganggu." Zaya menggerak-gerakkan telapak kakinya yang terasa berat karena kesemutan. "Mending Mas istirahatnya pakai bantal beneran. Kakiku udah mulai kesemutan, nih."


Mendengar keluhan sang istri, Afriz akhirnya bangkit dari posisinya kini. Namun, tanpa sengaja kepalanya menyenggol dada Zaya.


"Mas, ih!" tegur Zaya seraya menutupkan kedua lengannya ke dada, kala merasakan nyeri pada area tersebut.


Lalu berusaha turun dari ranjang, tetapi kaki kirinya seperti ada yang mengganjal. Telapaknya seperti makin tebal. "Aku susah bangun, Mas," lapornya.


"Masih kesemutan?"


Zaya mengangguk membenarkan.


Tak lama setelah itu, Afriz memindahkan posisi kaki istrinya ke samping. Kemudian memijat-mijat telapaknya pelan, sambil sesekali menggelitikinya.


"Sudah kerasa, belum?"


Akan tetapi, Zaya menggeleng. Rasa tebal di permukaan kakinya belum berkurang.


Digerak-gerakkannya kaki yang juga tengah dipijat entah digelitiki oleh suaminya itu, sampai ia dapat merasakan sesuatu. "Udah, Mas."


Setelahnya, Zaya menggeser duduknya sampai di sisi ranjang dan bersiap untuk berdiri.


Saat itu Afriz sudah turun dari ranjang untuk membantu istrinya berdiri. "Nah, sekarang kamu mulai berdiri," titahnya.


Baru saja Zaya berhasil berdiri, ia langsung duduk lagi. Kesemutan susulan yang lebih dahsyat sudah melanda lagi.


Kali ini ia tak berani menggerakkan kakinya sama sekali. Tetapi sang suami malah iseng mencubit dan menepuk kaki kirinya yang senyar. "Nggak usah usil!" teriaknya histeris.


"Kalau didiamkan, ya nggak sembuh-sembuh." Lagi-lagi Afriz menepuk kaki kiri Zaya.


Walau hanya pelan-pelan, istrinya itu hampir menangis karena rasanya makin tak keruan.

__ADS_1


Namun bukannya berhenti, Afriz malah tambah bersemangat untuk menikmati pekikan-pekikan tertahan dari sang istri akibat keusilannya.


...***...


__ADS_2