
Zaya mengantar suaminya ke teras, seraya mengiyakan petuah-petuah yang sudah berulang kali ia dengar dari orang yang sama agar ia tak terlalu capek.
"Bilang ke ibu kamu, ya, 'Jangan malas makan,' gitu." Afriz mengelus perut istrinya yang masih rata. "Sudah nggak mual-mual lagi, kan?" tanyanya sambil menatap Zaya.
"Kadang masih mual, tapi nggak sering. Cuma, sekarang kalau makan jadi pahit semua. Itu yang bikin males makan."
"Ada-ada saja alasannya." Afriz memakai helm, kemudian naik motor. "Nanti mau dibawakan apa?"
"Terserah Mas aja mau bawain apa," jawab Zaya sambil membersihkan daun kecil yang menempel di jaket sang suami.
"Kok terserah? Kan kamu yang ngidam, bukan Mas."
"Sekarang belum pengin apa-apa. Nanti aja kalau aku udah pengin sesuatu, baru aku kabarin, deh."
"Siap, Nyonya." Afriz memasang tangannya dalam posisi hormat, setelah itu menghidupkan mesin motornya.
"Mas," panggil Zaya, sebelum suaminya pergi.
Alis sebelah kiri Afriz terangkat. "Apa?"
"Cuma mau tanya. Tiga hari lagi tanggal berapa?"
"Tanggal delapan belas. Kenapa?"
"Mas inget sesuatu, nggak?"
Setelah berpikir sejenak, Afriz akhirnya ingat. "Uang bulanan kamu, kan? Kalau itu, Mas ingat."
Jawaban dari Afriz barusan membuat Zaya mendesah kecewa. Ternyata suaminya lupa, atau bahkan mungkin tak tahu kalau tiga hari lagi usianya sudah dua puluh satu tahun.
Disertai ganjalan di hati, Zaya melepas kepergian suaminya itu.
Sepeninggal Afriz, Zaya masih mengamati jalan di depan halaman rumah. Di sana, tampak ada seekor kucing mendekat ke arahnya. "Pus-pus. Sini," panggilnya.
Kucing kembang telon itu berhenti sebentar, memastikan siapa yang menyapanya. Lalu berlari-lari kecil ketika tahu bahwa yang memanggil adalah nyonya rumah yang semula ingin didatanginya.
Kucing tiga warna itu mendekat, kemudian menempel-nempelkan kepalanya di telapak tangan dan kaki Zaya untuk mencari kehangatan dari sana.
Sebenarnya, sudah lama Zaya ingin memelihara kucing. Tetapi Afriz bilang, kucing bisa menyebarkan penyakit sehingga menghalangi seorang perempuan untuk segera punya keturunan.
"Kamu hamil, ya, Cing?" tanya Zaya, sesaat setelah menyadari perut buncit kucing betina tanpa pemilik di depannya. "Kamu tunggu di sini, ya. Aku ambilin makanan dulu."
"Meong."
Sambil menunggu, si kucing merebahkan tubuh. Matanya mulai merem-merem, seiring menghangatnya tubuh setelah beberapa saat berjemur di bawah sorot mentari pagi menjelang siang ini.
Kemudian si Kucing bangun saat Zaya sudah kembali sambil membawakan makanan untuknya.
"Kamu makannya yang banyak, biar bayimu sehat," ucap Zaya, mirip Afriz ketika membujuknya makan.
Bedanya, Afriz menggunakan frasa 'bayi kita', bukan 'bayimu' seperti yang Zaya utarakan.
"Assalamu'alaikum," sapa seseorang yang tak Zaya sadari keberadaannya.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam," balas Zaya seraya mengelus kucing di depannya. Lalu mendongak, memastikan siapa tamunya. "Kak Una?"
Una tersenyum. "Lama ya, kita nggak ketemu. Kamu apa kabar?"
"Ka-kabar aku baik, Kak."
Ingin rasanya Zaya bertanya banyak hal kepada perempuan di hadapannya. "Kakak selama ini ke mana aja?" salah satunya.
Tetapi, yang keluar malah, "Kakak apa kabar?"
"Kabarku baik juga. Cuma nggak tenang karena kehilangan jejak anakku."
Begitu menyadari kekakuan dan kebekuan yang mendominasi, Zaya cepat-cepat membalas senyum. "Silakan mampir, Kak. Nggak enak kalau kita ngobrolnya di sini."
...***...
"Kakak sendirian aja?"
"Iya."
"Oooh." Zaya mengangguk-angguk, mengerti bahwa semua kejadian yang menimpa mereka tak begitu berpengaruh untuk lawan bicaranya ini.
Meski pernah mengalami hal yang paling tak diinginkan oleh seorang perempuan, Una tetaplah Una; anak seorang pejabat kecamatan yang ia kenal independen. Yang ketika jatuh tetaplah ada di lapisan langit lain yang dipenuhi bintang.
Sementara Zaya, kini makin mengerti. Tanpa harus jatuh pun ia sudah di tanah, yang ketika terperosok bisa langsung terkubur hidup-hidup.
"Kakak tahu dari mana kalau aku tinggal di sini?" tanya Zaya, seusai duduk dan meletakkan secangkir minuman teh kepada tamu di depannya.
"Dari Pam. Dia yang ngasih tahu kalau kamu tinggal di sini." Kini Una tersenyum, entah untuk alasan apa. "Kamu ternyata udah nikah?"
"Udah lama?"
"Ya, hampir sembilan bulan, lah."
Una mengangguk-angguk paham. "Udah isi?"
"Alhamdulillah udah."
Meski merasa gamang atas kenyataan yang didapatkan, Una lagi-lagi mengangguk paham. "Pam gimana, begitu tahu kalau kamu udah nikah?"
"Gimana apanya ya, Kak?" tanya Zaya, pura-pura tak mengerti.
"Dia udah lama suka sama kamu, kan?"
Tubuh Zaya mendadak kaku, tak begitu mengerti mengapa Una berkata begitu. "Enggak tahu. Tapi dia biasa aja, kok."
Lagi-lagi Una tersenyum, meski tak percaya ucapan Zaya begitu saja.
Karena mau dielak seperti apa pun, dia sudah jelas-jelas tahu bagaimana perasaan Pam kepada Zaya yang tak biasa.
Lantaran dia sendiri pernah mendengar Pam berkali-kali menyebut nama Zaya ketika malam itu berhubungan dengannya.
Kemudian, hanya hening yang saling bersahutan. Keduanya kehabisan topik obrolan.
__ADS_1
"Faiz ... mana?" tanya Una akhirnya, kala ia tak melihat sosok yang dicari selama ini.
Zaya sudah menduga jika akan seperti ini. Tetapi ia tak boleh kekanakan dengan menghalang-halangi Una untuk bertemu dengan anaknya. Sebab, cepat atau lambat semua ini akan terjadi.
Siap tidak siap, ia harus siap. Tak ada gunanya ia menyembunyikan keberadaan Faiz, lalu cengeng-cengengan tak jelas dengan merasa bahwa dirinya lebih berhak atas Faiz.
"Ada, dia tadi lagi tidur. Kalau udah bangun, mau aku mandiin," lirih Zaya. "Sebentar, Kak."
Zaya lekas beranjak dari duduknya, kemudian menuju kamar Faiz lanjut ke kamar mandi, tempat Faiz biasanya main air sembari bersih-bersih badan.
Naluri sebagai seorang ibu membawa langkah Una mengikuti Zaya yang sudah terlebih dahulu masuk. Rasanya ia sudah tak sabar untuk menemui anak laki-laki yang sudah satu tahun ia titipkan kepada Zaya, sampai-sampai ia lancang membuntuti nyonya rumah.
Dari balik pintu kamar mandi, Una dapat melihat laki-laki kecil nan gemuk itu. Anaknya tumbuh dengan baik, sebagaimana dugaannya dulu sebelum dirinya menitipkan bayinya kepada Zaya.
Tanpa terasa, air mata telah membasahi salah satu pipi Una. Sampai-sampai perempuan itu tak sadar ketika Zaya menoleh ke arahnya.
"Kakak ... mau mandiin Faiz, nggak?" tanya Zaya dengan suara bergetar.
Selepas mengusap pipi yang basah, Una begitu saja mengangguk. Terharu. Ia tentu ingin sekali menyentuh anaknya. Pertama kalinya sejak setahun terakhir. "Boleh?" tanyanya memastikan.
Walau harus menahan isakan dan air mata yang hampir saja lolos, Zaya mengangguk. Setelah itu mempercayakan Faiz kepada perempuan di depannya. "Sambil Kakak mandiin Faiz, aku ambil baju dia dulu ya, Kak."
Lalu Zaya cepat-cepat berlari selepas Faiz berpindah tangan.
Entah rasa haru karena Faiz telah bertemu dengan ibu kandungnya atau sedih karena sebentar lagi Faiz akan pergi, Zaya tak tahu.
Yang ia tahu, saat ini air matanya mengalir di kedua pipi. Isakannya pun tak luput untuk mengikuti, dengan pintu dan dinding yang menjadi saksi.
"Ya Allah," adunya. "Dulu aku nggak mau Faiz ikut aku, karena aku nggak bisa jamin kehidupan untuk dia. Aku juga masih pengin ngejar mimpi-mimpiku, masih mau menikmati masa-masa mudaku. Tapi sekarang, setelah aku nganggap dia sebagai bagian dari diriku, kenapa Kak Una dateng mau ngambil dia?" lanjutnya sambil terisak.
Zaya mengatur napasnya yang terengah-engah. "Faiz itu kadang emang nyebelin. Sering bikin aku kecapekan karena ngajakin main mulu. Kadang nggak mau ngerti kalau aku lagi sakit. Dia juga selalu ganggu aku sama Mas Afriz kalau kami lagi pengin berduaan. Tapi aku sayang banget sama dia, karena sekarang cuma dia yang mau temenan sama aku di saat orang-orang jauhin aku."
Bagi penyendiri sepertinya, satu teman yang bisa mengerti keadaannya memang sangat berarti.
Beberapa bulan lalu, ia memiliki dua teman mengobrol ketika Afriz tengah bekerja, yaitu Faiz dan Pak Hidup.
Sekarang, tinggal Faiz yang selalu menemaninya, setelah kepergian Pak Hidup ke kehidupan yang lebih kekal.
Kalau Faiz ikut meninggalkannya, ia tak tahu akan berteman dengan siapa.
Afriz? Laki-laki itu tak terlalu bisa Zaya andalkan untuk menjadi rekan mengobrol sebagaimana Faiz dan Pak Hidup.
Suaminya itu hanya bisa menjadi temannya saat di rumah saja, dan waktunya pun sangat terbatas.
Sekalipun bisa dijadikan tempat berkeluh kesah, pria itu malah sering menyepelekan sesuatu yang baginya sangat penting.
Membuatnya semakin sungkan untuk menumpahkan segala hal yang mengganjal di benak.
"Kamu kedinginan, ya?"
Ucapan lamat-lamat dari seseorang di ruangan lain, seketika menyadarkan Zaya. Ia bangkit dari posisinya yang semula duduk di balik pintu, lalu mengambilkan baju, celana, minyak telon, dan bedak bayi untuk Faiz yang pasti sudah kedinginan lantaran menunggu kedatangannya.
Kemudian membawa benda-benda tersebut ke tempat Faiz dan Una berada, untuk dipakaikan kepada pria kecil yang baru saja selesai mandi itu.
__ADS_1
...***...