
"Hai, aku senang kau datang," sapa Dean kala sudah membuka pintu dan mendapati Ferdi sudah ada didepannya.
"Ini, aku beli di tempat yang biasa kita beli," sambut Ferdi menyerahkan kantong plastik bening berisi berbagai jenis gorengan, mulai dari pisang, bakwan, tahu isi dan risol, oh iya tidak ketinggalan pisang coklat kesukaan Dean.
senyum bahagia melengkung di bibir Dean seandainya kedua orang tuanya bisa melihat perhatian serta kebaikan Ferdi kepadanya pastilah mereka bisa merasakan ketulusan hati kekasihnya itu dan dialah pria yang paling tepat untuk menjadi pasangan hidupnya
Bang Ferdi udah datang siapa sih yang baru muncul dari dalam terlihat rambut yang basah dan wajah yang begitu segar menandakan gadis itu baru selesai mandi sore kalau jam segini biasanya siang akan bertandang ke rumah temannya yang berada di luar rumah dari tempat mereka ini.
gadis yang duduk di bangku kelas 1 SMA itu lebih banyak menghabiskan waktunya bersama teman-temannya daripada mengurung diri dengan menonton film Korea seperti yang biasa dilakukan oleh anak gadis zaman sekarang ini kasian memang sedikit berbeda dia lebih tomboy hobinya saja memanjat pohon mangga tetangga
segala macam olahraga yang ekstrem pasti Sian sukai. Wajahnya mungkin tidak secantik dia namun tidak bisa dipungkiri kalau sekali saja Sian tersenyum maka lesung pipinya akan membuat pria manapun jatuh hati seketika.
hai Sian udah segar aja mau jalan ya sama cowoknya," sapa Ferdi tersenyum ramah pada adik kekasihnya sekaligus juga tetangganya.
cowok apaan mana ada Bang yang mau samaku. Lagi pula mana enak pacaran, cuma buat kepala sakit. Lihat aja kak Dean, kadang senyum, kadang nangis udah kayak orang gila," celoteh Sian mencomot pisang goreng dari piring yang sudah disediakan oleh Dean.
apa sih kau dek bikin malu aja sanggar situ malu rasanya dia ingin mencetak kepala Sion yang sudah membuka kartunya di depan Ferdi
__ADS_1
dia memang mengakui karena begitu menyukai Ferdi hingga kau ketika mereka punya masalah dari situ akan menangis sedih jujur dia begitu takut kehilangan Ferdi
Udah ah aku mau pergi daripada gangguin kalian aku nggak mau jadi obat nyamuk Bang Ferdi yang kuat ya tetap semangat semoga kalian jodoh walaupun kakakku sudah dijodohkan dengan hari dan kami hampir tidak pernah berusaha siapa tahu punya peluang ucapnya dan telah merasa terbebani dengan pelototan Dean.
"Memangnya kau sering menangis? Apa aku sering buat kau sedih?" tanya Ferdi yang baru mengetahui kalau dirinya sering membuat Dean menangis. Pernah beberapa kali mereka bertengkar, tapi setiap bermasalah, Ferdi langsung meminta maaf.
"Hah? Gak, dia cuma menggodamu. Apa pula alasanku nangis, gak lah. Kau udah cukup baik untukku. Sempurna untuk menjadi pacarku," sahutnya menatap mesra Ferdi.
Saling tatap membuat jantung Dean berdebar, terlebih kala Ferdi mengarahkan tatapannya ke bibirnya. Gugup ditambah dengan jantung jedag-jedug membuat Dean keringat dingin. Selama mereka pacaran, baru dua kali pria itu mencium bibirnya, dan sejujurnya Ferdi'lah pacar pertama sekaligus darinya Dean mendapatkan ciuman pertamanya.
"De..." bisik Ferdi dengan suara bergetar. Tenggorokannya terasa kering, gugup hingga kehilangan kata-kata. Dean sendiri tahu apa yang ingin pria itu sampaikan. Mimik wajah Ferdi saat ini sama dengan wajahnya kala meminta izin untuk menciumnya pertama dan kali kedua.
Glek! Sangat berat Dean bersusah payah menelan salivanya. Tanpa sadar dia mengulum bibirnya, sekedar membasahi bibirnya, tapi gerakan itu justru membuat penafsiran lain dalam benak Ferdi. Dia mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Dean, begitu dekat hingga napas mereka bisa beradu.
Dean bisa merasakan harum napas mint pria itu yang membuat Dean melayang. Ferdi memang tidak merokok, lebih suka menguyah permen.
Jarak yang sudah sangat dekat membuat keduanya hampir sukses berciuman kalau saja Rade tidak merusak segalanya.
__ADS_1
"Aku pulang....!" Teriaknya sembari berlari masuk ke dalam rumah, sontak keduanya gagap, salah tingkah dan segera mengambil posisi tegak di kursi masing-masing.
"Loh, ada bang Ferdi? Main bola yuk, Bang," sapanya yang gembira melihat kehadiran Ferdi di rumahnya. Ferdi dan kawan-kawannya memang sering bermain bola di lapangan komplek perumahan itu dia memang jago menggocek bola juga menjadi pelatih untuk anak-anak SD di komplek
Kemampuan Ferdi bermain bola yang luar biasa, membuat Rade sangat mengidolakan pria itu. Dia sama sekali tidak tahu dan tidak peduli kalau kenyataannya Ferdi adalah pacar kakaknya.
"Boleh tapi jangan sekarang. Besok kamu ajak teman-teman kumpul di lapangan jam 03.00 sore, kita main bola. Nanti Abang ajari lagi kayak kemarin," jawab Ferdi mencoba menghilangkan rasa gugup yang melanda dirinya.
Anak itu pun mengangkat jempol lalu berlari ke dalam rumah menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Dia sudah janji dengan Imam, temannya untuk bermain PlayStation di rumah Roni yang rumahnya dua blok dari tempat tinggal mereka.
"Mau ke mana lagi kau makan dulu hardik Dean yang masih memerah wajahnya. Bagaimana kalau tadi sampai adiknya melihat mereka berciuman? Dean menyesal kenapa harus berduaan dengan Ferdi di rumahnya. Bukankah lebih baik kalau mereka pergi saja mencari tempat yang nyaman untuk berduaan.
"Aku mau ke rumah Roni Dia janji mau meminjamkan aku playstation-nya aku nggak lapar Kak nanti saja makannya kalau orang Mama udah pulang dari pesta," jawabnya sembari kabur dengan cepat, takut kalau Dean akan mengejarnya memaksa untuk tidur siang.
Sudah jadi tradisi di keluarga mereka kalau kedua orang tuanya sedang tidak ada di rumah maka Dean sebagai anak sulung emang aku tanduk kekuasaan di rumah itu karena apapun yang disuruh harus mereka ikuti tidak ada gunanya mengadu ataupun melawan perintahnya karena bagaimanapun mereka mengadu pada ibunya pasti tidak akan dibelah dan dia selalu dinyatakan benar.
"Biarlah dia main dengan temannya lagi pula ini hari Sabtu besok libur tidak harus mengikuti rutinitas Senin sampai Jumat,' kan," jawab Ferdi tersenyum.
__ADS_1
Dean tebak, mungkin isi kepala Ferdi saat ini masih ingin mengulang kegiatan mereka yang sempat tertunda, tapi maaf, Dean tidak ingin melanjutkan ciuman itu, dia tidak mau tertangkap basah oleh anggota keluarga yang lain, atau paling parah mereka kepergok oleh pak RT!
Sebenarnya dia ingin mengajak Ferdi jalan lebih baik mereka menikmati waktu bersama di luar saja namun, hal itu urung diungkapkan oleh Dean mengingat tidak ada orang di rumahnya, nanti saat kedua orang tuanya pulang dan mendapati rumah kosong maka bapaknya akan marah karena bapaknya tadi berpesan agar mereka bertiga tetap di rumah sampai mereka pulang.