Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar

Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar
Memori


__ADS_3

Tak ada pembahasan perihal anak di antara Zaya dan Afriz sejak pembicaraan keduanya waktu itu. Afriz memilih menyibukkan diri dengan lebih sering di studio foto, salah satu tempat usahanya yang dia kelola sendiri dalam beberapa bulan belakangan.


Sebelumnya, tempat ini merupakan lokasi pertamanya saat bertemu dengan Zaya yang merupakan salah satu karyawati barunya. Kalau diingat-ingat lagi, perjumpaan pertamanya dengan Zaya lucu juga.


...*...


Afriz mengenakan kaus kaki hitam sebelah kanannya, dengan ponsel yang dijepitkan di antara bahu dan telinga kanan. "Kamu kan bisa nyetak di studio foto paling deket dari situ. Abang beneran lagi sibuk, dan nggak ada jadwal kunjung pegawai," lalu dipakainya sepatu pantofel hitamnya, dan membenarkan posisi teleponnya supaya lebih nyaman.


"Ih, kan cuma bentar. Tinggal bilang sama yang jaga studio, mau nyetak berapa banyak, ukuran segini, mau diambil nanti siang atau sore, terus Abang tinggal kerja juga bisa. Nggak sampai 10 menit, itu."


"Bilang saja minta gratisan."


"Bilang aja nggak mau rugi. Lagian aku minta tolong sama kakak sendiri –yang kebetulan punya studio foto lumayan gede, punya dua cabang, tapi kebetulan cabangnya nggak sampai di deket tempat tinggal adiknya yang udah bersuami. Terus, kebetulan flashdisk warna putih yang isinya tiga ratus lima puluhan foto pernikahan si Adik yang belum dicetak ini, ada di tempat si Abang. Ya udah, emang nasib si Abang, tuh. Biar sekalian sidak, nyari hal-hal nggak beres yang selama ini luput dari pengamatan."


Sebelum ceramah adik satu-satunya itu semakin melantur ke mana-mana, akhirnya Afriz mencari benda mungil yang sudah membuatnya repot pada pagi hari ini, berdasarkan instruksi sang adik. Setelah ketemu, dia meluncur ke Studio Foto Sobat Tepat.


Mungkin karena masih pagi, keadaan masih sangat sepi. Akan tetapi, setelah melihat jarum arloji, jam segini seharusnya mesin cetak foto sudah dipanaskan, atau minimal para pegawai sudah ada semua, seperti pada setiap kunjungan paginya selama ini.


Lah, ini kok cuma satu yang sudah datang?


"Permisi," sapa Afriz ramah.


Wanita itu meletakkan lap yang sejak tadi dipegang. "Iya. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.


Afriz mengeluarkan benda mungil dari saku celana, lalu menyerahkannya kepada penjaga di hadapan. "Cetak semua foto yang ada di sini, ukuran 4R semua."


Melihat sebuah flashdisk yang diulurkan, lawan bicaranya mengangguk mengerti. "Saya copy sebentar, ya, Pak."


Pak?


Afriz hampir tertawa, meskipun ini bukan pertama kalinya dia dipanggil demikian. Hanya saja, untuk kali ini dia merasa geli.


"Setahu saya, biasanya jam delapan pagi sudah buka dan sudah komplit orangnya. Kok hampir jam setengah sembilan baru Mbak-nya yang sudah datang? Yang lain ke mana?"


"Mungkin ada urusan, Pak."


Pak lagi?


"Kok cuma mungkin? Memangnya tidak dikabari?"


Lawan bicara Afriz tampak menggeleng, masih fokus pada layar komputer.

__ADS_1


"Apa memang biasanya seperti ini?"


Barulah wanita itu menoleh. "Saya kurang tahu. Tapi sejak saya kerja di sini selama dua minggu ini, ya memang begini."


Afriz mengangguk pelan, sekaligus mafhum. Pantas saja cabang yang di sini sering gonta-ganti pegawai, dengan alasan yang macam-macam. Padahal jumlah pegawai pada setiap cabang pun sudah sama. Dengan dua karyawati yang berjaga di depan, satu pencetak foto, satu fotografer tetap dan satu fotografer lepas, dia rasa sudah cukup. Tapi kok di sini ada yang mengeluh kalau pekerjaan dan gaji tidak setimpal, sementara bayaran sudah dia sesuaikan dengan tugas.


"Berhubung pencetak fotonya belum datang, mau Bapak tunggu, apa hasilnya mau diambil kapan?"


"Saya ambil nanti malam atau besok, mungkin."


"Dengan atas nama?"


"Afriz. Afrizal Cipta Prasaja." Walau tidak terlalu penting, entah mengapa Afriz memang sedang ingin menyebutkan nama lengkapnya.


"357 foto ukuran 4R atas nama Pak Afrizal Cipta Prasaja?"


Afriz tersenyum lagi, mendengar kata Pak yang terucap dari mulut wanita muda di sekitarnya itu. Tetapi dia tak lupa mengiyakan. "Maaf. Kalau boleh tahu, nama Mbak-nya siapa?"


"Zaya."


"Iya, siapa?"


"Nama saya Ihzaya Nurina, Pak. Bapak bisa memanggil dengan Zaya."


Afriz tertawa saat menyadari nama perempuan di depannya. "Oh, Zaya?"


Perempuan bernama Zaya itu mengangguk. "Mau bayar sekarang atau nanti, Pak?"


Afriz nyengir. Kalau karyawati lama, mungkin tidak akan berani meminta uang bayar cetak foto kepadanya, mengingat dia adalah pemilik tempat ini. Walau sudah jelas, apa yang dilakukan oleh salah satu pegawainya itu sudah profesional. "Sekarang saja," jawabnya.


...*...


Afriz menyadari bahwa sebegitu asing hubungan antara dirinya dan Zaya waktu itu. Bahkan bila dipikir-pikir lagi, hubungan mereka sekarang pun masih punya banyak kekurangan yang perlu ditambal. Komunikasi dan pola pikir yang terkadang belum selaras, masih sering menjadi sandungan yang cukup berarti.


Zaya yang menganggap bahwa perkataan suami harus selalu benar dan mesti dipatuhi, agak sedikit berbeda dengan Afriz yang penuh kompromi. Dia tak mau relasi mereka hanya didominasi oleh keputusan dan aturan darinya yang masih banyak kelirunya ini.


...***...


Dalam kesempatan kunjung pegawai kali ini, Afriz dibuat agak tak menyangka saat bertemu dengan Vita. Dia menyadari bahwa wanita itu agak menjaga jarak darinya, saat mengetahui siapa bos di sini. Walau pada akhirnya, suasana jadi lebih cair.


"Dengar-dengar, kamu udah nikah, ya?"

__ADS_1


Afriz mengangkat kepala, memandang wajah Vita, wanita yang pernah mengisi hatinya itu. "Ya."


"Kok nggak kabar-kabar?"


Memang nggak ada pesta. Cuma acara keluarga saja, kok. Teman-teman dan rekan kerja banyak yang tak tahu," sahutnya.


Lawan bicara Afriz mengangguk-angguk paham. "Oooh. Berarti emang nggak dipublikasikan, ya. Atau sengaja, biar nggak ketahuan punya istri?" Merasa tak ada jarak, dia jadi punya peluang meledek Afriz yang justru tertawa.


"Ya, memang nggak perlu koar-koar, kan? Yang terpenting pernikahan kami sah. Orang-orang cukup tahu bahwa aku sudah menikah."


"Iya, sih. Bener juga. Udah lama nikahnya?"


"Hampir enam bulanan, lah."


Vita tampak mengamati penampilan Afriz. "Aku seneng dengernya, kalau akhirnya kamu menemukan pasangan yang tepat. Aku lihat-lihat juga, kamu kayaknya bahagia banget. Badan kamu tampak lebih berisi, jadi makin ramah juga. Semoga kayak gini terus, ya."


Kali ini senyum terbit di bibir Afriz. Baginya, Vita masih sama seperti dulu. Walau penampilannya sering dianggap tak terlalu sopan oleh orang-orang, sebetulnya perempuan itu bersikap sangat baik. Ia tak perlu ragu untuk mengaminkan sebuah pepatah yang mengatakan bahwa jangan hanya melihat seseorang hanya berdasarkan tampilan luarnya saja. "Aamiiin. Terima kasih, Vit."


Perempuan berusia 27 tahun itu tersenyum, amat manis. "Sama-sama."


"Kamu sendiri, apa sudah menikah?"


Lagi-lagi, Vita tersenyum. "Iya, aku udah nikah. Udah punya anak, malah. Tapi ya gitu."


"Gitu apanya?"


Untuk kesekian kalinya, Vita tersenyum sebelum menceritakan apa yang terjadi dalam rumah tangganya, yang pada intinya sedang mengalami gonjang-ganjing.


"Sori, bukannya mau bikin kamu ingat itu apalagi bermaksud ikut campur. Aku beneran nggak tahu kalau hubungan kalian lagi ..." ucap Afriz begitu menggantung, kala Vita memungkasi ceritanya.


"Nggak usah dipikirin, lah. Ini sama sekali bukan salah kamu, kok. Akunya aja spontan cerita. Lagian ...." Pandangan Vita tampak menerawang, "... emang suamiku aja sih yang kurang bertanggung jawab. Dia nggak mau tahu kalau kebutuhan anak dan istrinya makin banyak." Kali ini pandangan dan lengkungan di bibirnya ia tujukan kembali kepada Afriz. "Makanya, sebagai orang yang kenal baik sama kamu, aku cuma bisa berpesan supaya kamu selalu berusaha bikin keluarga kamu bahagia, gimanapun caranya."


Afriz mengiyakan. Lalu menggumamkan sedikit kekaguman di hati. Wanita di depannya ini tak jauh berbeda dengan Vita yang dulu ia kenal. Tetap kuat menghadapi kenyataan, walau pahit sekalipun.


Dan mau tak mau, ada rasa bangga dalam diri Afriz, pernah memacari perempuan secantik dan semenarik itu selama hampir empat tahun lamanya. Apalagi Vita memperlakukannya dengan baik agar dirinya tetap merasa nyaman berada di sisi wanita itu. Hubungan keduanya berakhir secara baik-baik, tak pula banyak drama, walau Vita menghilang secara tiba-tiba, tiga tahun yang lalu.


Berada di tempat yang sama dengan salah satu bagian terindah pada masa lalu, membuat Afriz berandai-andai.


Andai dulu rencana pernikahannya dengan Vita direstui oleh orang tuanya, sudah tentu sekarang Afriz telah mewujudkan mimpi-mimpi masa mudanya. Kalau saja beberapa tahun yang lalu ayahnya tak menolak melamarkan Vita untuknya, mungkin setiap pagi dia sudah bisa mendengar ocehan anak mereka, lalu malam harinya dia akan mengecup dahi buah hatinya yang sudah terlempar ke alam mimpi.


...***...

__ADS_1


__ADS_2