Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar

Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar
Belum Siap


__ADS_3

"Nangisnya udahan, dong, Sayang," bujuk Afriz untuk kesekian kalinya kepada Zaya yang tak kunjung berhenti menangis di perjalanan pulang. Kini tangan kirinya menepuk-nepuk bahu istrinya yang masih bergetar, sambil membagi konsentrasinya ke jalan. "Lagi pula Mas nggak kenapa-napa. Sudah kamu obati juga." Dia mengamati sekitar, hendak menghentikan laju mobil yang membawa mereka.


"Nggak kenapa-napa gimana? Hiks. Mas ini sampai babak belur!" sangkal Zaya seraya terisak pelan. "Lagian tadi bisa aja dibicarain baik-baik. Kenapa mesti berantem segala, sih?"


"Kalau yang tadi nggak bisa dibicarakan secara baik-baik," terang Afriz, terlampau santai. "Terserah kamu mau nangis atau apa. Yang jelas, tadi tindakanku itu nggak salah." Dia lalu hanya menatap istrinya.


Dirinya memang tak salah, walau tindakannya tadi sama sekali tak bisa dikatakan benar. Hanya saja, sebagai anak laki-laki sekaligus seorang suami, rasa-rasanya dia memang perlu membela ayah dan istrinya yang tak tahu apa-apa perihal sesuatu yang dituduhkan. Rahang Afriz mengeras, begitu mengingat kejadian tadi.


"Jadi, gitu?"


"Gitu apa?" tanya Afriz tak segera mengerti. Ia tetap meneruskan langkah, menuju kendaraan yang akan membawanya dan sang istri pulang. Tetapi sosok di belakangnya terus saja mengoceh, walau ia tak lagi mau mendengarkan.


"Papa lo dulu sering komentar soal adek gue yang katanya begitu begini, tapi ternyata menantu yang papa lo pilih cuma kayak gitu? Lugu, sih. Tapi pernikahan kalian aja baru, kok udah bawa anak. Sebenernya dia janda atau hamil di luar nikah, sih? Penasaran," kata lawan bicaranya, sembari memandang kepergian Zaya yang belum lama ini meminta izin untuk buang air kecil. "Atau istri lo itu sebenernya tadinya simpenan papa lo, terus sewaktu dia hamil atau papa lo mulai bosen, dia nyuruh lo yang mesti nikahin? Ntar kalau mulai kangen, bisa dipakai lagi, kali, ya?"


Buk!


Tanpa berkata-kata, Afriz berbalik dan menanggapi perkataan tersebut dengan satu tinju. Lalu disusul pukulan-pukulan yang tak kalah bertenaga. Matanya memerah, menggambarkan besarnya rasa marah kepada laki-laki di depannya ini. "Jaga itu omongan!" teriaknya, seraya memberikan bogem mentah yang terakhir sebelum dia menjadi sasaran pukulan balasan.


"Terus kalau orang yang tadi lapor polisi, gimana?"


Suara Zaya barusan membawa Afriz kembali tersadar dari ingatannya tadi. "Nggak akan."


"Kalau iya?"


"Ya nggak apa-apa, Mas dipenjara juga," sahut Afriz enteng, yang seketika membuat mata Zaya melotot.


"Nggak lucu."


"Mas juga nggak lagi ngelawak." Afriz merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukan. "Dia nggak akan lapor polisi, Yang."


Zaya mendongak, memastikan pernyataan barusan melalui sorot mata laki-laki yang tengah memeluknya ini. Lalu menenggelamkan kepalanya lagi di dada suaminya. Untuk beberapa saat, hanya ada hening. Lalu Zaya tertidur di pelukan suaminya dalam keadaan mata sembap.


...***...


"Nama saya Ihzaya Nurina, biasa dipanggil Zaya. Dua minggu yang lalu, usia saya genap 21 tahun." Perkenalan singkat Zaya ini hanya ditanggapi dengan ekspresi datar oleh para teman satu kelasnya, bahkan lebih banyak yang tak mendengarkan omongannya. "Saat ini, saya sudah bersuami."


Nah, raut wajah datar mereka seketika berubah menjadi tak menyangka.


"Apa!?" tanya mereka, hampir bersamaan. "Udah jadi istri orang?"


Zaya mengangguk membenarkan. "Iya, semenjak tujuh bulan yang lalu," terangnya seraya tersenyum.


Walau merasa tak terlalu percaya, para kawan barunya tampak terima-terima saja. Sebab, tiada hal lain yang bisa mereka perbuat kecuali menerima keterangan yang belum sepenuhnya mereka percayai.


"Zaya, silakan kembali ke tempat dudukmu. Kita lanjutkan kuliahnya," ucap dosen berkacamata yang mengisi jam mata kuliah pada kesempatan kali ini.


Kemudian Zaya mengangguk dan segera melaksanakan perintah dari salah satu sumber ilmunya itu.


Tak sampai lima menit, seseorang muncul dari arah luar. Sosok itu membuat sedikit celah supaya bisa masuk, hingga gerakannya menjadi pusat perhatian seisi ruangan. "Maaf, Bu, saya terlambat," katanya.


"Iya, saya tahu kamu terlambat. Lantas?"


Dapat Zaya lihat bila pemuda yang baru tiba tersebut meringis sambil berkata, "Saya mau ikut kuliah Bu Dosen," kemudian melangkah menuju tempat duduknya.

__ADS_1


Semuanya berjalan lancar dan terasa begitu cepat. Zaya membereskan buku-buku beserta alat tulis yang tak seberapa, selepas dosen yang mengajar sudah ke luar ruangan. Setelah itu bangkit dari posisinya kini, lekas pulang.


Hampir setengah jam sudah Zaya berdiri, menunggu mobil angkutan. Waktu terasa begitu lama. Ia bahkan sudah belasan kali melirik arloji di lengan kiri dan mengecek jam pada layar ponsel, memastikan kedua benda tersebut menunjukkan waktu yang sama. Juga menunggu balasan pesan dari suaminya, yang sayangnya belum ia terima.


"Nunggu jemputan?"


Samar-samar ia mendengar seseorang bertanya. Membuat kepalanya refleks mendongak dan mendapati sosok berhelm yang ternyata merupakan pemuda yang tadi terlambat masuk ke kelas. "Nunggu angkot, tapi sudah setengah jam nggak datang-datang," jawabnya pelan.


"Jam segini angkot jarang ada yang lewat. Udah sore juga, kan?"


Zaya mengiyakan melalui anggukan. Kini tangannya menyentuh layar ponselnya, mengecek balasan pesan dari Afriz untuk kesekian kalinya. Akan tetapi, lagi-lagi ia tak kunjung mendapat tanggapan dari suaminya itu.


"Pulang ke mana, emang?"


"Ke Jalan Merpati."


"Kita searah. Bareng, yuk."


Mendengar ajakan barusan, Zaya hanya menggigit bibir bawahnya dan bergerak-gerak gelisah. Cemas memilih jawaban antara menerima tawaran tersebut atau tidak. Jika dirinya ikut, itu tak mungkin. Selain terkesan kurang pantas karena ia sudah bersuami, mereka juga belum kenal. Sementara di sisi lain, balasan pesannya untuk Afriz juga belum ia terima. Bahkan sejak tadi hanya centang satu.


Setelah menimbang-nimbang banyak hal, akhirnya perempuan itu mengiyakan. Bersama laki-laki yang kini ia ketahui bernama Ridho tersebut, ia menembus ramainya pusat kota kabupaten menuju tempat tinggalnya.


"Terima kasih, Kak, sudah mengantar. Jadi ngerepotin, nih," ucapnya setelah menyerahkan helm.


"Iya, sama-sama. Nyantai aja."


Pak Hidup yang baru saja tiba di teras, kini tersenyum menawarkan wajah seorang ayah. "Terima kasih ya, sudah mau mengantarkan menantu saya," katanya, sengaja mempertegas posisi Zaya di rumah ini.


Ridho yang baru akan berbalik dan melangkah, tentu saja tertegun mendengar ucapan laki-laki paruh baya di depannya. "Me-menantu?"


"Oh." Entah hanya perasaan Zaya saja atau bagaimana, ucapan tersebut seperti sebuah ungkapan kekecewaan. "Pulang dulu, Ya," pamitnya. Kemudian laki-laki itu mengangguk sekilas, memberi hormat kepada Pak Hidup. "Mari, Pak."


"Ya, hati-hati di jalan," sahut Pak Hidup, ramah.


Bersamaan dengan menghilangnya bayangan Ridho, tiba-tiba Zaya merasa mual seperti saat masih di kampus dan di jalan tadi.


"Kamu kenapa, Ya?" tanya Pak Hidup kepada menantu perempuannya.


Zaya menggeleng, tanda tak tahu. "Nggak tahu, nih. Tiba-tiba mual. Nggak enak badan, mungkin."


Seusai mertuanya membereskan urusan, Zaya bergegas ke kamar mandi, yang entah mengapa terasa berkali-kali lipat lebih jauh dari biasanya. Ia pun seperti lupa arah. Sedangkan rasa mualnya makin menjadi. Kepalanya pun ikut berkunang-kunang. Hingga akhirnya ia tersandung sesuatu.


"Aw!" aduhnya sebelum berteriak, "Toloooong!"


Afriz yang baru saja akan membangunkan Zaya yang sejak setengah jam yang lalu tertidur di mobil, sontak saja merasa heran. Keningnya berkerut, mempertanyakan pertolongan apa yang istrinya minta. Disentuhnya pipi Zaya untuk membangunkan perempuan itu. "Bangun, Sayang."


Dapat dia lihat mata Zaya mulai terbuka. "Mimpi buruk?" tanyanya, saat Zaya sudah benar-benar terjaga.


Zaya yang sedang dipandang oleh suaminya, matanya mengerjap-ngerjap. Setelah menatap wajah laki-laki itu, ia jadi jengkel sendiri. "Mas kok nggak jemput aku? Pesan-pesanku juga nggak dibales, lagi," katanya.


Afriz yang masih bingung mencerna maksud istrinya, kini bertambah linglung. "Apa sih maksud kamu, Yang? Mas nggak ngerti. Ini saja kita baru pulang dari rumahnya Bu Devi. Malahan baru sampai depan rumah," ujarnya kemudian.


Mendengar ucapan suaminya, kini mata Zaya mengerjap lagi. Pandangannya mengedar, memastikan di mana ia berada sekarang. Ternyata ia tak ada di tempat terakhirnya tadi. Kakinya pun tak meninggalkan jejak rasa sakit akibat tersandung pada saat perjalanannya menuju kamar mandi.

__ADS_1


"Berarti, yang barusan itu aku cuma mimpi?" tanyanya, masih dalam usaha mengumpulkan nyawa sehabis tidur. Suaranya terdengar serak.


Afriz terkekeh. "Mimpi apa, memangnya?"


"Aku mimpi ketemu cowok di jalan, terus dianter pulang sama dia."


"Terus, cowoknya itu ternyata penjahat. Makanya kamu teriak-teriak minta tolong?"


"Enggak, dong." Zaya berusaha mengingat-ingat adegan-adegan dalam mimpinya tadi. "Aku tadi minta tolong karena kesandung sewaktu mau ke kamar mandi, padahal aku udah pusing dan mual-mual."


Semenjak Zaya mengucapkan kalimat terakhirnya, Afriz memandang wajah perempuan itu. Setelah itu tersenyum semringah, disertai telapak tangannya yang menyentuh area perut istrinya tersebut. "Cepat hadir, ya, Nak."


Sementara Zaya sendiri, kini tertegun. Lalu mengikuti arah pandang laki-laki di sekitarnya itu ---masih di area perutnya.


"Masuk, yuk, Yang," ajak Afriz kemudian.


Zaya hanya sanggup mengangguk. Ia tak segera membuntuti langkah suaminya. Masih sibuk mencerna maksud kalimat yang justru membuatnya dilema antara hendak mengiyakan atau tidak.


Beberapa saat kemudian, mata Zaya terpejam. Terdengar pula helaan napas darinya. Setelah itu ia menyusul Afriz yang sudah terlebih dahulu menapaki pekarangan rumah, dengan langkah setengah berlari agar dapat menggenggam tangan laki-laki itu.


Merasakan sentuhan pada telapak tangannya, Afriz mempererat genggaman perempuan yang sudah berada di sebelahnya.


"Mas," panggil Zaya dengan suara amat pelan.


"Hm?"


 Zaya mengembuskan napas berat. Khawatir akan reaksi Afriz jika mendengar ucapannya nanti. "Kalau aku ... ka-kalau a-aku ... belum siap punya anak ... gi-gimana, Mas?" ungkapnya seraya menunduk.


Langkah Afriz terhenti seketika, disertai tubuh yang menegang sempurna. Dia menoleh ke arah Zaya berada. Sorot matanya tak terbaca.


...***...


"Maaf, Mas, kalau aku belum bisa jadi istri yang baik buat Mas. Tapi aku emang bener-bener belum siap punya anak." Dengan kepala menunduk dalam, Zaya mengungkapkan sebuah pengakuan yang baginya perlu, sebelum langkah mereka semakin jauh.


Afriz duduk, menghadap istrinya. "Kenapa, Ya? Apa yang bikin kamu ragu untuk punya anak dari pernikahan kita?" tanyanya meminta penjelasan. Ekspresinya nampak tersinggung. "Mas menikahi kamu bukan karena nafsu semata, walaupun itu salah satu poin penting dalam sebuah rumah tangga. Tapi selain itu Mas memang ingin menata hidup yang lebih baik lagi bersama keluarga kita."


Zaya hanya menggeleng. Bingung harus menanggapi bagaimana.


"Kalau kamu khawatir Mas nggak bisa membiayai hidup kalian, kamu salah besar. Mas siap, dan insya Allah mampu. Kalau kamu takut bakalan repot ngurus Faiz dan anak kita nanti, Mas nggak keberatan kalau kita bayar orang buat bantu kamu ngurus rumah. Mas sudah memikirkan semua ini secara matang. Jadi, Mas rasa nggak ada alasan bagi kita untuk menunda momongan."


Zaya menggigit bibir bawahnya, melampiaskan rasa gelisah dalam diri saat ekspresi tersinggung suaminya nampak makin kentara.


Ia mengakui bahwa apa yang dikatakan oleh suaminya memang benar. Tak ada alasan bagi keduanya untuk menunda hadirnya seorang anak di antara mereka. Mengingat keuangan Afriz yang saat ini tak bisa dikatakan kekurangan, hal tersebut tergolong sangat wajar. Kebutuhan anak mereka nanti pasti bisa terpenuhi secara mudah, karena ia yakin, setiap individu membawa rezekinya masing-masing. Hanya saja, bukan itu yang ia khawatirkan.


Ini tentu bukan tentang usianya. Zaya mengerti itu. Kalau saja ia telah memiliki keinginan untuk menikah, umur berapa pun dirinya pasti sudah siap dengan konsekuensi yang harus ia hadapi. Kalaupun ia tak sanggup memikul tanggung jawab yang dibebankan, ia hanya perlu menyalahkan ketergesaannya memutuskan untuk menikah muda.


Tetapi, sedari awal pikirannya belum mengarah ke sana. Semua terjadi begitu saja. Tanpa rencana. Tanpa aba-aba. Tanpa orientasi. Padahal, untuk menjadi seorang ibu seutuhnya dan bisa diteladani oleh anak-anaknya nanti, Zaya perlu banyak bekal yang memadai.


Lagi, Zaya hanya menggeleng. Benar-benar tak mengerti harus bagaimana menanggapi suaminya. "Aku pasrah, Mas. Kalau memang Mas udah pengin punya anak dari aku, aku nggak bakalan nolak. Udah kewajiban aku untuk mematuhi apa perintah suami, kan?"


Tubuh Afriz justru menegang. Rahangnya mengeras. Bukan itu tanggapan yang ingin didengar dari istrinya. Dia mau, Zaya juga sama-sama menginginkan kehadiran buah hati mereka, bukan karena tuntutan semata.


Entah dia yang tak tahu caranya menjelaskan atau bagaimana, sehingga terjadi salah pemahaman semacam ini. Karena dia yakin bahwa perbedaan pendapat ini hanya soal waktu. Tetapi kalau memang sudah masanya, dia sudah sangat siap. Baik secara mental maupun finansial.

__ADS_1


...***...


__ADS_2