Kenapa Harus Pariban?!

Kenapa Harus Pariban?!
Khawatir


__ADS_3

"Nanti malam gak usah masak terlalu banyak, aku mungkin akan pulang malam, jadi tidak akan makan malam di rumah," ucap Hasea saat keduanya sarapan pagi. Dean seperti biasa menyiapkan sarapan untuk mereka sebelum gadis itu berangkat ke kampus yang juga diantar oleh Hasea.


"Ada kencan?" tanya Dean asal, melirik sekilas pada Hasea lalu kembali berkutat pada diktat yang dia baca sembari mengunyah roti selainya. Dia ingat ini Sabtu, mungkin. Hasea akan berkencan, dia dengar Melody merengek minta balikan, kemarin gadis itu datang ke rumah mereka.


"Aku ada meeting, dan mulai sudah sore, jadi mungkin akan pulang malam," lanjutnya menyudahi sarapannya.


"Oh, bagus lah, karena aku juga pulang malam ini akan pergi, mungkin pulangnya juga sangat malam sekali," jawabnya ikut menyudahi sarapannya.


Dean ingat dia harus segera menyetrika gaunnya. Malam ini, Ferdi akan mengajaknya makan malam di tempat romantis. Ini kali pertama mereka berkencan setelah Dean tinggal di Jakarta.


"Kau mau kemana?" satu alis Hasea naik ke atas, mengunci pandangan Dean.


"Ferdi ngajak kencan," jawabnya sembari bangkit membawa bekas piring kotor mereka ke dapur.


Hasea hanya bisa menarik napas panjang, lalu melepaskan dengan berat. Ferdi!


***

__ADS_1


Selama meeting, Hasea tidak bisa berkonsentrasi. Pikirannya tersita pada Dean. Tangannya bahkan sudah mengetik pesan yang akan dia kirim, tapi untuk ke enam kalinya dia menghapusnya kembali.


"Bagaimana, Pak Sea?" tanya perwakilan dari perusahaan calon investor.


"Hah? Oh, saya perlu mempelajari drafnya terlebih dahulu," jawab Sea menelan salivanya. Gara-garanya pikiran tidak tenang, dia tidak bisa berkonsentrasi dengan meeting nya kali ini. "Berikan saya waktu satu Minggu lagi, tapi kalau pihak kalian keberatan, maka kerja sama ini bisa kita batalkan," jawab Hasea tegas.


Mana mungkin mereka membatalkan, kesempatan untuk bekerja sama dengan perusahaan Hasea tidak akan datang dua kali. "Kami akan menunggu kabar baik dari Bapak," ucap pria yang menjadi perwakilan dari perusahaan asing itu.


Hasea melirik jam di tangannya, pukul tujuh malam. Dia memutuskan untuk pulang, menolak ajakan Rizal untuk party bersama Melody dan cicle nya.


"Aku minta maaf Mel, aku gak bisa. Untuk saat ini aku ingin menjalani apa yang ada di hadapanku," jawab Sea yang membuat Melody terluka, tapi harga dirinya tidak ingin Dean mengetahui penolakan Hasea. Dia ingin menyelamatkan harga dirinya di depan rival nya itu.


Hasea tiba di rumah, dengan keadaan masih gelap, yang artinya Dean belum pulang. Jarum jam sudah menunjukkan setengah delapan malam.


Guna menjernihkan pikiran, Hasea segera mandi, mencuci rambutnya sampai dua kali agar kepalanya terasa dingin.


Rasa bosan terus menggerogotinya. Dia sudah mandi, bahkan memasak nasi dan telor ceplok seperti yang diajarkan Dean, tapi gadis itu juga belum pulang.

__ADS_1


Suami mana yang gak khawatir, sudah hampir jam 10, istrinya masih berada di luar sana. Hasea melempar buku yang tadi dia baca, lalu masuk ke kamar menyambar jaketnya untuk mencari Dean. Tapi mau mencari kemana?


Ah, nanti saja dipikirkan, yang penting dia bergerak dulu mencari di depan komplek rumahnya, siapa tahu gadis itu sudah pulang.


Tapi sudah menunggu di pos satpam komplek, Dean masih belum kelihatan. Sea yang memakai motor memutuskan untuk keliling, menebak cafe mana yang mungkin tempat mereka nongkrong.


Kalau ponsel Dean bisa dihubungi, mungkin tidak akan merepotkan seperti ini. Dia sudah berulang kali meminta Dean untuk memakai ponsel yang dia beli Minggu lalu, tapi Dean menolak, tetap mempertahankan ponsel jadul miliknya.


"Ini aku beli dengan hasil keringat sendiri, buat kue basah, nitip di warung dekat rumah. Besar sejarahnya ponsel ini buat ku. Ponsel pertama yang sudah android," alasannya menolak pemberian Hasea.


Kembali Hasea menyusuri jalan, dia mulai keluar dari komplek perumahan mereka. Samar dia melihat Dean yang tengah bicara dengan Ferdi. Tampak keduanya sedang bertengkar, karena Sea bisa melihat tangan Dean yang melayang-layang di udara.


Tidak lama, wajah Dean terlempar ke samping. Ferdi baru saja menampar gadis itu. Sea yang terkejut, bergegas melakukan motor nya ke arah mereka.


Brug!


Satu hantaman segera mendarat di pipi Ferdi. "Berani kau menyentuh dia seujung kuku pun, aku habisi kau!" umpat Sea dengan sorot mata membunuh.

__ADS_1


__ADS_2