
Semua berkas dan keperluan kepindahan kuliah Dean sudah diurus oleh Sea. Dia lakukan dengan hati gembira, walau dia tahu kedatangan gadis itu ke tempatnya bukan karena dirinya, tapi untuk pria lain.
Tidak mengapa. Asal Dean bahagia, dia juga sudah ikhlas. Yakin Ikhlas?
"Bapak titip Dean ya, Sea. Jaga istrimu itu. Sedikit keras kepala memang, tapi masih bisa diaturnya. Kalau tadi belum nikah, bapak gak akan kasih dia pindah kuliah, tapi karena dia udah menikah, dan mau tinggal samamu pula, jadi apa hak bapak melarang?" ucap Pak Hotman dari seberang telepon, sesaat Dean sudah tiba di rumah dan segera mengabarkan pada keluarga di Medan, agar kedua orang tuanya tidak khawatir.
"Dengar, Nak Sea. Kalau melawan dia sama perintahmu, gak papa kau jewer aja telinganya, tapi agak pelan buat ya, kasihan boru (Anak perempuan) ku itu," sambar Tiur ikut nimbrung dalam percakapan mereka.
"Iya, Mak," jawab Sea sopan. Dia juga tidak mungkin melakukan kekerasan pada Dean. Kalau dulu memarahi gadis itu mungkin hal biasa baginya, tapi kini rasanya Sea tidak tega.
"Satu lagi, sebelum Mamak tutup telepon ini, jangan lupa ya, buat anak kalian. Udah setahun menikah, tapi gak juga kau hamili si Dean itu," lanjut Mak Tiur.
"Ho pe, sai na adong-adong do dihatai ho! Dang maila ho mandokkon songoni tu Helam!" (Kau pun, ada-ada aja yang kau omongin. Gak malu kau ngomong begitu sama menantumu!")
Sea yang mendengar dengan jelas perkataan Mak Tiur menjadi malu. Dia juga menyimak perkataan Pak Hotman yang walau dia tidak pahami, tapi dari intonasinya jelas menegur Mak Tiur karena membicarakan tentang pembuahan pada Dean.
__ADS_1
Sea pasti malu, kalau sampai didengar oleh Dean. Beruntung gadis itu masih mandi, jadi dia tidak perlu menyembunyikan rona merah di pipinya.
Akhirnya pembicaraan absurd itu berakhir dengan diakhirinya sambungan telepon itu. Sea menunggu gadis itu keluar, dan tepat tidak lama kemudian, Dean keluar dengan senyum manis di bibirnya.
"Alamak Jang!" batinnya meminjam kosa kata yang sering dikatakan Radedo saat Sea main ke Medan dulu. "Kok bisa cantik kali si pesek hidung ini!"
"Ngapain lihat aku kayak gitu? Kau terpesona ya? Atau kau sudah jatuh cinta? Kalau nanti udah jatuh cinta sama ku, bilang ya Dean, biar aku masukkan dalam daftar tunggu, soalnya banyak yang antri," goda Dean tertawa renyah.
Sea memalingkan wajahnya, tidak mau tertangkap basah karena ikut tertawa oleh lelucon garing Dean, yang nyatanya mampu buatnya melayang.
"Pecel lele, yok?"
Sea memang lapar, dia belum makan, tapi dengan melihat istri bar-bar nya ini makan dengan lahap saja sudah membuatnya kenyang. Bayangkan saja, gadis itu sudah tambah sampai dua kali, tetap saja setengah nasi di piring Sea diambil juga, tanpa ada rasa jijik.
"Kau gak jijik? Itu kan bekas makanku," ucap Sea masih betah melihat Dean makan.
__ADS_1
"Gak lah, ini masih bersih. Kau itu ya, kalau pun banyak uang, gak boleh buang-buang makanan."
"Gak jijik sama sekali?" lanjut Sea memicingkan mata. Dia ingin menggiring lidah Dean ke sebuah kalimat yang ditunggu pria itu.
"Gak lah, Ciuman aja kita udah pern...." Dean tidak meneruskan kalimatnya. Kepalanya terus menunduk, merasa malu. Sea tersenyum gemas. Gadis itu akhirnya masuk dalam perangkapnya.
"Benar juga, malah sudah lebih dari ciuman."
Kali ini Dean mengangkat wajahnya, menatap tajam ke arah Sea. "Bisa gak mulutnya dijaga? Jangan bahas itu!" pekik Dean tertahan, dia malu sama orang-orang yang kini melihat ke arah mereka. Padahal orang itu juga melirik karena pekikan suara Dean.
"Iya, baik tuan putri."
Sehabis makan, Dean memaksa untuk pulang. Dia ngantuk. Ajakan Sea untuk keluar jalan-jalan malam ditolaknya. Kekenyangan dan lelah sepanjang hari ini, membuat Dean tertidur di mobil. Nyenyak sekali, bahkan sampai terdengar dengkurannya.
Sea yang sudah mematikan mesin mobil hanya bisa tersenyum memandang wajah cantik itu. Dinginnya suhu mobil, membuat sejumput rambut Dean menutupi sebelah matanya. Sea tertarik untuk menyampirkan rambut itu, menyelipkan di belakang telinganya.
__ADS_1
"Dean, apa aku sanggup melepasmu? Apa aku rela melihatmu bersama pria lain? Mengetahui di hatimu ada cinta untuk pria lain saja aku sudah sangat marah. Namun, rasa cintaku yang begitu besar membuatku menahan egoku. De, aku sangat mencintaimu," bisiknya mendekatkan bibirnya untuk mengecup bibir wanita yang paling dia cintai itu.