
Sebelumnya Afriz sudah menduga bahwasanya Zaya belum kembali ke rumah mereka. Buktinya, suasana tempat tinggal yang sekarang ia masuki masih teramat sunyi. Hanya ada derap langkah kakinya yang diiringi gemericik air menuju kolam ikan di samping rumah. Tiada sambutan dari siapa pun.
Afriz tak mengerti. Sampai sekarang tak ada balasan pesan untuknya dari Zaya. Sang istri benar-benar tak bisa diterka apa maunya, terlebih semenjak dinyatakan hamil.
Sempat menghela napas sejenak, Afriz masuk ke kamar.
Tak ada yang berubah dari kamar ini semenjak terakhir kali ia menyambangi. Masih tertata rapi, meski ada debu yang menempel serta bekas cipratan air hujan di lantai. Menjadi bukti nyata bahwa selama seminggu ini tak ada yang menjamah tempat yang saat ini Afriz pijaki.
Padahal, biasanya Zaya yang membersihkan kamar mereka dari debu dan cipratan air hujan. Perempuan itu pula yang mengganti seprei dan sarung bantal serta menyetrika dan melipat baju kemudian menyimpannya di lemari ---kegiatan yang dianggap oleh sebagian wanita sebagai pekerjaan pembantu.
Kini Afriz tiduran di ranjang. Kedua tangannya ia jadikan bantal. Lalu, lagi-lagi ia menghela napas. Menyadari bahwa tak ada yang menawarkan diri untuk memijat-mijatkan punggung, tangan, dan kakinya seperti biasa.
Padahal dia sangat lelah. Amat butuh belaian sayang dari tangan lembut istrinya. Ingin pula menceritakan banyak hal yang terjadi selama mereka berjauhan, sekaligus banyak bertanya perihal kondisi bayi yang Zaya kandung. Atau membahas apa saja, daripada ia hanya mendengar obrolan angin dengan kelengangan alam seperti sekarang.
Tersadar dari lamunan, Afriz mendekatkan ransel yang ia letakkan tak jauh dari posisinya kini. Kemudian membuka resliting untuk mencari ponselnya di setiap ruang pada benda yang disentuhnya ini. Dan ia menemukannya.
Lalu dengan gerakan cepat laki-laki itu menyalakan layar serta menghubungi Zaya untuk entah yang keberapa kalinya selama satu minggu ini.
Dering yang tak asing seketika mencuri perhatian Afriz. Sumbernya tidak terlalu dekat, tetapi itu sudah cukup untuk memberitahunya bahwa ada ponsel Zaya di ruangan ini.
Sambil tetap menyambungkan, Afriz terus berjalan guna mencari asal bunyi yang memperdengarkan lagu Lekas ciptaan Tulus itu.
Dan ketemu!
Benda elektronik kepunyaan istrinya, yang sering ia ledek butut, yang berdasarkan pengakuan pemiliknya merupakan hasil keringat Zaya sendiri saat masih bekerja sambil kuliah itu ada di lemari, tepatnya di atas tumpukan pakaian, bagian lemari yang terbawah.
"Pantesan tiap kali ditelepon nggak pernah diangkat, dikirimi pesan nggak dibalas. Ketinggalan, sambungan ke internet juga diputus, ck!" Afriz berdecak, lalu mengacak rambutnya yang sedari tadi memang sudah berantakan.
Tetapi tak dapat dipungkiri bahwa ada kelegaan yang menghampiri pemuda itu, karena ternyata Zaya tak pernah bermaksud mendiamkannya selama ini.
Afriz langsung saja menyambungkan data internet tanpa membuka kunci layar. Tak berselang lama, pesan-pesan darinya melalui aplikasi WhatsApp baru sampai. Bagus!
__ADS_1
Panggilan telepon serta video pun baru terkirim. Bagus!
Pesan-pesan lain yang dikirim semenjak Zaya pergi memang baru sampai sekarang.
Dan anggap saja dirinya lancang karena sekarang telah membuka kunci layar ponsel Zaya agar tahu siapa saja yang mengirim pesan kepada istrinya.
"Vita?" Afriz bergumam heran, tak mengerti mengapa ada banyak sekali pesan dari mantan kekasihnya itu. "Ada urusan apa dia menghubungi Zaya?"
Jujur saja, perasaannya mendadak tak enak.
Dan demi Tuhan! Afriz sangat bersyukur lantaran bukan Zaya yang membuka pesan-pesan dari Vita. Setidaknya, Zaya yang sering mengeluh mual tak akan bertambah mual setelah tahu apa yang saat ini terpampang di depan matanya.
Tetapi sepertinya Author tengah berbaik hati kepadanya, dengan masih menyembunyikan memori masa silamnya, yang entah mengapa, sekarang membuatnya jijik setengah mati.
Dari foto-foto yang dikirimkan oleh Vita kepada nomor Zaya, Afriz dapat melihat sekaligus mengingatnya satu per satu. Waktu ia menatap, membelai, serta mencium Vita penuh damba.
Dan hanya butuh dua foto serta satu video singkat saja untuk membuatnya merasa berada di titik moral terendah sebagai manusia: potret dan gerakan-gerakan di mana ia dan Vita tengah berada di balik selimut yang sama, sambil berpelukan mesra di atas ranjang.
Padahal, sungguh. Afriz berani bersumpah bahwa Zaya adalah wanita pertama dan satu-satunya yang pernah ia nikmati, meski bukan gadis itu yang pertama kali menyentuh area paling pribadi dari tubuhnya.
Afriz sangat-sangat bersyukur atas keadaan ini --situasi di mana bukan Zaya yang menerima foto dan video yang saat ini tengah ia saksikan. Dengan begini, setidaknya ia bisa mengantisipasi kemungkinan terburuk sedini mungkin.
Sebelum Zaya salah paham, ia akan menghapus semua foto dan satu video yang dikirimkan oleh Vita. Lalu ia akan menerangkan sejelas mungkin perihal masa lalunya dengan perempuan itu kepada Zaya.
Sebab, ia tak tahu penjelasan macam apa yang harus diutarakan, seandainya Zaya yang melihat semua ini, apalagi perempuan itu harus tahu dari orang lain.
Mbak Vita: [Jadi, gimana? Masih ragu kalau aku dan Afriz masih saling mencintai? Masih ragu sejauh apa hubungan kami? Masih ragu seberapa besar cinta Afriz ke aku?]
Mbak Vita: [Jujur aku penasaran seberapa besar cinta kamu ke suamimu itu. Aku yakin, kita ini sama-sama perempuan. Aku kira, motif kita mendekati Afriz itu sama. Uang dan kepuasan]
Dan, ya. Sebelum Vita bertindak semakin jauh untuk memperburuk segala kemungkinan yang akan terjadi, Afriz harus menghentikan semua gerak-gerik wanita itu.
__ADS_1
Ia mesti terang-terangan mengatakan bahwa dirinya sudah tak lagi menginginkan Vita. Ia tak lagi mencintai mantan kekasihnya itu. Sama sekali.
Meski dikuasai kekalutan, Afriz mengecek ponselnya. Ia menemukan nama Vita dari barisan kontak yang mengiriminya pesan. Tanpa membuang banyak waktu, laki-laki itu mengetikkan balasan tanpa membaca pesan sebelumnya.
[Kita sudah selesai sejak lama. Tolong jangan ganggu keluargaku lagi.]
Tak lama berselang, masuklah sebuah balasan.
Vita: [Kapan aku pernah ganggu keluargamu?]
Vita: [Ooh, jangan2 istri kamu yang ngadu]
Saya: [Ini murni permintaanku. Tak ada sangkut pautnya dengan istriku]
Vita: [Tp kamu beneran aneh bgt. Santai aja kali. Sebelumnya hubungan kita baik2 aja, kok tiba2 kamu ngomong gini]
Saya: [Aku harap kamu ngerti. Intinya, aku minta tolong jangan ganggu kehidupanku dan istriku lagi]
Vita: [Ini pasti bukan Afriz kan? Afriz gak mungkin bilang gini ke aku]
Tanpa meladeni lebih lanjut mengenai pertanyaan-pertanyaan Vita, Afriz langsung memblokir nomor tersebut.
Namun, belum genap lima menit kemudian, Vita mengirim pesan suara ke nomor Zaya.
"Minta Afriz jauhin aku sambil nangis-nangis, heh? Kamu kasih dia apa sampai dia mau nurut ke kamu?"
Anggap saja Afriz plin-plan lantaran kali ini ia malah tertarik membalas pesan dari Vita. Ia secara tegas mengetik: DIKASIH ANAK.
Harapan Afriz, setelah ini Vita benar-benar mundur dan tak lagi mengganggu kehidupannya yang mulai tertata serapi ini.
...***...
__ADS_1