Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar

Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar
Cek-Cok


__ADS_3

Besok aku ke tempatmu lagi. Ada banyak hal yang perlu kita bahas]


Zaya masih gelisah setelah mendapatkan pesan yang semestinya biasa saja itu.


Hal yang ditakutkan ternyata terjadi. Pam tak hanya mendatanginya malam itu saja. Laki-laki itu tak mengerti posisinya kini, dan masih berniat mengganggu.


[Maaf, gak bisa. Aku belum tentu di rumah]


Ya, balasan terbaik yang bisa ia berikan hanyalah itu. Karena memang, rencananya besok ia akan menjenguk mertuanya yang sudah dirawat di rumah sakit selama lima hari; dan satu kali pun ia belum mengetahui secara langsung bagaimana keadaan Pak Hidup.


Dengan begitu, sementara waktu ia bisa menghindari kedatangan Pam ke tempat tinggalnya, demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Lagi pula, tak ada hal yang perlu dibahas bersama pemuda itu.


"Ya kamu ini sebagai istri dan mantu mestinya berinisiatif sendiri menjenguk mertuamu. Masa, kalah dengan para karyawan suamimu yang sudah menjenguk terlebih dulu. Ya harusnya kamu punya malu, yang serumah dengan yang sakit kok malah tidak kelihatan batang hidungnya. Kalau begini terus nanti jadi kebiasaan, kalau tidak diajak naik mobil oleh suami tidak mau pergi ke mana-mana. Makanya jadi perempuan itu jangan manja."


Zaya tak mengerti kepada siapa kosakata manja itu ditujukan. Padahal ia sudah berkali-kali meminta izin kepada Afriz untuk menjenguk Pak Hidup, walau ia harus naik kendaraan umum. Sungguh, ia tak apa-apa.


Tetapi saban kali dimintai izin, Afriz selalu mengatakan hal yang sama.


Laki-laki itu tak ingin membuat Zaya repot karena harus menunggu angkutan umum sambil menggendong Faiz. Lagi pula, rumah sakit bukan tempat yang baik bagi balita seusia Faiz yang masih rentan terhadap penyakit. Begitu kata sang suami.


Makanya Zaya diperintahkan untuk di rumah saja, berdoa dari tempat tinggal mereka. Itu sudah cukup membantu meringankan beban pikiran suaminya yang tengah semrawut. Sebetulnya begitu.


Namun, sedikit banyak omongan Bu Lincah berhasil menciptakan rasa kalut dalam diri Zaya. Belum lagi ditambah pesan dari Pam, yang mau tak mau membuat perempuan itu mesti berwaspada. Ia tahu watak bujangan itu, dan tak ingin kejadian tempo hari terulang lagi. Ia tak mau ada salah paham lagi.


Maka, jari-jarinya mengetik pesan yang tak jauh berbeda dengan pesan-pesan pada hari-hari sebelumnya untuk Afriz.


[Besok aku nyusul ke situ ya mas]


[Kan udah dibilangi berkali-kali. Kamu berdoa aja dari rumah. Kasian Faiz kalo diajak ke sini. Mas ngerti kamu lagi repot]


[Bentaran aja kok. Boleh ya?]

__ADS_1


[Beneran ga usah. Di sini udah ada seno. Trus udah banyak yang di sini juga kok. Kamu di rumah aja]


[Ya udah kalo gak boleh. Aku di situ juga gak bakalan ngasih pengaruh apa2 juga kok ke papa. Yang ada aku cuma ngerepotin]


[Ya Allah, ga gitu. Mas kan udah berkali-kali bilang, kamu berdoa di rumah aja. Ga usah kekanakan gini. Lagian nida ga ke sini juga. Kalo kamu takut di rumah sendirian, kamu nginep di tempatnya nida dulu. Nanti biar sopir nida yg jemput. Ya?]


Zaya tak punya minat untuk membalas. Ia membiarkan suaminya berpikir sendiri.


[Yang, tolong ngertiin. Kalo kamu kaya gini, yg ada mas jadi tambah pusing]


[Kan dari kemarin2 aku cuma minta izin sama mas buat jenguk papa biarpun sebentar doang. Cuma itu. Mas tinggal bilang boleh apa gak. Sejak hari pertama papa dirawat, aku udah nurut sama mas buat di rumah aja.]


[Yang, ga usah kekanakan]


[Kekanakan gimana  sih? Emangnya salah kalo aku malah tambah khawatir sama keadaan papa? Trus aku sebagai mantu cuma diem di rumah seolah gak terjadi apa apa?]


[Kalo aku tetep gak boleh ke situ ya udah, gak usah repot2 ngasih jawaban ngalor ngidul gak jelas. Gak usah sok peduli sama keadaan aku di rumah. Aku cukup sadar diri kok. Berarti emang selama ini aku gak pernah dianggep jadi bagian dari kalian]


...***...


Afriz mengusap wajahnya, gusar. Tak mengerti mengapa pembicaraan sesepele itu bisa menjadi topik yang amat sensitif semacam ini. Kontras dengan tiga hari yang lalu ketika ia dan Zaya membahas biaya operasi yang amat besar, dan tentunya berkali lipat lebih serius daripada ini.


Tetapi saat itu diskusi keduanya berakhir baik-baik saja, tanpa harus tarik urat. Padahal waktu itu Afriz menyinggung perihal tabungan yang disiapkannya untuk membayar kuliah Zaya, yang mau tak mau harus ditarik kembali demi menambal kekurangan biaya operasi Pak Hidup.


Logika yang semestinya, jika Zaya hendak marah, perempuan itu lebih pantas murka saat itu. Bukan karena hal sepele seperti sekarang.


"Maaf, ya, Yang, tabungannya terpaksa Mas pakai dulu."


Telapak tangan Afriz mendadak hangat oleh genggaman istrinya yang tak mampu mencakup kelima jarinya. "Nggak apa, Mas. Aku ngerti, Mas lebih butuh uang itu. Lagian, kuliahku kan masih lama juga. Jadi, Mas nggak perlu khawatir."


Afriz meresapi kehangatan pada tangan serta hatinya. "Mas janji, setelah ini Mas bakalan ganti ...."

__ADS_1


Zaya menempelkan jari telunjuknya pada bibir sang suami, supaya laki-laki di depannya ini tak memikirkan hal lain kecuali kesehatan Pak Hidup. "Nggak usah ngomongin itu dulu, Mas. Itu bisa kita pikirkan kapan-kapan lagi, kalau waktunya udah tepat. Sekarang, yang paling penting Mas kasih yang terbaik buat Papa dulu. Ya?"


Seketika Afriz mengangguk, juga bernapas lega. Paling tidak, hatinya jadi sedikit lebih lapang. Kini, kedua tangannya merengkuh Zaya ke dalam pelukan, dalam kondisi haru. "Makasih, ya, Sayang."


"Apa pun, Mas. Kalau bisa bantu, aku akan bantu sebisaku. Kalaupun aku nggak bisa bantu, paling nggak, aku nggak akan mempersulit."


Afriz menghela napasnya makin gusar. Ia betul-betul tak bisa mengerti jalan pikiran Zaya. Sungguh tak paham kenapa suasana hati istrinya begitu cepat berubah, meski tanpa ada angin maupun hujan. Hanya karena sebuah pembicaraan sepele, pula.


"Mas kelihatannya capek banget. Istirahat saja dulu di rumah, Mas. Lagi pula beberapa hari ini Mas belum pulang sama sekali. Sekarang gantian, biar aku yang nunggu Papa di sini," kata Seno, yang sedari tadi menyaksikan kegusaran kakak iparnya.


Terdengar helaan napas berat sebelum Afriz menyahut, "Nanti kamu jadi sendirian."


"Gampang itu. Nanti aku bisa minta sepupuku ke sini, biar jadi teman begadang." Melihat kakak iparnya belum segera memberi respons, Seno menepuk lengan lawan bicaranya itu. "Nggak apa-apa, Mas pulang dulu untuk malam ini. Besok pagi kita gantian lagi, bagaimana?"


"Betulan, nggak apa-apa?"


"Nggak apa-apa, Mas. Serius."


Tetapi Afriz tak lekas bangkit. Pandangannya tertuju pada sosok yang terbaring di atas ranjang dengan tangan berselang infus, khawatir. Apalagi setelah operasi selesai, ayahnya belum juga siuman.


"Istirahat ya, Mas. Daripada nantinya badan Mas jadi nggak fit karena kurang istirahat, malah lebih repot."


Lagi-lagi, Afriz belum merespons.


"Mas," panggil Seno.


Sempat menghela napas berat sejenak, Afriz akhirnya mengangguk meski ia tak terlalu paham perkataan terakhir adik iparnya. "Kalau ada apa-apa, langsung kasih kabar."


"Pasti."


...***...

__ADS_1


__ADS_2