Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar

Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar
?


__ADS_3

Satu hal yang meleset dari kabar yang terdengar dan kenyataan yang Pam lihat sendiri: Zaya ternyata tak sedang hamil sebagaimana apa yang pernah disampaikan oleh para temannya.


Dari yang ia dapati, perempuan itu masih biasa saja. Tidak menunjukkan adanya tanda-tanda tengah berbadan dua.


Justru ia menemukan fakta bahwa Zaya semakin cantik, walau kadar manis gadis itu tak berkurang sedikit pun. Padahal kulit perempuan itu hanya lebih cerah, tetapi sudah berhasil membuatnya sedikit pangling. Walau dari ekspresi dan tatapan perempuan itu tak jauh berbeda –tetap setenang laut dalam dan menyejukkan pandangan.


Malam ini, benak Pam belum bisa diajak berkompromi. Pertemuannya tadi dengan Zaya, justru menimbulkan getar itu lagi. Bahkan lebih hebat dari sebelum-sebelumnya, walau ia melihat dengan kepalanya sendiri bagaimana Zaya menikmati peran sebagai ibu.


Balita bernama Faiz itu telah memberi penjelasan tentang banyak hal. Bahwa ada cerita yang terlewat ia ikuti selama berjauhan dan tak berkomunikasi dengan perempuan itu.


Komunikasi. Ia jadi teringat sesuatu, dan buru-buru mengambil ponsel yang tergeletak di meja. Lalu mencari kontak bernama "Zaya" yang ia harap masih bisa dihubungi.


Pam dapat menghela napas lega, begitu mendapat sinyal bahwa nomor yang dituju masih bisa menerima sambungan darinya. Ia mesti menunggu respons, yang sayangnya tak ia dapatkan. Panggilannya sia-sia.


Tetapi tak apa. Dengan begini saja, sudah lebih dari cukup untuknya. Bisa jadi pula, Zaya sudah tidur. Atau karena tak tahu siapa yang melakukan panggilan, perempuan itu tak mengangkat panggilannya. Ia maklum.


Yang harus ia lakukan sekarang adalah mengirimkan pesan agar Zaya tahu kalau ini adalah nomornya.


[Ini nomerku disimpen ya. Kapan2 aku ke situ lagi. Pam]


Tetapi di luar dugaan, beberapa saat kemudian ada balasan. Lalu dibacanya pesan tersebut.


"Mas ada urusan apa, ya? Kalau sekiranya tidak terlalu penting, tolong tidak usah mengganggu saya lagi, Mas. Takutnya nanti menimbulkan fitnah, dan suami saya makin cemburu. Terima kasih. Tertanda, istri yang sedang bermesra-mesraan dengan suami tercinta."


Kalau dilihat-lihat dari isinya, amat jelas bukan Zaya yang mengirim balasan. Ia sangat hafal bahwa Zaya pemalu dan pendiam, yang sama sekali tak tergambar pada pesan barusan.


Ia pun paham betul, gadis itu tak pernah menyebut dirinya dengan kata ganti "saya" jika sedang berbicara dengannya. Penggunaan kosakatanya juga tak sebaku apa yang baru saja ia baca.


Lagi pun, tidak mungkin perempuan itu mengaku sedang bermesra-mesraan dengan suami tercinta. Sekalipun benar adanya, ia yakin bahwa Zaya bukanlah perempuan yang suka mengumbar romantisme dengan lawan jenis, walaupun sudah menjadi pasangan sah.


Pemuda berusia 24 tahun itu menggeleng pelan. Membayangkan Zaya tengah sibuk memadu kasih dengan sang suami, sama saja dengan menyakiti diri sendiri.


...***...


"Nggak jadi bangun, Yang? Masih ngilu, ya? Mau digendong?" tanya Afriz sedikit khawatir.


Bukannya ingin sok perhatian, tetapi ia merasa punya kewajiban untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

__ADS_1


Zaya menggerutu dalam posisinya yang bersembunyi di balik selimut. Sedari membuka mata, Afriz menggodanya terus menerus.


Bodohnya, setelah lelah karena aktivitas panas semalam, ia masih tergoda juga saat laki-laki itu mengajaknya berolahraga ranjang lagi dan baru selesai belum lama ini.


Entah karena memang pengaruh hormon masa subur atau karena sudah lama tak melakukannya, tetap saja itu membuatnya malu setengah mati.


Afriz menyengir di posisi duduknya, menyesuaikan dengan posisi kepala sang istri. "Kali aja kamu susah jalan dan perlu bantuan. Hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih karena kamu bikin Mas nggak nyangka kalau kamu ternyata hebat banget."


"Sanaaaa! Mas kalau mau mandi, ya mandi aja. Nggak usah nyebelin!"


Bukannya segera bangkit, Afriz malah terbaring dan memeluk istrinya dari belakang. Tak peduli saat perempuan itu berontak. "Gimana Mas bisa konsen mandi, kalau bawaannya ingat kamu terus?"


"Maaaaasss!"


"Apa, Sayang? Nggak baik kalau pagi-pagi suka teriak-teriak. Mas lebih suka kamu berkali-kali nyebut nama Mas pakai suara serak dan manja, kaya yang tadi." Afriz menggigit bibir bawahnya, membayangkan muka Zaya yang pasti sudah sangat merah.


Merasa pasokan oksigen di dalam selimut makin menipis, Zaya keluar dari persembunyiannya. Kemudian berbalik menghadap sang suami, seraya memperlihatkan ekspresi garangnya –yang sayangnya tak memberikan efek apa-apa. "Nggak usah ngungkit-ungkit itu."


"Kenapa?"


"Maluuu!" Zaya menarik selimut untuk ditutupkan ke wajahnya lagi, namun sudah ditahan oleh lawan bicaranya.


Zaya mengangguk.


Anggukan malu-malu barusan, justru menambah kegemasan. "Kenapa mesti malu? Mas suka, kok. Kamu bikin takjub."


"Hiiih, dasar!"


"Semua yang ada di kamu itu bikin mabuk kepayang, Yang."


"Halah." Walau umur gombalan dari Afriz itu mungkin sudah lebih tua dari usianya, Zaya tetap saja tersipu.


Dulu ia sempat ragu dengan anggota tubuhnya sendiri yang sering dijadikan objek ejekan dari para teman perempuannya.


Mereka bilang, bodi Zaya yang rata pasti tak menarik bagi lawan jenis, nanti bisa mengecewakan pasangan, bisa saja dijadikan alasan bagi suaminya untuk berselingkuh, dan seterusnya.


Padahal, yang saat itu Zaya yakini, laki-laki tak hanya memandang fisik yang semlohai, walau mungkin hanya bualan belaka. Sedangkan di sisi lain ia pun tak percaya kalau seseorang melihat orang lain berdasarkan hatinya saja. Pret banget, pikirnya saat itu.

__ADS_1


Tetapi entah kenapa Afriz berhasil membuatnya semakin percaya diri, bahwa pada akhirnya ada laki-laki yang menyayanginya secara tulus. Walau itu tak bisa ia jadikan pedoman, mengingat usia pernikahan mereka yang baru berjalan setengah tahun.


Ibarat tanaman jagung, umur ikatan keduanya baru berada pada tahap tumbuh tunas. Belum mengalami banyak proses dilematis sebagaimana tumbuhan jagung yang sudah siap panen –yang telah melewati fase serangan hama dan kebanjiran air yang bisa saja menghentikan daur hidup.


"Sekarang kamu beda sama Zaya yang sewaktu awal kita kenal dulu, yang pemalu banget. Kalau nggak diancam potong gaji, mana mau ngomong. Bawaannya nunduuuk mulu. Bahkan setelah nikah masih banyak diam. Kalau mau dicium suka menghindar. Ternyata makin ke sini makin kelihatan kalau kamu bisa bikin Mas betah di kamar."


Zaya sempat terdiam mendengar ujaran itu. "Dulu aku kira, bosku itu idaman banget. Udah ganteng, mapan, murah senyum, bertanggung jawab, dewasa, cepat kaki ringan tangan, soleh lagi. Ternyata makin ke sini tambah ...."


"Tambah apa, hm? Tambah memesona?"


"Nggak. Yang ada malah tambah ngeres."


"Kaya gini, bukan?"


"Nggak usah pegang-pegang, ih," sentak Zaya ketika tangan suaminya sudah mulai bergerak. Mata kecilnya seketika melotot, kala tangan itu hampir menjelajahi area-area pribadinya.


Bukannya mengindahkan larangan barusan, tangan Afriz justru makin tak bisa diam. Rajukan Zaya malah terdengar begitu manja dan menggoda di telinganya. "Sekali lagi, ya, mumpung belum azan."


"Nggak mau." Tubuh Zaya berbalik, memunggungi Afriz lagi. "Aku ... capek."


Kedua mata Afriz menyipit. Lalu tersenyum mendengar pengakuan barusan. Ia paham, Zaya pasti butuh istirahat setelah waktu tidurnya terus-terusan ia ganggu.


"Kalau gitu, Mas mandi dulu, ya." Afriz menyentakkan kaki ke atas, lalu bangkit dari posisi baringnya hingga menimbulkan gerak alas tidur mereka, "Dan maaf, karena Mas bikin kamu capek sepanjang malam ini," cengirnya menambahkan.


...***...


"Mas tahu dari mana kalau tadi malam ada tamu?"


"Bu Lincah."


Mendengar nama yang baru saja disebut oleh suaminya, Zaya seketika terperangah. Tetapi tak terlalu kaget. "Bu Lincah, ya, Mas?" tanyanya sekadar memastikan, yang seketika dibalas anggukan.


Zaya ingat, Pak Hidup selalu mewanti-wanti agar ia terus berhati-hati jika sudah berurusan dengan nama itu.


Perempuan tersebut, bisa dibilang tak begitu cocok dengan ayah mertuanya, karena alasan-alasan yang tak pernah diutarakan secara jelas oleh laki-laki paruh baya itu.


Satu hal yang bisa Zaya tangkap adalah, bahwa Bu Lincah merupakan bibi dari salah satu gadis yang pernah menjalin hubungan dengan Afriz.

__ADS_1


Artinya, motif Bu Lincah selalu mengurusi menantu pilihan Pak Hidup tidak lain dan tak bukan adalah dendam. Maka tak heran kalau jarak tempat tinggal mereka yang cukup jauh tak menghalangi wanita itu untuk mencari bahan bakar keributan.


__ADS_2