Kenapa Harus Pariban?!

Kenapa Harus Pariban?!
Berbelanja


__ADS_3

Melodi tidak terima dirinya dianggap bersalah atas apa yang sudah terjadi kepada Dean, menurutnya Sea hanya terlalu melebihkan. Memangnya apa yang salah dengan bercanda dengan gadis itu?


Sikap Sea yang membela Dean seperti itu telah menimbulkan kecurigaan pada diri Melodi, beranggapan bahwa kekasihnya itu sudah jatuh cinta kepada paribannya.


Lihat saja, selama Dean ada di rumah pria itu, dia tidak datang menemui Melodi, padahal biasanya pria itu selalu perhatian dan tidak pernah bisa jauh lebih lama dengan dirinya, tapi kini bahkan sudah seminggu dia tidak mengapeli Melodi.


"Kau mau ke mana?" tanya Sea ketika melihat Dean menuju dapur pagi itu, biasanya memang gadis itu lebih lama terjun ke dapur saat hari Minggu, karena Sea tidak pergi ke kantor.


"Mau masak'lah, memangnya aku mau ke mana lagi? Memangnya kau nggak mau makan? Baguslah kalau kau nggak makan, jadi aku nggak perlu repot untuk masak hari ini," timpal Dean pengen berbalik masuk kembali ke kamarnya.


"Tunggu! Bisa nggak sih mukamu jangan ditekuk seperti itu? Perihal melodi yang mengerjaimu, aku sudah menegurnya, mewakili dirinya, aku meminta maaf kepadamu. Jangan marah lagi ya," ujar Sea, pria itu bangkit dari duduknya mendekati Dean.


"Sudahlah lupakan aja. Aku nggak memikirkannya lagi. Aku pun mau pulang jadi jangan terlalu dipermasalahkan lagi," jawabnya lebih bersahabat tidak ketus seperti tadi.

__ADS_1


"Gini aja, demi mengobati kekesalan mu, kita makan di luar aja. Lagi pula beberapa hari lagi kau akan pulang ke Medan, sekarang kita beli oleh-oleh untuk keluargamu," ujarnya membuat hati Dean sedikit menghangat.


Sea membawa Dean ke restoran, menikmati makan siang yang walau sedikit kecepatan. Pasalnya mereka juga belum sarapan dari rumah, jadi makan siang mereka dimulai pada jam 11.00 siang.


"Bagaimana makanannya, kau menyukainya?" tanya Sea, yang diangguk cepat oleh Dean. Dia tidak perlu bohong karena memang makanan itu sangat lezat, harga memang tidak pernah bohong, dia memang pernah memakan makanan seperti itu. Berbagai macam sushi dan juga stik, tapi tidak pernah se nikmat yang dipesan oleh Sea.


"Setelah ini kau mau apa? Aku janji akan menemanimu sepanjang hari ini. Kemanapun dan apapun yang ingin kau lakukan, aku akan menemanimu," tawar Sea meletakkan sendok dan sumpitnya di atas piring lalu membersihkan bibirnya dengan tisu.


Hati Dean yang sudah kembali ceria menerima tawaran pria itu dengan hati gembira, lagi pula dua hari lagi dia akan pulang ke Medan. Dia tidak sabar ingin bertemu dengan Ferdi, jadi selama di Jakarta dia ingin menikmati hari-hari terakhirnya bersama pria itu.


"Bagaimana kalau kita nonton aja? Ada film yang ingin aku tonton, tapi kalau menunggu Ferdi pulang dari liburan, takutnya film itu keburu turun layar, udah nggak tayang lagi. Jadi karena kau ingin menjadi orang baik hari ini, aku ingin memanfaatkan kebaikanmu dengan meminta menemaniku menonton," tukas Dean mengulum senyum.


Sea tertegun melihat senyum di wajah cantik paribannya itu. Setiap kali dia tersenyum Sea seperti terhipnotis, membeku dan tidak tahu harus berkata apa, dia pun membalas dengan senyuman.

__ADS_1


Sea mengakui bahwa dia memang cantik di balik sifat barbarnya dan juga keras kepala gadis itu. Tidak bisa dipungkiri kalau gadis itu memang sangat menawan, terlebih ketika Dean tersenyum, Sea yakin siapapun pria pasti bertekuk lutut padanya, tidak terkecuali dirinya! Apakah benar seperti itu? Dia menepis pikiran anehnya lalu memanggil pelayan untuk membayar semua makanan yang sudah disajikan untuk mereka.


Film yang ditonton memang tidak mengecewakan. Dean begitu puas menikmati durasi film itu, selama 2 jam tanpa ada rasa bosan dan juga tertidur di dalam bioskop. Sementara Sea, dia sibuk mengutak-atik handphone, tidak memperhatikan film sama sekali.


Melodi terus menghubungi, baik melalui telepon atau pun pesan. Gadis itu merengek ingin bertemu dengannya. Pria itu tidak mungkin mengatakan bahwa saat ini dia sedang menemani Dean, yang ada akan terjadi perang dunia ke-3 di antara mereka nanti.


Sesekali Sea yang sibuk dengan ponselnya akan menoleh ke samping melihat Dean, ketika tawa gadis itu pecah saat adegan dalam film itu menunjukkan hal yang dirasanya lucu.


Mengapa dia baru menyadari bahwa Dean adalah pribadi yang menyenangkan? Hanya beberapa jam berjalan bersama gadis itu, sudah bisa meyakinkan Sea, bahwa Dean gadis yang baik dan sangat menyenangkan.


Mungkin kedepannya mereka bisa berteman, tidak perlu saling gontok-gontokan karena tujuan mereka memang satu, untuk membatalkan pertunangan dan perjodohan yang ditentukan oleh kedua orang tua mereka.


"Ini sudah terlalu banyak, bagaimana nanti kelebihan bagasi di pesawat? Aku bisa kena cas, kalau gini," ucap Dean ketika mengamati semua barang yang dibeli Sea untuk ayah ibu dan juga kedua adiknya.

__ADS_1


Pria itu terlalu royal mengeluarkan uang tapi justru Dean merasa kagum pada diri Sea, karena ternyata pria itu masih menghargai keluarganya. Pria itu juga memaksa Dean untuk mengambil beberapa pasang pakaian baik itu gaun, pakaian kasual dan juga sepatu.


"Ini masih hal wajar. Walaupun mereka adalah keluargamu, bagaimanapun ayah ibumu adalah tulang dan nantulang (Paman/ bibi) ku, jadi jangan menolak pemberianku," ucapnya sembari tersenyum yang tanpa disadari Dean mulai ada getar dalam hatinya.


__ADS_2