
Afriz sudah duduk, bersiap untuk sarapan. Sementara Pak Hidup, baru saja selesai mandi dan akan ikut bergabung dengannya.
Tak lama setelahnya, Zaya menyusul, membawa masakan yang hendak disajikan.
"Papa perhatikan, akhir-akhir ini kamu bangunnya jadi lebih siang, Ya," ujar Pak Hidup, ketika Zaya tiba di hadapannya.
Tanpa menanggapi seloroh ayahnya, Afriz melirik Zaya. Ia mengerti ke mana arah pembicaraan ini.
Karena memang, belakangan ini mereka sering tidur larut malam, sehingga Zaya bangun tak sepagi biasanya.
"Tapi Papa senang. Itu artinya, peluang Faiz untuk segera punya adik jadi makin besar," tambah Pak Hidup, mengekeh.
Kemudian pria paruh baya itu mengalihkan pandangan. "Kalau tidak keberatan, agak siangan nanti kamu ikut Papa ziarah ke makam Mama, ya," pintanya kepada anak sulungnya.
Untuk beberapa saat, Afriz hanya menatap ayahnya. Lalu mengangguk, begitu mendapati kesungguhan dari permintaan pria di dekatnya itu. Lebih-lebih, dirinya memang sudah lama tak berziarah ke makam ibunya. "Iya, nanti Afriz ajak Zaya dan Faiz sekalian. Boleh, kan?"
Pak Hidup tersenyum amat manis. "Itu malah lebih bagus, jadi lebih lengkap. Biasanya kan hanya Papa, istrimu, dan Faiz saja yang ke sana. Sekali-sekali kan mamamu juga ingin melihat kalian bertiga, supaya lebih yakin lagi kalau kalian benar-benar sudah bersatu dan bahagia."
Waktu merambat begitu cepat. Sinar matahari sudah begitu terang.
Afriz yang baru saja selesai makan, menemukan ayahnya yang telah dalam keadaan siap berangkat.
Pak Hidup tersenyum, wajahnya tampak bercahaya. Senyum dan tatapannya begitu meneduhkan di mata Afriz.
"Kamu belum siap-siap?" tanya Pak Hidup, heran. "Lha istrimu sudah siap begitu, kamunya malah masih santai."
Seolah baru sadar dari lamunan, Afriz menyahut, "Ini, mau siap-siap."
Afriz lantas mencari Zaya, memanggilnya berkali-kali. Juga meminta pendapat istrinya, sebaiknya ia memakai baju yang mana, mesti mengenakan sarung atau cukup bercelana bahan saja.
"Eh, ternyata baju dan celanaku sudah cocok," gumamnya. "Peciku di mana, Yang?"
__ADS_1
"Peci Mas di tempat biasanya."
Afriz jadi sibuk sendiri, karena tak kunjung menemukan benda yang dia cari. Begitu ketemu, ternyata ukurannya kekecilan. Mencari dan ketemu lagi, tapi kali ini justru terlalu besar dan ketika dipakai mudah jatuh. Ia mencari lagi, ketemu lagi, namun warnanya aneh. Itu milik Faiz, tampak dari warna dan motifnya yang unyu-unyu.
Untuk yang terakhir kalinya, Afriz menemukan peci lagi. Kali ini ukurannya sesuai, warna dan motifnya tak jomplang dengan usianya.
Tetapi masalah baru datang lagi. Celana bahannya ternyata berubah warna. Tiba-tiba tidak cocok dengan kemeja yang kini berubah menjadi kaus berkerah. Padahal dirinya hendak berziarah ke makam, bukan ingin pergi jalan-jalan ke taman atau alun-alun kota kabupaten.
"Mas, udah siap belum?" Walau tak tampak batang hidungnya, suara Zaya terdengar begitu melengking di telinga Afriz.
Sementara Afriz, masih berganti baju yang sekiranya lebih pantas ia kenakan. Lantas menuju ke tempat Zaya dan ayahnya sudah menunggu.
Afriz memastikan penampilannya sekali lagi. Tetapi pecinya tertinggal, karena tadi ia melepaskan benda itu dari kepalanya saat berganti pakaian. Berdecak, ia melampiaskan rasa kesalnya.
"Ini pecinya, Mas," ujar Zaya, tepat di sebelahnya. "Ayo, berangkat."
Sejak memulai perjalanan, Afriz merasa sudah begitu lama, tetapi tak kunjung sampai di tempat tujuan. Padahal biasanya tak sampai dua puluh menit, sudah tiba.
Tak ada lampu merah, tiada kemacetan maupun keramaian, nihil deru mesin. Kosong. Satu-satunya pengendara hanyalah dirinya. Pun tak ada interaksi di seisi mobil yang ia kemudikan.
Lalu tiba-tiba saja dirinya sudah menginjak tanah makam, mengikuti langkah ayahnya yang telah melangkah menuju tempat ibunya dikuburkan beberapa tahun lalu.
Jaraknya tak begitu jauh. Hanya sepembawaan kaki, yang entah mengapa terasa begitu kilat menyeretnya ke lokasi.
Afriz berjongkok di sebelah pusara sang ibu. Menyentuh nisannya, dalam keadaan terpaku.
Sayup-sayup terdengar Pak Hidup berujar, "Papa yakin, semua yang hidup pasti akan mengalami proses yang dikendalikan langsung oleh Tuhan dari arasy, termasuk Papa. Entah kapan tepatnya, Papa pasti akan mengalami proses yang sudah dilewati oleh Mama juga."
Perkataan ayahnya seperti sebuah ungkapan perpisahan, walau Afriz dapat melihat sendiri bagaimana keadaan pria paruh baya yang begitu jauh lebih gagah dan tampak bercahaya itu.
Hantaman itu terjadi berkali-kali, pun berulang-ulang. Dada sesak, mata terpejam, dan kepala yang makin berat, menjadi kombinasi yang luar biasa menyiksa bagi Afriz.
__ADS_1
Lantunan ayat suci Al-Qur'an yang terdengar dari ayahnya dan diikuti oleh Zaya, menyadarkannya akan sesuatu. Bahwa kedatangannya ke tempat ini bukan untuk menunjukkan kehancurannya.
Melainkan untuk memberi tahu sang ibu, bahwa kini hidupnya sudah jauh lebih tertata. Dirinya telah menemukan tujuan, sebagaimana yang diharapkan oleh kedua orangtuanya.
Tetapi, semakin lama lantunan itu kian lirih, saat dirinya mengikuti bacaan. Bak menghilang tertelan angin.
Tak ada suara dan sosok Pak Hidup, tak ada Zaya, pun tiada Faiz. Tinggal dirinya sendiri. Hanya ditemani kicau burung, dan juga ....
Kokok ayam jantan?
Afriz menggeliat, saat merasakan beban pada tubuh bagian atasnya. Kemudian membuka mata, mencari tahu apa yang menimpa dirinya.
"Zaya?" gumamnya, begitu nyawanya sudah terkumpul kembali dan menyadari bahwa peristiwa barusan ternyata hanyalah mimpi.
Pelan-pelan dirinya menggeser tubuh istrinya, menempatkan ke posisi yang sekiranya lebih nyaman. Menumpukan kepala sang istri pada bantal secara hati-hati, lalu menyelimuti tubuh itu.
Dia menetap, menilik wajah polos di hadapannya. Kemudian tatapannya terpaku pada sisa tangis pada area di sekitar mata Zaya. Perlahan, ingatannya kembali ke waktu beberapa jam yang lalu.
Seharusnya, pertengkaran beberapa jam yang lalu tak akan terjadi kalau ia mengizinkan Zaya menyusulnya ke rumah sakit.
Sebab bila pikir-pikir, tak ada yang salah dengan kekhawatiran seorang menantu kepada mertua. Tak salah pula seorang istri menunjukkan kepedulian kepada ayah dari suaminya.
Terlebih, hubungan ayahnya dengan Zaya sudah seperti relasi antara anak dan bapak kandung. Sudah begitu menyambung secara emosi, yang bisa dibuktikan dengan kompaknya mereka berdua saat mengisi waktu luang dengan berkebun di pekarangan rumah yang sebetulnya tak begitu luas.
Lagi pula, ia bisa memberi saran kepada Zaya untuk menitipkan Faiz di kediaman Nida selama ditinggal pergi -kalau dirinya khawatir terhadap imunitas Faiz- bukan malah melarang kunjungan Zaya.
Tetapi semuanya sudah telanjur. Pertengkaran sudah kadung terjadi, sebagai akibat dari sikap kurang sabarnya.
"Maaf, ya, kalau Mas nggak bisa ngontrol emosi," bisiknya di telinga Zaya, setelah tubuhnya rebah kembali disertai lengan yang memeluk sosok itu untuk melanjutkan tidur.
...***...
__ADS_1