
Afriz masih terbaring sembari mengatur napas terengah-engahnya pada pagi petang ini. Kedua matanya terpejam, sedangkan bibirnya tersenyum. Matahari bahkan belum menyorotkan cahaya apalagi energi panas sedikit pun. Tetapi tubuhnya sudah berkeringat karena aktivitasnya bersama Zaya baru saja selesai.
"Capek?" tanya Afriz kepada Zaya.
"Banget."
"Minta dipijat?" goda Afriz.
Tetapi Zaya hanya menggeleng, mengabaikan godaan barusan.
"Ada masalah?"
Pandangan Zaya yang semula mengarah ke selimut, kini beralih ke wajah suaminya. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba menimbang apakah ia akan bercerita atau tidak.
Sedikit banyak, perkataan salah satu tetangga mereka membuat Zaya tak nyaman. Walau memang, pertanyaan-pertanyaan dari seorang wanita yang bernama Bu Lincah itu wajar dan normal ditanyakan kepada orang baru sepertinya.
Tentang usianya.
Tentang pendidikan terakhirnya.
Tentang pekerjaan dan sumber penghasilannya.
Juga tentang latar belakang keluarganya.
Dari sekian hal yang dibahas, tak ada satu hal pun yang bisa Zaya banggakan.
Usianya 20 tahun. Pendidikan terakhir SMA. Untuk sekarang ini ia menganggur, setelah tidak lagi menjadi pekerja di tempat usaha milik Afriz, jadi ia tak punya penghasilan sendiri. Ia juga tidak berasal dari keluarga berada, meski ia tumbuh dan besar di tengah kepungan warga yang mendewakan uang dan modernitas.
Tak mendapatkan jawaban apa pun, Afriz mengelus pipi Zaya. Lalu dia melihat sebuah senyum yang teramat manis dari istrinya itu, menandakan bahwa semua baik-baik saja.
Tak lama setelahnya, Afriz mendapati istrinya sudah duduk dan hendak bangkit dari posisinya. "Mau ke mana?"
"Mandi."
"Nanti dulu kenapa, sih? Masih pagi gini, kok."
Zaya menoleh, tatapannya jelas-jelas tak setuju dengan perkataan suaminya. "Di rumah ini kan nggak cuma ada aku sama Mas. Ada Papa, ada Faiz. Mereka kan juga butuh aku, buat nyiapin sarapan misalnya. Faiz juga butuh dimandiin juga. Jadi, aku mesti siap-siap."
"Di rumah ini kan nggak cuma Faiz yang butuh dimandikan. Mas juga."
__ADS_1
Zaya menatap ngeri suaminya. "Mas kan bukan bayi. Mandi aja sendiri!" Lalu ia berlari, cepat-cepat menjauhi Afriz supaya pembicaraan tak melantur ke mana-mana.
Tetapi ternyata keputusannya tak terlalu tepat. Afriz justru menyusulnya ke kamar mandi, hanya mengenakan celana bokser pula.
"Mas ngapain, sih!?" teriak Zaya tak menyangka, saat pintu kamar mandi yang hendak ia tutup ternyata ditahan dari luar.
"Mau mandi, lah."
"Iya. Tapi kan bisa pakai kamar mandi sebelah. Atau nanti aja, nunggu aku selesai."
"Enggak mau. Enak saja. Masa, Faiz saja dimandikan, aku enggak?"
Zaya menatap suaminya tak percaya. Mulutnya sampai terbuka, saking terkejutnya. "Nggak usah aneh-aneh, deh!"
"Kenapa, sih? Mandi bareng suami itu sunah Rasul, tahu."
Walau sudah mendorong pintu sekuat tenaga, Zaya tak bisa mengalahkan kekuatan otot Afriz yang kini berhasil masuk ke tempatnya berada. Dapat ia lihat, laki-laki itu mengunci pintu kamar mandi seraya menyeringai penuh kemenangan.
Ia pun dapat memastikan, pagi ini, ia dan si bayi tua itu mandi bersama. Pertama kali selama lima bulan usia pernikahan. Tentu saja, ia tak akan membiarkan laki-laki itu berbuat macam-macam hingga sesi mandi mereka usai.
...***...
"Wa-wa'alaikumsalam. Sudah pulang, Pak?" Walau sempat tergagap sebentar, Bu Darmi mendekati suaminya yang baru saja pulang menghadiri pertemuan rutin kelompok tani dusun.
"Iya." Pak Kuswin menyerahkan kantong kresek putih kepada lawan bicaranya.
"Apa ini?"
"Katanya pacitan untuk kumpulan hari ini sisa banyak, makanya Bapak disuruh membawa sebagian. Daripada mubazir, ya Bapak bawa saja."
"Oooh." Bu Darmi mengangguk-angguk mengerti. "Memang tadi yang datang ke kumpulan apa tidak banyak?" tanyanya heran.
Pak Kuswin mengangguk. "Karena hujan, jadinya yang berangkat sedikit. Tadi saja yang datang tidak ada sepuluh orang. Lagi pula, sekarang memang anggota kelompok tani dusun kita makin sedikit. Tidak sampai ada dua puluh orang."
"E, la dalah. Padahal dulu ada empat puluhan orang, ya? Kenapa bisa seperti itu, Pak?"
Menanggapi istrinya, Pak Kuswin tertawa kecil. Kemudian pria paruh baya itu duduk di bangku. "Ya begitulah yang namanya kelompok, Jo. Satu wadah tapi diisi oleh banyak kepentingan, yang tentunya beda-beda antara orang yang satu dan lainnya."
Walau Bu Darmi dapat melihat senyum dari lawan bicaranya, wanita itu tetap bisa menangkap kesedihan dari laki-laki di depannya. Ia mengerti, ada beban cukup berat yang tertumpu di bahu suaminya ini.
__ADS_1
"Apa Bapak keluar saja dari kelompok, ya?"
"Hus, Bapak ini bicara apa? Jangan sembarangan begitu." Bu Darmi yang baru saja meletakkan kantong kresek di meja, begitu saja melotot saat mendengar omongan suaminya yang menurutnya sama sekali bukan solusi.
"Ya Bapak rasa, kalau Bapak keluar, kelompok tani akan seperti dulu lagi, kompak dan punya semangat membangun pertanian dan peternakan dusun, Bu."
"Bapak ini ngawur," tanggap Bu Darmi.
"Ngawur bagaimana? Apa yang Bapak bilang ini benar. Bapak sudah capek rasanya, Bu. Sejak awal kelompok ini terbentuk, banyak yang tidak suka, dan sering membicarakan kelompok ini, yang setiap kali kumpulan dibilang tidak bermanfaat, tidak menghasilkan apa-apa, hanya membuang-buang waktu. Awalnya Bapak tak menghiraukan omongan-omongan itu, karena pikir Bapak, masih ada banyak warga yang percaya dengan kelompok ini, bahkan memperoleh manfaatnya. Tapi sekarang, Bapak tidak tahu harus melakukan apa."
"Pak." Bu Darmi menepuk pelan bahu suaminya, menularkan rasa tenang yang bisa diberikannya. "Ibu juga tidak tahu solusi terbaik apa yang bisa Bapak ambil. Tapi Ibu rasa, tidak ada alasan bagi Bapak untuk mundur. Sekarang coba Bapak ingat-ingat lagi saat pertama kali Pak Riyanto datang ke dusun kita, membagikan banyak ilmunya bagi warga di sini, lalu membentuk kelompok tani yang sampai sekarang Bapak tekuni. Bapak ingat-ingat lagi perjuangan kalian membawa nama dusun, desa, serta kecamatan beberapa tahun yang lalu, sampai-sampai Pak Budiyono mendapatkan juara dua di tingkat provinsi, karena pemanfaatan kandangnya yang unik."
Laki-laki berkemeja kuning kotak-kotak itu memijat pelipisnya. "Tapi situasinya sekarang berbeda, Bu. Kepercayaan orang-orang kepada Bapak sepertinya sudah hilang semenjak apa yang menimpa keluarga kita."
Berusaha memahami emosi suaminya, Bu Darmi kini menghela napas. "Ibu juga tidak tahu ujian macam apa lagi yang sedang dilimpahkan kepada keluarga kita. Kepercayaan warga kepada Zaya sudah berkurang banyak, dan sekarang kepada Bapak juga demikian. Tapi yang Ibu yakini, Allah selalu tahu di mana batas kemampuan kita, Pak. Dia pasti akan menunjukkan apa yang seharusnya diketahui."
"Bapak harap juga begitu, Jo."
Bu Darmi tersenyum lega. Jika suaminya ini sudah memanggil dengan sebutan kesayangan "Jo", sudah tentu suasana hati pria itu telah membaik. Paling tidak, ayah Zaya itu tak menambah deretan orang yang harus dipikirkannya.
"Ada apa, Jo?" tanya Pak Kuswin, sesaat setelah mengamati gelagat istrinya yang walaupun tersenyum, seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Tidak ada apa-apa, Pak. Hanya saja ...."
"Hanya, apa?"
"Menurut Bapak, apa kita tidak terlalu gegabah menikahkan Zaya di usianya yang sekarang?"
"Kenapa baru menanyakan itu sekarang?"
"Entah, Pak. Ibu baru kepikiran sekarang. Mungkin waktu itu kita memang butuh segera menikahkan Zaya tanpa bertanya dia bersedia betulan atau tidak. Karena kita benar-benar sudah kehilangan harapan, dan itu adalah jalan pintas satu-satunya. Tapi kali ini perasaan Ibu mendadak ndhak enak. Tiba-tiba kepikiran Zaya."
Kini giliran Pak Kuswin yang berusaha menenangkan istrinya. "Mungkin kamu hanya kangen, karena Zaya sudah lama tidak berkunjung."
Bu Darmi mengiyakan kemungkinan tersebut. Bisa jadi dirinya memang kangen. Lagi pula mereka memang jarang berkomunikasi. Sebab akhir-akhir ini jaringan telepon sedang susah diajak kompromi, mengingat cuaca yang sering berubah secara tiba-tiba, ektrem, sekaligus sering memadamkan aliran listrik yang masuk ke dusun.
Tetapi, entahlah. Karena yang menyiksa perasaannya saat ini lebih dari sekadar rindu. Tetapi juga sesuatu besar yang akan terjadi, yang ia harap tak akan terjadi.
...***...
__ADS_1