
Zaya dan Afriz sama-sama diam, seperti kehabisan bahan obrolan. Beruntung, panggilan Pak Kuswin memecah hening di antara keduanya.
Afriz bergegas untuk memenuhi panggilan ayah mertuanya itu.
Pak Kuswin sudah berdiri di sebelah motor bebek miliknya. Pria itu menunggu menantunya yang kini sedang melewati pintu dan diikuti oleh anak perempuannya. Menatap lega sekaligus menahan tawa saat melihat kelakuan sepasang pengantin baru itu. Lalu berekspresi senormal mungkin saat kedua anak muda tersebut berada di hadapannya.
Zaya melihat dengan jelas keakraban antara ayah dan suaminya, yang tengah membicarakan cuaca dan kegiatan apa yang akan keduanya lakukan pada pagi hari ini.
Sebelum keluar tadi, Zaya sempat melihat jam dinding menunjukkan pukul delapan pagi. Matahari semakin bersemangat menunjukkan eksistensinya.
"Biasanya memang begini terus, Le. Pagi-pagi cuacanya pasti cerah. Zuhur nanti hujan lebat. Kadang angin dan petirnya juga ndhak kira-kira besarnya."
"Kalau begitu cuacanya penuh kejutan, ya, Pak," timpal Afriz.
"Iya, bikin terkejut sekali. Mungkin karena saking kagetnya juga jadi bikin listrik padam."
"Memang listrik di sini sering padam, Pak?"
"Bukan cuma sering, Le. Malah sudah jadi langganan, terutama kalau kabelnya tertimpa dahan pohon, makanya konslet."
Zaya sendiri juga heran. Ayahnya memang sebegitu cocoknya dengan Afriz. Pria itu tak pernah diam jika sudah berhadapan dengan menantunya, melebihi keakraban dengan Zaya yang merupakan anak kandungnya sendiri.
Hal yang diperlihatkan oleh Pak Kuswin sekarang benar-benar berbanding terbalik dengan reaksi yang ditunjukkan ketika bertemu dengan Pam.
"Kamu seharusnya bercermin, Ya. Kamu siapa, Mas Pam siapa. Kamu ini cuma anak Bapak, tidak sejajar dengan keluarga Mas Pam."
Mas Pam.
Zaya sudah lama tak mengetahui bagaimana kabar anak mantan kepala desa Karang Kidul itu. Dua tahun lamanya ia tak pernah melihat wajah cinta pertamanya yang diidolai banyak gadis itu.
"Kamu yang nyetir, Bapak yang di belakang, ya?" tawar Pak Kuswin, dan langsung diangguki oleh lawan bicaranya. Memaksa Zaya menghentikan ingatan tentang Pam.
Zaya mencium tangan ayahnya seraya berkata, "Hati-hati, ya, Pak."
"Iya. Lagi pula yang nyetir suamimu lho ini. Kalau ada apa-apa dengan Bapak, ya tanggung jawab suamimu."
__ADS_1
Afriz tampak ragu untuk mengatakan sesuatu. Padahal biasanya tak pernah seperti ini. "Mas berangkat dulu, ya," katanya, sebelum men-start motor.
Zaya menoleh, lalu mengangguk sebagai tanggapan. Ia mengulurkan tangan, meraih telapak tangan suaminya yang sebelumnya telah memegang setang motor. Kemudian ia mencium punggung tangan kanan yang baru saja melepaskan setang itu. "Hati-hati, ya, Mas. Tanah pagi setelah malamnya hujan deras biasanya licin," katanya pelan, mengingatkan.
Zaya melepas keberangkatan Afriz seolah-olah suaminya itu akan pergi dalam misi perdamaian di daerah rawan konflik.
...***...
Sesaat setelah Zaya masuk ke rumah, ibunya ternyata sudah menunggu.
"Ke sini sebentar. Ibu mau bicara."
Zaya menurut, kemudian menduduki lincak -bangku panjang yang terbuat dari bambu—yang sama dengan ibunya. Ia menghadap kepada sang ibu, menunggu apa yang akan dikatakan oleh wanita itu.
"Ibu sebenarnya tidak mau mencampuri urusan ranjang kalian. Tapi Ibu rasa, Ibu punya kewajiban untuk memberi pengertian kepada kamu."
Deg.
Perasaan Zaya mendadak tak enak. Otaknya memprediksi bahwa pembicaraan kemarin dulu perihal hubungan suami istri yang belum pernah ia lakukan dengan Afriz itu akan dibahas lagi pada pagi hari ini.
Zaya menelan ludah. Topik sensitif ini berhasil membuatnya bergidik, tak terbayangkan. "Mas ... Mas A-Afriz belum mau punya anak."
"Begitu?"
Mengiyakan, Zaya pun mengangguk. "Mas Afriz bilang ... Faiz masih terlalu kecil kalau harus punya adik."
Bu Darmi menghela napas sejenak sebelum berkata. "Sekali lagi Ibu katakan, Ibu tidak punya hak untuk mencampuri urusan ranjang kalian. Tapi Ibu punya kewajiban untuk memberi kamu penjelasan untuk hal ini." Bu Darmi memperdalam tatapan kepada anak perempuannya itu. "Usia suami kamu itu sudah matang, dan sudah tentu melihat perempuan dengan cara pandang yang lain. Walau dia belum ingin punya anak, dia tetaplah laki-laki yang punya kebutuhan batin. Apalagi kalian sudah hampir tiga bulan tinggal bersama. Kebutuhannya sebagai laki-laki dewasa pasti ingin dipenuhi."
Zaya hendak membuka mulutnya untuk menjawab atau setidaknya sedikit menjelaskan situasi yang ada, tetapi urung.
"Walaupun dia tidak pernah meminta kamu untuk memenuhinya, dia sebetulnya ingin. Karena memang kamu yang harus berinisiatif terlebih dulu. Setidaknya, itu cara kamu berterima kasih karena dia sudah mau membantu kamu membesarkan dan merawat Faiz."
Sebagai perempuan yang telah menginjak fase dewasa, Zaya tentu sudah mengerti hal tersebut. Tetapi membayangkan dirinya berada di tempat yang sama dengan Afriz, saling bersentuhan kulit tanpa penghalang apa pun, lalu melakukan aktivitas fisik yang menghasilkan derit ranjang, dan kegiatan panas mereka baru berhenti ketika keduanya sudah sama-sama lelah, ia tak sanggup.
Jantungnya berdetak lebih kencang. Aliran darahnya serasa menderas. Bulu kuduknya meremang.
__ADS_1
Bu Darmi sendiri sebenarnya tak tega saat melihat Zaya hanya bisa terbengong seperti sekarang. Dirinya sadar bahwa apa yang dikatakannya barusan terkesan seperti mengajari anaknya agar menjadi wanita murahan, walau di depan suami sendiri.
Tetapi tak ada pilihan lain. Dirinya memang harus tegas, mesti mendesak Zaya untuk cepat-cepat terikat dengan Afriz agar tak ada yang hal yang perlu dikhawatirkannya lagi.
Bu Darmi tak akan bisa tenang kalau belum bisa membuktikan sendiri bahwa perasaan Zaya kepada Pam benar-benar sudah tak tersisa. Ya, dengan ikatan kuat bernama anak.
...***...
"Kabarnya, Zaya sudah menikah. Kira-kira sudah tiga atau empat bulan ini, lah."
Pam seketika menoleh. Mencari kebenaran dari apa yang dikatakan oleh sahabat yang merangkap sebagai mata-matanya itu. Ada gemuruh di dadanya saat mendengar pemberitahuan barusan.
Bagaimana dirinya bisa kecolongan sejauh ini?
"Sudahlah, move on saja. Cari yang lain, masih banyak perawan ting-ting yang mau denganmu. Hatimu tak usah dibikin ambyar, nanti malah jadi cendol dawet kan repot."
Berbeda dengan sahabatnya yang tertawa tak jelas, Pam mengabaikan seloroh barusan. "Suaminya Zaya orang mana? Orang daerah sini?"
Tentu saja Pam tak akan bisa terima jika pada kenyataannya Zaya dinikahi oleh orang di desanya. Itu manusia lancang namanya.
"Mau apa kamu tanya-tanya soal suaminya Zaya orang mana?"
"Cuma ingin tahu. Tinggal jawab saja suaminya Zaya itu siapa."
"Ndhak usah! Nanti jadi perkara seperti dulu. Aku ogah disangkut-pautkan."
Pam mendengus mendengar pernyataan sahabatnya yang sama sekali tak memahaminya kali ini. "Suami Zaya tak lebih ganteng dari aku, to?" Saking tak tahunya membahas apa, dia sampai membanding-bandingkan rupanya dengan tampang suami Zaya.
"Lebih ganteng kamu, dan kamu lebih muda daripada suaminya Zaya. Sudah puas?"
Belum puas dengan jawaban lawan bicaranya, Pam menggeleng. "Kalau begitu, harusnya Zaya tak menikah dengan dia. Karena dia tak lebih ganteng."
"Ya kamu kelamaan mikirnya, sih. Jadi dia lebih milih yang pasti-pasti saja."
"Zaya yang minta aku nunggu, paling tidak sampai dia lulus kuliah dan dapat kerjaan. Tapi nyatanya?"
__ADS_1
"Ambyaaaarrr!!!"