
Duar!
Gelegar petir di tengah guyuran hujan yang kian deras mengejutkan Faiz yang hampir terlelap. Balita itu menangis dan menjerit, seolah memanggil Zaya yang sebetulnya tak jauh dari posisinya.
Zaya mengelus-elus kepala dan punggung balita itu secara bergantian. "Faiz ... cup-cup. Iya, ini mama di sini tidur bareng Faiz."
Sebetulnya, perempuan itu takut dengan petir yang menjadi suara latar suasana sendunya ini. Seolah belum cukup, angin pun bertiup kencang. Menimbulkan gemuruh yang tak kalah menakutkan.
Akan tetapi, demi pria kecil itu Zaya berpura-pura berani. Walau setiap kali petir tunggal berhasil memekakkan telinganya, ia mesti memeluk erat balita di sekitarnya itu.
Kini kepalanya menoleh ke arah jam dinding. Hingga malam selarut ini, suaminya belum pulang. Firasatnya mendadak tak enak. "Mas Afriz kok belum pulang, sih? Di luar hujannya ngeri gini, lagi."
Seusai memastikan Faiz sudah terlelap setelah hampir setengah jam dipuk-puk, perempuan itu bangkit dari baringnya. Mengambil ponsel yang sedari tadi tak ia sentuh. Lalu menghubungi nomor suaminya, yang sayangnya sedang tak aktif.
Berulang kali ia berusaha menyambungkan, yang ia dengar hanya suara operator. "Nomor yang anda hubungi, sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan service area. Silakan ...."
Sekali lagi, ia menilik jam dinding. Pukul 23.15 malam, atau lebih, entah. Pandangannya sudah tak begitu jelas. Matanya semakin berat, sementara cuaca di luar sana belum memberikan tanda-tanda akan membaik.
Ia sudah beberapa kali menguap, dan beberapa kali pula kepalanya hampir kehilangan keseimbangan. Tetapi ia tak kunjung bergerak dari tempatnya menunggu kepulangan Afriz.
Sebuah tangan menyentuh lengannya pelan. "Mas Afriz," gumamnya seraya mengumpulkan sebagian penglihatan yang sudah kabur. "Eh, maaf, Pa. Aku kira Mas Afriz," ucapnya, begitu tahu bahwa laki-laki yang menyentuhnya bukanlah sang suami. "Ada apa, Pa? Papa mau minum teh? Biar Zaya bikinkan."
Pak Hidup menggeleng. "Kamu istirahat di kamar saja, Ya. Biar Papa yang menunggu Afriz."
Mata Zaya mengerjap beberapa kali. "Tapi ...."
"Kamu temani Faiz, kasihan dia," potong Pak Hidup cepat.
Merasa tak perlu mendebat, Zaya mengangguk patuh. Tetapi tanpa sepengetahuan mertuanya, langkah perempuan itu tak membawanya masuk ke kamar, melainkan berbelok ke arah dapur. Dirinya berniat membuatkan kopi panas untuk Pak Hidup yang kini duduk di sofa, menunggu kepulangan Afriz.
"Ini, Pa," kata Zaya, mempersilakan ayah mertuanya untuk menikmati kopi hitam yang baru saja ia buatkan.
__ADS_1
Melihat satu cangkir berukuran besar di hadapannya, Pak Hidup menatap heran kepada menantu perempuannya itu. "Kamu tidak jadi tidur?"
"Tadinya emang udah ngantuk banget. Tapi sekarang ngantuknya udah ilang, kok. Heh' cengir Zaya, membuat Pak Hidup geleng-geleng kepala. "Ayo, diminum, Pa. Mumpung masih panas."
Terang saja Pak Hidup tak bisa menahan godaan dari kepulan asap dari cangkir di atas meja di hadapannya itu. Lalu tanpa harus dipaksa, beliau mengambil benda tersebut dan menyeruput isi yang ada di dalamnya.
"Pa," panggil Zaya ragu-ragu, sesaat setelah mertuanya meletakkan cangkir di atas meja.
"Ya, ada apa?"
"Emmm ... kira-kira Mas Afriz cerita ke Papa, nggak? Tentang kerjaannya, mungkin. Akhir-akhir ini Mas Afriz sering berangkat pagi banget, dan pulangnya pasti kalau aku udah tidur."
Bukannya menjawab pertanyaan barusan, Pak Hidup justru tersenyum geli. "Memangnya kenapa? Kamu sudah kangen?"
"Eh, bukan gitu." Walau bilang begitu, Zaya tak bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah. "Cuma aneh aja. Baru belakangan ini Mas Afriz pulang lebih dari jam 10 malam. Sebelum-sebelumnya nggak pernah. Malah seringnya jam 9 udah sampai rumah."
Lagi-lagi, Pak Hidup tersenyum geli. "Sebetulnya bukan hal yang aneh dan baru bagi Afriz kalau jam-jam segini belum pulang, Ya. Dulu juga sering begini."
"Maksud Papa, pulang jam-jam seginian itu biasa buat Mas Afriz?"
"Oh," sahut Zaya, tak mengerti harus menambahi dengan apa lagi. Jika sudah menyangkut Afriz dan pacarnya dulu, ia seperti kehabisan kata-kata.
"Papa tak terlalu tahu apa yang dulu dilakukan Afriz di luar sana bersama teman-temannya maupun kekasihnya. Jadi, Papa tidak mau membicarakan hal yang aneh-aneh tentang suami kamu itu. Tapi satu yang bisa Papa bilang ke kamu." Pak Hidup memberi jeda untuk mendapatkan perhatian dari Zaya. "Entah kapan pastinya kamu tahu masa lalu Afriz, tolong terima itu. Karena biar bagaimanapun, dia tetap suami kamu. Dan apa pun yang terjadi nantinya, pertahankan rumah tangga kalian. Ya?"
Menelan ludah sebentar, lalu Zaya mengiyakan lewat anggukan. Walau ia ragu apakah bisa menerima masa lalu suaminya yang dikelilingi oleh banyak perempuan, sekaligus kenyataan yang baginya masih terlalu abu-abu itu atau tidak.
Sungguh, ia belum tahu.
Kini perempuan itu menunduk, lalu menggosokkan kedua telapak tangannya untuk mendapatkan kehangatan. Sebetulnya, ia ingin bertanya banyak hal. Pun sangat ingin tahu bagaimana masa lalu laki-laki yang kini menjadi suaminya itu.
Ia bukannya ingin mengungkit-ungkit. Tetapi bukankah masa lalu memang bisa dijadikan bahan rujukan bagi perbaikan di masa depan? Apalagi Afriz belum pernah menjelaskan secara terang-terangan perihal masa mudanya.
__ADS_1
Pak Hidup menatap dingin kepada Afriz yang baru saja melewati pintu. "Lain kali kalau pergi-pergi bilang istrimu," ucapnya. "Dulu mungkin kamu bisa seenaknya pergi dan pulang kapan saja. Tapi sekarang ada istrimu yang khawatir menunggu, tanpa tahu apa yang kamu lakukan di luaran sana."
Afriz tak menanggapi. Dia menghela napas lelah, juga tak mengerti dengan perasaannya saat menatap wajah kecewa sang ayah.
"Papa ke kamar dulu." Zaya hanya mendengar suara Pak Hidup samar-samar. Nyawanya seolah berada di antara alam sadar dan tidak sadar, saat mertuanya itu semakin menjauh.
Akhirnya Afriz menoleh, dan mendapati Zaya nyaris terjatuh dari tempatnya. "Kamu belum tidur, Ya?" tanya Afriz yang kedatangannya sama sekali tak disadari oleh lawan bicaranya.
"Be-belum. Aku nunggu Mas. Lagian ... aku belum ngantuk." Kontras dengan perkataannya, mata Zaya mengeluarkan air karena terus-terusan menguap. Lalu perempuan itu menutup mulutnya, menguap untuk kesekian kali.
"Tapi ini hampir jam satu dinihari. Kamu biasanya jam sepuluh sudah tidur."
Dengan mata yang sudah merem melek, Zaya memaksakan senyum. "Nggak apa-apa, kan sekali-sekali." Kemudian ia berdiri, hendak ke kamar. Berusaha tak peduli dengan perkataan suaminya. Tetapi tubuhnya oleng saat kakinya mulai melangkah.
Beruntung, Afriz sigap menangkap beban tubuh perempuan yang sudah mengantuk berat itu. "Nggak bisa tidur terlalu malam aja masih maksain diri nunggu Mas pulang," gumamnya, sebelum ia mengangkat tubuh yang sudah kehilangan keseimbangan tersebut.
Meski terlihat mungil, ternyata tubuh Zaya berat juga. Terbukti saat beberapa detik pertama menggendong perempuan itu, Afriz hampir kehilangan keseimbangan. Setelah berhasil menguasai badan di tangannya ini, laki-laki itu melangkah dengan pasti ke kamar mereka.
Beruntung tadi Zaya tak menutup rapat pintu kamar, sehingga Afriz tak perlu susah-susah menyeimbangkan tubuh sambil membuka benda di depannya ini. Dia cukup menendangnya pelan, lalu membawa dan membaringkan Zaya di ranjang.
Dibukanya penutup kepala yang Zaya kenakan, kemudian melepaskan kunciran yang mengikat rambut perempuan itu. Begitu selesai, Afriz mengamati wajah istrinya yang sudah terlelap ini. Jujur saja, dia rindu kepada Zaya.
Untuk perbedaan pendapat yang belum menemui titik terang itu ... dia tak mengerti. Entah dirinya yang harus menunda keinginannya dan mesti menunggu Zaya siap atau bagaimana, dia belum tahu. Keduanya belum membicarakan lebih lanjut. Sementara dia, memilih menghindar dari perempuan di depannya ini untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan.
"Tidur yang nyenyak, Sayang," bisiknya.
Wi pi wi pi pi wi wi wi wi.
"Sepagi ini kok ya ada bunyi burung begituan," gumam Afriz seraya menggeleng-geleng pelan saat mendengar suara burung Kedasih yang sepertinya hinggap di atas genteng.
Kalau saja Zaya belum tidur, perempuan itu pasti ketakutan dan akan mengaitkan dengan mitos-mitos yang sudah tersebar luas. Bahwa burung tersebut membawa pertanda akan datangnya malapetaka, utamanya kematian.
__ADS_1
Afriz berjalan ke kamar mandi, mengabaikan suara burung yang jujur saja membuatnya merinding.
...***...