
Walau Jamal sudah memiliki SIM sendiri karena usianya memang satu tahun lebih tua dibanding Pam, remaja itulah yang diboncengkan oleh anak kades Karang Kidul.
Dirinya dibawa ke dekat rumah juragan kepang di Dusun Matamu, letaknya di pinggir jalan raya penghubung antar dusun.
Begitu motor diparkir, Pam berdiri di tempat paling strategis sambil celingukan. Lalu petentang-petenteng. Sebentar-sebentar, dia celingukan lagi.
Tak lama kemudian, ia menyisir jambulnya ke belakang supaya lebih njegrik. Meski menimbulkan rasa heran dalam benak sahabatnya, ia tak peduli.
"Nunggu siapa, sih?" tanya Jamal akhirnya.
"Sudah kubilang, nanti kamu tahu sendiri."
Pam masih celingak-celinguk, sambil terus-terusan bertanya kepada Jamal, "Ini sudah jam berapa, kok dia belum lewat?" hampir setiap menit sekali.
Biasanya, Zaya berangkat mengaji pada pukul setengah lima. Paling lambat pukul lima kurang seperempat. Jadi, detik-detik yang semakin dekat itu terasa lama.
Begitu pandangannya menangkap sosok gadis berkerudung biru, Pam bersiul sesaat.
Hanya saja, kali ini agak berbeda. Si Gadis tak hanya membawa tas tangan yang selalu dibawa ketika mengaji, tetapi juga menggendong lintingan kepang yang hendak dijual.
Pam terus mengamati langkah lelah gadis itu, takjub. Ukuran tubuh mungil remaja itu tak sebanding dengan nyali dan tenaga yang dimiliki.
Gadis itu berjalan sendirian di jalan yang baru kering setelah dicor. Beberapa remaja seumuran yang di lewat di sebelahnya, hanya lewat. Jangankan menawarkan bantuan, membunyikan klakson saja tidak.
Mereka lebih terpesona oleh jalan yang baru saja selesai diperbaiki, dari yang semula hanya kricakan menjadi area bersemen. Mereka menikmati jalan baru yang sekaligus menjadi lokasi wisata anyar.
Zaya sudah masuk ke pekarangan rumah Lik Yati, lalu menyetorkan kepang yang dibawa kepada nyonya rumah. Setelah transaksi selesai, gadis itu keluar. Tangannya membawa beberapa uang kertas bernominal sepadan dengan enam kepang yang setiap lembarnya dihargai delapan ribu rupiah.
"Alhamdulillah besok aku bisa minta uang buat bayar buku," katanya dengan wajah cerah, semringah. Tak tampak raut lelah sebagaimana yang Pam lihat beberapa saat lalu.
"Mau ke mana, Ya?" tanya gadis berambut merah di sebelah Zaya, yang tiba-tiba saja menghentikan motor matic tanpa mematikan mesinnya.
"Berangkat ngaji."
"Malam Minggu gini masih ngaji?" Alis lawan bicara Zaya itu terangkat sebelah. "Nggak punya pacar yang ngapelin pas malam Minggu, ya?"
Pam masih mengamati dari posisinya sekarang. Dirinya sudah biasa mendengar hal-hal aneh semacam itu. Tetapi yang membuatnya salut adalah reaksi Zaya yang hanya menggeleng, lalu tersenyum menanggapi pertanyaan bertendensi ejekan itu.
Padahal tak ada yang salah dengan gadis itu, setidaknya di mata normalnya ini. Meski tak sedikit orang yang bilang bahwa Zaya terkungkung oleh ajaran agama dan kerudung yang belakangan sering dipakai, ia tak menemukan kesalahan.
Sementara yang Pam tangkap, Zaya sedang belajar membatasi dirinya sendiri dari hal-hal tak penting.
__ADS_1
Belajar membatasi bagian mana yang boleh dan tidak boleh diperlihatkan kepada orang lain.
Belajar memilah dan memilih mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan, walau contoh yang setiap hari dicekokkan jauh dari apa yang selama ini diperjuangkan.
Tetapi, apa yang salah?
"Mari, Mas Pam." Berbeda dengan sikap kala menyapa Zaya, mereka menunjukkan kesopanan tingkat priyayi kepada Pam dengan begitu fasihnya.
Sebab, mereka tahu dan sadar dengan siapa mereka berhadapan. Seorang anak pertama kades mereka yang masih bujangan, dan tentunya berasal dari keluarga berada.
"Ra butuh," dengus Pam.
Ia sama sekali tak butuh penghormatan semacam itu. Dirinya bukan bendera yang mesti diberi hormat setiap saat.
Remaja laki-laki itu masih menunggu Zaya lewat di depannya, yang tinggal belasan langkah lagi.
Pam berhitung di dalam hati, sembari menanti apa yang akan Zaya katakan kepadanya saat jarak mereka sudah dekat.
Biarpun sudah bisa ia tebak kalau gadis itu hanya akan menganggukkan kepala sebagai penghormatan sambil berkata, "Kak," saja.
Iya, hanya itu.
Dan tebakannya tak salah. Memang hanya seperti itu.
Monoton.
Tak ada nuansa kebaruan sama sekali.
Tetapi lucunya, tak bisa membuatnya kapok.
"Mau ngaji, ya, Ya?" tanyanya ramah. Ia tetap berusaha mendekatkan diri dengan gadis pemalu itu.
"Iya."
"Apa tidak kesorean?" Pam tetap berusaha agar gadis itu menjawab bukan hanya dengan 'iya' dan 'tidak'.
"Biasanya berangkat jam segini, kok, Kak."
Byar. Seolah kembang api seketika memenuhi dada Pam saat Zaya tersenyum kepadanya. Letupan demi letupannya tampak warna-warni dan begitu terang.
Ternyata jawaban panjang dari gadis itu seperti mengandung ekstasi. Membuatnya ketagihan untuk bertanya lagi.
__ADS_1
"Oh, tapi kan nanti pulangnya bisa sampai gelap. Kalau begitu, bagaimana?"
"Bapak sering jemput."
"Kalau ndhak dijemput, kamu pulang sendiri?"
Pam hanya melihat anggukan Zaya yang mulai kumat irit bicara.
"Tapi kan gelap. Memangnya berani?" cecar Pam, seolah tak rela jika pembicaraan sore ini cepat usai.
Lagi-lagi, pertanyaan Pam dibalas anggukan. Tetapi kali ini lebih pasti. Juga disertai senyuman. "Kan bawa senter."
Byar-byar-byar.
Mungkin cahaya senter yang dimaksud oleh Zaya tak bisa mengalahkan seberapa terang hati Pam saat itu. Sampai-sampai ia tak mendengar saat Zaya minta diri untuk melanjutkan perjalanan spiritualnya sore ini.
Sepeninggal Zaya, Pam mengajak Jamal pulang. Dalam perjalanan menuju tempat tinggalnya, ia berpesan, "Tolong jagakan dia, ya, Mal. Kalau ada yang berani macam-macam kepadanya, kamu hajar saja orangnya. Tapi kalau kamu tidak berani pakai kekerasan, kamu cukup laporan saja. Biar aku yang urus."
Allahu Akbar, Allaaahu Akbar.
Azan magrib memaksa Pam kembali pada realitas.
Bantingan yang amat terasa, saat menyadari bahwa kerudung, kepang, dan senter yang sudah lekat dengan diri Zaya hanyalah bagian dari masa remaja menuju dewasa mudanya saja. Tak lebih.
Andai ia bisa meramal kejadian dua tahun yang lalu, mungkin ia sudah mengajak Zaya kawin lari sebelum ia terjebak dalam situasi seperti ini.
Toh, saat itu ia sudah lulus kuliah. Walau memiliki penghasilan yang terbilang pas-pasan, ia telah memiliki pekerjaan di kota kabupaten sana.
Ia pun bisa menjual tanah pemberian sang ayah sebagai bekal masa depannya dengan Zaya, lalu pergi sejauh-jauhnya. Membangun rumah tangga bersama pujaan hati, tanpa campur tangan bapak dan ibunya lagi.
Akan tetapi, lingkungan tempat tinggal mereka telah membentuk kepribadian Zaya menjadi gadis berprinsip kuat cenderung keras kepala.
Gadis itu belum siap menikah pada usianya yang baru genap sembilan belas tahun, meski Pam sudah menyatakan keseriusannya.
Walau pada akhirnya gadis itu dipetik oleh orang lain, kurang dari dua tahun setelahnya. Memberikan wujud nyata atas ketakutan Pam selama ini.
Pam menghela napas lelah.
Belum cukupkah Tuhan mempermainkan takdirnya selama ini? Menjadikannya bagian dari keluarga yang masih menjunjung budaya kolot dengan menganggap bahwa orang biasa tak pantas menjadi bagian dari mereka.
Lalu Tuhan membiarkannya jatuh hati pada salah makhluk-Nya yang tangguh dan lemah pada satu waktu, kemudian begitu saja meremukkan hatinya yang kini sudah kadung patah.
__ADS_1
Bersambung ❤️❤️❤️