Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar

Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar
Tidak Tertolong


__ADS_3

Yu, Yu Darmi."


Merasa namanya dipanggil, Bu Darmi menoleh. Memastikan suara siapa yang ia dengar.


Tangannya yang sedang menyampirkan pakaian basah pada tali jemuran terhenti sejenak, lalu melanjutkan kerjanya lagi.


Setelah itu perhatiannya beralih ke Bu Kadus yang baru saja turun dari motor.


"Ada apa, Yu?"


"Besanmu tambah nemen, sudah tak bisa apa-apa."


"Lha, barusan ini besanku berangkat ke ladang, kok ujug-ujug nemen. Piye, to?"


"Mertuanya Zaya, si Hidup."


Mendapati penegasan maksud dari Bu Kadus barusan, perasaan Bu Darmi jadi mak tratap. Sepagi ini dirinya harus mendengar kabar ini.


"Lha baru kemarin Zaya bilang di telepon, katanya Pak Hidup sudah sembuh makanya dibolehkan pulang dari rumah sakit."


"Ya memang, kemarin sudah pulang. Tadi pagi saja masih salat subuh. Lalu minta izin mau istirahat, tiduran di sajadah. Tapi begitu diminta pindah ke kamar, katanya sudah tak menyahut."


"Ya Allah. Betulan begitu, Mbakyu?"


Belum sempat Bu Kadus menanggapi, Pak Yanto tampak mengendarai motor ke arah dua ibu itu.


Kecepatannya seolah mendesak laki-laki paruh bayah itu agar segera menyampaikan kabar yang dibawa.


"Kuswin mana?"


"Baru saja ke ladang, Kang, katanya mau dangir. Ada apa?"


"Barusan aku dapat kabar, Hidup sudah tak tertolong."


Tubuh Bu Darmi seketika bergetar. "Innalillahi wainnailahi roji'un."

__ADS_1


"Le, tolong kamu jemput Pak Kuswin di Simagung, yo," pinta Pak Yanto kepada anak laki-lakinya.


"Kamu yang hati-hati," pesan Bu Darmi dan Bu Kadus hampir berbarengan.


"Kita ke sananya pagi ini, to, Pak?" tanya Bu Kadus kepada sang suami.


"Pakai motor sendiri-sendiri atau rombongan saja?" tambah Bu Darmi, biar sekalian.


"Kita ke sananya rombongan biar sekalian," sahut Pak Yanto. Jempol pria itu sibuk memencet-mencet tombol pada telepon genggam kunonya. "Panaskan mobil, jam setengah tujuh ini kita ke tempat kakak iparku."


Tak sampai dua puluh menit kemudian, Bu Darmi sudah siap berangkat. Wanita itu menunggu mobil yang akan membawa pelayat, di pertigaan dusun.


Di sana, beberapa tetangga sudah siap untuk ikut. Mereka sudah mendengar siaran meninggalnya Pak Hidup melalui corong masjid Dusun Matamu, makanya kini sudah mengosongkan jadwal berkegiatan untuk beberapa jam ke depan. Sementara yang terpaksa tak bisa ikut, begitu saja meminta maaf.


Sedangkan Pak Kuswin, tiba di pertigaan tepat bersamaan dengan waktu datangnya mobil yang akan membawa dirinya. Sehingga tanpa menunggu lama, kendaraan bisa langsung melaju sesuai rencana.


...***...


Kesedihan Zaya tersita oleh duka mendalam suaminya sendiri. Makanya setelah menenangkan Afriz yang tadi hampir mengamuk, ia masih mengawasi laki-laki itu.


Sepertinya, sang suami sudah bisa mengontrol emosi. Tak seperti tadi, yang terus-terusan menyalahkan diri sendiri.


Padahal dari yang tampak, Zaya dapat merasakan usaha Afriz selama ini sudah amat maksimal untuk kesembuhan Pak Hidup. Namun, ternyata Tuhan berkehendak lain.


Dari posisinya kini, Zaya dapat melihat pemuda itu telah sibuk mengurus pemandian Pak Hidup, menunjukkan bakti terakhir untuk ayahnya yang sudah terbujur kaku.


Berbeda dengan Nida yang begitu tiba di rumah ini langsung tak sadarkan diri, sekarang Afriz tampak lebih menerima kepergian Pak Hidup untuk selama-lamanya. Hatinya lebih tertata.


"Sebelah sini, Mas. Jangan kasar-kasar. Pelan-pelan saja, yang penting merata."


Zaya dapat mendengar instruksi dari orang-orang agar Afriz memandikan jenazah secara benar.


Dari tempatnya kini, ia bisa melihat dengan jelas bahwa ada kesedihan yang tengah ditahan oleh suaminya. Namun, ia tak dapat memungkiri kalau Afriz begitu bersemangat beralih dari satu tempat ke tempat lain seraya melantunkan salawat Nabi dengan suara bergetar, entah menahan tangis atau karena kedinginan.


Pemandangan ini, membuat Zaya masih bertahan di posisinya sekarang, walau ada yang mulai tak beres dengan kepala dan perutnya.

__ADS_1


Tubuh Zaya seketika mundur kala aroma air kamper yang dicampuri bunga dan daun pandan begitu menyengat di hidungnya. Perutnya terasa mual.


Lebih-lebih, kerumunan orang di dekat perempuan itu makin padat. Membuatnya gerah dan tambah pusing. Ia perlu oksigen yang lebih banyak, sebelum tubuhnya tumbang di area ini.


"Mbak Zaya kenapa?"


Tetapi belum sempat menjawab pertanyaan barusan, Zaya sudah tak bisa lagi menopang berat tubuhnya sendiri. Pandangannya telah menggelap.


Pekikan beberapa perempuan sempat membuat Afriz menoleh. Tetapi pria itu tak punya banyak waktu untuk mencari tahu siapa yang pingsan. Ia lanjut menyiram tubuh kaku di hadapannya, menggunakan air wangi dari ember besar di sebelah perkakas pemandian.


Tak peduli jemari tangannya yang sudah mengisut karena terus-terusan menyentuh air sedari tadi. Telapak tangan beserta lengannya yang menggigil pun masih sanggup memindahkan tubuh ayahnya yang siap dikafani, bersama Seno dan beberapa pria dewasa lainnya.


Begitu selesai, Afriz mendapat laporan dari para ibu bahwa Zaya masih pingsan. Sementara Nida yang sudah sadar, kini menangis histeris.


Namun, lelaki itu sudah kadung kacau pikiran. Meski kaki mambawanya ke tempat Zaya dan Nida, ia hanya menengok saja. Sebab, sudah ada banyak kerabat yang mengurusi istri serta adik kandungnya itu. Waktunya pun sudah tersita banyak guna menyalami para kerabat dan tetangga yang menemuinya untuk menyampaikan belasungkawa.


"Mas, sebentar lagi kita salatkan jenazahnya." Kyai Maimun tersenyum. Tangan rentanya menepuk-nepuk bahu Afriz, memberi kekuatan kepada pemuda di depannya.


"Saya ganti baju dulu, Kyai."


Begitu berganti pakaian dan berwudu, Afriz menuju ruang tamu rumahnya yang sudah beralih menjadi tempat salat jenazah.


Lalu menghela napasnya yang kacau, menata hati untuk memberi penghormatan terakhir untuk ayahnya melalui empat takbir dan satu salam.


Lagi-lagi, Afriz menarik dan mengembuskan napas beratnya. Kali ini ketika ia mendengarkan pidato pengantar jenazah yang disampaikan oleh Kyai Maimun, seraya memanggul salah satu sisi keranda.


Ia hampir menangis, tetapi berhasil ditahan ketika hatinya berbisik bahwa ayahnya sudah tenang di alam kubur sana.


Selama Kyai Maimun menyampaikan pesan, Afriz memandang sekeliling. Ada banyak pelayat yang memadati halaman rumahnya, menggambarkan betapa sang ayah begitu dicintai oleh banyak orang.


Dia pun melihat paman dan bibi dari pihak ibunya, bersama kedua mertuanya yang ikut mengaminkan doa Kyai Maimun.


Kehadiran orang-orang yang ia sayangi seperti wujud dukungan agar ia melangkah mantap saat mengantarkan sang ayah ke peristirahatan terakhir.


...***...

__ADS_1


__ADS_2