Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar

Keliru: Nyasar Di Hati Yang Benar
Kemungkinan Bercabang


__ADS_3

Sebagai usaha pencarian paling awal, Afriz melajukan motor bebeknya menuju terminal. Dirinya yakin bahwa tujuan kepergian Zaya adalah rumah orang tua dari istrinya itu, dan mesti melalui tempat yang saat ini ia tuju.


Tetapi sebelum Zaya kabur semakin jauh, ia harus bisa menahan kemudian membujuk perempuan hamil itu agar bersedia pulang dan mendengarkan semua penjelasannya secara saksama. Bahwa tak ada hubungan spesial antara dirinya dengan Vita, meski mereka merupakan mantan sepasang kekasih.


Setibanya di terminal, Afriz segera menepikan kendaraan. Lalu tergesa menuju bus-bus yang eia yakini akan membawa Zaya, Faiz, dan calon anaknya.


Tanpa permisi, pemuda itu masuk untuk menemukan orang yang dicarinya, yang nyatanya tidak ada di antara para penumpang yang duduk maupun berdiri.


"Maaf," tutur Afriz, memungkasi kegiatan pencariannya sebelum keluar dari kendaraan besar beroda empat ini.


Tentu saja dia mengabaikan sekaligus memaklumi tatapan dan gumaman heran terhadap kepanikan serta keanehan sikapnya sekarang.


Kini pandangan Afriz mengedar, meneliti setiap sudut yang bisa dijangkau oleh indra penglihatannya di bawah terik matahari pada siang hari ini. Berusaha mencermati kemungkinan bahwa Zaya masih di tempat ini.


Sayangnya, kejadian tadi terulang lagi; Zaya telah berhasil mempersempit peluang untuk ditemukan di antara bus-bus besar dan banyaknya orang yang berlalu lalang.


Lalu, tanpa pikir panjang pemuda itu menghampiri motornya lagi. Pilihan terakhirnya sekarang adalah melajukan kendaraan roda dua ini ke tempat tinggal mertuanya. Dirinya yakin bahwa istrinya menuju ke sana.


Memangnya ke mana seorang istri akan kabur saat bermasalah dengan suami, kalau bukan ke rumah kedua orang tua?


Berbekal keyakinan tersebut, Afriz mengenakan helm dan menghidupkan mesin motornya untuk menjemput Zaya agar bersedia ia ajak pulang.


Kalau Afriz boleh membela diri, rasanya tak lucu saja dia didiamkan selama seminggu, padahal dirinya tak memiliki kesalahan apa-apa.


Ya memang, tadi dia memeluk Vita. Tetapi niatnya bukan untuk memberikan harapan kepada mantan kekasihnya itu, melainkan gerakan refleks saat simpatinya terketuk. Sebatas itu, tidak ada niatan lain untuk membuat Zaya cemburu.


"Kamu yang nggak sabar, Ya. Kamu yang seenaknya lari tanpa mau mendengarkan penjelasan dari Mas."


Entah ada berapa banyak kendaraan yang sudah Afriz salip selama perjalanannya menuju Karang Kidul. Tak terhitung pula bunyi klakson dan deru kendaraan yang terdengar.


.


Sudah belasan belokan, turunan, serta tanjakan yang berhasil dilalui oleh lelaki itu. Akan tetapi, kenyataan harus dia terima ketika setibanya di tujuan.


"Mau menjemput Zaya?" Bu Darmi menatap menantunya. Tentu saja heran. "Memangnya dia belum sampai?"

__ADS_1


"Bu, tolong jangan menyembunyikan Zaya dari saya."


"Menyembunyikan bagaimana? Memang dia sudah pulang dari tadi, kok. Ibu sendiri yang mengantar dia sampai di gapura dusun. Kalau tidak mampir-mampir dulu, seharusnya dia sudah sampai rumah."


Tetapi Afriz hanya diam, memastikan bahwa mertuanya tak sedang berbohong. Dan tak ada kepalsuan yang ia temukan dari wanita paruh baya di hadapannya ini.


"Apa mungkin tlisiban? Dia baru sampai rumah saat kamu dalam perjalanan ke sini, mungkin? Coba kamu pulang dulu, mungkin sekarang Zaya sudah di rumah. Bisa jadi, tadi Zaya mampir ke pasar atau ke toko, makanya kalian tlisiban."


Gusar, Afriz mengusap wajahnya. Untuk sekarang ini, pikirannya mulai buntu sekaligus bercabang pada satu waktu.


Kalau tidak ke sini, Zaya pergi ke mana?


"Tapi betul, tadi Zaya sudah pulang, Le. Ibu sendiri yang mengantar ke gapura dusun, bahkan menunggu dia sampai naik bus. Sungguh, kami tidak menyembunyikan Zaya."


Afriz jadi merasa tak enak lantaran Bu Darmi malah berkata seperti itu, padahal sudah jelas tadi ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Zaya telah sampai di rumah. "Ya sudah, kalau begitu saya pamit dulu. Maaf, kalau saya merepotkan terus."


Walau tak sampai masuk ke rumah mertuanya ---apalagi duduk--- Afriz tetap menyalami ibu kandung Zaya itu. "Titip salam untuk bapak. Semoga bapak segera sembuh."


"Ya, Le. Amiiin. Kalau ada apa-apa dengan Zaya, langsung bilang ke Ibu."


"Eh, Le," tahan Bu Darmi sebelum menantunya sempat menghidupkan mesin motor. "Maaf, ya, kalau Zaya sering membuatmu repot karena sikapnya yang kadang-kadang masih kekanakan. Tapi Ibu percaya, kamu pasti bisa mengingatkan dan membimbing Zaya supaya dia makin dewasa."


Untuk beberapa detik lamanya Afriz hanya menatap wanita paruh baya di sekitar motornya itu melalui kaca helm.


Lalu pemuda itu mengangguk, menyanggupi tugas utama sebagai suami yang sebenarnya amat berat tersebut. "InsyaAllah." Kemudian ia menghidupkan mesin. "Saya pamit, Bu. Assalamu'alaikum."


Bu Darmi mengangguk. "Wa'alaikumsalam. Hati-hati di jalan. Jangan ngebut-ngebut."


Afriz sempat mengangguk sekilas sebelum melajukan motornya, meski belum tahu ia akan ke mana.


Dalam keadaan kalut begini, solusi semudah apa pun pasti tak menemui jalan. Maka rasanya tak mengherankan jika memikirkan beberapa kemungkinan mengenai tujuan kepergian Zaya, hampir membuat isi kepala Afriz keluar semua.


Tapi, tunggu dulu. Sepertinya ia tahu ke mana harus mengarahkan kendali motor.


Rumah Nida.

__ADS_1


...***...


Tanpa rencana, Zaya telah berada di depan rumah bercat biru. Dulu, hunian di hadapannya ini merupakan tempat tinggal mertuanya sebelum meninggal.


Zaya tak lupa bahwa sebelas bulan yang lalu, kali pertama dirinya ke tempat ini, mengantarkan cetakan foto serta album pesanan bosnya. Ia tak mengerti, takdir membawanya kembali ke tempat ini untuk kesekian kali sebagai menantu perempuan Pak Hidup.


Langkah pelan tetapi pasti itu makin mendekati pintu.


Untuk beberapa saat Zaya menghela napas yang mendadak sesak. Menata hati sebelum mengucapkan salam bagi penghuni rumah. "Assalamu'alaikum."


Tanpa harus mengucap dua kali, salamnya berbalas. Kemudian ia menunggu nyonya rumah membuka pintu untuk menemuinya.


"Nggak usah cari muka," sambut Nida tanpa basa-basi.


"Kak," panggil Zaya antara segan dan enggan, begitu mendapati ekspresi kurang bersahabat dari adik iparnya. Apalagi Nida langsung menghindari jabatan tangannya.


"Masih punya muka datang ke sini?" tanya Nida acuh tak acuh. Sejak mendapat kesaksian dari Bu Lincah, ia jadi kehilangan simpati terhadap kakak iparnya ini.


"Udahlah, kalau emang nggak mau lanjut, kamu nggak perlu maksain diri buat balik ke sini. Malah lebih bagus kalau kamu balik ke orang tua. Biar kamu makin bebas berhubungan sama mantan, dan abangku nggak makin susah gara-gara bertahan dalam pernikahan ini. Lagian papa juga udah meninggal, jadi Bang Afriz nggak perlu terbebani buat nurutin apa kata papa lagi," lanjutnya, bahkan sebelum Zaya sempat menyampaikan tujuannya datang ke sini.


"Oh, dan satu lagi: nggak usah kebanyakan tingkah. Kamu tuh harusnya sadar diri, kalau di rumah abangku, kamu dan anakmu itu cuma numpang."


Serentetan kalimat itu hanya dibalas dengan gigitan pada bibir bagian bawah oleh Zaya. Tak paham akan kondisi, bahwa tujuan utamanya ke tempat ini malah ditanggapi begitu pahitnya, bahkan dampaknya lebih menyakitkan daripada perkataan Bu Lincah yang ia dengar hampir saban hari.


"Aku ke sini cuma mau minta tolong ke Kakak, buat bilang ke Mas Afriz kalau kandunganku sehat."


"Nanti aku bilangin. Itu aja, kan?" tanya Nida tanpa minat.


"Terus ...." Jeda sesaat. Zaya mengatur napasnya yang tiba-tiba tersengal. "Bilangin ke Mas Afriz buat jaga kesehatan, jangan terlalu sering begadang, dan ...." Lagi-lagi, ucapan Zaya terjeda oleh napasnya. "Semoga semua urusannya selalu diberi kelancaran."


"Hm." Nida mengangguk-angguk malas. "Udah?"


Zaya mengiyakan melalui anggukan. "Kalau gitu, aku pamit. Titip salam buat Mas Seno dan Syifa."


"Nggak perlu," potong Nida cepat. Ia bahkan sudah melengos, saat Zaya mengucap salam. Tak pula tertarik mengarahkan pandangannya ke mana perempuan itu pergi.

__ADS_1


...***...


__ADS_2