
Bus yang penuh dan begitu sesak, membuat pernapasan Zaya terganggu. Kepala perempuan itu serasa berputar, dan pandangannya kabur.
Interaksi para penumpang yang bising, menambah pusing kepalanya. Aroma parfum bercampur keringat yang begitu menyengat, membuat perutnya mual seketika.
Dan untuk mengurangi kemungkinan muntah hingga pingsan, ia memilih bersandar pada jok bus, kemudian memejamkan mata. Berharap perasaan tak enaknya ini sirna jika ia segera terlelap.
Akan tetapi, harapan tinggal harapan. Kesadaran Zaya terbagi. Matanya memang terpejam, namun sebagian besar kesadarannya berada di tempat lain. Perasaan gerah sekaligus tak nyaman, masih mendominasi.
Tubuh Zaya merasakan laju bus yang ditumpanginya.
Hingga satu per satu penumpang lain mulai turun ketika tiba di tujuannya masing-masing, sehingga kendaraan roda empat ini makin longgar dan membuat napas Zaya terasa lebih lapang. Duduknya pun kian nyaman, lantaran tubuhnya tak terdesak-desak seperti tadi.
Dalam keadaan begini, Zaya merasa lebih baik. Sekarang ia lebih leluasa memandang sungai besar yang dilewati oleh bus ini, melalui kaca di sampingnya. Selain itu, ia dapat merasakan getaran kendaraan ketika melintasi jembatan. Ia pun harus ekstra berhati-hati setiap kali tubuh Faiz menekan area perutnya.
"Tujuan mana, Mbak?" tanya kondektur bus.
"Oh." Zaya mengerti bahwa ini adalah waktunya untuk membayar ongkos. "Pasar Tumpangan." Diserahkannya uang kertas dua puluh ribuan kepada kernet. Lalu menunggu kembalian. "Terima kasih," tuturnya setelah menerima uang sejumlah delapan ribu rupiah dari lawan bicaranya.
Seperginya kondektur, pikiran Zaya kembali mengawang. Ia teringat banyak hal terkait kekuatan fisik dan kehamilannya sekarang.
Perempuan itu sangat sadar, fisiknya tak kuat untuk bekerja yang berat-berat. Bahkan karena hamil saja, tenaganya sudah terkuras habis.
Ternyata daya tahan tubuhnya sangat berbeda dengan para perempuan lain yang pernah hamil, sebagaimana yang sempat dikatakan oleh Bu Lincah tadi pagi.
"Dulu sewaktu hamil, saya tetap seperti biasanya. Keponakan saya juga tetap beraktivitas seperti hari-hari sebelum hamil. Tidak ada alasan untuk jadi manja. Itu memang kebiasaan, sih. Baik hamil maupun tidak hamil, sama saja. Kalau dasarnya manja, hamil bisa dijadikan sebagai alasan untuk malas-malasan."
Selain ucapan Bu Lincah yang begitu nyelekit, Zaya pun pernah melihat sendiri bagaimana Una dan Nida yang tetap aktif berkegiatan meski tengah hamil.
Memang benar, dibanding wanita-wanita di sekitarnya itu, ia yang paling berbeda sendiri. Tersebab tubuhnya yang terlalu ringkih tadi.
Kenyataan ini seharusnya ia terima. Ia semestinya tak usah sakit hati karena dibanding-bandingkan dengan perempuan lain. Ia sepatutnya berkaca dan membenarkan perkataan Bu Lincah, bukannya malah menangis tak jelas kemudian kabur dari rumah.
Tetapi ia paham, hatinya terlalu kecil untuk menerima tekanan semacam itu. Ia mengerti bahwa mentalnya pun tak sekuat baja. Ia lelah dan merasa sesak, makanya perlu menenangkan diri di tempat kedua orangtuanya.
Walau ia sendiri bingung akan menjelaskan apa, ketika bapak dan ibunya mencium keanehan pada dirinya nanti.
"Pasar Tumpangan, Pasar Tumpangan. Naik-turun, naik-turun. Dobel-dobel."
Tanpa Zaya sadari, kendaraan telah sampai di tujuan. Lalu perempuan itu mempersiapkan bawaan serta mengatur posisi agar lebih mudah membopong Faiz saat keluar kendaraan.
Seturunnya dari bus, Zaya sudah dicegat-cegat oleh beberapa tukang ojek yang mangkal di depan pasar pagi. Tetapi ia menggeleng, menolak menggunakan jasa yang ditawarkan padanya. Sebab ia ingat, dirinya butuh pakaian dalam dengan ukuran yang lebih besar.
Perempuan itu baru tahu bahwa ternyata masalah yang menimpa wanita hamil bukan hanya perihal mengidam aneh-aneh untuk mengerjai suami. Perubahan fisik yang sekarang dialaminya pun menjadi salah satu wujud dari serangkaian perubahan lain yang akan terjadi padanya.
Nanti, perut dan pinggulnya akan membesar seiring bayinya yang bertumbuh. Selain itu, bagian tangan dan kakinya pasti akan membengkak. Ia hanya tinggal menunggu waktu.
__ADS_1
......***......
Setibanya di halaman rumah ayahnya, Zaya sedikit heran karena suasana sepi yang ia dapati. Tetapi ia tetap mengetuk pintu dan mengucapkan salam, walau tak ada yang menanggapi.
"Mbak Zaya?"
Zaya seketika menoleh ke sumber suara, begitu mendengar panggilan. "Eh, Bu Nining. Orang rumah pada ke mana, ya? Kok sepi?"
"Ibumu ikut mengantar bapakmu ke tempatnya Pak Nun yang ahli urat itu."
Ekspresi Zaya jelas kaget. "Bapak kenapa?"
"Tadi kepeleset. Tangan dan kakinya terkilir lumayan parah."
Saking tak percayanya, gendongan Zaya terhadap Faiz tiba-tiba merosot. Beruntung, perempuan itu masih bisa mengendalikan diri.
"Ayo, Ndhuk, mampir dulu. Kita tunggu bapakmu di rumah saya, supaya kamu bisa istirahat," ajak Bu Nining saat menyadari perubahan raut wajah serta emosi anak tetangga dekatnya ini.
Menoleh ke pintu rumahnya sebentar untuk memastikan, kemudian Zaya menyanggupi ajakan Bu Nining. Kini ia mengikuti wanita itu, masih dengan Faiz yang terlelap dalam gendongannya. Lalu duduk di bangku panjang di ruang tamu Bu Nining.
"Faiz ditidurkan di kamar saja, po?" tawar Bu Nining kala melihat posisi tidur Faiz yang tak ada nyaman-nyamannya di gendongan Zaya.
"Tidak usah, biar begini saja."
"Tapi itu kelihatannya tidak nyaman. Sebentar, saya ambilkan bantal."
"Ini alas dan bantalnya." Bu Nining menggelar selimut di atas bangku kayu, lalu meletakkan bantal sambil menepuk-nepuknya sebentar.
"Terima kasih, ya, Bu. Jadi merepotkan."
"Sama sekali tidak repot, kok."
Seusai menidurkan Faiz di bangku yang sudah diberi alas sedemikian rupa, Zaya mengusap dahi balita yang tengah tidur pulas itu.
...***...
Dapat Zaya dengar suara mobil berhenti di jalan atas rumah. Tak sampai lima menit, seorang perempuan masuk ke rumah Bu Nining secara tergesa, yang jelas saja menyita perhatian nyonya rumah.
"Ana apa?" tanya Bu Nining heran sekaligus penasaran.
"Aku boleh pinjam duit, Yu?"
"Untuk apa?"
"Untuk ganti ongkos bensinnya Mas Pam. Ada?"
__ADS_1
"Suamiku saja baru mulai kerja kemarin, ya belum bayaran, Yu."
Mendengar penuturan Bu Nining, Bu Darmi seketika panik. Tidak mungkin beliau mengganti ongkos tenaga dan bensin Pam dengan ucapan terima kasih saja. Walau Pam tak mungkin meminta, tetap saja dirinya merasa tak enak.
"Kebetulan aku ada uang, kok." Setelah hanya mendengarkan obrolan dua wanita dewasa itu, akhirnya Zaya angkat bicara.
"Kamu kapan ke sini?" tanya Bu Darmi tak menyangka kalau anaknya berada di tempat ini.
"Sudah agak tadi." Setelah memastikan posisi tidur Faiz sudah aman, Zaya mendekati ibunya untuk menyalami dan menanyakan kabar serta berbasa-basi sebentar. "Kalau dua ratus ribu, kira-kira pantas untuk ganti ongkos bensin, nggak?" tanyanya ke pokok pembicaraan.
"Sudah pantas."
"Kalau gitu Zaya ke luar dulu, mau ketemu Mas Pam. Titip Faiz sebentar." Kemudian Zaya meninggalkan dua wanita yang terbengong menatapnya.
Di luar, Zaya celingukan mencari keberadaan Pam. Ternyata laki-laki itu baru saja keluar dari rumah orang tua Zaya dengan langkah buru-buru.
Dan sebelum sosok itu menjauh, Zaya berlari menyusul langkah pemuda tersebut. "Mas Pam," panggilnya.
Merasa dipanggil, Pam pun menoleh. Memastikan bahwa suara yang ia dengar memang nyata adanya. Dan benar, ada Zaya di belakang, menyusul dengan langkah setengah berlari. Membuat desiran aneh di dadanya datang tanpa aba-aba, ketika perempuan itu memanggil-manggil namanya dan memintanya untuk menanti.
"Ada apa?" tanya Pam pendek.
Zaya meraih telapak tangan kanan Pam, berusaha menyelipkan empat lembar uang lima puluh ribuan di sana. "Ada titipan dari ibuku. Katanya buat ganti ongkos bensin."
Sontak perhatian Pam tertuju ke tangan kanannya. "Apaan sih, Ya? Nggak usah," tolaknya, menepis pelan uluran tangan dari Zaya.
"Emang nggak banyak, sih. Tapi, tolong diterima, ya, Mas."
"Beneran nggak usah. Kayak sama siapa aja pakai acara ngasih beginian segala," tolak Pam lagi. "Serius, nggak usah."
"Keluargaku yang merasa nggak enak, kalau gitu. Terima, ya, Mas," bujuk Zaya untuk kesekian kalinya. Benar-benar memohon.
"Oke, gini." Pam akhirnya mengalah. "Anggap saja uang ini aku terima, lalu aku berikan untuk bayi kamu."
Tiba-tiba rasa nyeri menyergap sekujur tubuh Pam, begitu sadar bahwa Zaya tengah mengandung anak dari laki-laki lain. Yang lebih lucu, sekarang ia berusaha 'menafkahi' bayi yang bukan buah perbuatannya itu.
"Ya sama aja Mas nggak nerima, dong."
"Diterima, tapi sekarang sudah jadi hak anakmu." Pam tersenyum di depan raut cemberut Zaya, yang sedari lama selalu lucu. "Aku lagi buru-buru, nih. Maaf, ya, aku tinggal dulu."
Meski masih merasa tak enak atas penolakan yang diterimanya, Zaya mempersilakan. Ia terus memandang punggung Pam, hingga pemuda itu masuk mobil dan melajukan kendaraan.
Ada kegamangan yang terselip di hatinya, ketika mengingat-ingat bagaimana pertemuannya dengan Pam yang makin intensif.
Memang baru tadi malam ia bertemu dengan pemuda itu, ketika mengantarnya pulang dari mencari tukang bakwan malang. Baru tadi malam pula, ia berdamai dengan salah satu bagian dari masa lalunya itu.
__ADS_1
Kemudian belum genap dua belas jam, mereka sudah bersua lagi. Seolah takdir benar-benar mempermainkan perasaan keduanya.