Kenapa Harus Pariban?!

Kenapa Harus Pariban?!
Tapi kau jangan Nakal!


__ADS_3

"Auooo, sakit, De!" pekik Sea terduduk dari tidur, tangan Dean masih bersarang di dada gadis itu, mencubit dengan sekuat tenaga.


"Rasain!" Bentak Dean bangkit dari duduknya. Gadis itu berlalu, memilih masuk ke dalam kamar mandi, menghempaskan pintunya dengan keras. Dean perlu ruang untuk menyembunyikan rasa malu yang dia dapat oleh karena perbuatan Sea.


"Beraninya dia menciumku!" pekiknya dalam hati, jemarinya meraba bibirnya yang tadi disentuh oleh Sea.


Dia mengutuk pria itu yang mungkin sudah bermimpi jorok, hingga ketika ada gadis di depannya, langsung dipeluk.


"De, buka dong pintunya. Aku mau mandi," pinta Sea mengetik pintu kamar mandi.


Sebenarnya Dean tidak ingin membukakan pintu, dia masih belum cukup waktu untuk meredam emosi dan juga berani menatap wajah Sea nantinya, tapi ketukan Sea di daun pintu, memekakkan telinganya, membuatnya tidak punya pilihan lain selain keluar dari sana.


Hari itu, agenda keluarga adalah pergi berjalan-jalan bersama mau menuju ke tempat wisata yang ada di kota Medan. Namboru Uli akan pulang besok karena harus segera kontrol ke dokter, jadi tidak bisa berlama-lama di Indonesia.


Semua keluarga menyambut girang rencana jalan-jalan mengelilingi kota Medan. Selama bepergian Sea terus saja mengamati wajah Dean yang diam tanpa kata. "Aku minta maaf, jangan ngambek lagi, jangan diamin aku," bisik Sea ketika mereka berdekatan.


Dean tidak menggubris permintaan Sea, dia memilih untuk menjauh, berbaur dengan Sian.


Semua anggota keluarga tampak kelelahan, terlihat puas melalui hari ini. Mereka mengunjungi tempat yang selama ini bahkan tidak masuk hitungan, yang mereka pikir untuk apa ke sana karena mereka adalah penduduk asli kota Medan tapi nyatanya beberapa tempat yang mereka kunjungi sangat indah dan menyenangkan.


Setibanya di rumah, dia langsung pamit masuk ke kamar dengan alasan kepalanya sedikit sakit, meninggalkan kedua orang tuanya yang masih asyik berbincang dengan Sea dan juga kedua orang tuanya. Sampai detik ini dia juga belum berbicara dengan Sea, mendiami pria itu karena apa yang sudah dia lakukan.


"Pergi'lah, ikutkan istrimu. Kau harus menjaganya. Katanya kepalanya sakit," ucap ibu Sea.


Sebenarnya sejak tadi Sea sudah ingin pergi menyusul istrinya ke kamar tapi dia masih merasa segan kepada kedua mertuanya, takut dianggap dirinya tidak tahan berjauhan dengan Dean.

__ADS_1


Padahal sebenarnya adalah Sea hanya ingin meminta maaf. Besok dia pulang ke Jakarta, dan dia tidak ingin meninggalkan persoalan dengan istrinya itu.


"Kau sudah akan tidur? Apa benar kepalamu sakit? Aku ambilkan obat, ya?" ucap Sea duduk di tepi ranjang menatap punggung Dean yang membelakangi nya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Bukan'kah aku sudah minta maaf? Aku benar-benar tidak sengaja. Jangan marah lagi ya, besok aku pulang. Aku nggak mau meninggalkanmu pulang, sementara kau masih marah dan tidak mau bicara denganku," ucap Sea lembut.


Sejak kapan Sea bersikap lembut kepada Dean, dia sendiri tidak tahu, hanya saja setelah beberapa hari menghabiskan waktu bersama gadis itu, penilainya terhadap Dean berubah.


Dean bukan wanita menyebalkan seperti yang selama ini dipikirkannya, yang hanya menerimanya karena harta keluarganya.


Bujukan Sea terdengar begitu lembut dan kesungguhannya meminta maaf membuat Dean jadi luluh, dia percaya kepada pria itu bahwa Sea tidak sengaja.


Dean menyikap selimutnya, lalu duduk berhadapan dengan Sea. "Janji, jangan lakukan itu lagi?" ucap Dean serius. Lama baru Sea mengangguk. Bukan dia tidak mau berjanji, hanya saja dia tidak yakin bisa menepatinya.


Belakangan ini, gadis yang kini sudah menjadi istrinya itu selalu datang ke dalam mimpinya, bermain dalam khayalnya, tanpa bisa dia halau.


Sea tidak yakin apakah itu cinta tapi dia selalu ingin dekat dengan Dean, bercanda dengan gadis itu, dan melihat tawanya yang baru dia sadari begitu mempesona.


"I-iya." Hanya itu yang bisa dia keluarkan dari mulutnya. Kalau suatu hari nanti, dia memang tidak bisa memegang janjinya, lebih baik dia mengakui perasaannya kepada Dean saja.


***


Hari ini Namboru Uli dan suaminya pulang bersama Sea. wanita itu ingin singgah terlebih dahulu di rumah Sea dan dari sana dia akan kembali ke Amerika.


"Jaga dirimu baik-baik ya, sampai nanti bisa pindah dan tinggal dengan Sea di Jakarta. Oh, iya, libur nanti jangan lupa kalian Namboru undang ke Amerika ya, harus datang. Anggap saja bulan madu yang tertunda," ucap Namboru Uli membelai rambut Dean penuh sayang lalu memeluk gadis itu.

__ADS_1


Namboru Uli sudah duduk dengan kedua orang tua Dean yang juga ikut mengantar keberangkatan besannya itu, sengaja meninggalkan Sea dan Dean berdua agar mereka bisa memanfaatkan waktu sebelum berpisah.


"Aku pamit ya. Aku pulang dulu. Nanti aku kembali menjumpai mu. Jaga dirimu, jangan nakal," ucap Sea menyerongkan duduknya hingga bisa melihat wajah cantik gadis itu.


Entah dia sadar atau tidak, cara bicaranya kepada Dean seperti seorang kekasih yang akan meninggalkan kekasihnya untuk sementara waktu.


Apakah Sea lupa bahwa di antara mereka tidak ada hubungan apapun. Ikatan pernikahan yang terjalin di antara mereka hanya sebuah kebohongan, mengulur waktu untuk mencari waktu yang tepat agar mereka nantinya bisa berpisah dengan baik-baik.


Sadarkah dia ketika bersikap baik dan begitu lembut kepada Dean, bisa saja dia semakin jatuh cinta kepada gadis itu dan sebaliknya tidak ada yang bisa menjamin bahwa Dean juga tidak akan tergoda dan jatuh hati pada Sea.


Walau sedikit terkejut dengan pesan saya dia hanya mengganggu dan mencoba untuk memberikan senyumnya. Anggap saja mereka memang bersahabat.


Tapi debaran jantung Dean yang tidak karuan kala ditatap oleh Sea, tidak cukup menjelaskan keadaan mereka saat ini? Dimana rasa benci yang dulu mereka rasakan di awal? Apakah pepatah mengatakan dari benci jadi cinta atau perbedaan antara benci dan cinta itu sangat tipis?


Hanya mereka yang tahu, apa yang saat ini mereka rasakan di dalam hati mereka masing-masing, yang jelas setelah keberangkatan pesawat yang membawa Sea dan keluarganya pergi, ada perasaan hampa di relung hati Dean, merasa kosong dan juga sedikit sedih karena tidak bisa melihat Sea lagi.


"Jangan sedih, ini hanya perpisahan sementara waktu. Jarak diantara kalian justru akan menguatkan rasa cinta dan menebalkan rasa rindu dalam hati kalian masing-masing," ucap pak Hotman merangkul putrinya, mengajak pulang.


"Benar kata bapak, kenapa aku harus sedih, ada perpisahan pasti akan segera ada pertemuan. Tapi yang menjadi pertanyaan, kenapa justru aku menginginkan segera pertemuan itu?" batin Dean mendongak ke atas langit, tepat ketika pesawat melintas dari atas mereka.


*


*


*

__ADS_1


Mampir dong di novel temanku..



__ADS_2