Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar

Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar
Obrolan Kecil


__ADS_3

"Dari mana, Kang?"


Pak Kuswin yang tengah memarkirkan motor pun menoleh, mencari tahu siapa yang bertanya. Ternyata Kang Bani. "Ini, barusan nengok cucu, anaknya si Ipah."


"Oooh. Cucu sampeyan kenapa, Kang?"


"Jatuh dari sepeda. Kakinya dan tangannya terkilir."


"Innalillahi. Lalu sekarang keadaannya bagaimana?"


"Sudah mendingan."


"Alhamdulillah, kalau begitu. Semoga cucu sampeyan cepat sembuh."


"Aamiiin. Terima kasih atas doanya, Kang."


"Sama-sama. Lagi pula, kasihan sekali kalau cucu kok sampai kenapa-kenapa itu. Bocahnya yang nangis, orangtuanya ikutan sedih, je."


Pak Kuswin jadi ingat tangis cucunya yang tak kunjung berhenti. Lalu merengek-rengek, sangat jelas kalau kesakitan. Tetapi dirinya yakin, sang cucu akan segera sembuh.


Pandangan pria paruh baya ini kini tertuju kepada mobil bak terbuka yang melintas di jalan cor-coran yang bisa disaksikan dari bawah sini. Agak heran karena sosok di depannya tak lekas beranjak.


"Belum berangkat kerja, Kang?" tanya Pak Kuswin, melampiaskan rasa herannya sendiri. "Itu mobilnya si Tono sudah berangkat. Biasanya ikut dia, kan?"


"Biasanya iya. Tapi sekarang masih capek."


"Duduk dulu, Kang." Pak Kuswin mempersilakan Kang Bani duduk di bangku berukuran satu meter yang terletak di samping pintu depan rumah, dan biasa menjadi saksi kegiatan bersantainya.


"Saya ini betulan capek sekali. Penginnya istirahat dulu. Bagaimana, ya, Kang Kus?"


Mendengar pertanyaan Kang Bani, Pak Kuswin agak bingung, tetapi sedetik kemudian laki-laki itu tersenyum maklum. "Apanya yang 'bagaimana', Kang? Yang namanya capek itu obatnya ya memang istirahat. Jadi, ya wajar saja kalau sampeyan mau istirahat dulu barang sehari."


"Ya memang. Tapi masalahnya itu bukan hanya capek badan."


Pak Kuswin tertarik atas wacana 'bukan hanya capek badan' dari salah satu tetangga yang berprofesi sebagai buruh pikul singkong ini. "Memangnya ada apa, Kang?"


Tampak Kang Bani menghela napas panjang sebentar. Agak sungkan untuk berbagi cerita. Tetapi laki-laki di sebelahnya ini Kuswin, orang yang sudah sangat ia kenal bagaimana watak dan kehidupan aslinya. "Sampeyan tahu to, rasanya mikul sekarung atau dua keranjang singkong?"


Sebagai orang yang pernah menjadi buruh pikul ubi kayu, Pak Kuswin mengangguk. Mengerti bagaimana rasanya bekerja kasar semacam itu, ikut orang pula. Walau sudah cukup lama, rasanya masih sama. Membuat lelah fisik dan hati.

__ADS_1


"Ya, Kang. Kadang kita kerjanya hanya tiga hari, tapi capeknya bisa empat hari, malah kadang sampai seminggu."


"Iya. Sudah capek begitu, disuruh buru-buru oleh juragan sendiri, capeknya jadi dobel."


Pak Kuswin tertegun. Batinnya berbisik, bahwa semoga apa yang dulu pernah menimpanya tak dirasakan pula oleh Kang Bani.


Tentang bagaimana beberapa tahun lalu dirinya dan beberapa tenaga yang lain harus berangkat subuh-subuh, tanpa diberi kesempatan untuk sarapan, kerjanya dikejar-kejar waktu meski medan yang dilalui licin, tak boleh beristirahat secara cukup, serta bayaran tak setimpal dengan tenaga yang sudah dikerahkan walau harga singkong sedang naik.


Bahkan pernah, dengan sengaja sang Juragan menjalankan mobil bak terbuka miliknya saat Pak Kuswin baru menaikkan satu kakinya, ketika laki-laki itu hendak diangkut ke kebun singkong di desa seberang.


Walhasil, tubuh lelaki yang makin tua itu terempas ke jalan yang masih kricakan sampai nyaris hilang kesadaran.


Seolah belum cukup dengan kelelahan fisik, hati, dan pikiran, istrinya masih pula menambahi dengan laporan bahwa ternyata ada banyak ibu yang iri dengan wanita bersuamikan kuli singkong.


Lantas, apa yang bisa membuat orang-orang kurang kerjaan itu jadi dengki kepada buruh yang diperlakukan tak manusiawi sepertinya?


"*Ya kan mereka tahunya hanya catatan upah kuli tela, Pak. Makanya mereka bisa seenaknya bilang, 'Ya pantas saja bisa menyekolahkan anaknya sampai SMA. Lha wong memang bayarannya banyak, kok.' Mereka tidak tahu saja kalau duit enam puluh sampai sembilan puluh ribu itu upah selama tiga hari.


"Jauh lebih nyedhihi lagi kalau singkong susah dicabut dari tanah kering. Belum lagi jalannya bersemak, naik turun, sampai-sampai pundak, kaki, dan tangan lecet karena kelamaan mikul dan jalan kaki. Lalu kalau bermasalah dengan juragannya seperti Bapak ini, timbangan dikurangi banyak, dikatai yang tidak-tidak. Masih pula dijatuhkan dari mobil bak*."


"Sudahlah, Jo, tak usah ngomel."


"Ya, Bapak tahu. Tapi kan ya tidak ada gunanya kamu ngomeli Bapak."


Untuk beberapa waktu lamanya pun, dirinya bisa bertahan dengan situasi semacam itu. Ya, mau bagaimana lagi? Itu menjadi mata pencaharian satu-satunya kala itu.


Akan tetapi, bermula dengan juragannya yang berkali-kali mengurangi timbangan, dirinya mulai berpikir ulang untuk bertahan. Ditambah dengan umpatan dan makian menggunakan nama binatang yang ditujukan untuknya, dirinya pun tahu di mana batas kekuatannya.


Sampai detik ini, Pak Kuswin memilih diam. Hanya istrinya seorang yang tahu masalah tersebut.


Tetapi, ternyata hal itu terulang lagi. Mantan juragannya itu seolah memang sengaja hendak mempermalukan diri sendiri. Hanya sasarannya saja yang berbeda.


"Tadinya saya tahan-tahankan, Kang. Cuma, mentang-mentang saya diam saja, dia malah makin menjadi. Ya memang, saya ini hanya buruh pikul. Tapi kan saya ini manusia, Kang. Saya juga punya perasaan. Rasanya tidak enak saja setiap hari dijuluki dengan nama binatang, dibilang buta, dikatai budek tanpa tahu apa salah saya.


"Mending, kalau sikapnya yang begitu itu karena kurang didikan. Lha dia itu kan lulusan SMA, usianya jauh di bawah kita tapi kok kurang ajar sekali dengan orang tua. Sebagai lulusan SMA di kota sana, seharusnya dia lebih bisa menghargai orang lain secara manusiawi."


Mengerti keadaan, Pak Kuswin tersenyum getir. Ternyata tingginya tingkat pendidikan seseorang tak bisa menjamin bahwa orang tersebut memang betul-betul berpendidikan.


"Sudahlah, Kang. Kalau memang sudah tidak betah, jangan diteruskan lagi. Daripada sampeyan terus-terusan makan hati. Karena meskipun tidak lewat juraganmu itu, yang namanya rezeki itu datangnya bisa dari arah mana saja," saran Pak Kuswin.

__ADS_1


"Ya, Kang, saya percaya itu. Sekarang tekad saya sudah bulat, mau berhenti saja jadi kulinya Tono. Lagi pula sekarang saya sudah tak punya tanggungan utang padanya."


"Nah, kalau begitu sampeyan jadi tak perlu khawatir." Pak Kuswin tersenyum, ikut merasa lega. "Lalu, apa rencana sampeyan selanjutnya?"


"Kebetulan kemarin diminta nyangkul di tanahnya Mas Pam. Katanya lahannya mau buat nanam cabai dan tomat."


"Malah bagus itu. Diajak orang atau Mas Pam yang minta langsung?"


"Awalnya diajak orang, tapi Mas Pam juga minta secara langsung. Dia bilang, kalau tidak bicara langsung dengan orangnya malah kesannya kurang sopan, begitu."


Pak Kuswin mengangguk-angguk.


"Mas Pam itu selain tampangnya bagus, baik juga, ya, Kang? Wataknya beda jauh dengan Tono, meski umur mereka tidak terlalu jauh dan sama-sama bagus. Pantas saja ada banyak gadis yang suka cari perhatian padanya, dan para orang tua pun banyak yang punya mimpi jadi mertuanya."


Pak Kuswin tertawa pelan. Tak membantah bahwa Pam itu termasuk spesies langka sekaligus memesona. Tak pula mengelak bahwa dulu salah satu anak gadisnya pernah menaruh hati pada pemuda itu.


Karena, ya, tak ada alasan bagi seorang gadis di desa ini untuk tak menyenangi Pam yang selain tampan, juga berkarisma.


"Tapi sayang, sampai sekarang belum ada kabar dia sedang dekat dengan siapa. Masih adem ayem saja, dan tak buru-buru menikah."


"Mungkin memang belum saatnya, Kang. Lagi pula dia memang masih muda, dan bisa jadi, dia belum mau mikir ke arah sana."


Kang Bani mengangguk. "Ya. Tapi jujur saja saya penasaran siapa gadis yang beruntung bisa menarik hatinya."


"Yang jelas bukan anakk-anakku, Kang. Anakku sudah bersuami semua," canda Pak Kuswin, memungkasi topik obrolan yang kalau dibiarkan bisa makin melantur ke mana-mana.


Kontan saja Kang Bani tertawa. Hanya sebentar, karena kemudian raut mukanya kembali serius. "Eh, iya. Bagaimana keadaan besanmu, Kang? Dengar-dengar dioperasi, ya?"


"Iya. Operasinya sudah empat hari yang lalu."


"Oalah, pas sampeyan njenguk itu, ya?"


Pak Kuswin mengangguk membenarkan. "Cuma, sekarang belum ada waktu untuk njenguk lagi. Kebetulan cucu sedang sakit juga. Mungkin nanti-nanti lagi jenguknya."


"Oalah, memang ada-ada saja ya, Kang. Besan sampeyan sakitnya pas bareng cucu sampeyan."


"Ya begitulah, Kang. Memang kehendak Yang Kuasa. Kalau ditanyai satu-satu, pasti tak ada yang mau anggota keluarganya sakit. Maunya sehat terus, hidup enak terus."


...***...

__ADS_1


__ADS_2