
Sejak mengetahui informasi terkait nama rumah sakit yang merawat Zaya, Afriz seperti mendapatkan angin segar, kendati kekhawatirannya pun belum berkurang.
Dengan kabar yang begitu adanya, tentu keadaan istrinya tidak sedang baik-baik saja. Tetapi setidaknya, keberadaan Zaya sudah menemukan titik terang agar ia bisa mendampingi perempuan hamil itu.
"Maaf, Pak. Pasien atas nama Ihzaya Nurina sudah keluar dari sini sejak satu jam yang lalu."
Meski begitu, harapan itu masih terus Afriz sematkan. Ia masih punya kesempatan. "Kalau saya boleh tahu, dia pulang ke mana? Boleh saya minta alamatnya?"
"Maaf sekali, Pak. Demi kerahasiaan identitas pasien, kami tidak bisa memberikan informasi yang Bapak minta."
Pernyataan dari pihak rumah sakit barusan, menimbulkan kebuntuan yang baru di benak Afriz. Laki-laki itu merasa seperti tengah dipermainkan oleh banyak pihak yang seolah tak menginginkan pertemuannya dengan sang istri. "Terima kasih," ucapnya, mulai putus asa. Lantas ia mengusap wajah menggunakan kedua telapak tangan. Lagi-lagi, ia gagal menemukan keberadaan Zaya lantaran kurang cepat dalam bertindak. Ia selalu terlambat mendatangi tempat Zaya bersembunyi, dan memaksa perjumpaan mereka kian terulur.
"Mau kamu apa sih, Ya?" desah Afriz tak mengerti. Ternyata diamnya seorang perempuan jauh lebih menyeramkan ketimbang saat dulu ia diomeli para kekasihnya karena tak punya waktu untuk liburan dan berduaan.
Terlebih, sosok yang ia yakini sedang bersama Zaya, masih menyembunyikan keberadaan Zaya sedemikian rupa. Seolah benar-benar anti terhadapnya. Tetapi Afriz bertekad bahwa ia tak akan menyerah hanya karena hal ini. Toh dengan kecanggihan teknologi serta luasnya koneksi yang ia miliki, ia bisa menemukan sang istri, meski belum ada tanda-tandanya sampai detik ini.
...***...
Setelah tidur yang cukup panjang, akhirnya kedua mata Zaya terbuka. Pelan-pelan ia menyesuaikan diri, mengamati sekitarnya, lantas mengerjap beberapa kali. Setelah itu berusaha bangun, mengabaikan sakit punggung yang tiba-tiba menyergap.
"Udah bangun?"
Zaya sontak terlonjak kaget saat mendengar seorang perempuan bertanya padanya.
"Lapar, nggak? Atau haus?"
__ADS_1
Mendengar pertanyaan dari orang yang sama, Zaya menyadari bahwa dirinya sudah lupa kapan terakhir kali ia merasa lapar. Mungkin tiga hari yang lalu, entah. Ia tak ingat pasti.
Yang jelas, karena kehilangan nafsu makan, dirinya cuma mengonsumsi sedikit bubur yang disediakan oleh pihak rumah sakit, setiap kali waktu makannya tiba.
"Cuma haus, tapi nggak laper."
Entah maklum atau merasa miris, Una hanya tersenyum ketika Zaya memberi jawaban untuknya. Lalu ia mengambil gelas berisi air minum untuk diserahkan kepada Zaya. "Setelah ini kamu makan, ya. Sedikit nggak apa-apa, yang penting makan dulu," ucapnya kemudian, sebelum menuju dapur.
Sepeninggal Una dari hadapannya, Zaya terdiam. Benaknya dipenuhi banyak kemungkinan. Bisa jadi, semenjak ia menginjakkan kaki di rumah ini hingga sekarang, ia sudah terlalu banyak merepotkan Una dari segi waktu, tenaga, pikiran, serta materi.
Dengan begitu, percuma saja ia pergi dari rumah Afriz jika pada akhirnya ia tetap menumpang kepada orang lain. Di usianya yang kedua puluh satu tahun ini, nyatanya ia tak bisa hidup mandiri sebagaimana harapannya dulu. Ia tetap belum bisa berdiri dengan kakinya sendiri, dan harus bersandar kepada orang lain tanpa tahu diri.
"Oh, dan satu lagi: nggak usah kebanyakan tingkah. Kamu tuh harusnya sadar diri, kalau di rumah abangku, kamu dan anakmu itu cuma numpang."
"Dulu sewaktu hamil, saya tetap seperti biasanya. Keponakan saya juga tetap beraktivitas seperti hari-hari sebelum hamil. Tidak ada alasan untuk jadi manja. Itu memang kebiasaan, sih. Baik hamil maupun tidak hamil, sama saja. Kalau dasarnya manja, hamil bisa dijadikan sebagai alasan untuk malas-malasan."
Sejak awal, ia telah menyeret Afriz ke dalam masalah yang sepatutnya ia selesaikan sendiri. Lalu, suaminya itu harus memeras pikiran, waktu, serta tenaga untuk memenuhi kebutuhannya. Lagi, Afriz bahkan mesti menabung untuk menebus keinginannya untuk berkuliah lagi.
Kemudian ketika dirinya mulai hamil, suaminya itu jadi bekerja jauh lebih keras dengan menerima pekerjaan yang mengharuskan untuk pergi ke luar daerah.
Zaya pun masih ingat, Afriz pernah bertaruh nyawa saat berusaha menuruti keinginannya untuk makan buah kedondong.
Coba hitung, ada berapa banyak pengorbanan yang sudah Afriz lakukan untuknya.
Kini, setelah banyaknya hal yang dikorbankan oleh Afriz, secara tak langsung Zaya mulai melemparkan hal tersebut kepada Una.
__ADS_1
Lagi-lagi ia tak bisa menyelesaikan persoalannya sendiri. Ia mesti melibatkan orang lain. Dan ia tak boleh terus-menerus begini ---menyusahkan dan merepotkan orang-orang yang ada di dekatnya.
"Kenapa, Ya? Ada yang sakit lagi?" tanya Una yang baru kembali ke hadapan Zaya, dan langsung membuat lawan bicaranya terlonjak kaget.
Zaya menggeleng. "Eh, enggak. Cuma agak pegel."
"Jangan terlalu banyak pikiran, biar pegelnya ilang."
Lantas Zaya mengangguki pesan itu, meski heran apa hubungan antara banyak pikiran dan anggota tubuhnya yang pegal.
"Makan dulu. Sehabis kamu makan, kita jalan-jalan sebentar."
"Ke mana?"
"Nanti kamu tahu." Una tersenyum seraya menepuk bahu Zaya, memberi kekuatan kepada perempuan itu. "Makan, yuk. Udah disiapin sama bibi."
Satu hal berbeda yang Zaya rasakan kini, di rumah Una, dirinya dilayani sedemikian rupa. Ia tak perlu capek-capek menyiapkan makanan, tak perlu pula bersih-bersih rumah, juga tak butuh mencuci pakaian. Semuanya sudah beres, ia mau apa tinggal bilang. Tetapi, ia justru merasa lelah dan bosan karena tak melakukan apa-apa itu tadi.
Sebagaimana yang dikatakan tadi, Una benar-benar mengajak Zaya jalan-jalan berdua. Perempuan itu menyetir mobil sendiri, menggambarkan betapa mandirinya ia pada usianya yang lebih dari dua puluh tiga tahun. "Kamu pengin ke mana, Ya?"
Sempat terkejut untuk beberapa detik lamanya, Zaya menggeleng. "Aku nggak hafal daerah sini, Kak. Jadi, aku ngikut aja."
"Oke, kalau gitu." Una menginjak pedal gas, mempercepat laju kendaraannya untuk berkeliling sekaligus memberi waktu bagi Zaya merilekskan diri sebelum ia bawa ke klinik kejiwaan untuk berkonsultasi.
Hari ini, mau tak mau Una ke tempat itu lagi. Bukan sebagai orang yang akan berkonsultasi, melainkan sebagai pendamping.
__ADS_1
...***...