Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar

Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar
Kunjungan Pam


__ADS_3

"Nah."


Zaya yang hampir selesai melipat baju, melirik kedua tangan Faiz yang mengulurkan sesuatu kepadanya. "Taruh di sini dulu, Iz," katanya, seraya menepuk permukaan kasur lantai yang menjadi alas duduknya.


Seolah mengerti perkataan ibunya, Faiz pun meletakkan benda yang dipegangnya itu ke area yang dimaksud oleh lawan bicaranya barusan. Lalu berjalan setengah berlari lagi, setelah itu kembali ke hadapan ibunya. "Nah," ucapnya, seraya menyerahkan benda yang serupa dengan yang pertama tadi.


"Kok kamu seneng banget mindah-mindahin album foto?"


Entah mengerti pertanyaan Zaya itu atau tidak, tetapi Faiz tertawa. Balita berbaju setelan kuning-putih itu berjalan lagi, mengambil album foto untuk ketiga kalinya di tempat yang sama dengan sebelumnya.


Saat kembali, Faiz beberapa kali menjatuhkan album foto yang memiliki lebar melebihi besar tubuhnya sendiri. Kemudian bangkit lagi, walau keberatan saat mengangkat album foto tersebut.


Lalu benda itu dia setorkan kepada ibunya. "Nah."


Kali ini, balita itu tak berjalan lagi. Kini dia duduk, menghadap ibunya yang tengah melipat sepotong bajunya yang terakhir. Lalu menggeser album foto berwarna dasar hitam dan bertuliskan "The Wedding" yang baru saja dia setorkan kepada Zaya.


Setelah itu dia merangsek ke arah ibunya, kemudian duduk di pangkuan Zaya yang untungnya sudah selesai melipat pakaian.


Zaya akhirnya menatap benda yang sedari tadi mencuri perhatian Faiz. Tiga buah album foto dengan ukuran yang berbeda-beda sudah menunggu untuk ia buka. Ia pun menuruti isyarat dari Faiz yang sepertinya sudah tidak sabar untuk melihat isinya. Walau ia sendiri tahu dari tulisan pada bagian luar album sudah menjelaskan kalau itu kumpulan foto pernikahannya dengan Afriz enam bulan yang lalu.


"Ini Faiz," ucap Zaya.


Faiz pun membeo, "Aiz."


"Ini Papa."


"Papa."


"Kakek Kuswin."


"Win."


"Nenek Darmi."


"Mi."


"Kakek Hidup."

__ADS_1


"Dup."


"Tante Nida."


"Da."


"Bude Ifa." Untuk nama ini, Faiz seperti agak kesulitan. Mengharuskan Zaya untuk mengulang ucapannya. "Bude Ifa."


"Ifa."


"Yeee, Faiz pinteeer!" pungkas Zaya seraya membantu Faiz bertepuk tangan.


Lalu ia mengecup puncak kepala balita yang tumbuh makin besar dan semoga selalu sehat itu. "Faiz belum mau bobok?" tanyanya, yang langsung digelengi.


Faiz menepuk-nepuk album foto di hadapan. Memberi isyarat agar ibunya mau membuka lagi.


"Kita buka lagi yang lain." Zaya pun mengambil album foto yang dari sampulnya saja kelihatan sekali kalau itu sudah lawas. "Ini foto-fotonya siapa, ya?" katanya ikut penasaran, sebagaimana tatapan Faiz yang juga tak sabar untuk tahu. Kemudian ia membuka lembar demi lembarnya.


Mata Zaya terpaku pada sosok Afriz kecil di sebuah foto. Laki-laki itu tampak berpose seperti jagoan, lengkap dengan kostum Spiderman, namun tanpa penutup kepala. "Ini kayaknya Papa sewaktu masih kecil, Iz. Lucu, ya?" katanya, sebelum tertawa lepas yang begitu saja disambut tawa Faiz yang tak kalah heboh.


Bahkan balita di pangkuan Zaya itu sampai bertepuk tangan dan melonjak kegirangan.


Kini Faiz membuka sendiri lembaran yang hendak dia lihat. Walau kadang dia jadi gemas dan *******-***** apa yang tersentuh tangannya sendiri.


"Eh, ini ...?" Mata Zaya menangkap pemandangan yang tak asing baginya. Selembar gambar yang sama persis seperti salah satu foto di rumahnya. Potret ketika ia bermain masak-masakan bersama seorang anak perempuan yang lebih besar darinya, dan ada seorang anak laki-laki berdiri di sebelah keduanya.


Mau tak mau, benaknya pun menebak-nebak.


Perempuan kecil berambut jarang dan pendek itu dirinya, dan perempuan yang rambutnya lumayan panjang itu Annida. Berarti, laki-laki bertubuh lebih besar yang tengah memasang ekspresi sebal itu Afriz. Jadi, sebelumnya mereka memang sudah pernah bertemu?


Tetapi ia sama sekali tak ingat. Dari tanggal yang tertera pun, itu sudah lama sekali. Hampir delapan belas tahun yang lalu. Itu artinya, saat itu usianya baru 3 tahun. Pantas saja kalau baik ia, Nida, maupun Afriz tak ada yang ingat kalau ketiganya sudah pernah bertemu pada masa lalu.


Tok, tok, tok.


Ketukan pintu itu membuat Zaya tersadar dari lamunan. "Kayaknya ada orang, Iz," katanya.


Tok, tok, tok.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam. Ya, sebentar."


Seolah mengerti ada yang datang, Faiz yang semula duduk pun lekas berdiri. Kemudian berlari kecil ke arah pintu depan, mendahului langkah Zaya yang membuntutinya. "Papapa. Papapa," katanya seraya tetap berjalan.


Balita 16 bulan itu berhenti saat berada di depan pintu. Tangannya melambai-lambai, seolah memberi isyarat agar ibunya membuka benda yang ada di hadapannya. "Papa, papa," katanya lagi, yang sepertinya sudah rindu kepada Afriz.


Secara naluriah, Faiz menyingkir saat Zaya membuka pintu. Lalu begitu celah sudah cukup untuk menyusup, ia berlari keluar tanpa aba-aba, kemudian memeluk kaki seseorang yang sedari tadi mengetuk pintu.


"Papapa," ujarnya untuk kesekian kalinya pada hari ini.


"Akhirnya Papa pu ...." Ucapan Zaya seketika terhenti saat mengetahui siapa yang bertamu. "Kak ... eh, Mas ... Pam?" Pandangannya beralih kepada Faiz yang sedang mengerjap-ngerjap lucu di hadapan tamu mereka. "Faiz, sini."


Balita itu menggeleng-geleng kecil sebentar. Kemudian mundur ke arah Zaya, walau pandangannya masih tertuju pada wajah laki-laki dewasa yang tak dia kenali. Lalu mendongak, menatap ibunya. "Papa?" tunjuknya pada sosok itu.


Zaya menggeleng cepat-cepat. Lalu berkata, "Bukan," nyaris tanpa suara.


"Kamu apa kabar?" tanya Pam, menatap lekat lawan bicaranya, yang sayangnya tak dibalas dengan perlakuan sama. Sebab, pandangan Zaya justru kepada laki-laki kecil di antara mereka.


"A-aku baik."


"Syukurlah." Pam memandang Faiz yang sedang menatapnya juga. Pemuda itu berjongkok, tersenyum kepada laki-laki kecil di depannya. "Ini ... anak kamu? Namanya siapa?" lanjutnya bertanya.


"Fa-Faiz."


"Faiz, ya?"


Faiz mengangguk-angguk. "Aiz."


Zaya menengok ke kanan dan kiri. Khawatir kalau-kalau akan ada tetangga yang memergokinya berbincang dengan laki-laki selain suami dan mertuanya, padahal Pak Hidup sedang tak ada di rumah.


Setelah itu ia membawa Faiz ke gendongannya, mengabaikan permintaan balita itu untuk dibiarkan menapaki lantai seperti sebelumnya.


"Maaf, tadi aku muter-muter cari alamat kamu. Makanya aku sampai sini malam-malam." Seolah mengerti kegelisahan Zaya, Pam sudah terlebih dahulu menjelaskan.


"Ada urusan apa, Mas? Kalau ada urusan sama suamiku, besok aja. Suamiku belum pulang dari tempat kerja. Mungkin nanti jam-jam sepuluhan baru pulang."


"Aku sengaja ke sini untuk menemui kamu, Ya. Aku nggak ada urusan dengan suami kamu."

__ADS_1


Jujur saja, Pam sedikit tersinggung dengan perkataan panjang Zaya yang secara tak langsung tengah mengusirnya secara halus, walau sedikit ketus. Tetapi dia tak menghiraukan.


...***...


__ADS_2