
^^^[Gimana keadaan papa?]^^^
Pesan tersebut belum dibalas. Zaya pikir, mungkin Afriz belum sempat membuka ponsel.
Lalu ia meneruskan kegiatan mencuci piring setelah selesai merendam pakaian, selimut, serta seprei untuk mengalihkan firasat tak enaknya.
Semenjak kepergian Afriz dini hari tadi, perasaannya memang jadi makin tak menentu.
Pak Hidup memang memiliki riwayat penyakit jantung koroner. Zaya sering mendapati pria paruh baya itu berkeringat berlebihan, bernapas pendek-pendek, dan tak jarang mengeluhkan nyeri pada dadanya. Kendati demikian, Zaya rutin memberikan jus buah berantioksidan tinggi kepada mertuanya itu untuk mencegah serangan jantung mendadak.
[Belum tau. Tadi pas sampai sini, pihak rs langsung pasang pipa napas. Tapi belum jelas penanganan lanjutannya mau gimana.]
^^^[Semoga keadaan papa makin membaik ya mas]^^^
[Amiin. Makasi ya sayang]
^^^[Iya]^^^
^^^[Mas jangan lupa makan]^^^
Udara pagi semakin hangat oleh sinar matahari yang tak lagi malu-malu untuk menampakkan diri. Sementara itu, Zaya sudah selesai mencuci pakaian, selimut, serta seprei.
Ditemani Faiz yang melakukan rutinitas berjemur, Zaya mengeluarkan jemuran aluminium ke pekarangan kosong di samping rumah. Kemudian mengangkat ember besar berisi pakaian milik setiap anggota keluarga yang sudah siap dikeringkan di bawah sorot matahari.
"Permisi."
Belum sampai Zaya menjemur pakaian yang pertama, ia sudah keburu mendengar sapaan tamu pagi. Ia meneruskan kegiatan menjemurnya yang tanggung itu. Setelah satu pakaian tersampir di tempatnya dan memastikan Faiz berada dalam posisi aman, ia pun mendekat.
"Ya, cari siapa?" tanyanya.
"Istrinya Afriz ada?" tanya perempuan itu, tanpa menjawab.
"Kebetulan dengan saya sendiri. Ada perlu apa, ya?"
Lawan bicaranya tak segera menjawab, namun malah meneliti nyonya rumah terlebih dahulu. Agak sangsi sepertinya. "Perkenalkan, saya Vita."
Zaya pun membalas uluran tangan perempuan bernama Vita itu. Ia tersenyum. "Zaya," katanya.
"Oh, oke." Vita mengangguk-angguk, lalu melepaskan jabatan tangan mereka. "Tadi Afriz minta saya ke sini untuk mengambil kunci studio. Untuk sementara, katanya biar saya dan teman saya dulu yang jaga di sana."
"Oh, iya. Sebentar, saya ambilkan di dalam. Duduk dulu, Mbak," tawar Zaya seraya menunjuk kursi teras. "Eh, Masnya juga," lanjutnya, saat melihat seorang laki-laki yang tak ia kenal mendekat ke arahnya.
Begitu masuk rumah, Zaya tak segera mengambilkan kunci. Ia justru mengambil ponsel, hendak memastikan bahwa Afriz memang mengutus orang untuk menjagakan studio foto yang biasa laki-laki itu urus.
Bukannya tak percaya. Ia hanya mengantisipasi kemungkinan yang tak diinginkan, mengingat bahwa kejahatan tak bisa dideteksi jelas keberadaannya.
^^^[Mas tadi minta orang buat ngambil kunci di rumah?]^^^
[Eh iya. Mf, tadi lupa gak ngasih tau kalo minta tolong 2 tenaga buat gantiin tugas mas utk sementara waktu. Mereka sudah sampai?]
^^^[Udah. Ini aku baru mau ngambil kuncinya. Tapi aku gatau mas naruhnya di mana]^^^
Afriz yang sepertinya tidak telaten mengetik, kini mengirimkan pesan suara.
__ADS_1
"Kamu ambil saja di laci meja ruang tengah. Yang sebelah kiri. Tapi kamu tahu bentuk kunci nggak?"
^^^[Tau lah]^^^
Tanpa menanggapi gurauan Afriz yang terkesan meremehkannya dalam hal perkuncian, Zaya menuju tempat yang telah ditunjukkan. Lalu menfoto dan mengirimkan gambar kunci yang ia temukan.
^^^[Yang ini kan?]^^^
[Betul]
Sembari membawa kunci yang dibutuhkan, Zaya kembali ke teras dan menyerahkan benda tersebut. "Maaf ya, kalau lama. Ini Mbak, kuncinya."
Setelah memaklumi melalui anggukan, Vita pun menerima benda yang diserahkan kepadanya. "Terima kasih. Kalau begitu, kami langsungan saja, ya."
"Iya, hati-hati di jalan."
Zaya menunggu tamunya menghilang ditelan jarak pandang, sebelum melanjutkan kegiatan yang tadi tertunda.
Akan tetapi, pemandangan di dekat ember cucian benar-benar membuatnya tak tahu harus bereaksi seperti apa.
"Faiz," panggilnya gemas. "Masa, dalemannya Papa dipakai di kepala???"
...***...
Afriz membuka pesan dari Zaya. Pandangannya menemukan tangkapan gambar yang berhasil memunculkan lengkungan senyum geli pada bibirnya.
[Tuh kelakuannya Faiz]
Walau itu berarti, dia mesti mengingat obrolan mereka dini hari tadi.
"Mas ... cinta nggak sama aku?"
Afriz menggeleng-geleng pelan. Tak tahu pertanyaan tersebut sudah bisa dia jawab atau belum. Toh, apa pentingnya ungkapan cinta kalau dia hanya perlu membuktikan perasaannya kepada sang istri?
Lagi pun, baik ia maupun Zaya sudah saling memahami satu sama lain. Saling menguatkan. Zaya bahkan sudah paham akan kode-kodenya ketika kebutuhan biologisnya perlu pemenuhan, atau kala ia sedang lelah tenaga dan pikiran.
Juga sama-sama memberi dan menerima, sebagaimana esensi cinta itu sendiri.
Bahkan bisa dibilang, Zaya sudah 'mengganggunya' semenjak mereka belum dijodohkan.
Pribadi gadis itu yang tak gampang menyalah-nyalahkan orang lain atas apa yang menimpanya, secara tak langsung telah menampar dan mengajarkan agar dirinya mau berdamai dengan masa lalu tanpa mengkambinghitamkan orang lain.
Afriz bisa melihat luka pada mata Zaya adalah cerminan luka-luka masa lalunya sendiri.
Zaya memang tak bisa membantu mengubah masa lalunya, tetapi paling tidak, telah berhasil membuatnya percaya bahwa dirinya bisa menjadi individu yang lebih baik lagi.
Ada harapan bagi Afriz untuk menata hal-hal yang sudah ia kacaukan sendiri.
Lalu setelah menikah, kekaguman yang ia peruntukkan bagi Zaya kian bertambah. Berkali-kali lipat, semenjak dirinya diizinkan untuk menyelami dan mengetahui situasi yang sebenarnya.
Dengan sendirinya, rasa yang berbeda itu pun terbangun begitu mulus dalam waktu yang tak begitu lama.
Tentu, pada usianya yang kian matang ini, Afriz tak ingin mengulang kesalahannya kepada para kekasihnya dulu, dengan sering mengumbar kata-kata manis serta ungkapan-ungkapan cinta yang nyatanya berakhir sia-sia.
__ADS_1
Dia tak ingin memperlakukan istrinya seperti itu. Porsinya jelas-jelas berbeda, dan Zaya jauh lebih layak mendapatkan yang terbaik darinya -meski ia sadar belum bisa memberikan apa-apa.
Walau memang, beberapa waktu yang lalu lelaki itu sempat mengira bahwa perasaan untuk Vita masih ada, atau tetap utuh seperti sediakala.
Nyatanya, itu hanya emosi sesaat. Cuma menumpang lewat, ketika ia dan Zaya sedang tak sependapat.
Ya, sedangkal itu.
Lantas, masih perlukah ucapan cinta dari bibirnya, kalau pikiran, hati, dan perbuatannya sudah jelas-jelas mengarah ke sana?
Derit pintu kaca yang dibuka, menyadarkan Afriz dari lamunan.
"Keluarga pasien ...."
Afriz berdiri, menghadap seorang lelaki berjas putih yang baru saja menangani ayahnya. "Saya, Dok. Bagaimana? Ayah saya bisa selamat, kan?" tanyanya dengan suara sedikit bergetar. Juga berharap.
"Sejauh ini, ya. Hanya saja kemungkinannya amat kecil. Karena selain terjadi penyempitan pembuluh darah pada arteri koroneria, juga ada sedikit kebocoran di antara dinding jantung sebelah kiri dan kanan pasien. Jadi, mau tidak mau kami harus membentuk tim untuk melakukan tindakan lanjutan, sebelum kami bisa menentukan perlu bedah atau tidak, walaupun 90% sudah dipastikan akan melakukan pembedahan. Meski usaha ini berhasil sekalipun, kemungkinan besarnya komplikasi ikut meningkat."
Mendengar penjelasan itu, benak Afriz makin tak keruan. "Lakukan yang terbaik untuk ayah saya, Dok."
Si Dokter mengangguk, "Kalau begitu saya pamit dulu."
Tanpa berkata-kata lagi, Afriz mempersilakan dokter yang menangani ayahnya untuk melanjutkan kewajiban.
Laki-laki itu berusaha mengintip ayahnya melalui pintu ruang ICU. Wajahnya semakin lesu, memikirkan segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi kepada ayahnya nanti, esok, ataupun lusa.
Pikirannya kian tak menentu.
Andai apa yang dialami oleh ayahnya terjadi beberapa tahun lalu saat hubungan keduanya sedang panas-panasnya, mungkin situasi dalam hatinya akan berbeda.
Dirinya mungkin akan bergembira di atas rasa sakit ayahnya sendiri. Karena dengan begitu, tak akan ada lagi yang menghalangi rencana pernikahannya dengan Vita, wanita pilihannya yang kala itu benar-benar ia cintai.
Mungkin ini yang dinamakan sakit tanpa harus berdarah. Belum genap satu tahun ia bisa berdamai dengan ayah dan dirinya sendiri, ia sudah harus mendapat hukuman semacam ini.
Bahkan sebelum dirinya sempat menebus semua kesalahannya kepada sang ayah. Memperpanjang deretan dosa yang ia lakukan kepada ibunya yang lima tahun lalu mengalami stroke, karena terlalu memikirkan anak sulung laki-laki tak tahu diri sepertinya.
Ketika itu ia tak peduli saat ibunya tengah sekarat. Ia tak berada di dekat wanita itu, dan justru berlibur bersama kekasihnya. Dia pun sama sekali tak peduli saat salah satu kerabatnya memberi tahu berita kepergian orang yang telah melahirkannya itu.
Ya, dirinya memang seberengsek dan sebejat itu. Tak tahu caranya berterima kasih.
Tak tahu bagaimana semestinya ia mengemban tanggung jawab sebagai anak laki-laki dari sebuah keluarga yang tak bermasalah.
Tak tahu bagaimana sepatutnya ia menjadi seorang kakak yang melindungi Nida. Dirinya benar-benar tak layak dimaafkan oleh siapa pun.
Seolah belum cukup telak, Tuhan pun menambah hukuman baginya melalui rasa sesal tanpa ujung seperti ini.
Kini punggung pemuda itu menempel sempurna pada dinding putih di belakangnya. Lalu merosot bersama jiwanya yang tak berpenopang. Kedua telapak tangannya menutup wajah.
Pada waktu yang sama, bahunya bergetar. Menahan tangis sesal, yang sayangnya tak mampu mengubah apa-apa.
Memperlihatkan kejatuhannya di depan adik iparnya yang baru saja kembali seusai membelikan sarapan untuk mereka berdua.
...***...
__ADS_1