
Zaya sudah memikirkan apa yang akan ia katakan kepada Afriz nanti. Dalam perjalanannya, ia makin mantap hati untuk mengungkapkan semua ganjalan di hatinya. Masa bodoh pula dengan Bu Lincah yang tak ada habisnya mengurusi kehidupannya. Ia kembali ke rumah bukan untuk wanita itu.
Kini Zaya turun dari angkot yang ia tumpangi. Lalu membayar ongkos melalui jendela kiri kendaraan beroda empat itu. Setelahnya, ia menurunkan Faiz dari gendongan, membiarkan balita itu berjalan sendiri sambil ia tuntun. Langkah mereka begitu hati-hati, meski Zaya harus mengimbangi kaki Faiz yang ingin berlari sekencang mungkin ketika keduanya melewati jalan di depan kediaman Bu Lincah.
Panjang umur! Bu Lincah tampak memandang Zaya sinis sebelum akhirnya mendekat ke pagar besi di depan rumahnya. "Masih berani pulang ke tempat suami?"
"Kenapa saya harus tidak berani, Bu? Suami saya saja membolehkan kapan pun saya mau kembali, kok Ibu yang repot, sih?" balas Zaya amat tenang.
Bagi Zaya sekarang, kehidupan rumah tangganya jauh lebih penting daripada mulut Bu Lincah yang nirbatas sekaligus nirfaedah itu. Ia kembali ke rumahnya dan Afriz bukan untuk meladeni Bu Lincah yang suka sekali membuat hatinya tak menentu, melainkan untuk keluarganya. Demi janjinya terhadap mertua. Demi anak yang saat ini tengah ia kandung pula. Juga, demi perasaannya sendiri yang ia harap mendapatkan timbal balik serupa dari Afriz.
Dan perihal masa lalu Afriz dengan para mantannya, Zaya berusaha untuk memaklumi. Dia tak mau ambil pusing. Karena kalau ia kabur-kaburan lagi, yang ada hal tersebut malah memberi ruang yang lebih leluasa bagi Vita. Kalau ia masih bertindak kekanak-kanakan seperti seminggu yang lalu, yang ada Bu Lincah makin bebas untuk mengakrobatkan bibir yang nirbatas sekaligus nirfaedah itu.
Dengan tekad yang bulat untuk menjadi lebih kuat, Zaya melangkah makin berani. Sembari tersenyum manis, ia menatap rumah di depannya. Mulai sekarang, ia akan membuat suaminya selalu ingat padanya, serta membatasi ruang gerak Vita.
"Mas Afriz udah pulang?" gumam Zaya heran, ketika mendapati pintu yang sedikit terbuka. Lalu perempuan itu mendorong pintu kayu di depannya, setelahnya melongokkan kepala ke ruang tamu. "Assalamu'alaikum," lanjutnya, sembari mencari siapa saja yang ada.
Sayup-sayup Zaya mendengar suara dari arah ruang tamu. Tetapi ia belum menghentikan langkah, masih ingin mencari tahu siapa yang mengobrol dengan suaminya. Ia pun dapat mendengar suara Afriz dari tempatnya sekarang.
"Maksud kamu bantu aku sewa pengacara untuk mengurus perceraianku itu apa, kalau bukan karena kamu mau semuanya cepat selesai dan mau kembali?"
Satu fakta itu tak pernah Zaya ketahui, tentu saja. Sebagaimana Vita yang mempertanyakan hal tersebut.
"Ta, aku cuma bantu kamu sebagai teman yang kebetulan punya kenalan seorang pengacara. Dan kamu bilang, kamu sedang kesulitan. Lalu apa salahnya aku bantu kamu?"
Entah hanya perasaan Zaya atau bagaimana, Vita kini tampak menangis.
__ADS_1
"Apa memang nggak ada kesempatan untuk kembali?"
Tampak kini Afriz menghapus air mata wanita di hadapannya. Berusaha menenangkan sosok yang semakin emosional.
"Seandainya keadaan nggak seperti ini, mungkin kita bisa kembali. Tapi semuanya berubah, termasuk perasaanku ke kamu. Seandainya aku masih cinta kamu sekalipun, mungkin aku cuma bisa menganggapmu sebagai simpanan. Paling mentok, kamu jadi yang kedua. Itu pun hanya status secara agama, bukan status di mata hukum. Dan aku yakin, perempuan mana pun tak akan bersedia hanya menjadi yang kedua, termasuk kamu. Aku harap kamu mengerti alasanku."
Alangkah terkejutnya Zaya ketika melihat Afriz tengah memeluk Vita.
Walau gerakan-gerakan tangan dari suaminya itu hanya untuk menenangkan Vita, tetap saja Zaya tak bisa menahan gemuruh di dada saat suaminya memeluk perempuan lain di depan matanya.
Tak berselang lama, pemandangan di foto pada malam itu terulang lagi, dan seketika membuatnya terkesiap. Bahkan secara terang-terangan Vita sengaja mempertontonkan itu semua.
Zaya hanya mampu berdiri kaku di tempatnya berdiri, ketika tiba-tiba saja Vita berjinjit dan mencium pipi Afriz sambil bertutur, "Aku mau, Friz. Aku mau kita melanjutkan rencana pernikahan kita, meskipun aku cuma bisa jadi istri kedua kamu. Aku mau dan aku rela."
Bahkan dirinya tak sadar saat Faiz melangkah menuju ke arah sepasang mantan kekasih itu, sebelum Faiz tertawa riang lantaran sebentar lagi akan bertemu dengan Afriz.
Sementara itu, Afriz seketika menoleh. Ekspresinya sama sekali tak terbaca. "Zaya?"
Buru-buru Zaya merengkuh tubuh Faiz sebelum laki-laki di bawah umur itu melangkah semakin jauh. Ia tak peduli saat Faiz meronta-ronta meminta dilepaskan. Tak peduli pula ketika Afriz memintanya berhenti agar bisa memberi penjelasan. Yang ingin dilakukannya sekarang adalah berlari sekencang dan sejauh mungkin, membiarkan Faiz menangis dalam gendongannya.
"Ngapain kamu ngejar dia, sih? Sejak awal pernikahan kalian, kamu nggak pernah cinta sama dia, kan!?"
Entah mengapa sekarang Zaya berhenti. Ada sesuatu yang menggelitik rasa ingin tahunya perihal perasaan Afriz terhadapnya, yang jujur saja membuatnya sedikit berharap.
"Nggak penting buat kamu tahu aku cinta sama dia atau nggak. Lebih dari itu, sekarang dia sedang mengandung anakku. Aku harap kamu tahu apa arti dari semua ini."
__ADS_1
"Oh, jadi karena dia sedang hamil, makanya kamu mempertahankan pernikahan ini? Itu artinya, kamu sama sekali nggak cinta sama dia dan akan menceraikan dia setelah anak itu lahir. Ya, kan?"
Tangis yang sedari tadi Zaya tahan, akhirnya benar-benar tumpah. Ia tak bisa lagi mendengar pembicaraan dua orang itu, lantaran benaknya sudah menciptakan keriuhan yang tak bisa dicegah.
...***...
Untuk alasan yang sukar dimengerti, Zaya baru merasa kelelahan setelah berhasil menghindari kejaran sang suami.
Apalagi balita yang tengah digendongnya pun belum berhenti menangis sambil memanggil Afriz, dan otomatis membuat dirinya menjadi pusat perhatian seisi angkutan umum yang ia tumpangi.
"Anaknya kenapa, Mbak?" tanya salah satu penumpang terdekat dengan tempat duduk Zaya. "Ayahnya ke mana, kok dipanggil-panggil terus?"
"Eh, ini. Ayahnya sedang sibuk dan nggak sempat ngantar pergi, tapi ya gitu, anak saya jadi rewel."
"Lho memangnya kerjaan ayahnya benar-benar tidak bisa ditinggal, sampai-sampai tega membiarkan anaknya sesak napas karena menangis?"
Zaya menggeleng. "Enggak bisa ditinggal. Urusannya terlalu penting." Sepenting itu sampai-sampai Afriz membiarkannya pergi dalam keadaan hamil muda dan membawa balita.
Berusaha mengerti, lawan bicara Zaya itu tak bertanya lebih lanjut.
Sementara itu, tangan kiri Zaya memegangi perutnya yang mendadak terasa perih.
"Oh, jadi karena dia sedang hamil, makanya kamu mempertahankan pernikahan ini? Itu artinya kamu sama sekali nggak cinta sama dia, dan akan menceraikan dia setelah anak kamu lahir. Ya, kan?"
Sembari tangannya mengelus bagian perut, mata Zaya terpejam. Perempuan itu mengatur sisa napas yang masih tersengal.
__ADS_1
Dalam benaknya tersirat kebingungan perihal tujuan setelah nanti tiba di terminal, juga keraguan perihal muara kebahagiaan pada rumah tangganya kelak.
...***...