Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar

Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar
Pulang ke Rumah Bapak


__ADS_3

Dari yang Afriz lihat sejak bangun tidur tadi, Zaya hanya diam. Perempuan itu belum mengajaknya berbicara sama sekali.


Wajah sang istri pun tampak pucat dan tidak bersemangat. Bahkan, bila jam segini biasanya langsung sibuk dengan pekerjaan rumah, Zaya malah kembali ke kamar Faiz.


Hal tidak biasa inilah yang mendorong Afriz untuk mengikuti istrinya itu. Ia khawatir kalau-kalau ada sesuatu yang terjadi kepada istrinya.


Refleks, Afriz menempelkan punggung tangan kanannya untuk mengecek suhu tubuh Zaya.


"Pusing?" tanyanya, begitu ia merasakan panas tubuh tak biasa melalui sentuhannya ini.


Tanpa menampilkan ekspresi apa pun, Zaya mengangguk. Lalu perempuan itu menaiki kasur busa di lantai kamar Faiz secara hati-hati untuk mulai tiduran dan selimutan.


Mulutnya tertutup rapat. Ia enggan berinteraksi dengan Afriz. Bahkan malas melihat wajah suaminya sendiri. Rasanya empet banget.


"Kamu istirahat aja, nggak usah ngapa-ngapain dulu." Afriz membetulkan selimut yang menutup sebagian tubuh Zaya.


Lalu menetap, memandang sang istri yang matanya mulai terpejam. Kemudian tangannya mendekat, hendak menggenggam telapak tangan Zaya yang terbebas.


Namun, baru saja kulit mereka bersentuhan, Zaya sudah menarik tangannya. Ia memilih memeluk Faiz yang masih nyaman dalam tidur.


Untuk beberapa saat hanya ada kelengangan. Afriz masih setia menatap Zaya yang matanya masih terpejam.


Dari wajah di depannya itu, ia dapat melihat perpaduan antara perasaan lelah dan cemas yang begitu jelas.


Apalagi tubuh di hadapannya ini mulai menggigil dan berkeringat dingin. Makanya ia jadi tak tega kalau harus pergi dan membiarkan Zaya mengurus Faiz sendirian dalam keadaan begini.


Walau Zaya hanya menggumam tak jelas, Afriz tahu bahwa istrinya tengah kedinginan karena demam. "Sebentar, Yang."


Menghadapi situasi begini, terang saja Afriz kelabakan. Karena selama menikah, inilah pertama kalinya Zaya demam, dan ia tak tahu perawatan seperti apa yang mestinya ia berikan.


Seolah tak mengerti kerepotan Afriz, pagi-pagi begini sudah ada orang yang bertamu.


Meski malas, pria itu tetap beranjak guna menyambut pengunjung tak dindang tersebut.


...***...


Zaya merasakan jemari kecil menyusup di antara rambutnya, menjambak pelan. Kemudian, ia pun dapat merasakan tepukan-tepukan yang lumayan bertenaga pada wajahnya.


Setelah membuka mata, Zaya dapat melihat Faiz yang tengah memainkan rambut sekaligus menepuk-nepuk wajahnya. "Faiz," panggilnya di antara sadar dan tidak.


Tangan perempuan itu menuju ke area mata saat merasakan ada sesuatu yang menempel di bagian tersebut.


Lalu mendadak panik ketika telapak tangannya menyenggol kain basah. "Faiz tadi demam?" tanyanya, buru-buru menempelkan punggung tangan pada dahi Faiz.

__ADS_1


"Tapi dia biasa aja, kok," lanjutnya, masih tak habis pikir. Kemudian bergumam heran, "Masa, aku yang demam? Aku kan cuma pusing biasa."


Tentu Zaya sendiri tak percaya jika dirinyalah yang baru saja demam, makanya dikompres. Karena terakhir ia demam sudah lama sekali, sepertinya saat masih kelas dua SMP.


"Kamu sudah bangun?"


Begitu mendengar suara tak asing barusan, Zaya terlonjak. Ia langsung bangkit dari posisi baringnya. "Bu Lincah pagi-pagi kok udah di sini?"


Sambil membawa semangkuk makanan hangat menggunakan nampan, Bu Lincah tertawa kecil. Tawa yang tak pernah Zaya lihat sebelumnya.


"Saya yang akan menjaga kamu di sini, selama suami kamu bekerja. Itu pun kalau kamu tidak keberatan."


"Maksudnya apa, Mas?" tanya Zaya yang tak menyangka pada apa yang baru saja ia dengar. Mempertanyakan kepada suaminya yang sepertinya baru selesai bersiap-siap untuk pergi.


"Mas mau ambil hape di studio, sekalian menyelesaikan urusan. Sebentar, kok. Kebetulan Bu Lincah juga bersedia menjaga kamu, jadi Mas bisa pergi dengan tenang."


"Iya. Kita kan hidup bertetangga. Sudah sewajarnya kita saling bantu. Lagi pula, saya sedang tidak repot, kok," timpal Bu Lincah, berusaha meyakinkan Zaya.


"Aku udah nggak kenapa-kenapa, kok. Aku nggak perlu dijaga sama siapa-siapa. Aku bisa jaga diriku dan Faiz."


Entah mengapa, Zaya rasa Afriz tak percaya lagi padanya sampai-sampai harus meminta Bu Lincah mengawasinya –berkedok menjaga dan merawatnya yang sedang sakit.


"Yang, tolong untuk kali ini kamu nggak usah keras kepala, bisa? Ini semua juga demi kamu, demi anak kita juga."


Kalau saja ungkapan 'keras kepala' disampaikan oleh Afriz ketika mereka hanya berdua, mungkin Zaya lebih bisa menerima.


Menahan tangis, Zaya memalingkan muka. "Terserah."


"Hei," panggil Afriz gemas, seraya menangkup kedua pipi istrinya. Kakinya bertumpu pada tepi kasur busa. "Kok jadi gini, sih? Mas janji. Paling lama satu setengah jam, Mas sudah pulang lagi."


Zaya tak menjawab. Bahkan tak merespons saat Afriz mengecup singkat dahi, pipi, lalu berakhir di bibirnya. Terlonjak kaget seperti biasanya pun sama sekali tidak.


Pikirannya sudah terlalu kacau, sehingga kepalanya makin pening.


"Sekarang kamu istirahat, biar cepat sembuh," lanjut Afriz.


Kemudian, tak ada balasan. Zaya kembali menikmati keterdiamannya. Tak punya minat untuk menanggapi pernyataan suaminya.


Ia makin malas melihat wajah suaminya. Masih pula ditambah dengan sikap dan perkataan Afriz yang membingungkan seperti sekarang. Bilangnya peduli, tapi nihil aksi.


Baginya, itu sudah sangat jelas kalau sang suami hanya berbasa-basi.


Tadi malam sok-sokan bertanya, "Ada apa?"

__ADS_1


Tapi sekarang malah membuat ruang geraknya jadi tak leluasa, dengan mendatangkan salah satu sumber rasa tidak nyamannya ke rumah ini.


"Aku mau pulang ke rumah bapak," ucap Zaya tanpa memperlihatkan wajah kepada lawan bicaranya.


Mendadak ada yang tak nyaman di hati Afriz mendapati pilihan kata yang Zaya gunakan kali ini. "Kita berkunjung ke tempat bapak dan ibu kalau kamu sudah sembuh. Sekarang, yang paling penting kamu sehat dulu."


Lagi-lagi, Zaya tak menanggapi. Masih pula tak berekspresi.


Terdengar helaan napas berat dari hidung Afriz. Ia sadar akan kemarahan yang tersirat dari sikap sang istri.


Tetapi ia tak menyangka bila rasa marah Zaya kepadanya masih berlanjut hingga sekarang, tersebab peristiwa tak terduga tadi malam.


"Dari mana?"


"Beli bakwan malang," jawab Zaya tanpa memandang lawan bicaranya.


"Kan bisa minta tolong Mas buat beliin. Nggak perlu keluar-keluar sampai harus terjebak hujan, dan akhirnya baju kalian jadi basah kuyup gini."


"Hape Mas aja nggak aktif, gimana aku bisa minta tolong?"


Pertanyaan sarat kejengkelan dari Zaya barusan, terang saja mengingatkan Afriz pada satu hal. Bahwa sejak magrib ia memang tak memegang telepon genggam, lantaran sedang diisi daya. Sekarang benda elektronik miliknya itu malah tertinggal di meja studio. "Iya, maaf. Dari tadi Mas memang nggak pegang hape. Tadi Mas sibuk banget."


"Udahlah, aku dingin. Capek, ngantuk."


Meski dahinya sempat berkerut heran dalam beberapa detik, Afriz membiarkan sang istri berganti pakaian. Ia menanamkan pemikiran positif saja, bahwa Zaya hanya kedinginan, makanya nada bicaranya jadi tak enak didengar begitu.


Namun, ternyata dugaan Afriz meleset jauh. Tak ada yang berubah dari sikap perempuan itu seusai mengganti pakaian. Tetap dingin dan tampak enggan bersitatap dengannya. Hal itulah yang membuatnya jadi makin tak mengerti apa kemauan sang istri, yang jujur saja membuatnya kelimpungan. "Kita perlu bicara berdua," katanya, seraya menarik pelan lengan istrinya agar mau mendengarnya.


"Apa?" Kali ini Zaya memang menatap Afriz, tetapi sorotnya memancarkan luka. "Mas mau kayak orang-orang yang nuduh aku selingkuh sama Mas Pam, sampai-sampai aku hamil anak yang sekarang aku kandung ini?"


"Hei, tenang dulu." Afriz menangkup kedua pipi Zaya seraya menepuknya lembut. "Siapa yang berani-beraninya bilang kalau bayi yang kamu kandung ini bukan anak Mas?"


Tetapi sampai sekarang, Afriz sama sekali tak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya tadi malam.


Setelah sekian lama menunggu Zaya menanggapi pembicaraan, Afriz akhirnya menyerah.


Laki-laki itu bangkit dari posisinya, memilih berangkat ke studio untuk mengambil ponsel daripada hanya mendengarkan suara angin bertiup.


"Berangkat dulu, ya."


Masih tak ada tanggapan.


Zaya tetap tak mau menatap sang suami yang sebentar lagi akan meninggalkannya bersama Bu Lincah yang sikapnya mendadak berubah.

__ADS_1


Jawaban salam untuk Afriz pun hanya dituturkan sepelan mungkin.


...***...


__ADS_2