
"Oh, Hai... akhirnya kita bertemu ya. Sea udah cerita sama aku. Oh, adat istiadat kalian sungguh kampungan! Di Zaman sekarang masih aja ada perjodohan. Kalau dipikir-pikir kalian itu kan sepupu, berati kalau nikah incest dong?" Celoteh Melodi sembari mengulurkan tangannya ke hadapan Dean yang berusaha untuk bersikap biasa. Dia tersenyum sembari menyambut uluran tangan gadis itu.
Dean tidak masalah dengan apapun yang dikatakan gadis itu, hanya satu yang dia tidak terima bahwa Melodi mengatakan adat istiadat suku Batak kampungan. Darah Dean mendidih, walau benar yang diucapkan Melodi, tapi dia tidak berhak mengatai sukunya.
"Kapan kau sampai di Jakarta? Bagaimana Jakarta, apakah menyenangkan? Aku tebak ini pasti perjalanan pertamamu ya. Tenang saja aku akan membawamu jalan-jalan. Nanti akan kutunjukkan bagaimana indahnya kota Jakarta, masih banyak tempat di sini yang tidak akan kau temui di kampung halamanmu," lanjutnya setelah bersalaman dengan Dean.
Seperti pemilik tempat itu, Melodi melenggang masuk meninggalkan barang-barangnya di depan pintu agar dibawa masuk oleh Sea.
Dean dan Sea saling bertatapan, momen itu Dean ambil untuk menatap sini dan jijik ke arah Sea, menganggapnya pria tidak tahu etika, berciuman dengan kekasihnya saat ada orang lain di dekat mereka. Dean masuk, menyusul langkah Melodi ke ruang tamu.
__ADS_1
"Terima kasih untuk tawarannya, akan aku pertimbangkan," jawab dengan anggun, dia ingin menunjukkan bahwa dirinya tidak sekampung yang dipikirkan Melodi. Apa hebatnya tinggal di Jakarta, kota Medan juga cukup besar, terpandang dan asal tahu saja Walikotanya adalah menantu presiden di negeri ini!
Mungkin tanpa Dean sadari sikap Melodi yang memandang dirinya sebelah mata, membuatnya ingin menunjukkan taringnya. Dia tidak ingin dianggap sebagai wanita yang bisa dikendalikan dan dianggap bodoh. Jangan remehkan anak Medan! Terlebih Dean juga calon dokter, nggak ada yang paling meremehkannya.
Dean duduk dengan anggun, menatap lawan bicaranya. Aku pikir kau akan menawarkan aku minuman. Aku mohon tolong ambilkan aku minum ya, haus, nih," ucapkan Melodi melempar senyum ke arah Dean.
"Apa tidak sebaiknya kita langsung pergi? Aku akan mengantarmu setelahnya berangkat ke kantor," ucapnya sembari meletakkan koper gadis itu di dekat Melodi. Siapa pun bisa melihat bahwa kedua wanita itu ingin saling menyikut dan menjatuhkan. Sea tidak ingin apartemennya menjadi hancur lebur seperti Hiroshima.
Ketika dua orang gadis bertemu, merasa disenggol, maka pria tidak akan pernah bisa menduga, apa kehebatan yang bisa dikeluarkan dari seorang wanita ketika sudah marah ataupun harga dirinya disentil.
__ADS_1
Jadi Sea memutuskan lebih baik memisahkan keduanya. dia rela terlambat ke kantor untuk mengantarkan Melodi ke apartemennya, asalkan tidak terjadi peperangan di tempat ini. Sea bisa melihat bagaimana rasa kesal yang terpancar dari mata Dean kala Melodi pemerintah dan juga mengolok-oloknya.
"Aku masih Ingin beristirahat di sini, Sayang. Kau tahu sendiri bagaimana perjalananku, begitu melelahkan. Lagi pula ada Dean di sini. Aku bisa berbincang dengannya," jawab Melodi dengan suara manjanya yang khas.
Tepat saat itu Dean datang dari arah dapur membawa nampan berisi segelas minuman yang diminta Melodi. Ketika dia melirik ke arah Sea, ketepatan pria itu juga tengah melihat ke arahnya dan kesempatan itu diambil Dean untuk melayangkan tatapan marah padanya, melotot, seolah dari pandangannya itu dia mengatakan kepada Sea, agar membawa kekasihnya itu pergi jauh dari harapannya.
"Kau'kan bisa istirahat di apartemenmu. Ayolah, Mel, kita pulang ya. Aku ada meeting hari ini," bujuk Sea, tetapi Melodi tetap menolak, dia masih bersikeras ingin beristirahat di apartemen pria itu saja.
Tidak ingin kepalanya pecah karena pusing memikirkan kedua garis itu Sea memilih untuk menyingkir, berangkat ke kantor dan berharap tidak akan ada pertumpahan darah ketika dia pulang nanti.
__ADS_1