
Seusai mengisi bahan bakar mesin hingga penuh, Afriz melanjutkan pencarian.
Walau menempuh perjalanan yang tak dekat, rasa-rasanya energi pemuda itu masih tersisa cukup banyak. Tambahan tenaga itu didapatkannya lagi saat munculnya harapan mengenai keberadaan Zaya di rumah Nida.
Ya, keyakinan itu makin menggebu bila dirinya ingat bagaimana rekatnya hubungan antara istri dengan adik kandungnya tersebut.
Afriz sudah tiba di tujuan. Terjebak dalam harap yang menggebu, dia hanya mengetuk pintu sebentar, lalu menyelonong ke tempat dia bisa menemukan Nida sekaligus Zaya.
"Duduk dulu kenapa, sih, Bang? Kayak orang kesetanan aja."
Menuruti perkataan adiknya, Afriz pun duduk di karpet yang semula dia pijaki. Posisinya sembarang saja. "Dek, Zaya di sini, kan? Sekarang dia di mana?" tanyanya tanpa lama-lama.
"Nggak tahu." Jelas saja Nida amat jengkel mendapati kakaknya malah menanyakan Zaya, bukan kabarnya atau Syifa.
"Kamu ngumpetin dia, ya?" Afriz bangkit dari duduknya, kemudian berjalan ke arah mana saja untuk menemukan keberadaan sang istri.
"Buat apa? Tadi dia emang ke sini, tapi sekarang nggak tahu deh dia di mana. Lagian nggak penting juga aku tahu dia di mana. Bukan urusanku."
Ucapan dengan nada yang tak bersahabat ini sontak menghentikan langkah Afriz. Pria itu menoleh, menatap Nida yang sudah berhasil menggendong Syifa. "Maksud kamu apa, Dek?"
Tanpa rasa gentar, Nida mendekati kakaknya. "Aku pikir, Abang nggak usah cari dia lagi. Biarin aja dia pulang ke tempat orang tuanya atau ke mana aja, yang penting dia jauh dari kehidupan kita."
"Kamu ngomong apa, sih?" tegas Afriz, menatap kecewa perempuan di depannya. "Kamu tahu? Sekarang Zaya sedang mengandung anak Abang, darah daging Abang."
"Cuma masalah anak, kan? Fine. Nanti setelah anak itu lahir, Abang bisa ceraikan Zaya. Abang udah nggak perlu ngerasa punya tanggung jawab soal hidup dia lagi. Kalian selesai."
Jika tak bisa mengendalikan diri, hampir saja Afriz menampar wajah adiknya. "Abang tahu kesalahan Abang. Tapi bukan begini caranya, bukan berarti solusinya harus berpisah!"
"Kenapa enggak harus berpisah?" Kali ini Nida menantang Afriz. "Papa udah nggak ada, dan selama ini Abang kerja lebih keras untuk keluarga Abang sendiri, yang sejauh ini tuh nggak beres! Aku nggak tahu apa yang ada di pikiran Abang sampai-sampai Abang mau hidupin orang seenggak tahu diri Zaya, orang yang aku kira udah berubah jadi lebih baik tapi nyatanya ...." Nida menghentikan ujarannya sebentar, menarik perhatian pemuda di hadapannya. "Dia berkhianat dengan ayah Faiz sampai hamil, di saat dia masih sah jadi istri Abang!"
Hantaman itu begitu terasa di dada Afriz.
Lelaki itu tak pernah berpikir jauh mengenai pandangan orang terhadap Zaya, yang sebelum menikah dengannya telah memiliki rekam jejak nan kelam. Meski ayahnya tahu akan fakta yang sebenarnya, ternyata tidak dengan adiknya yang dia kira telah mengenal Zaya luar-dalam.
Napas Nida tersengal, namun lega lantaran telah mengungkapkan semuanya. "Aku pikir, setelah nikah dengan Abang, Zaya udah berubah. Dia nggak cuma pakai kerudung, tapi dia benar-benar mengubah perilaku buruknya selama ini. Aku kira ...."
__ADS_1
Belum sempat Nida melanjutkan kalimatnya, Afriz sudah terlebih dulu memotong. "Abang pikir, kedekatan kalian bikin kamu tahu bagaimana Zaya luar dan dalam. Tapi ternyata Abang salah menilai kedekatan kalian. Karena nyatanya itu cuma bikin kamu kenal dia secara lahir, bukan batin."
Kali ini Afriz kembali duduk. Untuk beberapa saat lamanya, Afriz hanya menghela kemudian mengembuskan napas berat melalui hidung.
Dia telah luput memandang keadaan Zaya selama ini, yang pada kenyataannya bukan hanya memikul beban dalam mengurus dan merawat Faiz, tetapi juga mesti menebalkan wajah, menulikan telinga, serta membutakan mata dari segala hal yang bisa dirasakan oleh pancaindra. Tentang status dan rekam jejaknya ---yang untuk saat ini hanya diketahui oleh Afriz sebagai saksi mata.
"Abang nggak tahu harus cerita dari mana," mulai Afriz. "Yang jelas, seandainya bukan Abang sendiri yang melihat ada darah di atas seprei setelah pertama kali kami berhubungan, mungkin Abang juga nggak akan percaya fakta bahwa Abang adalah laki-laki pertama yang menyentuh Zaya seintim itu. Di tubuhnya, sama sekali tak ada jejak kelahiran bayi, baik secara normal maupun bedah."
Walau berusaha untuk bersikap tenang, Nida tetap tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Lalu, Faiz?"
"Ceritanya panjang. Yang pasti, Faiz bukan anak Zaya. Di akta kelahiran sudah menjelaskan semuanya. Abang saksinya."
Selesai bertutur, lagi-lagi Afriz mengembuskan napas berat sebagai gambaran betapa dia menyesal karena membiarkan Zaya berjuang sendirian, padahal ia selalu berada di sisi wanita muda itu.
"Kamu tahu dari siapa kalau Zaya hamil anak orang lain, padahal kamu sendiri nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi?"
Tergagap karena tak menyangka akan mendapat pertanyaan yang langsung ke intinya itu, Nida susah payah menelan ludah. "Dari Bu Lincah. Beliau yang bilang kalau selama ini Zaya masih berhubungan dengan ayah Faiz hingga hamil."
Untuk alasan yang sangat wajar, Afriz tersenyum sinis. Dirinya memutar ingatan mengenai kejadian seminggu yang lalu sebelum Zaya kabur.
"Apa?" Kali ini Zaya memang menatap Afriz, tetapi sorotnya memancarkan luka. "Mas mau kayak orang-orang yang nuduh aku selingkuh sama Mas Pam, sampai-sampai aku hamil anak yang sekarang aku kandung ini?"
Jawaban sudah Afriz peroleh: Bu Lincah yang berani menuduh Zaya yang bukan-bukan.
Lelaki itu sungguh tak mengerti mengapa dia bisa sebegini bodohnya mengumpankan Zaya kepada salah satu tetangga yang sangat ia percayai itu.
Pantas saja, waktu itu Zaya langsung pergi tanpa harus repot-repot menunggu izin darinya. Karena selain sensitif, mungkin Zaya sudah kehilangan kepercayaan terhadapnya. Dan sialnya, kejadian tadi menambah kekusutan benang yang sukar diurai.
Begitu tersadar dari lamunan, tubuh Afriz menegak. Dia masih punya kesempatan untuk memperbaiki semuanya. "Dek, tadi Zaya sempat ngomong mau pergi ke mana?"
Tetapi Nida menggeleng. "Dia cuma minta aku buat bilang ke Abang kalau bayi yang dia kandung dalam keadaan sehat. Terus, dia bilang Abang harus jaga kesehatan, jangan begadang, dan semoga semua urusan Abang diberi kelancaran."
Mendengar penjelasan dari adiknya, Afriz seketika menjambak rambutnya. Frustrasi karena kepedulian Zaya malah makin menyakitinya.
"Tapi, Bang ...." Nida menelan ludah, ketika hendak memberikan kesaksian. "Aku jadi ingat, tadi muka dia pucet banget."
__ADS_1
Tanpa aba-aba, Afriz langsung pergi dari hadapan Nida.
Dalam perjalanan menuju ke tempat dia memarkirkan motor, laki-laki itu tak mampu memikirkan segala hal. Benaknya kacau. Dia bahkan tak menghiraukan jerit ponsel yang dikantonginya. Terpenting, tujuannya sekarang hanyalah menemukan Zaya.
"*Andai aku nggak ingat dosa, mungkin aku udah telantarin Faiz. Bahkan aku sempet naruh dia di dalam kardus, biar aku bisa ninggalin dia di pinggir jalan. Seandainya waktu itu aku beneran ninggalin dia, mungkin namaku di kampung tetap bersih, nggak bikin keluargaku malu, dan aku masih bisa lanjut kuliah sampai lulus.
"Tapi aku nggak bisa ninggalin Faiz gitu aja. Dia masih terlalu kecil dan nggak ngerti apa-apa, nggak seharusnya aku benci sama dia. Tapi di sisi lain waktu itu aku takut kalau terjadi hal-hal yang nggak diinginkan. Aku takut nggak bisa ngasih kehidupan yang layak buat dia, terus dia nggak bisa tumbuh sebagaimana anak seusianya. Atau kemungkinan terburuk, dia meninggal karena aku gagal merawat dia*."
"Tapi buktinya kamu berhasil merawat dia."
"Sejauh ini, iya. Karena Mas udah bantu aku ngerawat dia. Serius. Mas tuh bantu aku banget. Selain ngasih kehidupan yang layak untuk kami, Mas juga bikin aku percaya bahwa masih ada orang yang beneran baik."
"Ah, kamu bisa aja." Afriz pura-pura tersipu, berusaha melucu. Ia berhasil, karena lawan bicaranya sempat terkikik sebentar.
"Dan setelah aku pikir-pikir, kalau Faiz nggak pernah datang ke hidupku, aku nggak bakalan jadi perempuan yang lebih kuat kayak sekarang. Ya, walaupun aku masih baper gara-gara omongan orang, kayak apa yang sering Mas bilang ke aku. Tapi paling nggak, hadirnya Faiz bikin aku belajar jadi ibu, meski aku belum punya suami."
Hampir saja Afriz menjitak kepala Zaya, istri yang baru saja tak mengakuinya sebagai suami itu. "Ngomong yang bener! Ini yang di depan kamu siapa, kalau bukan suami?" tanyanya tak terima.
"Eh." Zaya justru cengengesan. "Maksudku, aku belajar jadi ibu yang baik dan benar meski belum punya anak sendiri. Ya walaupun itu sama aja kayak jadiin Faiz sebagai percobaan doang, sih."
Berusaha memahami, Afriz mengiyakan. "Faiz bikin kamu capek, nggak?"
"Bohong sih, kalau aku bilang dia nggak bikin capek. Badan aku segini, dia segitu. Dia juga sukanya ngajak main. Pasti bikin capek banget, lah."
"Lebih capek ngurus Faiz atau gituan sama Mas?"
Bukannya mendapat jawaban, Afriz malah memperoleh cubitan pada lengan.
Afriz menimbang-nimbang banyak hal mengenai menyatunya dia dengan Zaya yang diselimuti banyak hal tak terduga.
Terkadang, kesulitan yang dialami oleh Zaya justru mesti disyukuri oleh Afriz.
Andai Zaya tak mengingat dosa, mungkin mereka tak akan dipertemukan secepat ini. Seandainya Zaya menelantarkan Faiz di jalan, tentu perempuan itu tak mungkin memiliki tanggungan dan secara otomatis tak pula menjadi salah satu pegawainya.
Seandainya nama baik Zaya tetap bersih dan perempuan itu masih kuliah, Afriz tak yakin Zaya akan bersedia untuk segera dinikahkan, apalagi dengan dirinya yang memiliki catatan panjang bersama banyak perempuan.
__ADS_1
Semua pengandaian tersebut berkompilasi menjadi alasan rasa syukur Afriz karena bisa menemukan gadis seperti itu pada zaman sekarang. Rasa syukur itulah yang tengah ia perjuangkan lewat pencarian ini.
Walau tanpa tujuan pasti.