
Eheem... Deheman yang sengaja dikeluarkan oleh Sea berhasil membuat Dean terkejut, bahkan spatula dari tangannya jatuh ke lantai. Dia berbalik dan sudah mendapati pria itu berdiri diambang pintu yang dia tebak sedah dari sejak lama. Sea berjalan mendekati meja makan.
Dian mengamati pria itu yang penuh semangat mengambil piring dan begitu antusias untuk mengambil nasi. Namun, Dean yang melihat pria itu belum mandi segera mengomentari.
"Bukankah seharusnya kau mandi dulu baru makan?" ucapnya sembari menggeleng-gelengkan kepala. Pria itu seperti tidak pernah melihat makanan. Sejak kemarin saat dia menyuguhkan masakannya, semua habis dilahap oleh pria ini hingga tidak bersisa.
Paginya, saat Dean ingin makan karena perutnya yang sangat lapar, mencari sisa masakannya yang dia masak tadi malam, dia pikir pasti akan bersisa karena porsinya lumayan banyak. Namun, ketika sampai di dapur, Dean melihat piring bekas makan Sea yang berantakan di atas meja dengan tidak menyisakan sedikitpun makanan yang dia masak. Dean nanya bisa mengeram dalam hati.
"Memangnya ada aturan kalau mau sarapan harus mandi dulu? Sudah jangan berisik! Aku mau makan," ucapnya menyendok nasi dan mengambil udang sambalado bersama beserta sayur bayam yang direbus oleh Dean. Menu itu begitu sederhana tapi mampu menggetarkan selera Sea.
Sea makan dengan lahap, dia sampai lupa dengan sekitarnya. Baru'lah ketika akan menambah ayam masak mentega ke atas piringnya, dia ingat bahwa Dean masih berada di sana dan pastinya sedang mengamatinya dengan tatapan tidak bersahabat.
"Kau tidak sarapan?" tanyanya merasa malu, rasa nikmat dalam masakan itu membuatnya lupa bahwa gadis itu masih ada di sana. Kalau tadi malam dia bisa makan dengan tenang tanpa ada pandangan yang mengintimidasi seperti sekarang ini, maka pasti akan berbeda dengan pagi ini.
"Aku sudah kenyang," ingin sekali Dean mengatakan hal itu, karena tidak ingin berdekatan dengan pria itu, tapi kenyataannya dia justru mendekat dan menarik satu kursi dan bergabung bersama pria itu untuk sarapan pagi. Sejak tadi perutnya sudah minta diisi.
__ADS_1
"Ternyata kau berguna juga, ya. Dibalik mulut pedasmu, masakanmu ternyata sangat nikmat," ujarnya tanpa bersalah, yang mampu membuat bola mata Dean membulat.
"Tahan Dean, abaikan saja orang gila itu!" batinnya.
Dean masih terus mencoba menikmati sarapannya, menganggap pria yang ada di dekatnya itu adalah makhluk astral yang tidak perlu ditanggapi.
Dean masih menikmati sarapannya sementara pria itu sudah menyelesaikan makannya, piringnya bersih tak bersisa. Sea memperhatikan gadis itu, melihat cara makan Dean membuat Sea tanpa sadar mengulum senyum, bibir gadis itu yang cemberut sembari mengunyah makanannya, membuatnya terlihat menggemaskan, lalu setelah Sea tersadar kalau dia sudah larut dalam pesona sederhana gadis itu, dia pun menarik senyumnya kembali.
Sea menggeleng-gelengkan kepala, berharap pikiran aneh yang sempat bersarang di kepalanya itu segera memudar. Sea lalu menggeser kursi dan bangkit meninggalkan Dean yang masih menikmati makanan.
Pukul 08.00 pagi Sea sudah bersiap untuk berangkat ke kantor, akhirnya dia terlambat hanya karena terlalu menikmati makan paginya.
"Aku berangkat dulu, ini uang kau pergi'lah belanja di lantai bawah, ada supermarket yang menjual semua jenis kebutuhan rumah tangga," ujarnya sembari meletakan amplop coklat berisi segepok uang di atas meja ruang tamu. Dean hanya diam, dia terlalu sibuk saat ini untuk membalas pesan dari Ferdi. Pria itu mengirimkan foto-foto mereka selama liburan berkeliling kota Parapat.
"Woi kau dengar tidak?"
__ADS_1
Akhirnya Dean mendongak dan melihat amplop yang sudah tergeletak di atas meja. "Itu uang untuk belanja, di lantai bawah ada supermarket, kau bisa belanja di sana."
Mood Dean saat ini sedang baik karena dia baru saja menerima pesan dari kekasihnya jadi dia membalas perintah pria itu dengan anggukan saja.
"Aku berangkat," ucapnya masih berdiri di dekat gadis itu.
"Kau nggak dengar? Aku bilang aku mau berangkat kerja!" ulangnya saat melihat Dean yang bergeming.
"Terus aku harus apa? Kau ingin aku memberangkatmu sampai depan pintu? Aku bukan istrimu!" ucap Dean dengan ekspresi kesal, padahal mood-nya sudah dipelihara sebaik mungkin.
"Setidaknya antar sampai depan pintu agar kau bisa menutup kembali pintu itu!"
Tidak ingin berdebat terlalu lama, Dean akhirnya bangkit mengikuti langkah pria itu yang sudah berada di depannya. Tepat saat Sea membuka daun pintu, di sana sudah berdiri seorang gadis cantik bak bidadari. Gadis itu tersenyum, lalu menghambur ke pelukannya, melingkarkan tangan di leher pria itu dan tanpa malu mencium bibir Sea.
Bola mata Dean terbelalak, satu detik, dua detik, tiga, empat, hingga tiga menit berlalu, baru'lah mereka sadar akan keberadaan Dean yang berdiri di belakang tubuh Sea, lalu dengan enggan melepaskan lima*tan itu.
__ADS_1
Ehem..." Dean, perkenalkan, ini Melodi, kekasihku!"