Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar

Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar
Asing di Rumah Sendiri


__ADS_3

Suasana tempat tinggal Afriz dan Zaya jadi lebih ramai daripada biasanya, karena ada teman-teman Afriz yang berkunjung.


"Ini anak, ya. Nikah aja nggak kabar-kabar."


Si korban ledekan pun terkekeh. "Mau ngundang kalian kan jauh banget. Lagi pula memang nggak ada pesta, kok. Cuma ijab kabul, dan acara setelahnya ya jadi ajang kumpul-kumpul keluargaku dan istri. Sudah. Itu, kan, intinya pernikahan?"


Kini Zaya membawakan beberapa cangkir teh dan camilan di nampan untuk para tamu yang datang ke rumah ini untuk menjenguk suaminya.


Tak lupa ia mempersilakan para tamu itu untuk menikmati kudapan kecil dan meminum teh buatannya.


"Thank you, Dek," ucap salah satu teman Afriz, mewakili.


Sedangkan beberapa di antaranya, ada yang langsung saja menyeruput teh yang baru saja disajikan.


"Terus, gimana enaknya punya istri?"


"Apa, ya?" Afriz melirik Zaya sekilas, tersenyum ke arah perempuan itu. "Kalau mau makan, ada yang masak. Kalau capek, ada yang mijat. Gitu-gitu, sih."


"Kalau lagi pengen, tinggal colok tanpa khawatir, ya, Friz?"


"Ya nggak asal colok juga, lah."


Merasa tak perlu menimbrung pembicaraan para lelaki yang makin menjurus itu, Zaya melangkah untuk enyah dari tempat ini.


"Istrimu mana, Friz, kok dari tadi nggak kelihatan?"


Kini, langkah Zaya memelan. Dikarenakan ia belum terlalu jauh dari mereka, tentu ia dapat mendengar dengan jelas pertanyaan yang diajukan oleh salah satu sohib Afriz itu.


Entah mengapa, terasa ada yang janggal dengan hal tersebut. Tidak tahu apa, tetapi sangat jelas keganjilan yang ada.


"Iya, istrimu mana? Nggak ngurus kamu yang lagi sakit ini?" timpal yang lainnya.


Mau tak mau, dari posisinya kini, Zaya melirik suaminya. Ia menunggu apa yang akan dikatakan oleh pria itu. Ia harap, tak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan.


"Yang barusan itu istriku," jawab Afriz ringan.


Lalu dia melirik istrinya dari tempat duduknya saat ini, dan mendapati keterkejutan dari perempuan yang masih mengenakan baju baby doll berwarna dasar biru itu.


"Mana?"


"Yang barusan mengantar minum."


Jawaban kedua Afriz tersebut sukses membuat para tamu saling pandang untuk mencerna arah pembicaraan mereka. Lalu serentak menatap punggung Zaya yang semakin jauh meninggalkan mereka.

__ADS_1


"Dia?"


Afriz mengangguk ringan seraya tersenyum tipis.


"Seriusan?"


Lagi-lagi Afriz mengiyakan melalui anggukan.


"Aku kira dia adikmu."


"Aku malah ngira dia keponakanmu."


"Nggak sekalian ngira kalau dia itu anakku atau cucuku?" sindir Afriz, tak terima karena secara tak langsung dianggap om-om.


Bukannya tersinggung, para temannya itu malah terkekeh geli. Hampir mengiyakan.


"Poinnya bukan itu, sih. Kami kira, kamu jadinya tetap menikah dengan Vita. Kalau lihat pacarannya kalian yang lama gitu, rasanya aneh kalau kamu menikahnya dengan perempuan lain," kata Tio mewakili maksud para temannya.


"Iya. Apalagi kalian cuma butuh perjuangan dapat restu dari papamu," sambung yang lainnya.


Kedua teman Afriz itu sama-sama merendahkan volume suaranya, khawatir akan didengar oleh istri Afriz. Juga takut akan bagaimana-bagaimana.


"Aku juga nggak nyangka bakalan menikahi dia. Tapi yang namanya jodoh kan nggak ada yang tahu," balas Afriz.


"Eh, kayaknya ada tamu lagi." Tio yang pandangannya dapat menjangkau area di depan pintu, memastikan dugaannya.


"Masuk saja, Pam," ujar Afriz, begitu tahu bahwa yang datang adalah Pam. "Silakan duduk dulu."


"Maaf, Mas, mengganggu. Cuma mau ngantar ini." Tanpa berbasa-basi lebih lama lagi, Pam langsung saja menyerahkan bawaannya.


"Apa ini?" Afriz mengintip bawaan Pam yang dibungkus kantong kresek belang-belang itu. "Kedondong?"


"Iya, titipan dari Pak Kuswin."


"Wah, jadi merepotkan lagi, nih. Terima kasih sekali, lho."


"Sama-sama, Mas. Nggak repot, kok."


"Duduk dulu."


"Lain kali saja, Mas. Ini saya sedang buru-buru. Permisi." Pam mengangguk hormat kepada seisi rumah, kemudian mengucap salam.


Belum sampai lima menit sejak Pam minta diri, datanglah Vita.

__ADS_1


Kali ini, tamu itu menciptakan kehebohan, tatkala Afriz mempersilakan perempuan itu untuk duduk.


Jadilah suasana siang hari ini seperti reuni, mengingat teman-teman Afriz sudah sangat akrab dengan salah satu mantan pacar Afriz itu.


Afriz meletakkan sekantong kresek besar kedondong di atas meja. Setelah itu mencari keberadaan istrinya yang ternyata di kamar, tengah berganti pakaian.


Laki-laki itu menunggu hingga sang istri keluar dari sana.


"Itu ada titipan kedondong dari Bapak," ucap Afriz saat Zaya keluar.


"Bapak yang ngantar?" tanya Zaya memastikan. "Terus, sekarang Bapak di mana?" tanyanya antusias. Tidak sabar bertemu ayahnya.


"Bukan Bapak yang ngantar. Tapi mantan pacar, eh mantan gebetan kamu, tuh. Si Pam."


Kali ini Zaya cemberut. Bibirnya bergerak-gerak, bergumam tak jelas.


"Nggak usah manyun. Sekarang bikin minum satu lagi, gih."


"Bikin minum buat Mas Pam?"


"Bukan Pam, tapi untuk Vita."


Mendengar satu nama tersebut, tiba-tiba saja perasaan Zaya jadi tak enak. "Mbak Vita ke sini lagi?"


Afriz mengangguk, tak begitu mengerti perubahan raut wajah istrinya yang mendadak tak suka. "Iya. Memangnya kenapa?"


"Yaaa, sebenernya nggak apa-apa."


Zaya menggigiti bibir bawahnya, tak tahu harus menggunakan pilihan-pilihan kata apa saja untuk menyatakan keberatannya. Kemudian susah payah menelan ludah.


"Kok dia sering banget ke sini, sih, Mas?" tanya Zaya, melampiaskan rasa tak nyamannya secara terselubung.


Bukan apa-apa. Zaya hanya masih ingat dengan jelas bagaimana Vita sering membuat ruang geraknya menjadi sempit selama tiga hari sebelumnya.


Seolah-olah perempuan itu jauh lebih mengenal Afriz ketimbang dirinya, sehingga bebas mendikte Zaya.


Juga, seolah-olah sengaja membuat Zaya terlihat tak bisa apa-apa di mata suami sendiri.


Tetapi ada satu hal lagi yang tak bisa ia terima begitu saja. Selain perlakuan tak mengenakkan hati dari perempuan itu, Afriz pun tak punya ketegasan untuk menghentikan aksi sok peduli dari sosok seseksi Vita.


Suaminya itu justru selalu menganggap bahwa perhatian-perhatian tersebut adalah hal yang wajar.


Jujur, Zaya tak nyaman dengan hal itu. Hanya tiga hari, tetapi sudah membuatnya merasa asing di rumah sendiri.

__ADS_1


Sampai-sampai ia mempertanyakan, sebenarnya yang berstatus sebagai istri Afriz itu ia atau Vita?


...***...


__ADS_2