
"Harusnya tadi kau ikut mengantar Sea pulang, dia kelihatan sedih karena kau tidak ikut ke bandara," ucap Pak Hotman mengambil tempat di samping putrinya yang sedang asik membaca novel lewat ponselnya.
Dean tidak menjawab apapun, rasanya dia tidak sudi membahas pria yang sudah membuat Ferdi merasa rendah diri. Mengapa hari-harinya menjadi begitu buruk setelah pria bernama Sea masuk ke dalam hidupnya?Tidak bisakah pria itu menghilang dari kehidupannya?!
Dean juga heran, mengapa ayah dan ibunya begitu bangga dan menyenangi sikap pria itu. Seandainya mereka tahu bahwa Sea adalah pria bermuka dua yang punya perangai dan sikapnya begitu busuk serta suka membuatnya kesal. Kalau saja mereka jadi menikah niscaya hidup Dean pasti seperti di penjara.
"Kenapa diam saja kalau bapak ngomong dijawab lah Boru (panggilan untuk anak perempuan Batak)," ucapnya menoleh pada putrinya. Beruntung Sian datang dari dapur membawa gorengan yang baru saja digoreng oleh Mak Tiur.
"Aku pun heran nengok (lihat) Kakak ini, kenapa pula'lah dia nggak mau sama bang Sea, ganteng pun. Kalau'lah mau dia sama, udah langsung ku ajak nikah dia, sayangnya bukan aku pula yang dipilih namboru Uli," sambar Sian yang sejak dari arah dapur sudah mendengar pembahasan mereka.
Spontan Dian melotot kepada adiknya itu dia gampang saja bicara karena sudah disogok oleh saya dia sendiri pun heran mengapa hanya dirinya saja yang tidak bisa akur dengan pria itu padahal seluruh anggota keluarganya begitu menyukai Sea.
Seharusnya pria itu bersikap baik padanya. Bukankah dia yang mengajak kerjasama untuk memutuskan pertunangan ini? Lantas mengapa sikapnya justru memancing emosi.
"Kau masih kecil boru, nggak mungkin kau langkahi kakakmu. Belajarlah yang rajin, nanti juga datangnya jodohmu itu," jawab ayahnya yang menggeleng-geleng kepala melihat putri keduanya itu.
__ADS_1
"Pak besok kan malam minggu aku minta uang ya, mau pergi ke lapangan Merdeka nonton konser di sana. Ada band dari Jakarta datang, boleh ya, Pak," celetuk Rade yang tiba-tiba datang dari kamarnya menunjukkan selebaran yang dia dapat dari di depan gerbang sekolahnya.
"Nggak usah'lah amang (panggilan untuk anak laki-laki). Kau masih kecil, di sana suka rusuh, Bapak tahulah itu kalau konser, bikin gaduhnya nanti, kau bisa tergencet di sana. Nggak kau lihat berita di TV itu, banyak korban yang berjatuhan karena nonton pertandingan sepak bola," jawab Pak Hotman yang memang sangat khawatir pada anak lelaki satu-satunya itu. Lagi pula Rade memang masih terlalu kecil untuk dilepas pergi nonton konser dengan teman-temannya, terlebih kalau konser di lapangan akan sangat brutal. Dia masih kelas satu SMP, jadi wajar dianggap masih kecil dan perlu pengawasan.
"Ah, nggak seru'lah Bapak ini, masa nggak boleh. Semua dilarang, ini nggak boleh itu nggak boleh, coba kalau kak Dean atau kak Sian yang minta izin pergi, pasti langsung dibolehkan, aku terus dilarang. Padahal aku udah SMP pun," ujarnya cemberut, menggaruk-garuk rambutnya, wajahnya ditekuk dan menghentakkan kaki ke lantai, tanda tidak terima. Rencana yang sudah disusunnya bersama teman-temannya harus kandas, karena tidak mendapatkan izin dari bapak.
Aturan di rumah tangga keluarga Pak Hotman, ketika ayahnya sudah angkat bicara tidak siapapun anggota keluarga diperkenankan untuk menyanggah ataupun membantah omongan ayahnya.
Dean jadi diam. Dia ingat kalau besok Ferdi berencana untuk datang ngapel ke rumahnya. Apa yang akan dikatakannya kepada kedua orang tuanya? Pasti mereka bertanya mengapa Ferdi datang sementara dia sendiri sudah dijodohkan dengan Sea, tapi tidak mungkin dia menolak kedatangan Ferdi, sudah sewajarnya kekasihnya itu datang ngapel ke rumahnya.
"Kau tahu sendiri kek mana bapakmu, kan? Mana lah masuk omongan mamak sama dia," jawab Mak Tiur ikut prihatin akan nasib cinta putrinya.
"Tapi mamak tahu sendiri, aku udah punya pacar, Mak. Mamak juga udah pernah jumpa, mamak bilang baik pun dia," jawab Dean masih berjuang mengambil simpati ibunya kala itu. Tapi semua Permohonannya tidak dikabulkan, ibunya hanya minta maaf tidak bisa membantunya.
"Mau ke mana kau? Janganlah asik berkurung di kamar aja kerjaanmu, kalau kita ngobrol gini'kan enak. Kita harus tetap memelihara kekompakan keluarga dengan saling kumpul dan ngobrol maka semakin kuat dan hangat keluarga ini," ujar pak Hotman yang melihat putrinya itu bangkit dari duduknya. Dia mengira kalau Dean akan berniat masuk ke kamarnya.
__ADS_1
"Aku mau nengok mama di dapur, Pak. Kok lama kali, siapa tahu banyak kerjaannya," jawabnya meletakkan ponsel di atas meja lalu berjalan ke arah dapur.
Mak Tiur sedang menggoreng pisang untuk sesi terakhir. Dean bisa melihat adonannya yang ada di mangkok sudah habis.
"Udah selesai, Mak?" tanya Dean menarik kursi makan, duduk di sana mengamati wajah mamaknya.
"Udah. Kenapa, Kak? Kalau udah suntuk gini mamak lihat, berarti ada yang mau kau ceritakan sama mamak, ya?"
Hufffh... Dean menghela napas, menyanggah kepalanya dengan tangan kanan terletak di atas meja makan. Mamaknya sellau tahu apa yang ada dalam pikirannya. Dean juga yakin kalau wanita itu sudah bisa menebak hal apa yang akan dia bahas.
"Mak, besok'kan malam Minggu, mau datang si Ferdi ke rumah kita, gak papa, kan?" tanyanya harap-harap cemas. Ibunya belum bisa dianggap kubu, terlebih belakangan ini dia melihat kalau Mak Tiur sudah mulai jatuh hati pada sikap Sea, seolah janjinya dulu, saat mengatakan kepada putrinya itu bahwa kalau dia punya kesempatan akan bicara dengan suaminya untuk membatalkan pertunangan itu tampaknya sudah dilupakan olehnya.
Mak Tiur menghentikan kegiatannya menggoreng pisang, mengecilkan kompor dan mengambil tempat duduk di hadapan Dean.
"Kek mana'lah mau mamak bilang, mamak takut kalau nanti bapakmu sampai marah. Kau tahu sendiri gimana kerasnya bapakmu, kalau nanti diusirnya si Ferdi kayak mana? Kau yang malu. Kalau saran Mamak, lebih bagus'lah nggak usah si Ferdi itu datang dulu ke sini," ucap Mak Tiur menggenggam tangan putrinya yang tampak kecewa.
__ADS_1