Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar

Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar
Balasan


__ADS_3

Afriz segera memanaskan motor. Ia tak peduli rupa kendaraan roda duanya yang sudah tak keruan karena tadi malam terkena lumpur ketika hujan. Ia hanya sempat menyiram secara asal-asalan untuk membersihkan bagian yang paling kotor, yakni area di dekat ban depan dan belakang.


Namun, baru juga Afriz hendak mengambil jaket, Bu Lincah sudah bertamu. Wanita paruh baya itu menyelidik pria tinggi di depannya. "Mas Afriz bangun kesiangan? Kok buru-buru?"


"Iya. Istri belum pulang, makanya tidak ada yang membangunkan."


"Loh, istrinya ke mana lagi, Mas? Keluyuran?"


Mendengar pilihan kata Bu Lincah yang terucap tanpa beban itu, Afriz menghentikan gerakan. Setahunya, Zaya tidak pernah bepergian tanpa seizinnya hingga lupa waktu. Jadi, rasanya tak nyaman saja mendengar kata 'keluyuran' yang ditujukan untuk sang istri. "Dia hanya cari angin," balasnya tenang, tak ingin memperpanjang urusan.


"Maaf ya, Mas. Saya bukannya bermaksud ikut campur urusan rumah tangga Mas. Tapi menurut saya, harusnya Mas lebih tegas kepada istri, supaya istri tidak seenaknya memperlakukan suami sebaik Mas Afriz. Ya paling tidak, selama ditinggal bekerja, Mbak Zaya itu tidak usah malas-malasan. Apalagi setelah hamil, jadi tidak ngapa-ngapain. Sekali lagi, saya minta maaf jika kesannya saya ini terlalu mencampuri urusan rumah tangga Mas Afriz dengan Mbak Zaya."


"Tidak apa-apa, Bu. Dilanjut saja senyamannya Bu Lincah mau membicarakan apa. Sudah biasa juga kan, Anda mengurusi istri saya?" Walau hampir naik pitam, Afriz menekan kuat-kuat kemarahannya.


"Mas Afriz kok bicaranya begitu, sih?"


"Lho kan sejak awal memang Bu Lincah perhatian sekali dengan istri saya, sampai-sampai Bu Lincah jadi lebih tahu tentang istri saya daripada saya yang suaminya. Bu Lincah bahkan sangat paham bagaimana hubungan saya dengan istri, bagaimana proses istri saya bisa hamil, bahkan mungkin tahu seluk beluk mengenai alasan kepergian istri saya dari rumah."


Meski Afriz mengucapkannya secara tenang, Bu Lincah justru kaget mengapa lawan bicaranya bisa berkata semacam itu kepadanya.


Wanita itu jadi gagap sendiri, tak mengerti dari mana Afriz bisa tahu hal ini. "Pasti Mbak Zaya bilang yang tidak-tidak," tuduhnya, demi membela diri.


"Sayangnya, istri saya tidak pernah bilang apa-apa tentang Bu Lincah kepada saya. Mungkin memang bukan minat dan bakat istri saya untuk membicarakan keburukan orang lain."


"Tapi yang saya katakan itu semuanya fakta, bahwa nyatanya istrimu itu tidak lebih baik dari keponakan saya," bantah Bu Lincah belum mau kalah. "Kamu pikir saya lupa? Dulu Pak Hidup tak merestui hubunganmu dengan Vita, karena katanya, Vita kurang baik untuk dijadikan menantu. Tapi ayah kamu tiba-tiba mencarikanmu jodoh, yang sayangnya tidak lebih baik dari keponakan saya."


Afriz tercengang di tempatnya. Masih tak menyangka bahwa ternyata Bu Lincah belum menerima semuanya, padahal waktu sudah lama berlalu.


"Ya memang. Mungkin dalam hal berpakaian, Vita jauh lebih terbuka daripada istri kamu. Tapi ayah kamu mungkin tak pernah sadar bahwa Vita dan Zaya itu sama-sama pendosa yang hanya berbeda pilihan jalan dosanya. Jadinya, saya khawatir jika ternyata kehamilan Zaya itu ... ehm, maaf ya. Saya khawatir jika Zaya hamil bukan anak kandung kamu."


"Kenapa harus khawatir, Bu? Kan saya yang mengambil keperawanan istri saya dan menjadi satu-satunya lelaki yang pernah berhubungan badan dengan istri saya." Afriz membiarkan Bu Lincah berpikir bahwa ia yang sudah mengambil kegadisan Zaya, karena memang kenyataannya seperti itu.

__ADS_1


"Oh, iya. Bu Lincah sendiri selama ini ngapain, kok bisa tahu bahwa istri saya di rumah tidak pernah ngapa-ngapain?" pungkas Afriz sebelum mengambil jaket kemudian menutup dan mengunci pintu rumah.


Bagi Afriz, waktunya terlalu berharga untuk sekadar meladeni bantahan dan pembelaan diri dari lawan bicaranya. Jika pun ada waktu, yang jelas bukan sekarang. Urusan selanjutnya jauh lebih penting.


...***...


Saat ini, ada tiga orang paling menyebalkan di mata Una, yaitu Vita, Pam, serta orang yang mengaku sebagai suami Zaya. Beruntung, Riki tak ikut-ikutan membuatnya naik darah. Suaminya itu justru tengah sibuk mengakrabkan diri dengan Faiz, dan itu cukup menjadi hiburan untuk Una.


"Lucu ya, anak kita," puji Riki seraya menggendong Faiz. "Anteng dan nggak rewel, lagi."


Perasaan haru itu pun sontak merambat ke hati Una, yang untuk pertama kalinya melihat Riki mau mengakui Faiz sebagai anak mereka.


Setelah meyakinkan laki-laki itu selama beberapa bulan belakangan, ternyata hasilnya sesuai harapan. Suaminya itu bersikap selayaknya seorang ayah bagi Faiz, bahkan sejak pertama bertemu dengan laki-laki kecil itu.


Untuk tiba di titik tempuhnya sekarang, Una tak pernah menyangka jika prosesnya serumit dan seterjal ini.


Dua setengah tahun yang lalu, ketika mengetahui bahwa dirinya hamil, Una panik luar biasa. Tentu dengan keadaan begitu ia jadi tak punya kesempatan untuk mendekati apalagi mendapatkan Pam.


Tetapi satu hal yang bisa didengar sekaligus tak bisa disangkal: ketika Pam berkali-kali menyebut nama Zaya pada saat itu, terus-menerus menceracau.


Una masih ingat dengan sangat jelas, bagaimana Pam terkejut pagi harinya. Juga terkaget ketika dua minggu setelahnya mendengar bahwa Una tengah berbadan dua, lantas meminta pemuda itu untuk bertanggung jawab.


Padahal kehamilan Una telah menginjak usia dua bulan, dan sudah jelas bahwa bukan Pam ayah dari anak yang tengah ia kandung.


Untuk kesekian kalinya pada pagi menjelang siang ini Una menarik lantas mengembuskan napas berat. Rasa-rasanya, sejak awal tindakannya sudah menyusahkan banyak orang.


Ia menyesalkan mengapa harus Pam dan Zaya yang mesti menjadi korban utama perilakunya pada masa silam. Sepasang muda-mudi yang tengah kasmaran itu harus melepas keinginan keduanya untuk saling memiliki, hanya karena cinta butanya yang tak tahu diri.


Padahal jika Una mau sedikit saja untuk lebih peka, sudah agak lama Zaya maupun Pam memberikan tanda-tanda adanya ketertarikan antara satu sama lain.


Ia mestinya menyadari gelagat maupun makna tersirat dari Zaya yang kerap malu-malu ketika menjawab pertanyaannya mengenai siapa pemuda yang berhasil menarik perhatian.

__ADS_1


Tetapi jika boleh membela diri, Una tak sepenuhnya tidak peka. Memang Zaya saja yang tak mau terang-terangan.


Bila ditanyai topik tersebut, gadis Matamu itu hanya menjawab, "Buat sekarang ini, aku mau memantaskan diri dulu, Kak. Aku mau kuliah yang bener, buat bekalku membangun dusunku sendiri, sambil belajar membiasakan diri berinteraksi dengan banyak orang dulu. Kalau emang kami berjodoh dan nggak goyah pendirian, biar nantinya aku udah pantas jadi istrinya. Lagian, dia serius mau nunggu sampai aku siap, kok."


Ada senyum penuh keyakinan dari bibir maupun sorot mata Zaya, kala itu. Optimisme yang sangat beralasan bagi Una, mengingat betapa Zaya bisa sangat mudah menarik perhatian lelaki meski hanya dalam sekali lihat. Maka tak mengherankan rasanya jika Pam menaruh hati terhadap gadis pemalu sekaligus tak banyak bicara itu.


[Tolong dibalas]


Pesan kesekian dari nomor orang yang mengaku sebagai suami Zaya itu datang lagi, dan mau tak mau membuat Una tersadar dari lamunan. Tetapi sampai detik ini, ia tak berminat untuk membalas lantaran ingat bagaimana sikap Zaya selama berada di rumah sakit hingga pulang ke rumahnya belum lama ini.


Dapat dia lihat, setiap kali bertutur mengenai orang-orang yang 'mengikuti', ada raut ketakutan pada wajah Zaya. Ditambah gerakan kedua bola mata Zaya yang tak begitu tenang, membuat Una kian yakin bahwa ada yang tidak beres.


"Mereka ngikutin aku terus, Kak. Padahal aku udah berusaha lari jauh-jauh dari mereka."


"Mereka siapa?" tanya Una tak habis pikir.


"Suami dan tetanggaku. Mereka selalu ngomong nggak jelas. Aku takut."


Dari penjelasan dokter yang tadi pagi menangani Zaya sebelum diizinkan pulang, Una pun memperoleh informasi bahwa Zaya perlu dibawa ke psikiater.


Hal tersebut membuatnya dilema. Di satu sisi dirinya perlu meminta izin dari suami Zaya untuk menentukan tindakan penanganan yang lebih serius, sementara di sisi lain ia tak mungkin membiarkan Zaya semakin ketakutan saat bertemu dengan suaminya.


Maka hingga detik ini ia membebaskan Zaya untuk tidur ---kesempatan langka yang dimiliki oleh perempuan hamil itu.


"Maaf Mas, saya tidak tahu." Una mendiktekan balasan yang hendak ia kirim untuk orang yang mengaku sebagai suami Zaya. Lirih saja agar tak mengganggu tidur Zaya yang masih lelap.


Lantas seperti apa yang sudah Una duga sebelumnya, suami Zaya itu tak percaya dengan makna pesannya. Laki-laki itu berkilah bahwa tadi sempat melihat foto Faiz dan Zaya yang berada di suatu tempat, lalu menyimpulkan bahwa mustahil bagi Una tidak tahu di mana keberadaan Faiz maupun Zaya.


Mungkin besok atau entah kapan, setelah situasi memungkinkan, ia akan memberitahu suami Zaya sejelas mungkin. Tetapi, yang pasti bukan sekarang. Tidak, sebelum Zaya lebih tenang.


...***...

__ADS_1


__ADS_2