
Zaya sudah bangun pagi-pagi sekali, mendahului azan Subuh. Karena jujur saja, apa yang tadi malam terjadi kepadanya dan Afriz membuatnya sulit untuk tidur dengan nyenyak.
Kini ia sibuk memegangi bibirnya sendiri, mendadak merasa malu setengah mati kala mengingat kejadian tadi malam.
Lalu ia melihat ke arah dadanya. Tengah malam tadi, dua kancing baju baby doll yang menutup bagian tubuh atasnya itu sampai terbuka karena ulah suaminya yang suka meraba-raba hingga membuat ia terlena dan nyaris lepas kendali.
Hanya itu yang tadi malam terjadi kepada keduanya. Tidak lebih, walau sebetulnya hampir keterusan jika kambing-kambing Pak Kuswin tidak heboh dan memaksa keduanya mengecek beberapa hewan berkaki empat itu di kandang.
Tetapi, itu saja sudah berhasil membuat Zaya merasa perlu ditelan bumi saat ini juga, dan butuh menggeleng-geleng untuk mengenyahkan bayang-bayang tersebut.
Afriz seketika membuka mata saat mendengar suara azan Subuh. Arah pandangnya tertuju ke atas untuk menyesuaikan intensitas cahaya yang minim.
Dia mendapati blandar kayu dan rusuk bambu di antara susunan genteng. Lalu menoleh, mencari seseorang yang mungkin saja masih ada di sampingnya. Namun, dia tak menemukan sosok itu.
Seusai nyawanya mulai terkumpul, laki-laki itu bangkit dari baringnya, kemudian mengucek mata. Mengumpulkan sisa nyawa yang masih tertinggal di alam tidur. Kemudian berdiri, menuju kamar mandi untuk buang air kecil.
Lelaki itu bertemu Zaya, begitu melewati pintu kamar. Wanita di depannya itu langsung menunduk, saat berhadapan dengannya.
Setelah apa yang terjadi tadi malam, istrinya justru bersikap seperti ini?
Lalu dengan jailnya Afriz menutup akses jalan ke pintu kamar. Hendak mengetahui bagaimana reaksi istrinya.
"Mas minggir, aku mau lewat," ucap Zaya tanpa mau melihat lawan bicaranya.
"Kenapa nunduk?" tanyanya mengabaikan ucapan Zaya barusan.
"Nggak kenapa-napa."
"Ya kalau nggak kenapa-napa, sini lihat Mas."
Zaya hanya menggeleng. Masih dalam posisi yang sama.
Tak mau berdebat lebih lama karena merasa tak sanggup menahan kencing, Afriz memilih mengalah. Ia menggeser tubuhnya, memberi jalan kepada Zaya untuk masuk kamar. "Sana, masuk kamar dulu. Tapi kamu salat Subuhnya nunggu Mas. Mas mau pipis sama wudu dulu."
Zaya mengangguk, dan setengah berlari menuju kamar. Sementara itu, Afriz hanya menatap kepergian istrinya dengan pandangan aneh. Kemudian hanya sanggup geleng-geleng, sambil mulai melangkah ke tujuannya tadi.
Sehabis berwudu, Afriz menuju ke kamar pribadi Zaya. Istrinya sudah menyiapkan kopiah dan sarung sekaligus sajadah yang sudah digelarkan untuknya.
Tetapi yang Afriz dapati adalah Zaya yang terus-terusan menunduk sejak dia masuk ke ruangan ini hingga selesai mengenakan sarung dan kopiah. Membuat dahinya sedikit berkerut karena hal tersebut, dan kerutannya baru berhenti saat dirinya hendak memimpin salat mereka.
Kerutan di kening Afriz muncul lagi tatkala mereka selesai salat. Zaya benar-benar tak mau menatapnya, walau tetap bersedia mencium punggung tangannya. Padahal dia merasa tak memiliki salah apa-apa terhadap wanita di depannya ini.
Lagi pula, apa yang tadi malam Afriz dapatkan memang wajar, kan?
"Mas perhatikan dari tadi, kok kamu nunduk terus. Kenapa?"
__ADS_1
"Nggak kenapa-napa."
"Mas punya salah ke kamu?"
Zaya hanya menggeleng.
"Ya kalau Mas nggak salah, harusnya lihat Mas. Dari tadi nunduuuk terus. Mas jadi khawatir, kalau kamu kaya gini terus. Berasa jahat banget Mas ini." Afriz menangkup wajah istrinya, memaksa agar lawan bicaranya mau menatap matanya. Mencoba menyelami pikiran perempuan itu melalui kedua matanya.
Dapat Afriz lihat kalau wajah istrinya seketika memerah, tampak begitu jelas di antara kain mukena yang putih. "Ada masalah?" tanyanya lagi.
Lagi-lagi Zaya menggeleng.
Afriz menyeringai jail, begitu mendapatkan kesimpulan yang ia karang secara asal-asalan. "Ciuman yang tadi malam kurang, ya? Pengin nambah?"
Belum sempat Zaya memberi tanggapan ataupun menolak, Afriz sudah terlebih dahulu bertindak.
...***...
"Bapak ke mana, Yang, kok nggak kelihatan?"
Zaya yang sedang sibuk mengulek cabai merah, menoleh sebentar. "Cari rumput, Mas."
"Sepagi ini?"
Zaya mengiyakan. Sebab, hal yang ditanyakan oleh suaminya itu sudah menjadi kebiasaan ayahnya.
Mendengar penjelasan dari lawan bicaranya, Afriz mengangguk-angguk paham. Sekaligus kagum. Sebab, walau tadi malam Pak Kuswin menyaksikan wayang hingga dinihari, tetapi beliau tetap bangun seperti biasa.
Kemudian Afriz melanjutkan kegiatannya. "Ini diapain, Yang, kalau sudah dikupas?" tanyanya sambil menunjukkan bawang putih yang baru saja dikupasnya.
Zaya menyerahkan sebuah mangkuk plastik yang sudah dituangi air. "Dicemplungin sini, terus dicuci."
"Bawang merahnya dikupas sekalian, nggak?"
"Iya. Kalau udah, dicemplungin situ juga, sama sekalian dicuci."
Afriz mengacungkan jempol tangan kanannya. Lalu mulai mengupas bawang merah yang sudah dipegangnya.
Tak sampai lima menit, Zaya mendengar isakan pelan dari laki-laki di sebelahnya. "Kenapa, Mas? Pedes ya, matanya?" tanyanya seraya tersenyum geli.
"Heem. Ngupas bawang aja nangis, gimana kalau ditinggalin kamu?"
Zaya menepuk lengan laki-laki itu, pelan. "Hais. Udah nangis aja masih sempet-sempetnya gombal."
"Tapi ini beneran, deh, Yang. Kok bisa pedes gini, ya?"
__ADS_1
Zaya mengecek apa yang salah dengan cara Afriz mengupas bawang. "Ya emang kayak gitu, kalau ujung yang ditempeli akar dipotong. Terus, masih sanggup ngupas apa enggak?"
"Nah, yang namanya suami-istri itu memang sudah seharusnya begini. Rukun. Bapak jadi senang lihatnya."
Suara mertua laki-lakinya membuat Afriz tak jadi menjawab perihal ketidakberatannya meneruskan mengupas bawang merah yang tinggal beberapa buah saja.
Pak Kuswin tersenyum seraya mendekati Afriz. "Le, nanti kalian pulangnya agak siangan, ya. Bapak mau minta tolong sesuatu," ucapnya melanjutkan perkataannya barusan.
Afriz menoleh, menatap mertuanya. "Siap, Pak. Mau minta tolong apa?" tanyanya sambil memegang bawang dan pisau.
"Ini. Bapak minta tolong kamu mengusungkan rumput dari ladang, pakai motor Bapak. Nanti Bapak bantu kamu menatanya di motor."
"Oh, ya-ya. Siap. Mau berangkat sekarang, atau ...."
"Agak nanti saja, Le, kalau motornya sudah Bapak panasi."
"Siap, Pak."
Sepeninggal Pak Kuswin dari hadapan, Zaya bertanya, "Emangnya Mas nggak buru-buru, kalau mesti bantu Bapak ngusung rumput?"
"Nggak. Lagian mumpung kita masih di sini juga, kan?"
Sementara sepasang suami-istri itu sedang di dapur, Bu Darmi yang baru saja pulang, mendekati Pak Kuswin yang kebetulan hendak mendorong motor ke halaman rumah. Sepertinya wanita itu ingin mengatakan sesuatu.
"Bagaimana, Pak?" ucapnya dengan suara yang hanya bisa didengar oleh suaminya.
"Apanya yang bagaimana?" tanya Pak Kuswin masih sibuk mendorong motor.
Bu Darmi dengan sabar menunggu suaminya itu. "Ya mantu dan anak kita. Apa tadi malam mereka sudah begituan?" tanyanya, begitu Pak Kuswin telah berhenti.
"Ah iya, Bapak jadi ingat." Pak Kuswin menoleh ke kanan dan kiri, memastikan bahwa tidak ada tetangga yang lewat. "Tadi malam Bapak lihat Mas Pam di dekat pertunjukan wayang," katanya pelan, tak menjawab pertanyaan istrinya sama sekali.
Raut cemas mendominasi wajah Bu Darmi. "Ini yang Ibu khawatirkan. Lha terus, dia ketemu Zaya?"
"Alhamdulillah tidak. Zaya tadi malam di rumah saja."
"Kalau mereka ketemuannya sembunyi-sembunyi bagaimana, Pak?"
Pak Kuswin terdiam. Kemungkinan yang diutarakan oleh istrinya itu bisa ya bisa tidak. Tetapi dirinya yakin bahwa putrinya tidak menemui Pam. "Kalau sudah ketemu, pasti Mas Pam tidak bakal mencari di tempat wayang, to? Jadi, Bapak kira apa yang kamu takutkan itu tidak terjadi."
Wajah Bu Darmi tampak tak sekalut tadi, walau belum sepenuhnya merasa lega. "Nah, Ibu jadi ingat sesuatu juga. Bapak belum tahu kan, kalau selama pernikahan mereka, Nak Afriz belum pernah begituan dengan anak kita? Ibu khawatir kalau-kalau Zaya malah tidak mau memberikan hak suaminya karena masih terganjal perasaannya ke Mas Pram. Jadi, Ibu rasa, jalan satu-satunya supaya rumah tangga mereka tidak bubar, ya mereka harus segera punya anak."
"Bu, jangan memaksakan kehendak begitu. Biarkan mereka berumah tangga secara alami."
"Kalau Mas Pam masih terus berusaha mencari Zaya, sedangkan Zaya juga belum bisa dipercaya, Ibu tidak bisa tinggal diam, Pak."
__ADS_1
...***...