Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar

Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar
Masih Mencari


__ADS_3

Walau pendingin ruangan sudah diatur menjadi bersuhu rendah, Zaya masih kegerahan. Selain itu, ia amat bosan. Sudah tiga malam dirinya dirawat di rumah sakit, padahal ia merasa tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan terkait kondisinya dan jabang bayi.


Ia merasa sehat, meski sedikit pusing, mual, dan tak jarang bagian punggung hingga kepala kirinya terasa sangat sakit. Akhir-akhir ini, ia pun mengalami insomnia. Tetapi bukankah itu normal terjadi pada ibu hamil sepertinya?


Zaya melirik orang di seberang, yang setia menungguinya di tempat ini. Una tak ada bosan-bosannya mengajak Faiz berinteraksi hingga balita itu tertidur di gendongan. Faiz pun sudah lebih bisa menerima kehadiran ibu kandungnya. Akan tetapi, keadaan begitu justru membuat Zaya merasa tak nyaman sekaligus kesepian.


Zaya jadi gelisah sendiri. Nanti, seandainya Faiz benar-benar telah terbiasa tanpa kehadirannya lantaran terlalu nyaman bersama Una, bagaimana? Lantas, ia akan berjuang bersama siapa, jika tanpa Faiz? Hingga kini, ia masih butuh balita itu untuk berbagi tangis dan tawa, sebagaimana yang telah terjadi pada keduanya selama setahun belakangan.


"Kamu kenapa, Ya? Kepalamu sakit lagi?" tanya Una khawatir.


Zaya menggeleng. "Aku nggak kenapa-kenapa, Kak. Cuma haus."


Mengerti, Una pun mengangguk kemudian hendak memutar engkol agar Zaya bisa bangkit tanpa harus bergerak.


"Nggak usah, Kak," tahan Zaya. "Biar aku bangun sendiri." Lantas ia bergerak hingga menimbulkan bunyi kriyet dari ranjang yang ia tempati.


"Kak," panggil Zaya seusai minum dan mengembalikan gelas ke tempat semula. "Aku pinjem hape Kakak lagi, boleh?"


"Boleh." Una menuju sofa tempat ia meletakkan tas, lalu mengambil ponsel dari tasnya. "Ini," katanya, ketika sudah kembali ke hadapan Zaya. "Mau buat hubungin suami?"


"Enggak, sih. Mau ngaji aja," jawab Zaya tenang, meski harus menahan gemuruh di dada ketika mendengar kata 'suami'.


"Oh," balas Una, untuk kesekian kali merasakan ada yang tidak beres. Tetapi setidaknya reaksi Zaya normal, tidak seperti kemarin. "Nanti kalau udah selesai, hapeku disimpen dulu aja. Aku mau istirahat. Nanti kalau udah selesai, kamu istirahat juga."


Zaya begitu saja mengangguk, walau masih harus mati-matian menahan ganjalan di benak. Akan tetapi, rasa tak nyaman itu sirna saat matanya menangkap tulisan basmalah pada layar ponsel, yang tak lama kemudian ia baca perlahan dan hati-hati. Ia tak mau mengganggu pasien lain, mengingat ini sudah pukul dua lebih seperempat dini hari.


Bertepatan dengan selesainya Zaya melantunkan ayat-ayat Alquran digital di tangan, masuklah sebuah pesan dari nomor tak dikenal. Lantas tanpa sengaja ia membaca isinya yang terpampang jelas di layar bagian atas.


[Saya Afriz, suami Zaya. Tolong beritahu saya, jika anda bertemu dengan Zaya.]

__ADS_1


Lalu serentetan pesan masuk lagi.


[Saya benar² khawatir dengan keadaannya dan kondisi bayi kami]


[Saya minta tolong dg sangat. Terima kasih]


Ada gejolak yang membuat napas Zaya menjadi putus-putus. Di dalam hati kecil, ada perasaan lega karena tak sepenuhnya Afriz lepas tanggung jawab terhadapnya. Tetapi hal-hal tersebut tak cukup menjadi alasannya untuk pulang, meski ia ingin.


"... Kamu tuh harusnya sadar diri, kalau di rumah abangku, kamu dan anakmu itu cuma numpang."


Pak Hidup sudah tiada. Bu Lincah tak henti-hentinya mencari cela dan bala tentara untuk memojokkan posisinya. Nida telah berkata dan bersikap yang intinya tak sudi lagi mempunyai kakak ipar sepertinya.


Zaya sebenarnya bisa saja mengabaikan apa kata orang lain dan menjadikan Afriz sebagai satu-satunya alasan untuk bertahan, tetapi sayangnya lelaki itu malah secara terang-terangan memberi jalan bagi Vita untuk kembali ke pelukan, dan itu terpampang di depan matanya langsung.


"Seandainya keadaan nggak seperti ini, mungkin kita bisa kembali. Tapi semuanya berubah, termasuk perasaanku ke kamu. Seandainya aku masih cinta kamu sekalipun, mungkin aku cuma bisa menganggapmu sebagai simpanan. Paling mentok, kamu jadi yang kedua. Itu pun hanya status secara agama, bukan status di mata hukum. Dan aku yakin, perempuan mana pun tak akan bersedia hanya menjadi yang kedua, termasuk kamu. Aku harap kamu mengerti alasanku."


"Aku mau, Friz. Aku mau kita melanjutkan rencana pernikahan kita, meskipun aku cuma bisa jadi istri kedua kamu. Aku mau dan aku rela."


Sambil menahan rasa berat pada kepala dan rambatan rasa sakit pada punggung atasnya, Zaya mengetik balasan pesan yang baru saja ia baca.


[Maaf, mas. Saya gak tau Zaya ada di mana. Sebaiknya mas cari di tempat lain]


Zaya rindu, sungguh rindu dengan suaminya. Akan tetapi, lagi-lagi ia tak punya satu pun alasan kuat untuk pulang ke rumah laki-laki itu. Meski begitu, Zaya membiarkan wajah Afriz terus-menerus membayang dalam angan.


...***...


Dengan malas, Afriz itu membalik tubuh untuk melihat jam dinding. Dan betapa terkejutnya dia, begitu tahu bahwa sekarang sudah pukul tujuh kurang beberapa menit lagi. Tanpa berlama-lama dirinya bangkit untuk bersuci dan salat.


Afriz sudah selesai salat ---yang ia sendiri tak begitu yakin masih bisa disebut dengan salat subuh atau tidak. Setelah itu mengecek ponsel. Ia ingat bahwa berdasarkan pesan balasan dari Una tadi malam, Zaya tak bersama Una, dan secara otomatis memaksanya mencari tujuan yang paling memungkinkan untuk menemukan istrinya.

__ADS_1


Dihidupkannya ponsel sang istri, untuk lagi-lagi mengutak-atik aplikasi WhatsApp pribadi perempuan itu, yang entah mengapa kini menjadi hobi barunya.


Matanya yang sering terganggu saat melihat titik kecil di sebelah kata 'status', secara refleks membawa jarinya menggeser layar untuk sekadar menghilangkan tanda adanya status baru dari daftar nama kontak yang Zaya simpan. Rasa gemas terhadap tanda titik itulah yang akhirnya membawa Afriz pada kiriman Vita.


Ada yang menutup aurat rapat-rapat tapi tukang zina. Ada yang cara bicaranya halus dan sopan tapi penuh kebohongan. Ada yang hobinya baca Alquran tapi maksiat jalan. Ada yang salatnya rajin tapi kurang sopan ke tetangga. Ada juga yang pakai pakaian terbuka tapi hatinya baik. Jadi, nggak usah sok suci. Kita ini sama-sama pendosa yang hanya beda jalan dalam memilih dosa.


Afriz tak terlalu paham apa maksud dan tujuan Vita membuat uthak-athik gathuk atas kebaikan dan dosa orang lain itu.


Jika niatnya menyindir Zaya untuk melanjutkan perang di media sosial seperti tadi malam, sepertinya perempuan itu telah salah sasaran. Zaya itu menutup rapat aurat dan bukan tukang zina, berbicara secara halus dan sopan serta jarang berbohong, hobi membaca Alquran dan bukan pelaku maksiat, pakaian tertutup sekaligus baik hati.


"Kamu sendiri yang mana?" dikte Afriz, masih gatal untuk melanjutkan pembelaan terhadap Zaya setelah tadi malam dirinya sibuk mengklarifikasi sebaran dari Vita.


Eh, ternyata masih ada lagi kiriman Vita yang berbau syar'i. Kali ini berupa tangkapan layar dari sebuah komentar yang ada di akun Instagram perempuan itu.


Nggak usah terlalu pusing mikirin orang yang nggak suka sama kita. Soalnya jalan ke surga nggak lewat di depan rumahnya.


Nah, kali ini Afriz yakin bahwa tulisan yang baru saja ia baca memang ditujukan untuk Zaya. Meski banyak yang tak suka atas keberadaan Zaya sebagai istrinya, tak seharusnya Zaya ambil pusing. Sayangnya, jika itu masuk sebagai komentar atas kiriman Vita pada tadi malam, rasa-rasanya jadi salah sasaran.


Sekarang pandangan Afriz bergulir ke kiriman selanjutnya, lalu menemukan sebuah kenyataan yang kontras dengan isi pesan yang ia terima pada dini hari tadi.


Ada seorang wanita yang baru saja membagikan foto bersama Faiz!


Tadi malam tidur nyenyak bareng mama ya sayang, meski cuma tidur pakai alas tikar di lantai rumah sakit.


Tidak berhenti di situ, kontak bernama 'Kak Una' itu bahkan membagikan sebuah foto lagi. Kali ini menampilkan potret perempuan yang tengah menjalani pemeriksaan.


Dan begitu membaca kutipan yang menyertai, hati Afriz serasa rontok seketika.


Cepet sembuh, Zaya.

__ADS_1


Dengan tak sabar, Afriz membalas kiriman. [Di rumah sakit mana?]


__ADS_2